MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 14 - Jangan Ganggu Milikku + Visual


__ADS_3

“Apa ini?" tanya Jasmine.


“Ini alat kejut listrik nona, kau bisa menggunakannya ketika kau dalam keadaan terdesak, jika kau menekan tombol ini untuk sengatan listrik yang rendah, disini yang sedang dan yang ini bisa membuat orang pingsan" jelas Raizon menjelaskan fusngsi alat tersebut.


“Tapi untuk apa tuan Alfhonso memberiku ini?"


“Barangkali untuk berjaga-jaga nona, tuan Alfhonso sangat perhatian padamu nona..”


“Aww, uugh!, apa pelipisku juga berdarah tuan?" tanya Jasmin memegang pelipisnya yang agak memar.


“Coba kulihat, tidak pelipismu hanya memar..coba kutempelkan lagi es batunya” Raizon menempelkan es batu ke pelipis Jasmine, dan tanpa sengaja pria itu kemudian mendekat kearah gadis itu.


“Nona..Jasmine..” ucapnya sangat pelan sambil menatap wajah gadis didepannya.


Ketika Jasmine menoleh kearah Raizon, wajah pria itu sangat dekat dengan Jasmine, tetapi keduanya langsung menjauh kembali.


“Ah, maaf nona, aku rasa aku sudah selesai, sebaiknya aku permisi dulu” Raizon dengan sedikit kikuk buru-buru berdiri dari duduknya dan akan beranjak keluar.


“Terimakasih banyak tuan Raizon..” ucap Jasmine sambil sesekali menahan perihnya.


Raizon yang buru-buru keluar ruangan, menahan degup jantungnya yang tak beraturan. 'Andai saja gadis ini bukan milik tuanku..' harapnya di batin pria itu.


Malam mulai meninggi,..


Jasmine tertidur di sofa panjang berwarna abu tua milik Alfhonso.


Pintu ruangan terbuka, dan seorang pria memasuki ruangan dengan perlahan.


Pria itu melihat kearah Jasmine yang tengah terlelap, kemudian menghampiri gadis itu.


“Kau tertidur rupanya..” Alfhonso berada tepat di depan wajah cantik Jasmine yang polos, pria itu berlutut di depan gadis itu dan mengelus pipinya.


Alfhonso menyentuh perlahan memar yang berada di pelipis Jasmine, dan luka kecil di dekat matanya.


Kemudian pria itu bangkit dari sana dan berdiri di dekat pintu keluar balkon. Ia menelpon seseorang.


“Shella, dimana kau sekarang?! aku ingin bertemu denganmu!" nada suara Alfhonso terdengar agak marah.


“Ah, Alf..kemana saja kau say-…”


“Dimana kau sekarang?!, cepat katakan saja!" tukas Alfhonso lagi.


“Alf, kenapa nada bicaramu berubah?, oke aku sedang di apartemenku…aku akan menung-…tuuuuutt…”


Alfhonso mematikan telponnya dengan agak


Pria itu kembali kearah Jasmine, dan kali ini ia membawakan selimut untuk menutupi tubuh Jasmine yang sedikit meringkuk tidur di atas sofa.


Akhirnya pria itu keluar ruang apartemen.


Dari luar terdengar samar suara Alfhonso memerintah anak buahnya untuk berjaga di lantai itu.


Mata Jasmine membuka, kemudian bibirnya yang indah tersenyum sendiri…ternyata ia mendengar kedatangan Alfhonso beberapa menit yang lalu sampai pria itu keluar.

__ADS_1


[ Di Apartemen milik Shella ]


Alfhonso mengetuk pintu apartemen, dan seorang wanita cantik keluar dari kamar apartemen di lantai 15 itu.


“Alf, aku rindu padamu…masuklah…aku sudah menyiapkan minuman untukmu..” Shella menyambut pria itu dengan pakaian mini dan agak terbuka.


Alfhonso tidak mengucapkan satu katapun, wajahnya menyiratkan kegeraman.


“Alf, ada apa denganmu, kau tidak seperti biasanya..apa kau tak ridu padaku sayang..” ucap Shella sambil melingkarkan kedua lengannya di leher Alfhonso.


Dengan cepat Alfhonso menyingkirkan tangan Shella, dan tanpa Shella duga pria itu mencengkram leher jenjang wanita cantik itu dengan satu tangannya yang kokoh.


“Aaaggh!!, Alf!!,..a-da,,ap-a..ke-na-..” Shella memegang jemari Alfhonso yang masih mencengkram lehernya, wanita itu berusaha membuka cengkraman Alfhonso.


“Apa yang kau lakukan dengan Jasmine?!" tanya Alfhonso dengan mata tajam dan penuh amarah.


“Aku-…aakkhh!”


“Sekali lagi kau sentuh dia, aku pastikan kau akan sangat menyesalinya!, jangan ganggu milikku, kau mengerti!" ancam Alfhonso yang kemudian mendorong tubuh Shella hingga tersungkur ke lantai.


“Mulai sekarang menjauhlah dariku, dan apapun yang kau tahu tentangku dan yang kulakukan selama ini, anggap saja kau tak penah tahu!"


Pria itu kemudian mengambil pistol magnum dari balik mantelnya dan menodongkannya kearah Shella yang telah terkulai tak berdaya duduk di lantai.


“Alf, apa yang kau lakukan?..Apa kau mau membunuhku?" tanya Shella dengan air mata yang mulai menggenang dan tatapan yang memelas.


“Raizon memberitahuku semuanya, apa yang kau lakukan kepada Jasmine sangat menjijikan Shella, kau sangat bodoh!" mata tajam Alfhonso menatap Shella dengan sinis.


DAR!!...


Sebuah tembakan diarahkan ke bantal di atas ranjang, yang menyembulkan isinya menjadi sedikit berantakan.


Shella menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya. Ia menangis dengan ketakutan yang menyelimutinya.


“Sangat mudah bagiku untuk membunuhmu Shella, jangan membuat masalah denganku, atau takkan ada kesempatan kedua!".


Alfhonso berbalik badan dan melangkah ke pintu, ia keluar dan menutup pintu dengan keras.


Diluar di lorong koridor beberapa pintu kamar terbuka dan beberapa orang menyembulkan kepalanya penasaran apa yang terjadi di kamar Shella, karena ada suara tembakan yang bersumber dari sana.


Tetapi orang yang keluar dari pintu langsung masuk lagi dan cepat-cepat menutup pintu kamar mereka ketika melihat Alfhonso yang berwajah garang berjalan keluar dari kamar apartemen Shella, seolah mereka tidak ingin terlibat masalah dan pura-pura tidak mengetahui.


Dua hari kemudian.


Di mansion milik Alfhonso, ia kedatangan tamu, seorang mafia juga yang baru pulang dari luar Negeri.


Gillbert, seorang mafia kelas menengah, mencoba bekerja sama dengan Alfhonso dan ia ingin mengajukan sebuah kesepakatan kartel (kerjasama antar kelompok produsen), tetapi Alfhonso kurang mempercayaianya, dan ia meminta waktu untuk memikirkannya.


Akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan kerjasama itu dua pekan lagi.


Gillbert dan anak buahnya akhirnya berpamitan, dan kembali ke kediamannya.


Gillbert yang baru pindah ke rumahnya di luar kota tersebut menunggu kabar dari Alfhonso sambil menikmati liburan bersama kekasihnya, Charsilla.

__ADS_1


Di siang yang cerah dan sejuk,


Di apartemen milik Alfhonso, Jasmine mendapat telpon yang berdering dari handphone barunya.


Gadis itu menatap handpnone barunya dan melihat nomer yang memanggilnya.


“Halo?...” jawab Jasmine ragu.


“Hey, kau sudah bangun?" suara Alfhonso terdengar dari balik handphone.


“Tuan Alfhonso?" tanya Jasmine.


“Ya, aku Alfhonso, memangnya siapa lagi yang kau harap?" ujar Alfhonso santai di sebrang telpon.


“Aku sudah bangun dari pagi hari tuan, aku sudah jalan-jalan keluar dan berbelanja ke supermarket" ucap Jasmine.


“Kau keluar apartemen?!, naik apa?!" tanya Alfhonso sedikit cemas.


“Naik bus tuan..” ucap Jasmine polos.


“Jasmine,…mulai sekarang jangan pernah keluar sendirian, apalagi naik bus!, kau bisa mengatakannya padaku kalau mau keluar, aku bisa menyuruh orangku untuk mengantarmu. Begini saja..di bawah apartemen aku akan taruh orangku, Boren, khusus untuk mengantarmu kemanapun kau pergi, atau kau bisa menghubunginya jika kau ingin keluar apartemen"


“Tapi tuan, apa itu tidak berlebihan?, tidak apa aku sendiri tuan, aku sudah terbiasa menaiki bus atau tax-..”…..


“Menurut saja dengan yang kuperintahkan!" ucap Alfhonso agak ketus.


“Ya, baik tuan.” Suara jasmine agak melemah.


"Ah ya Jasmine, apa kau bisa ke mansion sekarang, aku perlu bicara padamu. Di bawah Boren akan mengantarmu, aku tunggu kau di mansion!” Alfhonso langsung menutup telponnya.


Jasmine hanya melihat handphonenya yang baru saja terputus sambungannya.


...*******...


...Teman2 reader yg keren, ini kira2 Visual yg bisa saya berikan. kalau kurang sesuai dng bayangan para reader gpp kok bebas2 aja......


Alfhonso




Jasmin



Raizon



Reondess


__ADS_1


__ADS_2