
Tak lama berselang, gadis itu duduk perlahan di samping Alfhonso.
“Um, maaf…apa ada masalah tuan?” tanya Jasmine perlahan pada pria di sampingnya.
“Tidak ada..” jawab Alfhonso seolah tidak ingin Jasmine tahu masalah sebenarnya.
“Mungkin ada yang bisa kubantu?” tanya Jasmine lagi.
“Justru ini tentangmu!, bagaimana kau bisa membantuku!!” tiba-tiba Alfhonso membentak Jasmine tanpa sadar.
Serta merta Jasmine terkejut dan membulatkan matanya, mulut mungilnya menganga tidak menyangka akan mendapat bentakan dari pria yang mulai dicintainya.
“A…,Jasmine, maaf..maafkan aku. Aku tidak bermaksud kasar padamu. Aku hanya bingung..” Alfhonso menatap Jasmine dan mencoba mengelus rambutnya, tetapi Jamine terlihat takut.
Alfhonso kembali membungkuk dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Tuan, apa aku menjadi bebanmu?” ucapan Jasmine membuat Alfhonso spontan menoleh kearah gadis itu.
“Beban apa maksudmu?”
“Ah, tidak, lupakan saja…” ucap Jasmine sambil beranjak dari sofa.
Kemudian Alfhonso beristirahat sebentar dan keluar lagi entah kemana.
Hingga hari kedua Alfhonso bertemu dengan Jasmine, sikap pria itu seolah berubah menjadi muram dan di selubungi kebingungan.
Akhirnya Jasmine menelfon Bony ketika sendiri di apartemen.
“Apa kau tahu yang sedang terjadi pada tuan Alfhonso Bony?. Akhir-akhir ini dia seperti sangat cemas dan kebingungan, aku ingin menolongnya tapi dia tak memberitahu padaku apa yang sedang terjadi” tanya Jsmine di telpon.
“Um, sebenarnya….” Bony seolah tidak ingin Jasmine tahu.
“Bony, kumohon beritahu aku apa yang terjadi pada tuan Alfhonoso” pinta Jasmine.
“Tapi aku harap kau jangan beritahu lagi kepada tuan Alfhonso. Sebenarnya tiga hari lagi si brengsek Carlos akan memberitahu kepada dewan tertinggi BLOOD siapa pembunuh anggota BLOOD di loby hotel tempo hari. Kau tahu kan bahwa yang membunuhnya adalah tuan Alfhonso. Carlos menghubungi tuan Alfhonso dan memberi kabar ini, dia akan membeberkan kesaksiannya di hadapan seluruh anggota BLOOD, kecuali….”
Jantung Jasmine berdegup tidak beraturan, Jasmine spontan panik mendengar penjelasan Bony.
“Kecuali?,…kecuali apa Bony?!” tanya Jasmine penasaran.
“Kecuali jika tuan Alfhonso menyerahkanmu kepada Carlos sebagai penebus kesaksiannya, maka kasus in tidak akan dilanjutkan oleh Carlos” jelas Bony.
“Menyerahkanku?...” ucap Jasmine pelan.
__ADS_1
“Ya, Carlos ingin memilikimu sebagai mata-matanya, tetapi tuan Alfhonso menolak keras untuk menyerahkanmu, karenanya Carlos menjadi geram..”
“Bagaimana resikonya Jika BLOOD mengetahui jika tuan Alfhonso yang membunuh anggota itu?” tanya Jasmine sedikit gugup karena panik.
“Selain dikeluarkan dari keanggotaan, separuh aset kepemilikan properti tuan Alfhonso akan disita oleh BLOOD”
Jasmine terdiam sejenak.
“Nona?..hallo..nona Jasmine?, kau masih disitu?” ujar Bony di sebrang telpon.
“Ah, ya Bony..aku disini..lalu, bagaimana rencana tuan Alfhonso?” tanya Jasmine.
“Entahlah, sepertinya dia belum memerintahkan apa-apa padaku..,tapi tuan Raizon menasehatinya agar tuan Alfhonso bisa bernegosiasi lagi dengan Carlos”
“Baik, terimakasih banyak Bony..” ucap Jasmine dengan pikiran yang berkecambuk.
“Nona Jasmine, tolong jangan beritahu hal ini lagi kepada tuan Alfhonso..”
“Baik..” Jasmine menutup telponnya.
Kini gadis itu bergelut dalam pikirannya sendiri. Ia ingin membantu mencari jalan keluar untuk Alfhonso, tapi ia tak tahu bagaimana caranya, namun hanya ada satu cara…..
Jasmine mencari alamat Carlos dengan berbagai cara, akhirnya ia menemukannya.
Dari kejauhan, di depan sebuah rumah mewah beberapa pria penjaga berpakaian serba hitam menjaga di pos dekat pagar, di depan pintu dan di balkon atas.
Dari jalan, seorang gadis cantik dengan sangat gugup mendekati pagar besar dan tinggi yang membentang di depan bangunan kokoh yang berdiri angkuh tersebut.
Seorang penjaga berpakaian hitam mendekatinya dari balik pagar. Senapan sejenis AK47 Nampak di tangan si penjaga.
“Siapa kau? Ada perlu apa?!” tanya si penjaga.
“Aku Jasmine, aku ingin bertemu dengan tuan Carlos” ucap Jasmine dengan ketakutan yang menyelimutinya.
“Tunggu disini!” ujar si penjaga.
Seorang penjaga lain masuk memberi kabar tersebut, dan tak lama berselang penjaga tersebut mempersilahkan Jasmine memasuki pagar.
Penjagaan dan pengecekan super ketat dilakukan di halaman rumah mewah tersebut.
Semua peralatan logam, tas, dan perhiasan milik Jasmine di ambil sementara oleh penjaga.
Akhirnya Jasmine di antar oleh seorang penjaga lainnya ke dalam rumah.
__ADS_1
Gadis itu diantar ke dalam rumah yang mewah, lalu masuk lagi kedalam, sampai ke taman yang berada di ujung rumah tersebut.
Di sebuah gazebo taman di belakang rumah, disana tengah berdiri dari belakang seorang pria berotot, berbadan tegap dan kekar dengan bertelanjang dada, memakai sarung tinju, sedang memukuli samsak yang tergantung di teras taman.
Keringat membahasi tubuh kekar pria itu, tatoo di atas punggungnya yang bergambar api dan siluet naga membuat penampilannya terlihat garang.
“Boss, ini wanita yang tadi di depan” ucap penjaga berpakaian hitam yang berdiri di depan Jasmine.
Pria itu tanpa menoleh masih melanjutkan olah raganya memukuli samsak…
“Baik, kau boleh kembali” ujarnya sambil memukul benda hitam besar didepannya layaknya seorang petarung.
Penjaga bepakaian hitam tersebut hilang dari pandangan, dan kini…
Kini Jasmine berdiri di bibir pintu kaca taman dengan seorang pria kekar yang pernah dijumpainya di apartemen.
“Tu-tuan Carlos..” sapa Jasmine dengan suara agak gemetar.
Pria itu berhenti memukul, dia diam sejenak, kemudian ia menoleh kearah Jasmine…
“Kau, datang sendiri…melati?” ucapnya dengan suara berat menyeramkan.
“Nyalimu cukup besar,..apa ini semua demi si bodoh Alfhonso?” Carlos, si pria berbadan kekar melangkah perlahan mendekati Jasmine.
Gadis yang sedari tadi tepaku kaku berdiri di posisinya itu, menahan ludahnya dengan darah yang mengalir kencang, dan jantung yang berdegup tak beraturan.
“Mak-sud kedatanganku kesini..adalah un-..”
“Aku sudah tahu, kau tak perlu menjelaskan lagi..” ucapan Carlos memotong kalimat Jasmine yang sedikit gugup.
Tekanan pria ini jauh lebih menyeramkan dibanding Alfhonso. Jasmine sampai tidak mampu mengeluarkan kata-katanya lagi. Tak disadari beberapa butir keringat menetes perlahan di keningnya.
Semakin Carlos mendekati Jasmine, semakin besar tekanan yang diterima gadis cantik itu.
Pria itu membuka sarung tangan tinjunya dengan giginya, kemudian melemparnya ke lantai.
Kini tubuh Carlos yang lebih tinggi dari Alfhonso, lebih kekar dan lebih berotot berada sangat dekat dengan Jasmine.
Tangan pria kekar itu menyentuh pipi lembut Jamine yang masih berdiri mematung.
Jasmine memejamkan matanya keras, dengan urat nadi yang kencang berdenyut. Telapak tangan pria itu terus menyusuri kulit Jasmine hingga ke lehernya, dan ketika rayapan sentuhan tangan Carlos berhenti di belakang leher Jasmine, pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Jasmine, dia mencium bibir Jasmine yang tengah berdiri ketakutan.
Jasmine kemudian menunduk seolah menolak secara halus, tetapi pria itu terlalu kuat untuk ditolak. Ia terus menikmati bibir Jasmine.
__ADS_1
Jasmine mendorong dada pria itu hingga ia menghentikan kegiatannya menikmati bibir indah Jasmine.