MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 15 - Ruang Pameran


__ADS_3

Akhirnya Jasmine pergi ke mansion diantar Boren dengan sedan Volvo hitam mewah.


Di depan mansion, Jasmine diantar lagi oleh anak buah Alfhonso sampai ke dalam, hingga akhirnya ia menemukan Alfhonso sedang berada di ruang kerja yang mewah dengan dekorasi klasik.


“Masuklah..." perintah Alfhonso ketika Jasmine mengetuk pintu yang memang dari tadi agak terbuka sedikit.


"Duduklah" ucap pria itu yang masih duduk di balik meja kerjanya.


Jamine duduk di kursi di depan Alfhonso terhalang meja kerja.


Gadis itu memandangi jendela yang besar membentang di belakang Alfhonso, juga hiasan dinding yang terkesan elegant tapi sedikit menyeramkan, beberapa senapan klasik yang terpajang di sisi kanan dinding.


Kemudian mata Jasmine manangkap sebuah foto besar agak tua, setua orang yang ada di foto tersebut, dengan pakaian ala mafia yang di bingkai dengan frame klasik dari kayu berukir.


“Ehm!" deheman pria di depannya mengagetkan 'perjalanan mata’ Jasmine di ruangan itu.


Ternyata entah dari kapan Alfhonso memandangi gadis itu.


“Ah, ya tuan, maaf..” ucap Jasmine pelan.


“Jasmine, aku ada pekerjaan lagi untukmu. Pekerjaan kali ini kau kutugaskan untuk menyusup menjadi pelayan di sebuah rumah mewah. Pemilik rumah ini adalah Gillbert. Gillbert mengajakku bekerjasama, tetapi aku belum sepenuhnya mempercayainya, karena dia adalah sahabat dari Reondess, Reondess dia…bisa dibilang dia adalah rivalku (musuh),. Aku khawatir jika Gillbert adalah suruhan Reondess untuk menikamku dari belakang, tetapi aku belum punya bukti apa-apa, karenanya aku meminta padamu untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Gillbert di rumahnya, apapun yang kau temukan kau laporkan padaku “ jelas Alfhonso pada Jasmine.


“Aku hanya bertugas menjadi pelayan tuan?, sepertinya ini lebih mudah dari yang kemarin" ucap Jasmine.


“Yah, kau akan menjadi pelayan sementara di rumah mewah itu. Tapi kau juga harus waspada, karena Gillbert bisa saja mengetaui identitasmu, jika kau tidak hati-hati ia bisa mencium bau ketidak beresan dari penyamaranmu"


“Lalu, apa memang tuan Gillbert ini sedang mencari pelayan tuan?" tanya Jasmine.


“Ya, karena dia baru pindah dari luar Negeri, maka dia mencari pelayan untuk mengurus rumahnya dan aku telah menghubungi semua pihak penyalur pelayan di kota ini, kau masuk dalam daftar pelayan yang akan diserahkan padanya"


“Kenapa anda bisa secepat itu mengetahui dan mengurus semuanya tuan? Tuan Alfhonso..anda sangat hebat.." puji Jasmine.


“Hahahaa…, urusan seperti itu mudah Jasmine, aku memiliki banyak mata-mata, tetapi untuk menyusup masuk langsung ke wilayah musuh hanya kau, karena kau memiliki kelebihan yang mereka tidak miliki"


“Kelebihan?, maksud tuan? “ alis Jasmine mengerut.


“Sudahlah, lupakan saja…oya, apa kau suka kirimanku yang kemarin?" tanya Alfhonso.


“Ya tuan, maaf aku lupa mengucapkan terimakasih..tetapi barang-barang itu terlalu bagus untukku, jadi aku belum memakainya satupun. Oya tuan, terimakasih juga untuk uang di kartu itu, itupun sepertinya terlalu banyak untukku tuan..” ucap Jasmine.

__ADS_1


“Itu tidak ada ada apa-apanya Jasmine…” ujar Alfhonso.


"Bagaimana lukamu? apa sudah baikkan?" tanya Alfhonso memandang wajah Jasmine.


"Ya tuan, lukaku sudah berangsur hilang"


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan obrolan mereka.


“Tuan..” suara Raizon terdengar dari balik pintu.


“Masuklah Rai!" ujar Alfhonso.


Raizon memasuki ruangan, tetapi ia sedikit terkejut dengan kehadiran Jasmine disana, matanya yang tadi menatap gadis itu seketika itu juga menunduk, dan beralih kearah tuannya.


“Rai, kau antarlah Jasmine ke tempat penyimpanan peralatan, beri dia cincin penyadap dan pelacak yang bentuknya tidak terlalu mencolok, karena dia akan menyusup sebagai pelayan, ada yang harus kuurus lagi" ucap Alfhonso sambil berdiri dan merapihkan berkas yang ada di meja kerjanya.


“Baik tuan, mari nona..” Raizon mempersilahkan Jasmine mengikutinya.


“Jasmine,..apa kau ada waktu nanti malam?" ucap Alfhonso, yang kemudian membuat Jasmine menoleh kembali kearah pria itu berdiri.


“Ah, iya tuan..aku tidak sesibuk anda..” senyuman Jasmine membuat mata Alfhonso tidak lepas memandang sampai gadis itu keluar ruangan.


Raizon mengambil sebuah cincin perak sederhana dengan mata batu putih semacam intan imitasi, berada di tangan Raizon.


“Ini nona, coba kau pakai..ini adalah alat pelacak sekaligus penyadap. Di cincin ini tidak ada tombol yang bisa kau pencet, tetapi suaramu bisa terdengar dari sini, dan keberadaanmu bisa kami lacak" jelas Raizon, kemudian mulai memasangkan cincin indah sederhana itu di jari manis Jasmine.


“Baiklah..” ucap Jasmine sambil merenggangkan jemarinya untuk memasang cincin.


Ketika Raizon memasang cincin itu di jari manis Jasmine, ia tertegun sejenak.


“Tuan!, tuan Raizon..” suara jasmine membuyarkan lamunan Raizon.


“Ah, maaf nona…” ucapnya sedikit terkejut.


“Cincin ini pas di jariku..” ucap Jasmine lagi-lagi dengan senyumannya yang begitu lembut.


“Ah ya, itu cantik sekali nona,…sangat cantik..” Raizon memandang wajah Jasmine dan bukan kearah cincin yang dipakai gadis itu.

__ADS_1


Akhirnya malam membentang, Jasmine di apartemen telah berdandan tipis menunggu tuannya yang akan menjemputnya, entah ingin kemana.


“Jasmine..” suara Alfhonso di pintu berbarengan dengan masuknya pria itu kedalam ruangan.


“Ya tuan, aku sudah siap. Tapi mau kemana kita tuan?" tanya Jasmine yang mengenakan gaun hitam panjang yang anggun dan agak mewah.


“Kau akan tahu..” ujar Alfhonso yang sedari tadi terus memandangi gadis anggun di depannya.


Akhirnya mereka berdua berjalan menyusuri kota di malam hari. Tanpa pengawalan, Alfhonso memilih menyetir sendiri mobil Volvo hitamnya.


Kerlap kerlip lampu kota berwarna warni menghias pemandangan ketika itu.


Mereka berdua sampai di sebuah gedung pameran. Tangga putih besar membentang di bawah gedung yang megah dan kokoh.


Sebuah pintu besar menjadi sebuah pemandangan awal betapa megahnya gedung tersebut.


Jasmine mengerutkan keningnya, dan memandang sekeliling dengan wajah tidak nyaman.


“Apa kau tidak suka berada disini?" tanya Alfhonso melihat wajah Jasmine yang berubah.


“Umm, bukan begitu tuan, disini sangat ramai dengan orang-orang kalangan atas..aku tidak percaya diri..” ucap Jasmine jujur.


“Baiklah, kita sebentar saja dan hanya melihat-lihat..” ujar Alfhonso.


Akhirnya mereka menyusuri gedung pameran patung, lukisan juga perhiasan.


Alfhonso dan Jasmine menyusuri ruang perhiasan, dengan penjagaan yang sangat ketat.


Beberapa orang berpenampilan glamor dan sangat mencirikan kalangan atas terlihat sangat antusias memperhatikan perhiasan di ruang pameran.


Disana terpajang banyak perhiasan yang berkilau yang harganya sangat fantastis, dan memang hanya para kalangan atas yang bisa membelinya.


“Jasmine, apa kau suka liontin batu safir biru ini, atau mutiara yang sebelah sana?” Alfhonso menunjuk sebuah liontin emas berbatu safir biru yang berkilauan.


“Ah, tidak tuan! Jangan!, Itu terlalu mahal untukku, aku tidak mau” ujar Jasmine cepat.


“Kau tidak mau…, atau tidak suka?” tanya Alfhonso menatap wajah Jasmine.


“Tidak..tidak mau karena terlalu mahal tuan..” jawab Jasmine.

__ADS_1


“Hmm, baiklah”


Akhirnya mereka menyusuri lagi ruang-ruang pameran. Mereka sampai di ruang pameran patung dan lukisan.


__ADS_2