MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 6 - Adik Kecil


__ADS_3

“Lyra,…aku tidak memintamu datang untuk melakukan itu, aku hanya ingin meminta bantuanmu..” ucap Alfhonso menelpon seorang wanita.


“Aah, aku kira kau menginginkanku untuk menghangatkan ranjangmu sayang..” ujar suara wanita di sebrang telpon.


Alfhonso menjelaskan tugas wanita itu di telpon..


“Hah?, apa kau gila?, gadis lugu seperti itu mau kau jadikan mata-mata?" ucap Lyra di sebrang telpon.


“Sudahlah,..aku tahu apa yang kulakukan..kau cukup membantuku menjadikan dia sepertimu..”


“Sepertiku?,..haa..sialan kau Alf..” ujar Lyra sedikit tertawa.


Beberapa saat berlalu, Jasmine sudah kembali dengan adiknya yang masih berusia tujuh tahun.


Anak kecil periang itu bernama Chiko.


Mata anak kecil itu berkeliling melihat seisi ruang apartement yang luas.


“Aaah, ada jagoan kecil rupanya..” ujar Alfhonso melihat bocah kecil yang bersama Jasmine.


Alfhonso yang tadi duduk di sofa kemudian bangkit berdiri dan menghampiri laki-laki kecil di depannya.


“Chiko, beri salam pada tuan..eemm..” Jasmine lupa menanyakan nama pria itu.


“Alfhonso…” ucap pria gagah itu.


“Salam tuan Alfhonso..” ucap anak kecil pintar itu dengan rambut hitam agak coklat dengan sedikit mendongak melihat Alfhonso tanpa rasa takut.


Alfhonso membungkuk dengan kedua tengan bertumpu pada lututnya, wajahnya tepat di depan anak kecil itu.


“Siapa namamu jagoan kecil?" ucap pria itu ramah.


“Aku Chiko tuan" bibirnya yang kecil menjawab.


“Aaaah, Chiko..wajahmu berbintik seperti biji buah kiwi" ucap pria itu sambil menunjuk pipinya yang agak berbintik.


Chiko sedikit tertawa mendengarnya.


“Kakak, tuan ini keren sekali,..lihat! dia mempunyai pistol kak..” ujar Chiko kecil menoleh kepada Jasmine ketika melihat sebuah pistol tersembul dari sabuk di pinggang Alfhonso.


“Apa itu pistol sungguhan tuan?" tanya Chiko polos pada Alfhonso.

__ADS_1


“Ssstt.., Chiko!"


Wajah Jasmine mengisyaratkan agar Chiko bersikap sopan pada tuan yang ada di depannya.


Tetapi perkataan bocah kecil itu justru membut Alfhonso tertawa.


“Hahahaa,..ya ini sungguhan, dan dengan benda ini kau bisa membuat lubang di kepala seseorang, kau mau menjadi sepertiku?, aku akan berikan pistol kepadamu jika kau sudah dewasa..”


Alfhonso berdiri dari bungkuknya dan mengeluarkan pistol revolvernya dan menunjukan pada anak kecil itu.


“Benarkah tuan?...kakak, tuan ini bukan cuma keren, tapi dia juga baik…"


Perkataan Chiko membuat Alfhonso semakin tertawa lebar.


Tetapi justru membuat Jasmine khawatir dengan alis mengerut.


“Tuan, maaf tolong jangan ajari adikku sesuatu yang berbahaya" ucap Jasmine.


“Hey, dia yang mau sepertiku..bukan begitu muka bintik?" ujar Alfhonso sambil mengelus kepala anak kecil di depannya.


Chiko hanya tersenyum dan mengangguk.


Alfhonso mengisyaratkan kepada Chiko untuk duduk di sofanya, anak kecil itu dengan semangat mengikutinya dan duduk di sebelah pria itu.


Alfhonso duduk dengan kaki menyilang, dan ia mulai menyalakan lagi rokoknya.


Chiko dengan wajah polos memperhatikan yang di lakukan Alfhonso dengan perasaan kagum.


"Kau sekolah dimana?" tanya Alfhonso memandang wajah Chiko sambil membuang asap rokok tipis dari sela bibirnya.


“Aku sekolah di Salbine School tuan" jawab Chiko kecil.


“Salbine School?, bukankah itu sekolah di pinggir kota?, disana terlalu banyak anak nakal bukan?" ujar Alfhonso.


“Ya tuan..memang disana banyak anak nakal” jawab Chiko.


“Apa kau pernah di buli di sekolahmu?" tanya pria itu lagi.


“Pernah tuan, bahkan sering, mereka kakak kelasku yang badannya lebih besar" cerita Chiko seolah sudah akrab dengan Alfhonso.


“Hey, Kakakmu payah sekali menyekolahkanmu disana ya?" Alfhonso melirik kearah Jasmine yang masih berdiri di posisinya dan sedikit mendekatkan tubuhnya kearah Chiko.

__ADS_1


Jasmine agak kaget dengan perkataan Alfhonso.


“Maaf tuan, tapi hanya di sana sekolah yang agak murah, aku hanya mampu membiayai adikku untuk sekolah di sana" ucap Jasmine.


“Hey, ini percakapan antara lelaki..” Alfhonso menoleh kearah Jasmine.


“Hmm, apa kau pernah dengar sekolah bernama International Garbeent School? Yang berada di pusat kota?" tanya Alfhonso kepada Chiko.


“Ya aku pernah mendengarnya tuan, katanya disana hanya untuk anak-anak orang kaya, tetapi kata teman-temanku kalau ada yang sekolah disana maka dia akan sangat dihormati, karena ayah mereka semua orang penting, dan mereka sekolah memakai mobil mewah tuan..” jelas Chiko semangat.


“Apa kau mau bersekolah disana?, kau akan dihormati nanti jika sekolah disana" tanya Alfhonso.


“Tapi kakakku tidak akan mampu menyekolahkanku disana tuan"


“Siapa yang bilang kakakmu yang akan membayar sekolah itu? aku yang akan menanggung semua biayamu disana, kakakmu hanya perlu bekerja untukku" Alfhonso melirik Jasmine yang langsung melongo mendengar penjelasan pria itu.


“Tuan, apa kau serius? Tapi sekolah itu sangat mahal" ujar Jasmine.


“Tidak ada yang mahal untukku..” ucap Alfhonso menyombong sambil menghisap lagi batang rokoknya dan mengepulkannya di udara.


“Hey wajah bintik, nanti kau akan tinggal di asrama dan setiap bulannya akan ada uang saku yang banyak untukmu, bagaimana? Kau mau sekolah disana? Kakakmu akan mengunjungimu setiap pekannya.." tawar Alfhonso.


“Benarkah tuan?..asrama? uang saku? Kakak aku mau sekolah disana!..” mata Chiko berbinar menggebu. Ia menatap wajah kakaknya penuh harap.


“Tapi tuan..” sanggah Jasmine.


“Baiklah, mulai besok kami akan mengurus kepindahanmu, oke! Hey, disana tidak akan ada lagi yang berani membulimu, aku jamin itu..siapapun yang berani membulimu aku akan pastikan esok harinya kakinya akan patah sebelah, atau paling tidak sedikit sobekan di perutnya..“ ucap Alfhonso sedikit berbisik pada Chiko.


“Ehm, maaf tuan, sebaiknya tolong jangan membuat adikku ketakutan" ujar Jasmine lagi.


“Dia tidak terlihat ketakutan, justru dia senang, benar kan Chiko?" ujar Alfhonso.


“Iya kak, aku tidak takut sama sekali, tuan ini sangat baik dan keren kak..” perkataan Chiko membuat Jasmine menghel nafas, ia kalah dari Alfhonso dalam menaklukan Chiko.


“Baiklah Chiko, sekarang om yang disana akan mengajakmu jalan-jalan ke supermarket, ambillah apapun yang kau suka…” Alfhonso menunjuk pria botak yang dari tadi berdiri di dekat pintu.


“Assikk!, benarkah aku boleh memilih apapun yang kusuka?..ayo kak kita jalan-jalan!" ujar Chiko bersemangat.


“Kakakmu tidak ikut, dia masih ada kerjaan disini, kau pergilah dengan om itu ya..” Alfhonso mengelus rambut Chiko.


“Um, yah baiklah, aku pergi dulu ya ka..” ujar Chiko kecil sambil menghampiri pengawal botak di dekat pintu dengan jas hitam dan kaca mata hitamnya tanpa rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2