
Hari-hari Dara berubah lebih cerita semenjak ada Guntur.
Awalnya dia juga merasa Guntur laki-laki yang urakan, berandal dan terkesan seperti anak yang ugal-ugalan. Tapi ternyata, benar kata pepatah, jangan menjudge orang hanya dari kulit luar saja.
Guntur orang yang baik, dia juga sangat lembut pada Dara.
"Pagi, Dara."
"Pagi, Kak."
"Aku antar kamu ke sekolah ya?"
"Eh nggak usah Kak. Nanti malah merepotkan," tolak Dara karena merasa tidak enak.
"Enggak, kata siapa ngerepotin. Santai aja. Yuk naik, mumpung kursi belakang always kosong. Alias nggak ada yang pernah numpangin" kata Guntur sambil tersenyum.
"Masa sih? Emangnya Kakak nggak punya pacar?"
"Hm, pacar ya. Belum, sih. Tapi kayaknya sebentar lagi punya."
Dara terdiam, lalu dia mengambil helm pemberian Guntur. "Semoga berhasil ya Kak dengan cewek incarannya," katanya pada Guntur.
"Lucu banget kamu, Dara. Jangan lupa pegangan ya, nanti jatuh, aku yang sedih."
Awalnya Dara ragu-ragu melingkarkan tangannya ke pinggang Guntur, tapi akhirnya Dara melakukannya juga. Guntur tersenyum membiarkan tangan Dara berpegangan erat padanya.
"Kita jalan ya. Tenang, aku nggak akan ngebut."
"Iya, Kak."
Pertama kalinya dalam hidup Dara, dia bersama dengan laki-laki, dan sedekat itu. Dara gadis yang pendiam, tapi dia berprestasi, sebab itu di sekolah walau dia tidak banyak bergaul, teman-temannya tidak pernah ada yang mengusik.
__ADS_1
Untuk kali pertama juga, Dara di antar oleh seorang cowok ke sekolah. Bagi anak-anak SMA, bisa kenal dengan cowok kuliahan itu adalah sebuah kebanggan. Siapa sangka, Dara mempeloporinya.
"Wah liat tuh si Dara, dateng sama siapa? Anjir ganteng banget!"
"Woi lah itu kayaknya anak kuliahan deh. Pacarnya Dara nggak sih?" komen teman-teman sekelas Dara yang tidak sengaja melihat Dara turun dari motor seorang cowok keren.
"Makasih ya, Kak." Dara menyerahkan helm pada Guntur.
"Sama-sama. Kamu pulang jam berapa?"
Dara merapikan rambutnya, sedangkan Guntur tidak lepas memandangi wajah Dara yang polos, natural cantiknya, tidak bosan untuk dilihat.
"Hm, Dara ada kelas tambahan jadi mungkin sore pulangnya, Kak. Kenapa memangnya?"
"Jam berapa tuh?" tanya Guntur lagi.
"Jam empat gitu lah kayaknya sih," jawab Dara.
"Hah? Emang Kak Guntur mau jemput aku?"
"Iya, boleh kan? Atau pacar kamu marah?"
Dara menggeleng cepat sambil mengayunkan telapak tangan. "Enggak. Aku nggak punya pacar."
Guntur tersenyum. "Kalau gitu kakak aja yang jadi pacar kamu, Gimana?"
Pipi Dara langsung memerah. Jadi apakah Guntur sedang bercanda? Barusan itu Guntur tidak mungkin sedang menembaknya kan?
"Eh, Kakak bisa aja sih ngajakin bercanda. Dara masuk ya. Makasih udah nganterin Dara."
Guntur mencegah Dara pergi dengan menggenggam tangannya. Dara menatap tangannya yang digenggam Guntur dengan mata membulat.
__ADS_1
"Boleh nggak kalau Kakak aja yang jadi pacar kamu?" ulang Guntur kali ini lebih serius.
Dara mulai merasakan dadanya yang sesak.
"Aku masuk duluan Kak." Dara berlari masuk ke dalam kelas.
"Hei, Kakak nggak bercanda, Astaga. Dia beneran nggak percaya?" gumam Guntur yang sudah ditinggal oleh Dara masuk ke kelas.
Sambil menggaruk tengkuk, Guntur memakai helmnya kembali. "Masih ada kesempatan. Nanti juga pasti dia nerima gue? Iya nggak? Yoi lah."
Dara masih berdebar-debar dengan jantung yang tidak karuan. Dentuman itu sangat terasa saat dia menempelkan telapak tangannya ke dada. Kata-kata tadi, baru pertama kali dia dengar meluncur dari bibir cowok.
Boleh nggak kalau Kakak aja yang jadi pacar kamu?
Dara memegang pipinya yang memanas, dia benar-benar merona. Dara menatap wajahnya di kaca jendela saat hendak masuk ke kelas.
"Dara, nggak mungkin banget. Masa iya Kak Guntur suka sama kamu?"
"Daraaaaaa! Gila gila! Itu tadi yang nganterin lo itu pacar lo, Dar?"
"Gila sih ganteng parah! Lo bisa kenal dia gimana caranya? Kenalin gue dong sama temennya!"
Teman-teman Dara hampir semuanya histeris karena berita itu menyebar cepat.
"Kalian salah paham itu bukan pacar aku." Dara langsung mengelak.
"Bohong lo, nggak apa-apa kali. Malah keren banget lo bisa pacaran sama cowok kuliahan. Gila keren asli."
Priska adalah salah satu most wanted di sekolah, dia saja mengacungi jempol melihat Dara bisa kenal dengan cowok sekeren itu.
"Nggak kok. Udah ya, nggak ada apa-apa antara aku dan dia. Kita cuman temenan doang."
__ADS_1
Dara memilih duduk di kursinya. Dia. tidak mau berita itu makin menyebar, walau sebenarnya Guntur memang tadi mengajaknya berpacaran. Tapi, pasti itu hanya candaan? Mana mungkin cowok sekeren Guntur mau memacari anak sekolahan sepertinya? Batin Dara.