
“Persetan dengan itu!, Aku transfer besok, dan aku tekankan ini untuk yang terakhir kalinya aku membantumu dan untuk yang terakhir kali juga kau berhubungan dengan Carlos! “ Alfhonso berdiri dari duduknya.
“Hey, apa urusanmu mengaturku!" kali ini Reondess juga terlihat serius.
“Aku tidak ingin karena ulahmu kehidupanku terganggu!" Alfhonso menunjuk kakak tirinya sambil berdiri.
“Terserah kau sajalah!" Reondess membentang kedua tangannya, seolah ia tidak ingin berdebat lagi dengan adiknya.
Akhirnya Alfhonso dan anak buahnya keluar dari ruangan itu.
Malam hari yang dingin dan agak sejuk...
Di kediaman mansion milik Alfhonso.
Di ruang kerjanya, Alfhonso menelpon Jasmine dan ingin mengajaknya jalan-jalan.
“Jasmine, apa kau sedang sibuk?" tanya Alfhonso.
“Tidak juga tuan, aku hanya sedang menyalin laporan yang kau berikan tempo hari”
Ucap Jasmine dari sebarang telpon.
“Ada apa tuan?" tanya Jasmine.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Siapa?!" Alfhonso menjauhkan handphonenya dan bertanya dengan suara agak keras.
“Raizon tuan" ujar seseorang di balik pintu.
“Um,…baiklah Jasmine, aku hubungi kau nanti, Raizon datang ketempatku" kemudian pria itu menutup telponnya.
“Masuklah!"
Raizon memasuki ruang kerja Alfhonso dan duduk di depan tuannya.
“Tuan, kemarin utusan tuan Escobar dari wilayah selatan kota Karia menemuiku, dia mengundangmu ke acara ulang tahun pernikahannya di gedung Costarya. Ini undangannya tuan" Raizon menyerahkan sebuah undangan mewah ke Alfhonso.
Alfonso mengambilnya dan membuka undangan tersebut.
“Escobar Lavio?, ternyata orang tua itu masih mengingatku" ucap Alfhonso sambil membaca lembaran undangan di tangannya.
“Tentu saja tuan, bagaimana dia bisa lupa kebaikan tuan yang telah menyelamatkan anaknya" ingat Raizon.
“Sudahlah, Rai, itu hanya kebetulan" ucap Alfhonso.
__ADS_1
“Tuan, apa di acara nanti tuan akan mangajak nona Jasmine?" tanya Raizon.
“Tidak, di keramaian seperti itu akan berbahaya untuknya, dia akan dikenali beberapa relasi dan kolegaku yang pastinya diudang oleh Escobar, jadi sebaiknya aku tidak mengajaknya”.
Raizo hanya mengangguk.
Sepekan berlalu…
Alfhonso belum sempat menemui Jasmine sama sekali, sampai di hari itu ia akan berkunjung memenuhi undangan Escobar di gedung mewah Costarya, di wilayah Karia.
Alfhonso hanya di temani Raizon dan beberapa anak buahnya.
Sesampainya di gedung, Alfhonso menaiki tangga besar teras gedung, disana para pria bertauxido berbaris menyambut tamu.
Alfhonso dipersilahkan memasuki ruang utama. Ruangan mewah dengan lampu gantung Kristal yang besar, pilar besar dengan ukiran mewah, dan meja-meja panjang di sisi ruangan dengan makanan mewah yang berlimpah.
Air terjun buatan menghiasi dinding sebelah selatan ruangan, ukiran balok es berbentuk dua ekor angsa yang mengait yang diletakkan di tengah ruangan menambah mewah dekorasi suasana pesta tersebut.
Akhirnya Alfhonso berbaur dengan para tamu di ruang pesta tersebut.
Hampir sebagian besar tamu disana dari kalangan atas, beberapa ada juga mafia sekelas Alfhonso dan beberapa pejabat kota.
Banyak kenalan dan relasi Alfhonso yang bertemu dengannya dan mengucapkan salam, ada juga yang merangkul Alfhonso karena kedekatan mereka.
“Alfhonso sahabatku!…., selamat datang” sambutan hangat dan nada yang agak tinggi membuat Alfhonso menoleh kearah suara.
“Tuan Escobar…selamat…” Alfhonso yang mendapat sambutan spesial dari tuan rumah membuat yang lain memperhatikan mereka.
“Apa kabarmu Alfhonso?" tanya pria gemuk itu.
“Baik tuan, sepertinya aku tak harus menanyakan kabarmu tuan Escobar, karena kau terlihat sangat sehat…” kemudian keduanya tertawa ringan.
“Alfhonso, ada yang ingin kusampaikan..mari..” Escobar merangkul Alfhonso kearah balkon luar gedung, sedikit menjauh dari keramaian pesta.
“Ada masalah apa?" tanya Alfhonso yang bertumpu pada tembok balkon.
“Apa kau masih ingat ketika kau menyelamatkan putriku Shelenna di kolam renang rumahku?” tanya Escobar pada Alfhonso.
“Ya, aku masih ingat, memangnya ada apa dengan kejadian itu tuan?”
“Dari kejadian itu putriku Shelenna sepertinya telah jatuh cinta padamu Alfhonso”
Alis Alfhonso mengangkat keatas dan matanya agak membulat.
“Benarkah begitu tuan Escobar?" tanya pria tampan itu dengan mantel hitam yang mengibas diterpa angin malam.
__ADS_1
“Ya, Dia selalu mengingatmu, sampai aku sudah berkali-kali bilang padanya Alfhonso adalah seorang mafia dan tidak ingin memiliki istri, akhirnya putriku kunikahkan dengan seorang pengusaha di kota ini, tetapi pernikahannya hanya berlangsung enam bulan, karena Shelenna sama sekali tidak mencintai pria itu”
Alfhonso mengerutkan keningnya kemudian matanya mengarah ke pemandangan luar, kemudian ia menghela nafas.
“lalu, apa yang kau inginkan dariku tuan Escobar?” tanya Alfhonso seolah telah mengerti dengan maksud Escobar.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku, bisakah kau membahagiakannya Alfhonso?” Escobar menoleh kearah Alfhonso.
“Tapi, kau tahu aku tidak ingin melibatkan seseorang yang dekat dengaku dalam bahaya, aku tidak ingin memiliki ikatan khusus dengan seorang wanita” ujar Alfhonso.
“Ya aku tau, tetapi jika alasanmu adalah karena putriku akan berada dalam bahaya jika bersamamu, itu sedikit kuragukan, karena aku juga tahu siapa saja musuh-musuhmu, kebanyakan dari mereka mengenalku bukan?, siapa yang akan berani menyentuh putri Escobar, mereka tidak mungkin macam-macam dengan putriku hanya karena putriku menjadi kekasihmu” ucap Escobar.
“Tapi tuan Escobar, aku..-"
“Apakah putriku kurang cantik dimatamu?” tanya pria setengah baya itu.
“Bukan begitu, bukan itu masalahnya, tapi-…”
“Tolong jangan kecewakan putriku Alfhonso, hanya kau yang diinginkannya” ucap Esobar sambil memegang pundak Alfhonso dan pria gemuk itu meninggalkan Alfhonso sendiri di balkon dengan pemandangan malam yang indah.
Alfhonso hanya menghela nafas dan menunduk, berdiri dan kedua lengannya bertumpu pada tembok pembatas balkon.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” suara Raizon memecah lamunan Alfhonso.
“Ya Rai, aku baik..hanya sedikit bingung. Mari kita cari minuman di dalam sana” ucap Alfhonso yang kembali ke tengah ruang pesta.
Afhonso yang berdiri memegang minuman di tangannya spontan menoleh kearah seorang wanita cantik yang menghampirinya.
“Alfhonso,..aku melihatmu bersama ayahku tadi..” sapa Shelenna, wanita cantik berambut pirang yang bergelombang indah, dengan gaun merah glamornya.
“Shelenna?, kau terlihat cantik malam ini” ujar Alfhonso yang menyibakkan senyumnya.
“Alfhonso,apa kita bisa bertemu lagi setelah pertemuan ini?” tanya wanita itu penuh harap.
“Ya, tentu saja..” jawab Alfhonso sedikit berpura-pura.
Malam mulai meninggi, beberapa jam setelah pesta usai, Alfhonso kembali ke mansionnya, dan beristirahat di ranjangnya.
Pria itu menjatuhkan dirinya ke kasur dengan posisi telungkup sambil masih memakai kemeja putihnya.
‘Aakhh, lelahnya…’ gerutu pria itu.
Tetapi matanya yang sudah berat untuk di angkat, terpaksa harus melihat sebuah nama di handphonenya karena deringan handphone yang mengganggunya.
‘Siapa lagi ini, sial!’ Alfhono mulai melihat layar handphonenya.
__ADS_1
‘Shelenna?’..gumamnya di batin Alfhonso yang agak malas untuk mengangkatnya.