
Lima hari berlalu,
Raizon ditugaskan Alfhonso untuk menemui seorang pelanggan yang ingin membeli barang-barang gelap milik Alfhonso.
Tetapi Alfhonso menyuruh Jasmine untuk ikut dalam pertemuan transaksi tersebut.
“Kenapa nona Jasmine di libatkan dalam transaksi ini tuan?" tanya Raizon kepada tuannya.
“Aku hanya ingin dia menyaksikan secara langsung apa yang kita kerjakan. Dia harus belajar menyaksikan sendiri keadaan di lapangan" ujar Alfhonso kepada tangan kanannya.
“Tapi ini sangat beresiko tuan" sangkal Raizon memprotes keputusan tuannya.
“Dia pernah menghadapi yang lebih berbahaya, dia akan terbiasa" ucap Alfhonso.
Raizon hanya menggeleng, dan berlalu menjemput Jasmine di apartemen.
Di sebuah siang yang sedikit terik,
Di depan sebuah gudang tua, di sekelilingnya terdapat banyak mobil bekas dan rusak yang bertumpuk-tumpuk.
Dua kelompok terlihat sedang berdiskusi. Beberapa mobil di parkir bersebrangan, mobil-mobil di sisi kiri adalah milik Raizon dan anak buahnya, mobil-mobil di sisi kanan adalah milik Gurt dan anak buahnya.
Setelah penyerahterimaan barang dan uang mencapai kesepakatan, Raizon dan Gurt bersalaman menandai urusan mereka telah selesai.
Tetapi salah satu anak buah Gurt menoleh kearah kaca mobil depan yang diparkir di sisi kiri. Ia terus mangamati dengan mata agak memincing.
“Hey!, ada apa?!" tanya Gurt, pada anak buahnya yang tengah serius memandang salah satu mobil kelompok Raizon.
“Di dalam mobil disana ada orang yang tidak turun, jangan-jangan dia mata-mata atau…jangan-jangan kita sedang di jebak Bos..”
Ucapan anak buah Gurt membuat semua para pria bersenjata itu menoleh kearah mobil yang terparkir agak jauh.
“Hey! Raizon!, siapa yang di dalam mobil itu?!, kenapa dia tidak turun? Apa kau mau menjebakku?!"
Teriakan Gurt pada Raizon membuat spontan seluruh anak buah Gurt mengokang senjata dan bersiap untuk menembak.
“Hey! Tunggu!, dia bukan siapa-siapa!, aku tidak akan menjebakmu Gurt!" ucap Raizon.
__ADS_1
Seluruh anak buah Raizon juga otomatis membalas menodongkan senjatanya masing-masing kearah Gurt dan anak buahnya.
“Biarkan anak buahku melihatnya" ujar Gurt.
“Hey! Tunggu!!, sudahlah Gurt, kita sudah sepakat dengan trasaksi ini bukan?” Raizon seolah tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan Jasmine yang tengah duduk di mobil itu.
“Jika kau melarang kami memeriksa, itu berarti benar dugaanku..” ucap Gurt yang juga menodongkan senjatanya kearah Raizon.
“Akh!" Raizon mengusap kasar rambutnya kebelakang.
Gurt dengan isyarat wajahnya memerintahkan anak buahnya memeriksa seseorang yang berada di dalam mobil.
Raizon dan anak buahnya tidak dapat menolak dan terpaksa membiarkan anak buah Gurt memeriksa ke mobil.
Salah satu anak buah Gurt mendekati mobil dan ketika ia telah sampai di sisi mobil milik Raizon, pria itu menyuruh yang ada di dalamnya membuka kaca mobil.
Kaca mobil perlahan terbuka, dan tersibak seorang gadis cantik berkulit putih yang tidak sepantasnya berada di tempat itu, ia tengah berada di jok depan.
“Bos!!, ada makhluk cantik disini Bos!" teriak anak buah Gurt sambil tertawa.
Pria itu menyuruh Jasmine keluar mobil dan menodongkan senjatanya kearah Jasmine agar gadis itu berjalan kearah Gurt dan yang lainnya.
Raizon hanya menunduk dan tidak tahan melihat Jasmine di paksa melangkah kearah mereka.
“Hey! Jangan sentuh dia!, dasar bajingan!" Raizon tiba-tiba mendorong anak buah Gurt yang memegang agak kasar lengan atas Jasmine untuk berjalan.
“Uuuuu….waaw, kalian membawa seorang gadis rupanya..” Gurt melihat Jasmine dan sedikit menggodanya.
Seluruh anak buah Gurt seolah ikut menggoda Jasmine, mereka sedikit gaduh dan tertawa-tawa, bahkan ada yang hendak menyentuh lengan Jasmine.
Dengan sigap Raizon melangkah kedepan menghalangi Jasmine dan menodongkan senjatanya lurus kearah Gurt.
“Hentikan Gurt!, atau nyawamu berakhir hari ini!" ancam Raizon yang sudah mengokang senjata laras panjangnya.
Spontan seluruh anak buah Raizon berbaris membentuk pagar betis melindungi Jasmine dengan senjata yang tengah di todongkan kearah rival mereka.
“Hey!, untuk apa kalian membawa seorang gadis ke transaksi ini?, bukankah itu aneh?" ujar Gurt.
__ADS_1
“Itu bukan urusanmu!" ujar Raizon sedikit geram.
“Apa dia adal-…” kalimat Gurt terpotong.
“Apa kau tahu siapa yang kalian goda ini?!, dia ini adalah milik tuan Alfhonso, jika kalian masih ingin bernafas dan tidak memiliki urusan dengan tuan Alfhonso, sebaiknya hentikan kelakuan kalian, dasar bodoh!" Raizon dengan gagahnya melindungi Jasmine yang tengah ketakutan.
Ucapan Raizon membuat seluruh anak buah Gurt tiba-tiba diam dan saling melempar pandangan satu sama lain.
Mereka melihat kearah Gurt, dan pemimpin mereka mengisyaratkan seluruh anak buahnya untuk mundur.
“Maaf, kami tidak tahu tentang hal itu..aku rasa transaksi kita telah selesai. Ayo!!” Gurt berlalu pergi dan diikuti semua anak buahnya masuk kedalam mobil mereka dan mereka pergi dari tempat itu.
Raizon menghela nafas panjang dan berbalik menoleh kearah Jasmine.
“Maaf atas kejadian ini nona" ucapnya.
“Kau tidak salah tuan Raizon, terimakasih telah melindungiku" ucap Jasmine.
Akhirnya mereka kembali pulang, Jasmine dan Raizon berada di dalam mobil yang sama.
“Tuan Raizon, kenapa kau bilang pada mereka kalau aku milik tuan Alfhonso?" tanya Jasmine masih di dalam mobil.
“Jika aku tak mengatakan hal itu, kemungkinan kau akan menjadi bulan-bulanan mereka dan bisa saja terjadi baku tembak, lalu transaksi menjadi batal" ucapan Raizon masuk akal menurut Jasmine.
“Tetapi, bukankah kau memang milik tuan Alfhonso nona?" ucap Raizon sambil melirik sedikit kearah Jasmine.
“Ah, tidak tuan, aku bukan milik tuan Alfhonso, bahkan nona Lyra lebih dekat dengan tuan Alfhonso daripada aku, aku hanya bekerja padanya" ucap Jasmine.
Raizon hanya tersenyum dengan sudut bibirnya, mengetahui bahwa tuannya sebenarnya memang menyukai Jasmine di banding Lyra atau wanita lainnya.
Akhirnya Raizon menelpon Alfhonso, mengabarkan bahwa transaksinya berhasil walau ada kendala sedikit masalah Jasmine tadi.
Alfhonso agak terdengar sedikit panik bertanya tentang Jasmine, tetapi Raizon menjelaskan bahwa Jasmine baik-baik saja, dan percakapan mereka di telpon selesai.
“Tuan Alfhonso terdengar mengkhawatirkanmu nona" ucap Raizon.
“Ah, aku rasa itu hanya perasaanmu saja tuan Raizon..” tepis Jasmine.
__ADS_1
Di hari lain yang cerah, angin berhembus lembut….
Dari pagi hari ini Jasmine berjalan-jalan di sekitar kota mengunjungi beberapa tempat, ia sempat ke tempat pengambilan ATM mengecek seberapa besar uang hasil kerjanya tempo hari, karena Alfhonso memberikan kartu itu sebagai pembayaran atas pekerjaannya, baru di hari itu ia mengeceknya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat nominal angka di layar mesin ATM sangat besar jumlahnya, itu jauh melebihi di luar prediksinya.