MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 19 - Selesai Misi kedua


__ADS_3

Mereka tiba di ruang kerja Gillbert, mereka menyaksikan sesuatu yang di luar prediksi, ternyata yang tertembak adalah Charsilla, wanita itu tergeletak dengan posisi tertelungkup, dengan darah di tubuhnya mengalir sampai ke lantai.


Ketika Alfhonso melihat Jasmine merapat ke dinding, berjongkok dengan kakinya dilipat didekap kedua lengannya, di bawah jendela. Alfhonso langsung menghampirinya.


“Kau tidak apa-apa?" Alfhonso berlutut di depan Jasmine, kemudian menarik kepala gadis itu ke dadanya, dan kini Jasmine berada di dekapan Alfhonso.


Alfhonso sangat lega, karena pakaian Jasmine masih utuh dan tidak terbuka sama sekali.


Sebenarnya ia penasaran apa yang telah terjadi, tetapi ia simpan rasa penasarannya hingga Jasmine benar-benar tenang.


“Aku akan membawamu pergi dari sini" ujar Afhonso pelan.


Afhonso dan anak buahnya turun ke bawah, dan menapati Gillbert yang masih duduk di tangga menyesali kekasihnya yang ia tembak dengan tangannya sendiri, sepertinya fikirannya sedikit terguncang.


“Gillbert, aku tunggu kau di mansionku dua hari lagi, kita akan lanjutkan pembicaraan tentang kerjasama, sekarang tenangkanlah dirimu, kau terlihat sangat kacau" ujar Alfhonso yang kemudian melewati Gillbert begitu saja, diikuti anak buahnya juga Jasmine.


Gillbert yang terlihat depresi tidak menghiraukan kepulangan Jasmine yang bersamaan dengan Alfhonso dan para anak buahnya, pria itu tengah larut dalam kedukaan yang dalam.


Di dalam mobil milik Alfhonso kepala Jasmine di rebahkan di pundak pria itu. Alfhonso merasa bersalah karena lagi-lagi ia menempatkan Jasmine dalam bahaya, yang sebenarnya hal itu bertentangan dengan hatinya, yang ia ingin Jasmine terlindungi dan jauh dari bahaya, entah perasaan apa yang mulai menyebar di relung hati Alfhonso.


Pagi hari yang sejuk, dan sedikit dingin.


Setelah seharian beristirahat, di apartemen milik Alfhonso, Jasmine yang memakai kaos panjang putih dan celana jeans pendek sebatas paha, menekuk lututnya, duduk di kursi di balkon teras apartemen, memandang pemandangan pagi dari lantai paling atas.


Ia meminum segelas coklat panas yang masih mengepul.


“Kau sudah lebih tenang sekarang?" suara seorang pria dari belakangnya mengejutkan Jasmine.


“Ah, tuan Alfhonso ..aku tidak mendengarmu datang..maaf “ Jasmine menoleh kearah Alfhonso di belakangnya.


Alfhonso menggeser kursi lain mendekat kearah Jasmine.


“Apa anda mau minuman coklat tuan?, biar aku buatkan" Jasmine yang hendak beranjak dari kursinya di tahan oleh pria itu.

__ADS_1


“Tidak, tidak..aku tidak ingin minum..duduklah" ujar pria itu.


“Jasmine, Boleh kudengar ceritamu tentang kejadian kemarin?, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alfhonso.


“Ah, ya..sebenarnya….”


Flash back…


Di dekat ruang tivi, Jasmine tak sengaja mendengar percakapan di telpon, terdengar dari ruang dapur, percakapan Charsilla dengan seorang pria sedang berdiskusi tentang obat penenang.


Charsilla mengatakan di telpon itu bahwa ia sudah membawa obat penenang dan tinggal di tuang kedalam minuman yang akan di minum Gillbert.


Gillbert yang tengah berada di kamar mandi tidak menyadari hal itu, Jasmine yang mendengar percakapan wanita tadi langsung bergegas buru-buru ke dapur sengaja akan menghalangi wanita itu dan…


PRANG!!!...


Jasmine sengaja menabrak wanita itu agar minuman yang ia bawa tidak diminum oleh Gillbert.


Setelah mereka berdua pergi, Jasmine yang tinggal sendiri menggali informasi di rumah itu, dan hampir satu jam berlalu..


“Hey!, bantu aku bawakan belanjaan ini!, dasar lamban!" ujar Charsilla kepada Jasmine ketus sambil menunjuk beberapa paper bag dan plastik belanjaan yang diletakkan di lantai.


Jasmine membawakan semua belanjaan ke ruang dalam, dan Jasmine memperhatikan Charsilla yang tiba-tiba langsung naik kelantai atas dan memasuki ruang kerja Gillbert.


Jasmine yang juga naik ke lantai atas, berpura-pura membersihkan kamar mandi lantai atas yang padahal tadi ia sudah bersihkan.


Jasmine memperhatikan gerak-gerik wanita itu di ruang kerja.


Charsilla seolah mencari sesuatu di laci tersebut, dan ia sepertinya sudah menemukannya, ia membawa sebuah map coklat dan dilipat kemudian memasukannya kedalam tasnya.


Jasmine pura-pura tidak melihat perbuatan Charsilla.


“Nyonya, mau aku buatkan teh atau kopi?" tanya Jasmine berpura-pura.

__ADS_1


“Yah, buatkan aku lemon tea!, sana kedapur lagi!" bentaknya ketika melihat Jasmine masih berdiri di depannya.


Tak lama berselang, setelah Charsilla menghabiskan minumannya, ia beranjak lagi dan pergi lagi menggunakan mobil sedan berwarna merah.


Beberapa menit kedepan, Gillbert pulang dan mendapati ruang kerjanya yang berubah dan di lacinya ada sesuatu yang hilang.


Kemudian ketika Gillbert menuduh Jasmine, Jasmine mengatakan yang sebenarnya kepada pria itu, bahwa Charsilla yang telah membawa dokumen milik Gillbert, dan wanita itu berusaha menaruh obat penenang di minuman Gillbert.


Akhirnya Gillbert percaya dengan penjelasan Jasmine, dan ketika Charsilla pulang, pria itu langsung menanyakan apa yang sebenarnya wanita itu perbuat, akhirnya terjadi percekcokan antara Charsilla dan Gillbert, hingga akhirya Charsilla mengaku bahwa ia memang ditugaskan Reondess untuk membunuh Gillbert, karena Gillbert telah berkhianat dengan bekerja sama dengan Alfhonso.


“Lalu ketika ia ingin membuka pakaianmu?, apa sempat ia menyentuhmu? Dan lalu kenapa sinyal penyadapnya tiba-tiba mati?" tanya Alfhonso lagi.


“Dia memang memaksaku membuka pakaian tuan, tetapi aku berusaha menghindarinya, dan ketika dia menarikku, cincin itu terlepas dan terinjak olehnya.


Jika aku tidak buru-buru memberitahu yang sebenarnya mungkin pakaianku sudah dilucuti” ucap Jasmine.


“Hmm, begitu rupanya..” ujar Alfhonso yang sedikit merasa lega.


“Jadi bagaimana tuan?, apakah tuan jadi bekerjasama dengan tuan Gillbert?" tanya Jasmine sambil meniup minuman coklatnya yang masih mengepul.


“Sepertinya Gillbert tidak berbahaya seperti dugaanku, tetapi Reondess adalah pria yang lumayan berbahaya, Gillbert sedikit takut dengan Reondess, jika aku bekerjasama dengan Gillbert, maka Gillbert juga akan terlibat bahaya seperti yang kemarin menimpanya. Maka aku jelaskan padanya untuk mencari teman koalisi yang lain, dan dia menyetujuinya"


“Apakah tuan Reondess itu pengaruhnya sangat kuat seperti anda tuan?" tanya Jasmine lagi.


“Ya, dia sama kuatnya denganku. Tetapi dalam beberapa hal dia kalah denganku dan pria itu semakin iri padaku, bahkan sampai sekarang masih terus berusaha mengungguliku"


Jasmine terdiam medengar penjelasan Alfhonso.


“Jasmine, mungkin ini adalah pekerjaanmu yang terakhir sebagai mata-mata, karena aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh kedalam masalah yang lebih besar” ucap Alfhonso.


“Ah, begitu…baiklah tuan, aku juga sempat berfikir, setiap aku menjalankan tugas dari anda, sepertinya aku merasa berat tuan, karena ini selalu menakutkan"


“Tapi sampai saat ini kau masih bisa menjaga kehormatanmu bukan?" ujar Alfhonso.

__ADS_1


“Yah, mungkin keberuntungan memang sedang berpihak padaku tuan" Jasmine sedikit tersenyum.


__ADS_2