MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 56 - Kembalikan Gadisku


__ADS_3

Penampilan Alfhonso yang sedikit ‘mengintimidasi’, juga hadirnya anak buahnya yang terlihat bersiap dengan senjata di pinggang mereka membuat suasana di restauran menjadi sedikit tegang.


Alfhonso melihat kearah pegawai restauran, kemudian ia melangkah kearah pria bertuxido dengan sarung tangan putih.


“Panggilkan aku manager tempat ini” ucap Alfhonso pada pria bertuxido tersebut.


“Baik tuan” pria itu kemudian melangkah cepat menuju sebuah tangga.


Beberapa saat kemudian seorang pria berpakaian jas rapih di ikuti pria bertuxido tadi melangkah mendekati Alfhonso yang masih berdiri.


“Maaf tuan, ada yang bisa ku bantu?” tanya pria berjas yang kemungkinan adalah manager restauran tersebut.


“Apa kau manager disini?” tanya Alfhonso.


“Ya, betul tuan”


“Aku hanya ingin bertanya, apakah ada karyawanmu yang baru yang bernama Jasmine disini?” tanya Alfhonso.


Pria itu seolah kaget dengan pertanyaan Alfhonso, matanya membulat dan wajahnya berubah tegang.


“Um, itu…ya, memang ada tuan..” jawab manager tersebut seolah agak takut.


“Benarkah?!, lalu dimana dia!” Alfhonso memegang pundak si manager dengan satu tangannya.


“Tapi dia, dia sudah tidak disini tuan, maksudku kemarin dia memang bekerja disini sebagai pelayan, tapi..” manager itu seolah menyembunyikan sesuatu.


“Tapi apa?, kemana dia sekarang?!” tekan Alfhonso semakin penasaran.


“Dia, dia di bawa oleh tuan Marino, dan di jadikan perawat pribadi di rumahnya” ucap manager tersebut membuat darah Alfhonso mendidih seketika.


Spontan Alfhonso mengambil pistolnya kemudian menempelkan laras pistol tersebut ke bawah dagu sang manager.


“Siapa Marino?!” Alfhonso tidak perduli dengan tatapan ketakutan dari pelanggan yang berada disana.


“T-tuan Marino adalah pemilik restauran ini tuan” dengan wajah ketakutan manager yang diancam Alfhonso menjawab dengan suara tertekan.


“Tunjukkan aku dimana si Marino itu sekarang! Tentunya kau tidak mau kan timah panas dari pistolku ini menghancurkan kepalamu!” ancam Alfhonso dengan suara sedikit berbisik tetapi menyeramkan.


Sang manager hanya mengangguk, kemudian bersedia mengantar Alfhonso menemui Marino di kediamannya.


Di dalam mobil, Alfhonso dengan masih memegang pistolnya duduk di samping manager restauran yang tengah mengelap keningnya dengan sapu tangan karena keringat ketakutannya bercucuran.


“Kenapa si Marino membawa Jasmine kerumahnya?, bukankah gadis itu adalah karyawan restauran ?” tanya Alfhonso.

__ADS_1


“Aku tidak tahu pasti tuan, tetapi dari yang kami lihat beberapa hari, setelah tuan Marino datang ke restauran dan melihat nona Jasmine, sepertinya tuan Marino suka padanya, kemudian gadis itu diminta untuk bekerja di rumah tuan Marino, hanya itu yang kutahu tu-..”


“SIALAN!”


Gertakan Alfhonso membuat hampir semua yang berada di dalam mobil terperanjat kaget.


“Tenanglah dulu tuan, kita akan mengambil kembali nona Jasmine” ucap Raizon mencoba menenangkan tuannya.


Alfhonso dan anak buahnya diantar ke sebuah rumah mewah dengan penjagaan yang ketat.


Sebuah rumah mewah bercat putih gading, berdiri kokoh dengan pagar hitam tinggi mengelilinginya.


Di depan pagar, sang manager berbicara dengan penjaga di sana, dan tak berapa lama mereka diizinkan masuk.


Alfhonso menunggu di depan halaman, Alfhonso berdiri dengan anak buah dibelakangnya. Manager masuk kedalam rumah berpintu besar dan kokoh.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang pria gagah bertubuh tinggi besar dengan rambut hitam agak panjang di kuncir, keluar dari pintu diiringi manager yang seolah ingin berlindung di belakangnya.


“Ada apa?” suara beratnya menyapa Alfhonso tak bersahabat.


“Apa kau Marino?” tanya Alfhonso.


“Ya, siapa kau, dan ada perlu apa dirumahku?” tanya pria berambut hitam bernama Marino itu.


“Kau siapanya dia, kakaknya?” tanya Marino sambil menautkan alis tebalnya.


“Kau tidak perlu tahu aku siapanya, yang jelas aku sudah meminta padamu baik-baik, kembalikan Jasmine padaku sekarang juga” ujar Alfhonso.


“Dia sudah ku kontrak untuk bekerja padaku disini, dan jika dia keluar dari sini dia harus membayar ganti rugi separuh uang dari kontrak tersebut”


“Aku yang akan membayarnya!, keluarkan dia sekarang juga!” Alfhonso mendekatkan wajahnya ke depan wajah Marino.


Marino mendorong dada Alfhonso dengan spontan.


“Tidak!, dia sudah terikat kontrak!, kau boleh membawanya setahun lagi!” ujar Marino terlihat geram.


Marino buru-buru akan masuk kedalam rumahnya, ia berbalik badan membelakangi Alfhonso, tetapi Alfhonso buru-buru menarik leher baju Marino hingga ia berbalik dan menghadap kearah Alfhonso lagi, kemudian Alfhonso menodongkan pistolnya tepat di kening pria pemilik restauran itu.


Dengan serempak semua anak buah Alfhonso ikut menodongkan senjatanya kearah Marino, hingga Marino diam tak berkutik.


“Apa kau mau mati hari ini?” tanya Alfhonso penuh ancaman.


Marino terdiam beberapa saat.

__ADS_1


“Baiklah!, ikut aku kedalam” ucap Marino kalah.


Alfhonso menurunkan pistolnya perlahan.


“Hanya kau yang boleh masuk, selebihnya tunggu disini” ucap Marino.


Akhirnya Alfhonso mengikuti Marino menuju kedalam rumah. Mereka terus berjalan hingga menuju ke sebuah pintu kamar.


Marino membuka pintu tersebut perlahan, Alfhonso di persilahkan masuk dan ketika pria itu melangkah kedalam kamar, ia menemukan seorang wanita tua tengah terbaring tertidur di ranjang besar di tutupi selimut hampir setengah tubuhnya.


Di sisi kiri dekat jendela kamar, mata Alfhonso seolah tak berkedip ketika pandangannya berhenti pada seorang gadis cantik yang tengah memegang baskom berisi air kemudian sang gadis terperanjat kaget.


“Tuan” pekik Jasmine kaget bercampur lirih, yang spontan membatu diam menghentikan pergerakannya.


“Jasmine, apa yang kau lakukan disini?!” ujar Alfhonso.


“Aku, ... aku merawat nyonya Melinda” ucap gadis itu.


“Kembalilah bersamaku Jasmine” kali ini Alfhonso berucap lembut.


“Aku-tapi... ” Jasmine terdengar ragu.


“Jasmine!” seru Alfhonso.


Alfhonso berusaha mendekati gadis itu, tetapi Marino mencegahnya, ia menghalangi Alfhonso untuk melangkah maju mendekati Jasmine dengan lengannya yang menghadang tubuh Alfhonso.


“Kau lihat sendiri kan?, dia masih ingin bekerja disini, dan dia memang masih terikat kontrak, Keluarlah dulu..kau bisa membangunkan ibuku” ujar Marino.


Alfhonso menoleh kearah wanita tua yang tertidur di ranjang, kemudian ia keluar ruangan.


Tetapi Marino menutup pintu kamarnya dan membiarkan Jasmine di dalam, tidak keluar kamar.


“Hey!, biarkan dia bicara padaku, biarkan dia keluar!, brengsek!”


Alfhonso mendorong dada Marino dengan kuat menggunakan kedua tangannya, tetapi tubuh Marino cukup kokoh untuk menahan dorongan Alfhonso.


“Dia sudah tidak ingin bicara padamu, apa kau tak mengerti?!” kini tatapan Marino seolah memiliki niat membunuh yang kuat.


“Dia gadisku, aku ingin memintanya ikut denganku sekarang juga!” Alfhonso lagi-lagi mengambil pistol dan meletakkan laras pistolnya menempel kuat di samping kepala Marino di atas telinga.


“Aku tidak perduli dengan kondisi ibumu, jika kau tidak menyerahkan gadisku sekarang, kau mati, ibumu juga akan mati!, kau mengerti?!” Alfhonso mengancam Marino yang sama sekali tidak terlihat ketakutan di wajahnya.


“Ambillah gadismu!, tapi tanyalah padanya apakah dia masih ‘virgin’ atau tidak! dengan sukarela dia melakukannya denganku, tubuhnya memang indah bukan?!” wajah Marino seolah puas dengan senyum sinis yang menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2