
Suara telpon di handphone Alfhonso berdering, ternyata Bony menelponnya.
“Jasmine, apa kau bisa sendiri kedalam sana?, aku akan menjawab telpon" ujar pria yang menggenggam handphone dan mendekatkan ke telinganya.
“Baik tuan..” Jasmine keluar mobil dan menyebarang jalan, kearah minimarket yang letaknya di sebrang tempat mobil Alfhonso terparkir.
Di dalam minimarket, seorang pria agak gemuk penjaga toko memperhatikan Jasmine.
Hanya gadis itu yang berbelanja disana, karena sudah terlalu malam dan tidak satupun orang yang terlihat disana kecuali Jasmine dan penjaga toko.
Ketika Jasmine ke kasir dan membayar belanjaannya, si penjaga toko memberikan dua buah roti kepada Jasmine.
“Nona, ambillah roti ini, ini roti diskon yang tersisa, karena sudah malam jadi kuberikan gratis saja untuk nona" ucap penjaga toko dengan sopan.
“Benarkah paman?, terimakasih banyak…” ucap Jasmine sopan dan tersenyum.
“Apa kau sendirian nona?, hati-hatilah..” ujar si penjaga toko memperingatkan.
“Aku diantar seseorang di sebrang sana, baiklah paman, aku pergi dulu..” Jasmine meletakkan roti tersebut di kantung belanjaannya, kemudian ia keluar pintu kaca minimarket.
Tak jauh dari pintu minimarket tersebut, tiga orang preman muncul dari arah yang gelap, dua berbadan besar dengan tattoo di lengannya, dan satu agak kurus dengan rambut yang dikuncir kebelakang.
Ketiganya menghampiri Jasmine yang baru keluar dari pintu minimarket, kemudian menghadang gadis itu.
“Hooy..hooy..ada gadis cantik kaya rupanya di malam-malam begini..” ujar salah satu preman berbadan besar.
Jasmine yang langsung ketakutan dan menghindar menjauh dari mereka, tetapi preman satu lagi menghalangi jalan Jasmine, hingga gadis itu tertutup oleh dua preman yang ada di depannya, dan satu di belakangnya.
“Mau kemana cantik,…” salah satu dari mereka menyentuh dagu Jasmine dan ketika Jasmine mundur ke belakang, Jasmine terbentur satu pria di belakangnya, akhirnya ia terjepit diatara para brandalan.
Dari arah sebrang jalan, Alfhonso keluar dari mobilnya dengan tenangnya, dengan rokok di sela bibirnya, pria itu memasang peredam ke ujung kepala pistolnya dan melihat kerah kanan dan kiri, kemudian ia berjalan dengan mantelnya yang mengibas melangkah kearah Jasmine dan para preman itu.
“Hey! Tikus-tikus sialan!, Tangan kalian terlalu kotor untuk menyentuhnya!”
Suara Alfhonso mengejutkan ketiga preman tadi, salah satu preman langsung mendekat kearah Alfhonso.
“ Apa yang kau kat-..” ....DZEEP!!!.....
“ Hey ka-“ ....DZEEP!!!.....
DZEEP!!!.....
Dengan beberapa detik saja, ketiga brandal itu tertembak di lengan dan bahunya dengan kecepatan Alfhonso.
Salah satu dari mereka terlihat akan mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaketnya dan mencoba menembak Alfhonso tetapi...
__ADS_1
DZEEP!!...
Dengan spontan Alfhonso menembak kepalanya dan ia tewas seketika.
Kedua preman yang tertembak di bahu dan lengannya lari dengan ketakutan, sementara yang satu tersungkur tewas di depan minimarket.
Jasmine yang menyaksikan pembunuhan yang dilakukan Alfhonso lagi, hanya bisa membelalakan matanya dengan mulut tertutup telapak tangannya sendiri.
Kemudian Alfhonso menoleh kearah kasir penjaga toko yang dengan mata membulat menyaksikan semua kejadian barusan dari balik kaca toko.
Ketika Alfhonso hendak memasuki minimarket tersebut, Jasmine buru-buru berlari kearah Alfhonso dan menggenggam tangan pria itu.
“Tuan, apa kau ingin membunuh pria di dalam sana juga?, kumohon jangan bunuh dia, dia telah memberiku ini dengan gratis" Jasmine mengeluarkan roti yang tadi diberi oleh panjaga toko.
Alfhonso melihat kearah roti tersebut kemudian menatap gadis itu dan mengangguk, tetapi ia tetap melangkah kearah pintu minimarket dan memasukinya.
Alfhonso dengan tatapan yang menyeramkan melangkah kearah meja kasir. Penjaga toko yang ketakutan sedikit mundur dan wajahnya terlihat pucat.
“T-tuan..jangan bunuh aku..!” pekiknya ketakutan.
“Mendekatlah sedikit paman" ucap Alfhonso sambil membungkukkan badannya kearah meja.
Penjaga toko dengan terpaksa melangkah mendekati Alfhonso dengan penuh rasa takut dan tubuh gemetar.
Telapak tangan Alfhonso memegang belakang kepala penjaga toko, dan ia menodongkan pistolnya kebawah dagu pria yang sedang gemetar itu.
Penjaga toko hanya mengangguk masih ketakutan.
“Kau tahu, hanya karena sebuah roti kau selamat dari pistolku..”
Alfhonso kemudian memasukan beberapa lembar uang ke saku penjaga toko dan menepuk-nepuk pipi pria berbadan gempal itu.
“Sebaiknya kau singkirkan CCTV yang diatas sana paman, atau aku yang akan menyingkirkannya beserta seluruh toko ini" Alfhonso menoleh kearah CCTV yang ada di sudut atas penjaga toko.
Kemudian pria bermantel hitam itu keluar dari minimarket.
Jasmine yang sedari tadi memperhatikan mereka sedikit lega dengan keluarnya Alfhonso tanpa menembak ke penjaga toko.
Kemudian Alfhonso menelpon anak buahnya untuk membereskan mayat berandal yang tergeletak di depan toko.
Akhirnya mereka menaiki mobil dan kembali ke apartemen.
“Tuan, terimakasih karena tidak membunuh paman penjaga toko tadi” ucap Jasmine di dalam mobil.
“Hmm, seharusnya penjaga toko itu yang berterimakasih padamu” ujar Alfhonso sambil mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Alfhonso hanya mengantar sampai depan apartemen dan ia kembali ke mansion.
Sepekan berlalu,
Ting..nung…
Suara bell di depan pintu sebuah rumah mewah beberapa kali di pencet oleh seorang pelayan pria yang memakai tuxedo dan sarung tangan putih.
Tak lama berselang pintu tersebut terbuka.
“Ada apa Rob?" tanya si tuan rumah, seorang pria berambut pirang agak panjang sebahu, dengan mata biru sedang memakai piyama dan memegang segelas lemon tea.
“Maaf tuan, ini pelayan yang kemarin anda minta" pelayan yang di panggil Rob tersebut menunjuk Jasmine yang ada di belakangnya.
Jasmine dengan penampilan pelayan, memakai terusan pendek sebatas lutut berwarna putih. Gadis itu menunduk memberi hormat kepada Gillbert.
“Selamat siang tuan. Aku pelayan yang dikirim untuk membantu di rumah ini tuan" ujar Jasmine.
Gillbert pastinya sedikit terkejut dengan kecantikan Jasmine, tetapi ia langsung menepis pandangan terpesonanya.
“Ah, ya baiklah..masuklah" ujar Gillbert mempersilahkan Jasmine masuk.
Di dalam ruangan rumah yang cukup mewah, di sofa panjang di ruang utama, nampak seorang wanita tengah merebahkan tubuhnya, berbaring dengan pakaiannya yang entah kemana, terbuka dan hanya di tutupi oleh bantal sofa.
“Siapa sayang?" ujar si wanita.
“Ini pelayan baru yang kemarin kita pesan" ucap Gillbert yang kemudian duduk di sofa dekat dengan wanita yang berbaring tadi.
“Hey, kau lumayan cantik. Gill, awas kau kalau sampai menggodanya!.." ucap wanita yang bernama Charsilla, ia adalah kekasih Gillbert.
“Akh, bicara apa kau ini" ujar Gillbert.
“Apa yang harus kukerjakan tuan?" tanya Jasmine dengan menyatukan tangannya di depan.
“Siapa namamu?" tanya Gillbert.
“Cherry tuan"
“Hm, baiklah Cherry, coba kau ambilkan lembaran kertas di atas kulkas itu. Itu adalah daftar pekerjaan yang belum aku dan Silla selesaikan, kau selesaikanlah sekarang" ucap Gillbert.
“Baiklah tuan"
Setelah Jasmine mengambil kertas itu, kemudian ia langsung mengerjakan pekerjaan rumah pertamanya di rumah itu.
Alfhonso
__ADS_1