
“Ah!, maaf tuan Rai, um, tidak seharusnya kita seperti ini, maafkan aku” Jasmine yang tersadar, buru-buru menjauh dari Raizon dan menunduk menahan malu.
“Tidak apa nyonya, aku selalu siap untuk menjadi sandaranmu” setelah menyelesaikan kalimatnya, Raizon buru-buru bangkit dari duduknya, ia masih bertelanjang dada kemudian meraih kemejanya, dan dengan cepat melangkah keluar kamar.
Kemudian dengan sedikit terburu-buru pria itu mencari keberadaan Eryta. Ternyata wanita itu tengah berdiskusi dengan sang mama di ruang makan.
Tanpa basa-basi dan dengan wajah penuh amarah, Raizon mendekati wanita itu. Dengan kecepatan dan kekuatan seorang pria, Raizon meraih leher Eryta hingga wanita itu berdiri dengan leher tercekik, pria itu mencengkramnya dengan kuat, hingga wanita itu mengerang dan mencoba melepaskan cengkraman Raizon.
“Berikan ponselmu atau kau mati sekarang wanita murah!. Aku tak takut di pecat oleh tuan Alfhonso, tapi kupastikan kau mati jika tidak menyerahkan ponselmu!”
Bibi Shirley berteriak sambil memukul-mukul tubuh kekar Raizon, ia juga berusaha membuka cengkraman tangan Raizon di leher putrinya.
“Lepaskan anakku!!, dasar bajingan!, dia adalah sepupu Alfhonso!”
Pukulan wanita paruh baya itu tak berpengaruh sama sekali kepada Raizon.
Dua anak buah Alfhonso dan bawahan Raizon yang mendengar teriakan dan kegaduhan tersebut datang dan mendekati Raizon.
“Tuan Raizon!, ada apa?!” tanya salah satu anak buahnya.
“Hey!, tolong anakku, pria ini ingin membunuhnya!” pekik bibi Shirley kepada kedua pria yang baru datang.
“Ini bukan urusanmu!, kalian lebih baik keluar!” tatapan Raizon sangat menakutkan, membuat kedua bawahannya akhirnya lebih memilih menuruti perintah Raizon.
Cengkraman Raizon semakin kuat, membuat Eryta mulai sulit bernafas.
Eryta menunjuk handphonenya yang berada di sofa. Raizon melirik kearah yang ditunjuk.
“Kau! Wanita gila!, ambilkan handphone itu! Atau putrimu mati detik ini juga!” ucapan Raizon membuat bibi Shirley juga ketakutan.
Dengan terpaksa bibi Shirley menyerahkan ponsel milik Eryta kepada Raizon yang seolah dirasuki sesuatu.
Raizon dengan kasar meraih ponsel tersebut dengan sebelah tangannya, kemudian ia melepaskan cengkraman leher wanita tersebut.
Pria itu melangkah kearah dapur, tak lama kemudian ia kembali dengan palu di tangannya.
“Tidak!, jangan!…kumohon jangan!!”
Eryta berusaha mendekati Raizon akan mencegah perbuatan Raizon yang sudah terbaca oleh wanita itu, dengan kekuatan tangan Raizon, pria itu mendorong tubuh Eryta hingga tubuh wanita itu sedikit terhempas kebelakang.
Tanpa basa-basi Raizon meletakkan ponsel milik sepupu Alfhonso itu di lantai dan mulai memukul, memecahkannya dengan keras menggunakan palu.
Raizon memukulnya berkali-kali hingga ponsel tersebut tak berbentuk dan sangat hancur menjadi serpihan.
Eryta hanya bisa menangis dipelukan mamanya.
“Lihat saja!, kau akan membayar perbuatanmu Raizon!” ancam bibi Shirley.
__ADS_1
“KAU! Kau yang akan membayar semua kegilaanmu bersama anakmu yang lac** ini!” Raizon dengan kemarahannya menunjuk wajah bibi Shirley dan mengancam tepat di depan wanita paruh baya itu.
“Kau bukan siapa-siapaku!, aku tak perduli denganmu atau wanita ini! Sekali lagi kau melakukan sesuatu pada nyonya Jasmine, kupastikan tuan Alfhonso akan mendapati kalian sudah menjadi mayat!” Raizon dengan langkah gusar kembali ke atas dan ke kamar Jasmine.
Raizon menelpon Alfhonso dan setelah beberapa saat, ia menyerahkan handphonenya kepada Jasmine. Raizon menunggu di luar kamar.
Terdengar suara tangisan Jasmine dari dalam kamar sambil melepon suaminya.
Tak lama berselang, Jasmine menyerahkan handphonenya kembali pada Raizon. Wanita itu berdiri di bibir pintu.
“Apa nyonya menceritakan semua pada tuan Alfhonso?” tanya Raizon.
“Tidak, biarlah tuan Alfhonso mengira semua baik-baik saja, aku tak tega menceritakan padanya yang nanti akan membuat beban pikiran untuknya”
Raizon hanya menghela nafas.
“Tuan Raizon, aku akan bermalam di apartemen saja, sampai bibi Shirley dan Eryta pergi dari sini, baru aku akan kembali ke sini. Apa kau bisa tolong antar aku ke apartemen tuan?” pinta Jasmine.
“Tapi itu justru akan membuat mereka leluasa di rumah ini nyonya” tukas Raizon.
“Biarlah, mereka juga adalah kerabat tuan Alfhonso. Aku lebih memilih mengalah tetapi bisa tidur dengan nyenyak”
“Apa nyonya sudah memberitahu tuan Alfhonso?”
“Aku hanya bilang akan menengok apartemen dan besok aku akan mulai membuka toko roti lagi”
“Ya, dia mengizinkan”
“Baiklah jika itu keputusanmu nyonya, mari aku antar” ucap Raizon.
Akhirnya Jasmine berkemas dan meninggalkan mansion Alfhonso. Di lantai bawah, terlihat Eryta yang masih menyesali handphonenya yang sudah hancur berantakan, ia masih menyisakan tangisnya di dekapan mamanya.
Mereka saling bertatapan satu sama lain, tetapi tidak ada kata yang terucap, hanya kebencian dan kalimat di benak masing-masing yang mungkin terlintas.
Tanpa berkata apa-apa, Jasmine dan Raizon pergi meninggalkan mansion.
Raizon mengendarai mobilnya menuju apartemen milik tuannya. Jasmine yang duduk di sebelahnya hanya memandang keluar jendela kaca mobil.
Tiba-tiba Raizon menepi dan menghentikan mobilnya. Jasmine spontan menoleh kearah Raizon.
“Ada apa tuan Rai?, kenapa berhenti?” tanya Jasmine.
“Nyonya, aku ingin mengatakan sesuatu” dengan tangan masih memegang setir yang sudah berhenti, wajah Raizon menoleh kearah Jasmine dan menatap wajah wanita itu dengan dalam.
“Ada apa?” ucap Jasmine.
“Nyonya Jasmine, sebenarnya …, sebenarnya aku- …”
__ADS_1
Dreet ….Dreet …
Ponsel Raizon berderit tiba-tiba, hingga kalimatnya belum sempurna. Raizon buru-buru melihat siapa yang menelponnya.
“Tuan Alfhonso” gumam Raizon agak pelan sambil menatap layar handphonenya.
“Apa itu tuan Alfhonso?” tanya Jasmine terlihat semangat.
“Ya, ini tuan Alfhonso nyonya, sebentar” Raizon meletakkan ponselnya di telinga.
“Ya tuan … “
‘Apa kau bersama istriku?’ tanya Alfhonso di sebrang telpon.
“Ya tuan, dia ada bersamaku”
“Berikan telponmu padanya” perintah Alfhonso.
Raizon memberikan ponselnya kepada Jasmine.
“Tuan, ini aku” ucap Jasmine.
“Sayang, apa handphonemu belum ketemu?” tanya Alfhonso.
“Belum tuan, aku sudah mencarinya tapi tetap tidak ada” jawab Jasmine yang belum berani menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Baiklah, nanti jika aku sudah sampai sana kita akan beli lagi. Oya sayang, aku sudah membeli tanah dan bangunan di desa kemarin, kita akan membangun rumah disana, kita buka lahan pekerjaan dan pabrik roti”
“Benarkah tuan?, aku senang mendengarnya”
Akhirnya setelah beberapa saat mereka berbincang, Jasmine mengakhiri telponnya dengan sang suami.
Wanita itu memberikan ponselnya lagi ke Raizon.
“Oya tuan, tadi kau mau bilang apa?” tanya Jasmine mengingatkan kalimat Raizon tadi yang terputus.
“Ah, tidak, … lupakan saja” Raizon kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen.
Dua hari berlalu,
Di mansion milik Alfhonso, kedua wanita disana, bibi Shirley dan Eryta semakin bebas menggunakan fasilitas milik Alfhonso.
Ketika mereka berada di sofa bersantai sambil menonton televisi, tiba-tiba pintu utama terbuka lebar dengan keras dan kasar.
Spontan keduanya menoleh kerah pintu. Dan mereka kaget bukan kepalang, Alfhonso tengah berdiri dengan kemarahan yang seolah ingin membuncah.
“Al, kau sudah pulang?” sapa bibi Shirley menyembunyikan ke terkejutannya.
__ADS_1
“Kalian keluar dari rumahku sekarang juga!!” pekik Alfhonso dengan tiba-tiba.