MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 58 - Apa yang terjadi disana?


__ADS_3

Di dalam mobil Raizon menatap Jasmine dengan iba.


“Apa kau tidak apa-apa nona?” tanya Raizon memandang wajah Jasmine.


“Ya, aku hanya takut tuan, terimakasih telah menyelamatkanku” ucap gadis itu.


“Tenanglah, kau sudah aman sekarang” ujar Raizon berusaha menenangkan.


“Si Marino ini ternyata bajingan juga” umpat Raizon perlahan.


“Kenapa tuan Raizon?” Jasmine tidak mendengar ucapan Raizon.


“Ah, tidak…tidak apa”


“Maukah kau jelaskan semua nanti nona apa yang terjadi” tanya Raizon.


“Ya, aku memang harus menjelaskan semua pada tuan Alfhonso” ucap Jasmine.


Sesampainya mereka di kediaman Alfhonso, Jasmine melihat Alfhonso yang tengah duduk di sofa dengan kaki menyilang dan rokok yang berada di sela bibirnya.


“Kalian berhasil” ucap Alfhonso.


“Ya tuan, kondisi nona Jasmine agak ketakutan” ucap Raizon.


“Baiklah kalian semua boleh keluar, Jasmine..duduklah” ucap Alfhonso seolah ada perasaan mengganjal dalam dirinya.


Jasmine yang hanya diam duduk perlahan di sofa tidak jauh dari Alfhonso sambil sesekali menatap wajah Alfhonso yang dingin, entah kenapa saat ini Jasmine seolah di tekan rasa takut dengan tatapan Alfhonso yang tidak seperti biasanya.


“Mendekatlah” ucap Alfhonso.


Jasmine-pun menuruti perintah pria di depannya.


“Tuan, apa kau marah denganku?” tanya Jasmine memulai pembicaraannya.


“Jelaskan apa yang terjadi padamu di tempat Marino, aku akan mendengarkan” Alfhonso menghembuskan asap tipis dari sela bibirnya.


“Ketika aku pergi dari apartemen waktu terakhir bicara pada anda, aku bingung tidak tahu harus kemana, sampai aku duduk di depan sebuah restauran seafood. Kemudian seorang wanita menyapaku dan bertanya, aku jelaskan bahwa aku bingung akan kemana, kemudian dia menawarkan pekerjaan sebagai pelayan di restauran tersebut, kebetulan memang sedang memerlukan satu orang pelayan disana. Aku sangat beruntung, dan langsung mengiyakan tawaran itu”


“Hmm, kemudian?” dengan sikap yang masih dingin Alfhonso bertanya kembali.


“Aku tinggal sementara di gudang restauran itu sampai aku mendapat gaji untuk menyewa tempat tinggal. Karena semua pemberian anda aku tinggal di apartemen” Jasmine sedikit menunduk.


“Lalu?” ucap Alfhonso santai, masih dengan rokok di jemarinya.


“Lalu, aku bekerja disana beberapa hari, sampai…, sampai tuan Marino datang dan melihatku. Dia melihat kerjaku untuk beberapa hari, kemudian dia menawariku untuk merawat ibunya yang sedang sakit di rumahnya”

__ADS_1


“Lalu kau langsung menerima tawaran itu?”


“Awalnya aku tidak mau, tetapi dia menawariku kontrak selama satu tahun dengan bayaran yang sangat tinggi, dan pekerjaan yang juga tidak terlalu berat. Beberapa kali aku menolak dan kubilang padanya kalau pekerjaan di restauran lebih aku sukai, dan aku bilang padanya kalau aku bukanlah perawat, tetapi dia tidak perduli dan tetap memintaku merawat ibunya, sampai akhirnya dia mengancamku, jika aku menolak maka dia akan berbuat sesuatu padaku, dan aku tidak diperbolehkan lagi bekerja di restauran miliknya”


“Lalu kau mau?”


“Aku tidak punya pilihan lagi tuan, aku perlu uang untuk sewa rumah dan aku butuh pekerjaan” kilah Jasmine yang kini menatap wajah Alfhonso serius.


“Bodoh!, kau sudah memiliki semuanya disini”


“Tapi kau tidak menginginkanku lagi disini tuan!”


“Siapa bilang?!” Alfhonso mulai meninggikan notasi suaranya.


Jasmine terdiam dan tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Marino bilang, kau sudah melakukan hubungan dengan dia, kau melakukannya dengan sukarela, apa itu benar?!” tanya Alfhonso dengan nada menyeramkan.


Spontan Jasmine menoleh ke wajah Alfhonso dan mata jernihnya yang berkaca membulat sempurna.


“Hah?, apa kau menuduhku … ?!”


“Apa kau melakukan sesuatu dengannya?” kali ini Alfhonso mendekatkan wajahnya kearah Jasmine dan terlihat mangintimidasi menakutkan.


“Tuan, aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun dengannya, bahkan ketika dia mencoba mendekatiku aku berontak dan berlari menjauh darinya”


“Kenapa kau tidak percaya padaku tuan, lalu kau begitu saja mempercayai omongan pria itu?!” suara Jasmine menyiratkan kekesalan.


“Aku hanya ingin jawabanmu, barangkali kau yang benar, atau bisa jadi pria brengsek itu yang benar, yang mengetahui hal itu hanya kalian berdua bukan?”


Jasmine menghela nafas sambil menggeleng.


“Kau tidak tahu yang terjadi disana tuan, lalu kau menuduhku melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kulakukan!” Jasmine menautkan alisnya menahan kesal.


“Maka jelaskan padaku” ucap Alfhonso.


“Kau tahu tuan, sehari setelah kau menemuiku, ibunya wafat, karena memang penyakitnya sangat parah dan sulit untuk di sembuhkan, kemudian tuan Marino menyalahkanku atas kematian ibunya, padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin, dan sampai ibunya di makamkan, aku tidak diperbolehkan keluar dari rumah itu. Sebelum ibunya wafat awalnya tuan Marino masih bersikap baik walau kadang sesekali mencoba mendekatiku. Tetapi setelah ibunya wafat, dia mulai memperlakukanku seperti tahanan, dia mengikatku, mengancamku dengan pisau hingga leherku tergores, dan dia mencoba membuka pakaianku, tetapi aku menendangnya dengan keras, kemudian dia menamparku, lalu dia mencekik leherku hingga aku sulit bernafas…”


Alfhonso spontan memandang wajah Jasmine dan mengerutkan alisnya. Rahang pria itu mengatup keras, tanda geram yang tertahan.


“Dia melakukan itu semua padamu?” tanya Alfhonso.


“Ya, ini bekas goresan pisaunya masih ada di leherku”


Jasmine sedikit menengadah memperlihatkan lehernya yang jenjang dan memang ada sedikit luka bekas goresan disana.

__ADS_1


Alfhosno memperhatikan dengan seksama dengan mata yang tajam.


“Dia mendekatiku, lalu berkata, jika aku mau melayaninya di ranjang dia akan membebaskanku dan memperlakukanku dengan baik, tapi aku berkata padanya lebih baik aku bunuh diri atau dia yang membunuhku dari pada aku menyerahkan kehormatanku padanya. Dia menamparku kembali hingga kepalaku pusing, lalu aku lemas dan hampir pingsan, kemudian dia meninggalkanku dan mengurungku di kamarnya”


Alfhonso dengan sorot mata penuh amarah berusaha tenang dan menyembunyikan gejolak amarahnya.


“Aku berusaha mempertahankan milikku, kemudian kau dengan seenaknya menuduhku … ” ucap Jasmine yang sesekali mengusap air matanya yang mulai meleleh.


“Kau berani sekali memasuki kandang buaya Jasmine”


“Karena aku sudah diusir dari kandang singa tuan”


“Ha?, maksudmu?”


“Bukankah kau tidak menginginkan ku lagi ditempatmu tuan?”


“Kenapa kau berfikir seperti itu?, waktu itu aku hanya emosi karena pikiranku yang sedang kalut Jasmine, aku tidak menginginkan kau pergi, tapi kau yang terlalu cepat mengambil keputusan”


“Benarkah tuan?, berati, … apa aku boleh pulang ke kandang singa?” tanya Jasmine dengan lirikan matanya.


"Disini singanya kesepian, kau sangat diharapkan"


Jasmine hanya tersenyum sambil mengusap sisa air matanya.


“Hey, tunggu aku belum puas dengan jawabanmu tadi, apa kau masih virgin?”


Jasmine menghela nafas sambil menundukkan wajahnya kebawah hingga tidak terlihat.


“Tuan, harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu?!, aku sudah ceritakan semuanya padamu!, aku sangat memegang janjiku padamu, bahwa aku tidak akan menyerahkan kehormatanku pada siapapun kecuali padamu”


Alfhonso hanya tersenyum, entah tersirat senyum yang memiliki arti yang dalam.


“Jasmine, maafkan aku karena membentakmu tempo hari” ucap Alfhonso dengan suara agak tenang.


“Ya, aku mengerti keadaanmu saat itu tuan. Aku juga …, maafkan aku” ucap Jasmine suaranya penuh penyesalan.


“Memaafkan untuk apa?”


“Karena aku sudah menerima tawaran tuan Marino, aku menyesal tuan. Karena ternyata dimanapun aku berada bisa saja bahaya mengancamku, bahkan ketika aku jauh darimu dan sendirian”


“Hmm, yah sudahlah, aku senang kau menyadarinya” ucap Alfhonso.


...****...


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......

__ADS_1


...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader....


...Terimakasih....


__ADS_2