
Jasmine meminta kepada Gillbert untuk pulang dan pergi setiap harinya, ia tidak menginap di rumah itu, dan Gillbert menyetujuinya.
Lima hari kemudian,
Di ujung blok, sebuah Volvo hitam berhenti, dan Jasmine turun dari mobil itu.
“Nanti tolong jemput aku disini tuan Boren" ucap Jasmine sambil menutup pintu belakang mobil dan kepalanya menunduk melihat kedalam dari kaca mobil depan yang terbuka.
“Apa tidak terlalu jauh nona?" ucap Boren.
“Tidak apa tuan, tempat yang kemarin agak ramai, aku pergi dulu tuan Boren" ujar Jasmine polos.
Boren si supir sedikit tersenyum melihat nona mudanya berjalan dengan berpakaian pelayan, padahal ia tahu betul kalau tuannya Alfhonso sangat menyukainya.
Jasmine mengerjakan pekerjaannya dengan baik, gadis itu memang rajin dan cekatan, hingga dengan mudah mengerjakan pekerjaan apapun.
Jasmine yang berjalan menuju dapur, tiba-tiba ia tertabrak Charsilla yang tengah membawa minuman, dan…
PRANG!!!...
Minuman yang di bawa Charsilla jatuh dan gelas beling itu pecah dengan seketika.
“Hah!!, dasar bodoh!!, apa yang kau lakukan!!" Charsilla sangat marah kepada Jasmine yang telah menabraknya dan menyebabkan minuman itu tumpah dan pecah.
“Maaf nyonya, aku tidak sengaja..aku akan bersihkan belingnya..” Jasmine yang berpura-pura tidak sengaja langsung beranjak dari hadapan Charsilla dan membawa alat pel dan pembersih beling yang berserkan.
“Ada apa Silla?" tanya Gillbert yang baru dari keluar dari kamar mandi, dengan handuk di pundaknya.
“Lihat perbuatan pelayan bodoh itu!!, dia menjatuhkan minuman yang kubuat untukmu!" pekik wakita itu.
“Ya sudahlah, biar dia bikinkan lagi untukku" jawab Gillbert.
Akhirnya Jasmine membuatkan lagi minuman lemon untuk Gillbert dan memberinya di teras. Gillbert melirik kearah Jasmine dan sesekali mengalihkan pandangannya.
“Gill, aku akan mengnjungi butik, nanti kau tak perlu menjemputku, aku membawa mobil sendiri" ucap Charsilla di teras bersama Gillbert.
“Baiklah, aku akan pulang agak sore..” ucap Gillbert.
Wanita itu mendekati Gillbert, dan mereka bercumbu di kursi bambu besar di teras itu.
Jasmine yang jengah dengan pemandangan itu langsung menuju dalam dan mengerjkan pekerjaan yang lain.
Hampir satu jam berlalu, kemudian keduanya berangkat dan meninggalkan Jasmine seorang diri di rumah tersebut.
Siang menjelang, Jasmine masih seorang diri di kediaman Gillbert.
Saatnya ia memeriksa apa saja yang menjadi petunjuk untuk di berikan kepada tuannya.
Jasmine menuju meja kerja Gillbert, ia melihat semua dokumen yang ada disana dan memfotonya dengan kamera mini pemberian Bony.
Setelah selesai ia beranjak ke kamar Gillbert dan memeriksa disana.
__ADS_1
Akhirnya beberapa petunjuk telah ia dapatkan, ia mendapatkan dokumen tentang perjanjian hutang piutang dengan Reondess, rival Alfhonso.
‘Aku sudah menemukan sebuah dokumen dan sebuah brankas di kamar' Jasmine memberi laporan sepihak sepada Alfhonso, Bony dan teamnya di kediaman Bony.
Karena alat penyadap di cincin itu hanya bisa untuk mendengar suara Jasmine, dan tidak bisa untuk berkomunikasi.
[ Di rumah Bony] di ruang pemantau,
“Bagus!, dia memang gadis pintar" ujar Alfhonso yang berdiri di dekat Bony.
“Bos, perasaanku tidak enak, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Bony pada tuannya.
Bony menatap layar monitor pemantau, di sana terlihat peta lokasi Jasmine dan audio frekuensi suara dari Jasmine dan yang ada di sekitarnya.
“Dia akan baik-baik saja, ketika ada bahaya, ada orangku sudah berjaga disekitar rumah Gillbert" ujar Alfhonso.
[ Kembali ke rumah Gillbert ]
Beberapa saat kemudian, Gillbert pulang dan menuju ruang dalam utama.
Gillbert kemudian menuju ke atas, ke ruang kerjanya.
Jasmine sudah akan pulang karena hari sudah mulai petang, tetapi ketika ia akan izin pulang dan pamit kepada Gillbert, tiba-tiba Gillbert memanggilnya dengan suara keras.
“Cherry!!, kenapa barang-barangku di laci berantakan?!, Hey! Apa kau yang mengambil berkas yang ada di laciku?!" bentak Gillbert dengan geram.
“Ah, tidak tuan, mana mungkin aku melakukan itu?" ucap Jasmine yang langsung menghampiri tuannya di ruang kerja.
Alfhonso,Bony dan beberapa team mendengarkan dengan memasang telinga mereka dan wajah yang serius.
“Besarkan volumenya Bon" ujar Alfhonso.
“Ini sudah full bos" ucap Bony.
[ Di rumah Gillbert ]
“Jika bukan kau, lalu siapa yang melakukannya?!, atau jangan-jangan kau mata-mata?!"
“Tidak tuan!" pekik Jasmine.
Gillbert mendekati Jasmine.
“Dimana alat pelacaknya?!, kau sembunyikan dimana hah?!" bentak Gillbert.
"Apa di balik pakaianmu?!, Buka semua pakaianmu!. Dimana alat penyadap yang kau sembunyikan?!"
“Tidak ada tuan!"
[ Di kediaman Bony ] ruang pemantau ,
Alfhonso dan Bony semakin tegang mendengar percakapan Jasmine dan Gillbert.
__ADS_1
“Bos, bagaimana ini?, Gillbert sudah mengetahuinya" ujar Bony cemas.
Alfhonso diam dengan rahang mengatup dan mata yang tajam.
Ia sangat khawatir dengan keadaan Jasmine di sana bersama Gillbert.
Di speaker yang terhubung dengan CPU computer dan di monitor tampilan gelombang suara, terdengar suara Jasmine mulai meninggi berusaha berkilah.
"Tuan, tolong jangan!, aku bisa jelaskan..” suara Jasmine terdengar ketakutan.
"Jelaskan apa!, ayo buka semuanya!!, pasti kau menyembunyikan sesuatu!" suara Gillbert juga semakin menekan.
"Akh!, jangan!" teriakan Jasmine membuat Alfhonso serba salah, ia semakin cemas.
“Bos apa yang harus kita lakukan?!" tanya Bony yang sama cemasnya.
“Aku akan menelpon Gillbert, tidak..aku akan kesana!" ucap Alfhonso dengan kepanikan yang terpancar dari wajahnya.
"Tidak!, tunggu tuan!!..Zzzzzzssss…." tampilan suara di monitor terlihat datar dan lurus, tanda alat penyadap tidak lagi berfungsi.
“Bos, alat pelacaknya mati..” pekik Bony, dan ketika melihat kearah Alfhonso, pria itu telah keluar dari ruangan Bony.
Alfhonso menghubungi Gillbert sambil menuju mobilnya dengan panik dan tergesa-gesa.
“Raizon!, kau ikut aku, Cepat!" Alfhonso juga menghubungi Raizon.
[ Di rumah Gillbert ]
Suara mobil milik Charsilla terdengar memasuki rumah mewah tersebut.
Telpon Alfhonso tidak juga diangkat oleh Gillbert.
Beberapa menit kemudian, Alfhonso dan para anak buahnya sampai di kediaman Gillbert, mereka dipersilahkan masuk oleh panjaga, karena reputasi Alfhonso sudah di ketahui oleh seluruh anak buah Gillbert dan mereka sangat menaruh hormat pada Alfhonso.
Ketika Alfhonso,Raizon dan para anak buahnya memasuki pintu utama rumah milik Gillbert, tiba-tiba…
DAR!!!....
Suara tembakan membuat seluruh yang ada di sana terkejut dan berhenti mendadak.
Tetapi beberapa detik kemudian...
“GILLBERT!!!" teriak Alfhonso memanggil dengan keras.
Tak lama berselang, Gillbert turun dari tangga besar dengan tangan yang berlumuran darah.
“Tuan Alfhonso?" tanya pria pirang itu lemas.
“Siapa yang kau tembak?!" tanya Alfhonso kemudian menghampiri Gillbert.
Itu..” Gillbert tiba-tiba menangis dan duduk ditangga dengan tangan yang masih berlumuran darah.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Alfhonso dan Raizon menaiki tangga dan melihat keadaan didalam, sebenarnya yang Alfhonso khawatirkan hanyalah Jasmine.