MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 10 - Selesainya pekerjaan pertama


__ADS_3

“Ada apa ini?!" tanya pria itu.


Jasmin mengambil kesempatan untuk menjauh dari pria itu.


Tetapi pergerakan Jasmine seolah tidak diperdulikan lagi oleh Roger, karena pria itu sedang ketakutan.


“Apa yang terjadi?!, kenapa semua gelap?" pria itu terus bertanya ketakutan.


Tiba-tiba pintu di dobrak dari luar, kemudian…


DZEEPP!.. DZEEPP!!..


Tak berapa lama, lampu kembali menyala…


Dan betapa terkejutnya Jasmin melihat Roger telah tergeletak di lantai dengan lubang di kepala dan di jantungnya, darahnya menggenang di balik tubuhnya di lantai.


Jasmine seolah ingin berteriak, tetapi ia menahannya, ia menutup keras mulutnya dengan telapak tangannya.


Mata indah gadis itu masih membulat melihat pria yang tadi bersamanya telah tewas di depan matanya.


Beberapa pria berpakaian serba hitam dengan memakai kacamata infrared dan dengan pistol di tangan-tangan mereka segera membereskan mayat Roger.


Dari balik pintu, Alfhonso, terlihat masuk ke dalam kamar.


Alfhonso, yang menenteng pistol di tangannya menghampiri Jasmine yang masih syok dengan apa yang terjadi.


“Kau tak apa-apa?" Alfhonso, duduk di pinggir ranjang memandang wajah Jasmine yang pucat dan matanya yang sudah basah dengan air mata.


“Kenapa tuan lama sekali..” tangisnya pecah ketika Alfhonso, mendekat padanya.


Tubuh putih mulus Jasmine yang tersingkap karena pakaian yang robek, cepat-cepat di balut selimut oleh Alfhonso, dengan selimut tebal berwarna coklat.


“Maaf sedikit terlambat, aku dan anak buahku mengurus para penjaga Roger yang cukup banyak. Sekarang kau telah aman" ucap Alfhonso, sambil mengusap kepala Jasmine perlahan.


Gadis itu menangis sejadinya di dada Alfhonso, cukup lama, tubuh Jasmine meringkuk di dekapan pria bermantel hitam itu.


Sampai anak buahnya membereskan semuanya hingga bersih, Jasmine masih terisak dengan tangsinya.


“A-aku..ti-dak ingin me-lakukan- i-ni lagi tuan..” suaranya yang terisak membuat Alfhonso iba dan sedikit merasa bersalah.


“Tenanglah Jasmine, kau akan terbiasa dengan hal ini" ujar Alfhonso, yang msih mengelus rambut halus gadis itu yang sudah berantakan.


“Ham-pir saja,..hampir saja tuan..” isak tangis Jasmine masih terdengar seiring rasa takutnya yang mendalam.


“Sshh..sshh.., kau sudah aman sekarang..” Alfhonso mencoba menenangkan gadis didekapannya itu.


Akhirnya setelah Jasmine telah tenang, dan semua bukti pembunuhan telah di bersihkan, mereka kembali pulang.


Alfhonso mengantar Jasmine ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, gadis itu langsung memasuki kamar dan menekuk tubuhnya, seolah trauma tadi belum sepenuhnya hilang.

__ADS_1


“Jasmine, apa perlu aku temani?" tanya Alfhonso perlahan.


“Tidak perlu tuan, aku hanya lelah" ucapnya lirih.


Akhirnya Alfhonso beranjak menjauhi gadis itu, ia tidak ingin mengganggunya, ia keluar kamar dan mematikan lampunya.


Seharian Jasmine tidak beranjak dari kasur empuk milik Alfhonso, gadis itu memang tidak boleh di ganggu atau dibangunkan atas perintah Alfhonso, tetapi penjagaan terus di lakukan di luar kamar tanpa diketahui Jasmine, hingga malam menjelang kembali.


Pagi mengibas cahaya keemasan, terselip dari celah jendela yang masih menutup.


Jasmine membuka matanya perlahan, kemudian ia bangkit dari ranjangnya, dan membuka pintu kamar.


Gadis itu sedikit terkejut, ternyata Alfhonso tidur di sofa, pria itu tidak pulang ke mansionnya.


Jasmine tidak membangunkan Alfhonso, seperti biasa ia membersihkan wajah dan menyikat gigi, dan mulai membuat sarapan.


Setelah sehari semalam ia meringkuk di ranjang tuan mafia, pagi ini seolah ketakutan yang kemarin terkikis sedikit.


Ketika sarapan sudah terhidang, pria itu terbangun dan mencium aroma harum masakan.


Alfhonso bangkit dari sofanya, dan mendekati meja makan.


“Aaarrgghh…,Masak apa kau?" tanya pria itu sambil merenggangkan ototnya.


“Kau bermalam disini tuan?, ah ini..aku membuat Pizza jamur sederhana, aku hanya memanfaatkan bahan yang ada di kulkas" ujar Jasmine yang masih menyiapkan perlengkapan makan.


Jasmine menyodorkan pizza yang masih mengepul di hadapan Alfhonso.


“Hmm…sepertinya enak..” ujar pria itu yang sudah berada di meja makan.


Alfhonso langsung mengambil potongan pizza dengan tangannya, tetapi Jasmine buru-buru mencegahnya.


“Maaf tuan, kau belum membersihkan mulutmu!" Jasmine mengambil pizza dari tangan Alfhonso dan meletakkannya kembali ke piring.


Alfhonso yang sudah membuka mulutnya siap menyantap pizza jamur terhenti dengan mulut masih membuka melirik kearah gadis itu.


Pria itu menghela nafas…


“Kau seperti nenekku saja…" gumam Alfhonso sambil melangkah menuju wastafel untuk menyikat gigi dan mencuci wajahnya.


Akhirnya mereka menikmati pizza bersama.


Alfhonso sesekali mencuri pandang melihat kecantikan gadis di hadapannya.


Tetapi ia segera mengalihkan pandangannya ketika Jasmine menoleh kearah pria itu.


“Tuan, apa kau memiliki banyak musuh?, dan kenapa kalian saling membunuh?" tanya Jasmine sambil menikmati pizza di tangannya.


“Hmm, itu...,ehm, itu masalah para pria, kau takkan mengerti" ucap Alfhonso santai sambil mengunyah pizza di mulutnya.


Seolah tersirat sebuah rahasia yang pria itu tidak ingin ungkapkan.

__ADS_1


“Apa kau pernah di tangkap atau di penjara tuan?" tanya Jasmine kembali.


“Tidak, mungkin belum..yah mungkin karena aku kebal hukum..” ujar Alfhonso sambil bangkit dari duduknya dan mencuci tangan.


Jasmin hanya mengerutkan kening mendengar penjelasan pria itu.


"Apakah tu-.."


"Sudahlah..bisakah kita tidak membahas tentang kejahatanku?" ujar Alfhonso memotong kalimat Jasmine.


"Ah,.ya maaf tuan, aku tidak bermaksud menyinggungmu.." ujar Jasmine.


"Yah, sudahlah.."


“Tuan, terimakasih untuk menyekolahkan adikku..” ucap Jasmine sedikit tertunduk.


“Yah, itu bukan apa-apa, aku suka adikmu, dia pintar, aku suka anak pintar" sahut Alfhonso sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Jasmine.." tiba-tiba pria itu menatap Jasmine dengan serius sambil berdiri di pinggir meja makan.


"Ya, ada apa tuan?" ujar gadis itu yang spontan melihat kearah Alhonso.


"Hmm, maukah kau tinggal di sini beberapa lama lagi?bekerjalah untukku, aku tidak akan mengancammu seperti kemarin, kali ini aku yang memintamu secara baik-baik" ucap pria tampan itu.


"Umm,..yaa, baiklah tuan, akan kuusahakan untuk tetap bekerja padamu, walaupun pekerjaan itu sebenarnya membuatku takut" ucap Jasmine jujur.


"Ya, maafkan aku, tapi untuk sementara pekerjaanmu masih menjadi mata-mata sampai aku menemukan pekerjaan yang lain untukmu, bagaimana?"


"Baiklah tuan.." jawab gadis itu membuat Alfhonso tersenyum.


“Aku akan ke kantorku setelah ini, dan kembali ke mansion, apa kau mau lihat rumahku? “ ujar Alfhonso.


“Apa boleh tuan?" terlihat sedikit keceriaan di wajah Jasmine.


“Tentu saja..aku akan menjemputmu siang nanti" Alfhonso melangkah menuju tempat jas dan mantelnya di gantung.


“Oya, ini bayaranmu untuk yang kemarin, kerjamu lumayan bagus" ucap pria berwibawa itu sambil meletakkan sebuah kartu ATM di atas meja makan.


“Kode Pinnya adalah tanggal dimana kau pertama kali mengantar pizza kepadaku"


"Ah, ya terimakasih tuan.." Jasmine masih sedikit bingung dengan pembayarannya yang berbentuk kartu.


Alfhonso meraih mantelnya, memasang di pundaknya dan berlalu keluar pintu.


“Oya, terimakasih untuk pizzanya, rasanya enak, persis seperti yang dijual di toko Pizza dekat alun-alun kota" Alf menutup pintu dan menghilang.


‘Toko pizza dekat alun-alun kota?, itu adalah tempatku bekerja...' batin Jasmine menerawang.


******


...Dukung terus karya author ya dengan memberi like, view dan komen... ...

__ADS_1


...terimakasih... ...


__ADS_2