
Reondess menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asapnya di udara.
“Huuff….,Ini masalah Carlos lagi. Dia menginginkan senjata Shotguns dan revolver masing-masing lima buah. Aku kehabisan stok, kau masih punya banyak bukan?, aku akan bayar padamu setelah Carlos melunasinya” ujar Reondess.
"Kenapa kau harus berurusan lagi dengan bajingan itu!" ujar Alfhonso.
"Dengar Al, Sudah beberapa pekan aku tidak menerima pesanan, kebetulan pemesan pertamaku selama beberapa pekan ini adalah Carlos" ucap Reondess.
"Aku sudah pernah memberi peringatan padamu, kemarin adalah terakhir kali aku membantumu sekaligus terakhir kali kau berurusan dengan Carlos, sudah cukup!"
"Ya aku tahu Al, tetapi ke siapa lagi aku harus meminta pasokan senjata yang mereka minta selain kepadamu?" ucap Reondess.
"Cari saja pemasok lain, aku tak mau ada urusan dengan Carlos" ujar Alfhonso sedikit ketus.
"Ayolah Al,..ini adalah bisnisku, bantulah aku sekali lagi...lunaklah sedikit.."
Alfhonso kemudian duduk di sofa sambil membuka minuman kalengnya.
“Aku akan menaikan harga jika itu untuk Carlos” ujar Alfhonso.
“Kenapa kau menaikan harga?” tanya Reondess.
“Karena senjata itu tidak mudah didapat, jika kau tidak bersedia menjual dengan harga yang kuminta,terserah padamu, kau carilah di tempat lain” ujar Alfhonso yang kemudian menenggak minumannya.
“Alfhonso, ayolah..jangan sombong begitu, aku sudah sepakat dengan Carlos dengan harga yang biasa”
“Itu bukan urusanku” suara Alfhonso sedikit santai namun ketus.
“Dasar sialan!” ucap Reondess sedikit geram.
Tak lama berselang, pintu ruangan terbuka, Jasmine tiba dengan belanjaan berada ditangannya. Ia memasuki ruangan dengan harum parfum yang khas.
Mata Jasmine tertuju pada Reondess yang tengah duduk di sofa bersama Alfhonso.
“Ah, maaf tuan, aku tak tahu ada tamu, aku permisi dulu…” Jasmine yang langsung berlalu ke dapur dengan sedikit menunduk menjadi pusat perhatian kedua pria itu.
“Ternyata teman kencanmu kali ini lumayan muda..” goda Reondess pada Alfhonso.
“Diam kau!” ujar Alfhonso sambil melihat handphone di tangannya.
“Kau berbelanja dimana?” tanya Alfhonso pada Jasmine yang tengah menaruh belanjaannya di meja dapur.
“Di supermarket dekat alun-alun tuan” jawab Jasmine sambil menoleh melihat kearah Alfhonso.
“Kau diantara Boren kan?” tanya pria itu lagi.
“Iya tuan..”
“Hmm..” isyarat Alfhonso menanggapi jawaban Jasmine.
Dari kejauhan mata Reondess sesekali melirik punggung Jasmine yang tengah berada di dapur.
“Dia hanya sekretarisku” ucap Alfhonso tanpa menoleh kearah Reondess.
__ADS_1
“Sekretaris?,bekerja di dalam apartemen?, sepertinya sedikit aneh..” ucap Reondess.
“Sudahlah! Itu bukan urusanmu” ujar Alfhonso ketus.
Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan tentang senjata yang akan di beli Carlos.
Dua hari kemudian, di Mansion Alfhonso..
Reondess menemui Alfhonso untuk membicarakan masalah senjata, dan disana juga ada Shelenna yang terus saja datang menemui Alfhonso.
Shelenna begitu terlihat menggoda, dengan pakaian terbuka dan gaya yang manja, wanita itu duduk di sebelah Alfhonso.
“Shelenna, tolong biarkan aku bicara dengan Reondess” ujar Alfhonso.
“Oke sayang,..” Shelenna kemudian mengecup pipi Alfhonso di depan Reondess, Reondess hanya menunduk melihat kelakuan wanita itu.
Akhirnya mereka berbincang dan menyepakati harga yang diberikan Alfhonso.
Beberapa kali Reondess menemui Alfhonso dan lagi-lagi di sana Shelenna selalu hadir, hingga Reondess berfikir bahwa Shelenna adalah kekasih Alfhonso.
.....
Di suatu siang yang agak dingin, karena musim penghujan telah hadir mengguyur kota itu.
Reondess mendatangi kembali apartemen Alfhonso. Pria itu mengetuk pintu apartemen.
Tak lama berselang Jasmine muncul di balik pintu memunculkan sedikit kepalanya.
Jasmine yang telah mengetahui bahwa Reondess adalah kakak tiri Alfhonso, maka Jasmine memberanikan untuk membuka pintu.
Sebenarnya Jasmine ingat pesan Alfhonso untuk tidak sembarangan membuka pintu kamar apartemennya.
“Apa aku boleh mengambil berkas yang ia tinggal disini?” ujar Reondess.
“Ah, maaf, mungkin anda bisa menelpon tuan Alfhonso dulu tuan, sementara aku carikan berkas yang anda minta, permisi..” Jasmine hendak menutup pintu kamar apartemennya, tetapi Reondess dengan cepat mendorong pintu itu dan membuat Jasmine terdorong ke belakang.
“Akh!” pekik Jasmine.
Jasmine langsung melihat kearah luar ruangan, karena biasanya ada anak buah Alfhonso yang berjaga disana.
“Kau mencari anak buah Alfhonso?, percuma…mereka sedang makan siang di bawah..di lantai ini hanya ada aku dan kau..”ucap Reondess sambil melangkah masuk kedalam.
“Aku sudah menelfon Alfhonso, dan ia memang ada di mansion, karena itu aku kemari” ucapan Reondess membuat mata Jasmine membelalak dan mundur ketakutan.
Reondess menutup pintu dan membuka mantel hitamnya, kemudian melemparnya ke sofa.
“Kenapa kau memaksa masuk tuan?!, apa yang kau inginkan?!” Jasmine terus mundur menghindari Reondess yang terus melangkah mendekati Jasmine.
“Apa kau hanya sekretarisnya Alfhonso?” Reondess terus mengejar dengan langkah menakutkan kearah Jasmine.
“Be-benar tuan, aku sekretaris tuan Alfhonso” ujar Jasmine yang kini terpojok di di dinding.
“Kau terlalu cantik untuk dibiarkan sendiri..” Reondess langung mendapati tubuh Jasmine dan memeluknya, merapat ke dinding.
__ADS_1
“Tuan!!, lepaskan!!” Jasmine berusaha berontak sekuat mungkin.
Jasmine berusaha menghindar dan menunduk, ia berhasil meloloskan diri dari pelukan Reondess melalui celah di bawahnya.
Tetapi ketika gadis itu tengah lari, tubuhnya di dorong keras dan jatuh ke sofa, dengan sangat cepat Reondess menahan tubuh langsing Jasmine di atas sofa.
“Kemana kau mau lari hah?..” ujar Reondess dengan hasrat yang mulai menggebu.
Dengan kekuatan seorang pria, Reondess menahan tubuh Jasmine yang telungkup di sofa.
Pria itu berusaha membuka pakaian atas Jasmine, kemudian mencium tengkuk gadis itu dengan liar.
Jasmine yang tidak berdaya dan berusaha meronta dan berontak, seolah kehabisan tenaga.
Air mata Jasmine meleleh tanpa sadar dan matanya terpejam.
“Tuan Alfhonso!!!, dimana kau!!” teriaknya dibalut tangis.
“Hahahaa, Alfhonso sibuk dengan wanita ****** bernama Shelenna di ranjangnya, kau tidak perlu memanggilnya, cukup kita saja disini”
Reondess mulai membuka kemejanya, ia melempar kemeja itu ke lantai, kini pria itu bertelanjang dada, dengan tubuh tegapnya yang kokoh, dan tattoo di punggungnya, dan beberapa tattoo lain di lengan atasnya membuat penampilannya menyeramkan.
Dan dengan seketika pria itu sudah berada diatas Jasmine dan siap melakukan sesuatu.
Reondess membalik paksa tubuh Jasmine. Pakaian atas Jasmine dipegang erat oleh gadis itu, tidak ingin dilepaskan, tetapi Reondess terus menariknya hingga tubuh gadis itu ikut terguncang ketika pakaian atasnya di lepas.
“Kau memang indah…, Alfhonso sangat bodoh membiarkan makhluk secantik ini sendirian, biar aku yang menikmatinya” ucap reondess melihat pakaian dalam Jasmine yang telah tersibak.
“Tuan..tidak!!, kumohon, jangan lakukan ini!!” permohonan Jasmine tidak digubris sama sekali oleh Reondess.
Tangan Reondess mulai menggerayang di paha Jasmine, kepala pria itu sudah berada di samping kepala Jasmine, menikmati leher jenjang milik gadis itu.
Tangan gadis itu terus mendorong dan memukul dada kokoh pria di dekapannya itu, tetapi gadis itu tak cukup kuat untuk melawan pria sebesar Reondess.
Dengan tenaga yang tersisa, Jasmine hanya bisa menangis dengan apa yang terjadi padanya saat itu.
Ketika pakaian bagian bawah Jasmine akan di singkap oleh pria itu, Jasmine menjerit, dan kakinya di hentakkan keras, seolah menolak. Tetapi tangan pria itu spontan menutup mulutnya.
“Sssshhh!, jangan menjerit sayang, kita nikmati saja bersama..”ujar Reondess dengan mata liarnya.
Reondes mulai membuka resleting celananya,
tetapi tiba-tiba…
KLIK!…
Bunyi suara hammer pistol seseorang yang tengah di kokang ditodongkan tepat di kepala Reondess.
Laras ujung pistol tersebut menempel di kepalanya. Reondess spontan diam tak berkutik menghentikan pergerakannya.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote ya... makasih ya......
__ADS_1