MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 8 - Penyamaran dimulai


__ADS_3

“Aku Jasmine..” ucap gadis cantik itu sambil membalas jabatan tangan Lyra.


“Aku sudah tahu namamu dari tuan gila ini..” Lyra mengepulkan asap tipis dari bibirnya.


“Hey, aku gila atau kau yang tergila-gila padaku..” ucap Alfhonso sambil tertawa tipis.


“Sudahlah kita abaikan tuan ini. Baiklah, mari kita mulai pelajarannya..kita akan mulai belajar bagaimana caramu merayu seorang pria, dan caranya memikat hasrat mereka…” Lyra merangkul Jasmine ke kamar sambil melirik nakal kearah Alfhonso.


“Hey Bon, apa kau sudah berkenalan dengan Jasmine?" tanya Alfhonso.


“Ya sudah,..”


“Rencana kita untuk Roger di majukan, karena aku sudah memiliki mata-mata"


“Memang benar ucapan nona Lyra, kau sudah gila Bos, menyuruh gadis secantik dia dan gadis polos seperti itu untuk menjadi mata-mata, itu sangat beresiko"


“Sudahlah,…urus saja handphonemu, jika handphonemu tidak aktif lagi, ku bakar laptop bututmu itu..” ujar Alfhonso.


“Hey!, butut katamu? Laptopku Ini adalah versi terbaru dan tercanggih yang pernah ada” ucap Bony menyangkal.


Di dalam kamar,


“Yah, bagus seperti itu jalan yang kuinginkan..” Lyra mengajarkan Jasmine berjalan dengan anggun dan menggoda.


“Nona Lyra, kenapa bukan kau saja yang dijadikan mata-mata oleh tuan Alfhonso, sepertinya kau lebih mudah menjalankan tugas ini daripada aku..” tanya Jasmine polos.


“Hahahaa…jika aku yang menjadi mata-mata, maka aku akan terlena dan tidur dengan musuh pria itu, dan aku akan melupakan tugasku..lagipula mereka para musuh Alfhonso sudah tahu siapa aku, tidak mungkin aku menyamar..” ujar Lyra sambil tertawa mendengar pertanyaan Jasmine.


“Nona Lyra, apakah kau adalah kekasih tuan Alfhonso?" tanya Jasmine lagi.


“Bukan sayang, sejak aku kenal tuan muda itu, dia tidak pernah punya kekasih..yang ada hanya teman kencan dan penghiburnya ketika dia kesepian, dia tidak ingin memiliki kekasih, apalagi istri, sangat beresiko katanya, dia tidak ingin istrinya atau keluarganya jadi sasaran musuh-musuhnya, dia tidak ingin melibatkan yang ia sayangi kedalam masalah" jelas Lyra.


Jasmine hanya terdiam mendengar penjelasan wanita di sampingnya, seolah pria itu semakin misterius untuknya.


Dua hari berlalu,


Persiapan untuk memasuki mansion mewah milik Roger Britz telah di depan mata.


Alfhonso telah lebih dulu menelpon seorang wanita mucikari, nyonya Maryon.

__ADS_1


“Ayolah tuan Alfhonso, apa kau ingin menghilangkan satu pelanggan setiaku?" ujar nyonya Maryon di sebarang telpon ketika Alfhonso menjelaskan maksudnya.


“Dengar nyonya, berapapun kau dibayar oleh Roger Britz, aku akan bayar dua kali lipat, dan kau akan mendapat dua kali pelanggan pengganti Roger, asal kau bersedia membantuku, bagaimana?" ujar Alfhonso.


“Yah..ya, baiklah. Yang kutahu hanya uang tuan, perseteruanmu bukan urusanku..baiklah aku akan membantumu" ucap nyonya tersebut di telpon.


“Bagus, kau memang pintar nyonya Maryon, pilihanmu selalu tepat".


Setelah Alfhonso menutup telpon, ia menoleh kearah Jasmine yang keluar dari kamarnya.


Matanya membulat dan tatapannya tidak berhenti untuk beberapa saat, pria itu terpesona dengan kecantikan Jasmine yang sempurna.


Jasmine menggunakan gaun indah dan agak terbuka. Rambut coklat pekatnya di sanggul rapih di belakang, sangat anggun.


Tetapi sepertinya ia kesulitan dan tidak nyaman untuk memakainya.


‘Sial, kau cantik sekali..’ gumam Alfhonso di batinnya.


“Tuan, apa bisa aku memakai gaun yang agak panjang atau agak longgar?" Jasmine menarik-narik ujung rok mininya yang berwarna merah marun.


“Itu sudah sangat cocok untukmu..” Alfhonso bangkit dari duduknya dan mendekati Jasmine.


“Hati-hatilah kau disana, ini agak berbahaya, dan pastikan kau memencet tombol hijau di cincin yang kau kenakan, jika si tua Bangka itu sudah mulai mendekatimu…aku tidak ingin dia menyentuh milikmu..kau paham?" dengan suara agak pelan Alfhonso menyentuh pipi Jasmine, dan ia hendak mencium gadis cantik di hadapannya.


Tetapi Jasmine mundur karena tidak siap dengan sikap Alfhonso yang mendadak itu.


“Maaf tuan,…apa aku bisa mengambil tasku?" ujar Jasmine sedikit menunduk, menghindar melangkah melewati Alfhonso yang tengah berdiri.


Pria itu menghela nafas menahan hasratnya.


“Baiklah, apa kau ingat apa yang harus kau lakukan?" tanya Alfhonso sambil meraih mantel hitam di gantungan yang ada di dinding.


“Ya tuan, aku hanya perlu membawa pria itu keluar dari mansion dan memencet tombol di cincinku jika keadaan mendesak.." ucap Jasmine yang cepat mengerti.


“Yap, jika kau memencet tombol itu, maka aku dan anak buahku akan langsung menuju ke tempatmu berada" ujar Alfhonso menjelaskan.


“Rapihkan juga anting-anting di telingamu, agar suaramu dan si tua Bangka itu terdengar jelas" Alfhonso memegang lembut telinga Jasmine, yang membuat Jasmin menunduk dan sedikit menghindar karena tidak nyaman.


“Baik tuan" Jasmine memperbaiki posisi anting yang di berikan Alfhonso dan Bony semalam sebagai alat penyadap, dan cincin dengan batu berwarna hijau sebagai alat pelacak.

__ADS_1


Jasmine menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Alfhonso memandangnya sesaat.


“Aku sangat takut tuan..” ujar Jasmine.


“Tenanglah, kau akan baik-baik saja, aku dan anak buahku akan terus memantaumu" Alfhonso mencoba menenangkan Jasmine.


Akhirnya mereka bergegas menuju kediaman Roger Britz, konglomerat yang sering korup dan saat ini sedang ada pertikaian dingin antara dia dengan Alfhonso sang mafia.


Alfhonso biasanya menggunakan mata-mata pria untuk mengatasi lawan yang sekiranya bisa di tangani, tetapi ada beberapa musuhnya yang sulit untuk di hadapi dan harus menggunakan mata-mata wanita, salah satunya adalah untuk kasus Roger Britz.


Roger Britz sangat gila dengan wanita, setiap pekan ia menyewa wanita penghibur untuk menemaninya, dan ia selalu memesan wanita dari nyonya Maryon.


[Di kediaman Roger Britz]


Pagar tinggi dan kokoh membentang di sepanjang mansion mewah milik seorang terkaya di kota itu, Roger Britz.


Jasmine turun dari sedan hitam, kemudian ia melangkah menuju pagar tinggi.


Di sisi tembok bagunan tersebut ada sekotak tombol pesan suara.


Jasmine menekan tombol tersebut.


“Permisi, bisa aku bertemu tuan Roger? Aku utusan nyonya Maryon" ucap Jasmine di kotak tersebut.


“Baik masuklah, kami akan memeriksamu terlebih dahulu" jawab suara dari balik kotak di dinding itu.


Tiba-tiba pintu pagar besar itu terbuka dengan sendirinya, Jasmine melangkah memasuki mansion tersebut yang sangat mewah dengan penjaga yang bagitu banyak.


Jasmine terus melangkah sampai mendekati pintu utama.


Dua orang pria penjaga menghampiri Jasmine, dan meminta tas yang di genggam gadis itu.


Salah satu pria memeriksa isi tas Jasmine, dan yang satu lagi menggeledah tubuh Jasmine.


Gadis itu agak risih di sentuh oleh penjaga, tetapi Alfhonso berkata bahwa siapapun yang memasuki minson Roger haruslah melewati pemeriksaan yang super ketat.


Akhirnya setelah pemeriksaan yang ketat, Jasmine di antar oleh penjaga yang lain untuk memasuki ruang utama.


“Permisi tuan Roger, tamu anda sudah datang" ujar penjaga yang membawa Jasmine.

__ADS_1


“Hm, bawa kesini" perintah pria paruh baya itu di sofa panjang berwarna krem.


__ADS_2