
“Benarkah tuan?” ucap Alfhonso.
“Ya, kau hanya perlu menunggu, dan menyiapkan diri untuk menjadi ketua selanjutnya” ujar Ramonev.
“Tapi aku,..aku berhutang banyak padamu tuan..”
“Lunasilah hutangmu dengan menjadi penggantiku, Alfhonso..” Ramonev tersenyum sambil menuang kembali minuman ke dalam gelas kristal, kemudian ia meminumnya sambil menyilangkan kakinya di sofa.
Tiga hari berlalu, di kediaman Alfhonso,
Handphone yang selalu di sisi Alfhonso akhinya berdering, ketika pria itu melihat nama kontak yang tertera disana, matanya membulat dan dengan buru-buru ia mengangkat telpon itu.
“Tuan Ramonev…bagaimana, apa ada kabar baik?” tanya Alfhonso penasaran.
“Ya Alfhonso, aku sudah menyelesaikannya..” jawab suara berat setengah tua dari sebrang telpon.
“Maksud anda masalah Carlos?” tanya Alhonso.
“Hmm ya,..nanti kau tinggal menjemput gadismu di tempatku”
“Ah, terimakasih banyak tuan..aku, aku tidak bisa mengatakan apa-apa selain terimakasih..” suara Alfhonso menyiratkan kegembiraan.
“Sudahlah…aku senang bisa membantumu..Oya, Carlos saat ini sedang berada di Rumah Sakit “
“Ha?, apa yang anda lakukan tuan?” tanya Alfhonso.
“Yaah…sedikit pelajaran untuk anak nakal…” jawab Ramonev santai.
Akhirnya Jasmine dijemput Alfhonso di kediaman Ramonev. Gadis itu terlihat lemas dan mengalami dehidrasi, juga agak ketakutan.
Di kediaman Ramonev,
“Tuan Ramonev, maaf merepotkanmu” ucap Alfhonso ketika mendapat rangkulan dari Ramonev.
“Sudahlah…sana temui gadismu, dia terlihat lemah…”
Jasmine di letakkan di kamar tamu oleh Ramonev, dan diperlakukan baik disana.
Ketika Alfhonso berada di bibir pintu kamar, Jasmine terlihat sedang duduk di ranjang tengah memakan semangkuk bubur kentang hangat, dengan setengah tubuhnya di tutupi selimut tebal.
Mata gadis itu melihat seseorang yang sangat di kenalnya di bibir pintu, serta merta matanya berkaca-kaca.
Alfhonso masuk dan mendekati Jasmine di ranjang. Pria itu duduk di pinggir ranjang dan mengusap kasar rambut gadis itu.
“Tu-tuan,…maafkan aku..” Jasmine menunduk dan menangis.
“Dasar gadis bodoh!, jangan sekali-kali lagi kau bertindak sendiri dan berbuat seperti itu lagi!, kau mengerti!!” ucap Alfhonso geram pada Jasmine.
“Aku,…aku hanya ingin membant-..”
__ADS_1
“Sudahlah Jasmine, aku mengerti maksudmu, tapi kau tidak perlu menceburkan diri kedalam dunia hitamku...” Alfhonso meraih kepala gadis itu dan merapatkan ke dada kokoh miliknya.
Akhirnya mereka pulang setelah berpamitan pada Ramonev.
Diperjalanan Jasmine terus menangis di pelukan Alfhonso.
Mereka menuju ke mansion Alfhonso, bukan ke apartemen.
“Apa kita akan ke mansionmu tuan?” tanya Jasmine.
“Ya, kau bermalam disana..tidak apa kan?” ucap Alfhonso.
“Ya baiklah..”
Sesampainya di mansion Alfhonso, hari sudah menjelang malam, mereka memasuki ruang tengah. Jasmine duduk perlahan di sofa, sementara Alfhonso menaiki tangga besar menuju keatas.
Beberapa menit kemudian, Afhonso turun dari lantai atas dan menuju ke tempat Jasmine duduk.
“Jasmine, ayo ikut aku..” ucap Alfhonso yang mengisyaratkan pada Jasmine untuk naik ke lantai atas.
Jasmine menuruti perintah Alfhonso. Gadis itu menaiki tangga besar yang melingkar menuju lantai dua.
Di ruangan atas, ada dua pintu disana, Alfhonso menuju pintu yang paling ujung dekat dengan pintu ke luar balkon.
“Kemarilah Jasmine..” ucap Alfhonso sambil membuka pintu kamar tersebut.
“Apa ini kamar tamu tuan?” tanya Jasmine sambil menoleh melihat isi kamar tersebut.
Jasmine melangkah perlahan mengikuti Alfhonso memasuki kamar besar tersebut.
Cahaya di kamar tersebut agak redup namun terkesan glamor.
Kamar elegant dengan dominasi warna merah marun. Dindingnya di lapisi wallpaper klasik bermotif floral juga berwarna merah marun.
Ranjang ukuran besar terbentang mewah, dengan sandaran ranjang berwarna merah gelap berpadu dengan tiang berwarna emas yang glamor, lengkap dengan selimut, bedcover dan bantal yang semua warna hampir berwarna merah gelap atau marun dengan motif yang elegan.
Di bawahnya terbentang permadani bulu berwarna abu tua di atas lantai kramik kualitas nomer satu.
Di sisi dinding, sebuah jendela besar membentang, gorden besar terpasang mewah hampir menutup sebagian jendela.
“Kau tidurlah disini…” ucap Alfhonso.
“Lalu?, tuan tidur dimana?, biar aku tidur di kamar tamu saja tuan…”
“Tidak apa, kau tak perlu memikirkanku…Oya Jasmine, ada yang perlu kau tahu..walaupun banyak wanita yang sering kuajak tidur, tapi tak ada satupun wanita yang pernah tidur di kamarku ini, dan belum pernah ada wanita yang tidur di ranjangku ini..” jelas Alfhonso.
“Ahh, begitukah?, aku jadi tidak enak tuan, biar aku tidur di ruangan yang lain saja..” pinta Jasmine.
“Kau mau membantahku lagi?!, malam ini kau tidur disini!, dan aku tidak ingin ada penolakan atau ketidakpatuhanmu! Kau paham!” tegas Alfhonso membuat Jasmine tidak berkutik.
__ADS_1
“Ya..aku paham tuan, baiklah aku tidur disni..” jawab Jasmine pasrah.
Akhirnya malam itu Jasmine tidur di kamar mewah pribadi milik Alfhonso. Jasmine membersihkan diri, kemudian ia memakai dress tipis berwarna pink agak pendek diatas lutut.
Gadis itu dengan ragu-ragu menaiki ranjang empuk milik Alfhonso, kemudian ia menarik selimut hingga dadanya. Matanya masih menerawang menyusuri seluruh isi kamar mewah tersebut.
Tidak banyak ornament atau perabotan disana, hanya ada lemari besar, meja dan sofa ukuran kecil yang terbuat dari kulit berwarna coklat gelap, serta beberapa rak untuk menaruh barang-barang kecil, namun semuanya terlihat elegant dan mewah.
Akhirnya Jasmine bisa memejamkan matanya, dan tertidur dengan lelap…
Malam dini hari, pukul 02:15, Jasmine mengigau dan hampir berteriak dengan mata masih terpejam.
“Jasmine!..Jasmine!!”
Suara dan tepukan telapak tangan Alfhonso di pipi Jasmine, spontan membangunkan gadis itu dari mengigaunya.
“Haah!!, tuan?..apa yang terjadi?”
dengan posisi langsung duduk, Jasmine terengah-engah dengan nafas yang berat melihat Alfhonso dengan piyamanya telah berada di sisi ranjang.
“Kau mengigau Jasmine..” ucap Alfhonso di sisi ranjangnya.
“Ah, aku mengigau?, maaf tuan…” Jasmine mulai mengatur nafasnya kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Apa kau bermimpi buruk?” tanya Alfhonso kembali.
“Ah..iya sepertinya begitu..”
“Baiklah, mungkin kau hanya ketakutan, tidurlah lagi…aku…,aku akan menunggu di luar” ujar Alfhonso sambil membetulkan selimut Jasmine.
“Baiklah tuan, maaf telah mengganggu tidurmu…selamat malam tuan..”
Jasmine membalik badannya membelakangi Alfhonso dan menarik selimutnya kembali.
Tetapi Alfhonso ternyata tidak segera keluar kamar, ia memandang leher Jasmine yang putih dan helaian rambutnya yang indah menggerai di bantal, juga lekuk tubuhnya yang menggoda dibalut dress tipis yang semakin membuat Alfhonso berhasrat, pria itu terdiam berdiri di sisi ranjang sambil memandang keindahan gadis itu.
Seolah merasa diperhatikan, Jasmine menoleh kearah Alfhonso.
“Tuan?, kau masih disini?..” ucap Jasmine dengan kepala yang agak terangkat.
“Ah, ya..maaf..ya aku, akan segera keluar..” Alfhonso kemudian membalik badannya.
Tetapi…
“Tuan,…” panggil Jasmine.
“Ya..ada apa?”
“Maaf aku tidur di ranjangmu..sementara kau mengalah tidur di ruangan lain..” ucap Jasmine.
__ADS_1
“Ya, tidak masalah…” Alfhonso seolah salah tingkah.
Jasmine melihat kewajah pria itu, begitu juga dengan Alfhonso, melihat dalam ke mata gadis itu.