MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 20 - Carlos


__ADS_3

“Kerjamu memang bagus Jasmine, tetapi lebih baik kau tidak menjadi mata-mata lagi, itu sangat beresiko" ucap Alfhonso.


“Berati aku bisa pulang ketempatku setelah ini tuan?" ucap Jasmine yang membuat mata Alfhonso membulat.


“Pulang?, tidak, tidak,..kau tetap disini!…” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut pria itu.


“Tapi bukankah barusan anda katakan kalau pekerjaanku sudah selesai?" ucap Jasmine menatap Alfhonso serius.


“Ya, pekerjaanmu sebagai mata-mata aku anggap selesai, tetapi aku akan memberimu pekerjaan yang lain..”


“Kenapa tuan memenjarakanku ?" suara Jasmine melemah.


“Hey, aku bukan memenjarakanmu…aku hanya ingin kau bekerja untukku" ucap Alfhonso.


“Ya, baiklah tuan…aku menurut saja, daripada aku harus berlutut dan anda menodongkan senjata kepadaku lagi" ujar Jasmine sedikit melirik kearah Alfhonso.


Alfhonso tertawa ringan mendengar Jasmnie berucap, dan pria itu memandang gadis di hadapannya dengan tatapan yang berbeda.


“Kau cantik Jasmine…” ucap pria itu menatap dalam-dalam wajah Jasmine.


Spontan Jasmine menoleh kaget kearah Alfhonso, tetapi ia segera menenangkan diri dan tertunduk.


“Bukankah anda sudah memiliki banyak wanita yang lebih cantik di banding aku tuan,..aku hanya gadis biasa, bahkan terkadang aku tidak percaya diri di hadapan anda..." ucapnya sambil meminum pelan coklat hangat di genggamannya.


“Tidak, kau berbeda..” wajah Alfhonso masih memandang raut Jasmine yang cantik sederhana walau tanpa make up.


“Sudahlah tuan, jangan tatap aku seperti itu..” pipi lembut Jasmine semu-semu merona.


Alfhonso tersenyum lebar melihat kepolosan Jasmine.


Ingin rasanya Alfhonso berlama-lama dengan gadis itu, tetapi prinsipnya berpura-pura menepis perasaannya.


Karena ia berprinsip tidak ingin mencintai seorang wanita, karena itu akan membuat sebuah masalah dan rasa cintanya bisa membahayakan orang yang dicintainya.


Akhirnya Alfhonso pamit dan keluar ruang apartemen dengan membawa sebuah rasa yang ingin ia luapkan, tetapi lagi-lagi prinsipnya menghalanginya untuk mencintai.


Jasmine masih duduk di luar, ditemani sejuknya angin yang menghembus dan segelas coklat panas yang menjadi saksi bisu perasaan mereka berdua yang tak tersampaikan.


Dua pekan berlalu,


Jasmine belum juga mendapat pekerjaan dari Alfhonso. Akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk menelpon Alfhonso yang sudah beberapa hari tidak bertemu atau bahkan tidak menghubunginya.


Jasmine memencet tombol nomer Alfhonso dengan ragu-ragu. Tetapi ia beranikan untuk memencet kontak nama itu.


Nuuuut..nuuutt…nuuuttt….


Beberapa kali panggilannya tidak di respon. Akhirnya Jasmine menyudahi panggilannya ke Alfhonso. Ia meletakkan handphonenya di sofa.


Tok..tok..tok…


Tak berselang lama, pintu apartemen di ketuk seseorang.


Jasmine menoleh kearah pintu, pastinya itu bukanlah Alfhonso, karena Alfhonso memegang kartu akses masuk ruang apartemen, dan biasanya Alfhonso tidak mengetuk pintu.

__ADS_1


Jasmine melihat dari lubang mata di tengah pintu, dan mata indah Jasmine membulat dengan seketika, di depan pintunya seorang pria berpakaian jubah coklat panjang dan dibelakangnya beberapa pria berpakaian jas hitam berdiri memegang senapan.


Jasmine langsung mundur dan tidak menjawab ketukan tersebut.


Ia langsung berlari kearah sofa meraih handphonenya dan menelpon Raizon.


“Tuan Raizon!!, di depan pintu apartemen banyak pria bersenjata,..aku takut tolong tuan cepat kesini!!, aku tidak bisa menghubungi tuan Alfhonso.." dengan tangan yang mulai gemetar, Jasmine memegang handphonenya.


“Oh, baik nona, kami akan segera kesana!!, jangan dibuka pintunya nona!" jawab Raizon.


Tok!! Tok!! Tok!!...


Suara ketukan pintu semakin keras, membuat Jasmine semakin panik.


‘apa yang harus kulakukan' batin Jasmine.


“ALFHONSO!!, kenapa kau menjadi pengecut seperti ini?!, BUKA PINTUNYA!!" pekik seseorang di balik pintu.


“Apa kau ingin pintu kamarmu berlubang?!" teriak pria di balik pintu lagi.


‘Ah tidak!, mereka akan menembaki pintu ini, apa aku harus membukanya, atau aku harus bersembunyi..' batin Jasmine semakin panik.


Akhirnya dengan gemetar Jasmine berniat membuka perlahan pintu apartemen itu, daripada mereka merusak pintu kamar Alfhonso.


Jasmine mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Setelah ia siap…


“Se-..sebentar tuan…” tangan Jasmine yang bergetar memegang handle pintu dengan perlahan.


“Maaf tuan, tuan Alfhonso tidak disini..” ucap Jasmine perlahan menahan takutnya.


“Hey..hey..hey..Alfhonso memiliki piaraan ruapanya..” ujar pria dengan mantel hitam yang berada di samping pria berjubah coklat yang bertampang dingin.


“Dimana dia?!" pria bertampang dingin bertanya dengan suara berat tanpa ekspresi sama sekali.


“Aku tidak tahu tuan, sudah beberapa hari tuan Alfhonso tidak kesini" ucap Jasmine masih memegang pinggir pintu dan tidak membukanya lebar.


“Lalu siapa kau?" tanya pria berjubah coklat.


“A-aku..aku karyawannya tuan" suara ketakutan Jasmine sudah tidak bisa disembunyikan lagi.


Pria dingin itu membuka pintu dengan mendorongnya perlahan menggunakan pistol revolvernya kearah dalam, sehingga Jasmine terpaksa mundur.


Para pria itu masuk kedalam ruangan dengan langkah berat perlahan.


Mereka mengamati seluruh ruangan.


Sebagian dari mereka menggeledah seisi ruang apartemen, kemungkinan mencari keberadaan Alfhonso.


“Tu-tuan..mungkin ada yang ingin disampaikan pada tuan Alfhonso, biar aku menyampaikannya nanti" ucap Jasmine.


"Siapa namamu?!" tanya pria dingin berjubah coklat.


“Aku..umm, aku Cherry tuan" Jasmine takut untuk memberitahu nama yang sebenarnya.

__ADS_1


“Hmm, yah kau memang semanis Cherry…” tiba-tiba senapan itu dengan sekejap mata berpindah ke bawah dagu Jasmine hingga wajah Jasmine terangkat sedikit.


Jantung gadis itu serasa berhenti, Jasmine diam membatu tak bergerak sama sekali.


“Tapi aku perlu nama aslimu!, siapa namamu nona..” tanya pria itu lagi dengan mata coklatnya yang menyeramkan.


“J-jasmine….aku Jasmine" jawab Jasmine seolah pasrah.


“Jangan pernah lagi berbohong di depanku!" ujarnya kemudian melepaskan pistol itu dari bawah dagu Jasmine.


“Tidak ada tuan" ujar salah satu dari mereka.


Akhirnya mereka semua keluar tanpa melakukan apa-apa.


Setelah pintu tertutup, Jasmine merebahkan tubuhnya di sofa, lemas, lunglai..seolah tulangnya ingin terlepas dari tubuhnya.


“Ahhhh….hampir saja…” kepanikannya sedikit mereda.


Beberapa saat kemudian,


Tok..tok..tok…


Jasmine sedikit loncat dari sandarannya di sofa ketika mendengar lagi ketukan pintu.


“Nona Jasmine!!, nona Jasmine!!, ini aku Raizon!"


Setelah mendengar suara Raizon Jasmine menghela nafas dan bangkit dari duduknya.


Kemudian Jasmine membukakan pintu dan menjelaskan semuanya pada Raizon.


Jasmine bertanya tentang keberadaan Alfhonso, tetapi Raizon juga tidak mengetahui keberadaan tuannya itu.


Di malam yang agak terang dengan kerlap-kerlip lampu kota.


Di kota dekat pesisir pantai, sebelah selatan dari kota tempat tinggal Alfhonso.


Pria itu berada di sebuah hotel bintang lima, ia berada di balkon teras hotel sambil memegang rokoknya dan memakai piyama.


Pria itu tengah bersama seorang wanita cantik berambut pirang panjang agak bergelombang, Mery adalah model paling cantik di kota itu.


Dari belakang Alfhonso di peluk oleh wanita tersebut, dan ia mencium pipi pria itu, tetapi pria tampan itu tak bergeming.


“Apa yang mengganggumu Alfhonso?" ucap wanita itu manja.


“Tidak ada" jawab Alfhonso santai dengan menghembuskan asap tipis dari bibirnya.


“Hey, kenapa permainanmu tidak selama dan sedahsyat dulu?,..sepertinya kau sedang tidak berselera melakukannya" ucap wanita itu di samping Alfhonso.


“Hm, aku sedang banyak fikiran" ujar Alfhonso seadanya dan menghisap kembali rokoknya dengan mata memincing.


“Ayolah Alfhonso, kita lakukan lagi yang lebih hebat dari yang tadi, bagaimana?" ucap wanita itu setengah memeluk Alfhonso.


Tetapi pria itu masih dingin terdiam tak merespon ajakan si wanita.

__ADS_1


__ADS_2