MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 37 - Pertolongan Ramonev


__ADS_3

“T-tuan, tolong jangan tuan..” ucap Jasmine berusaha menghindar dari Carlos.


“Pantas saja Alfhonso tidak mengizinkan aku untuk mengambilmu,..kau memang spesial, melati…” ucap Carlos memandang wajah Jasmine dalam-dalam.


Di tempat yang berbeda, [di apartemen Alfhonso]


“Sial!!, siapa yang memberitahu Jasmine tentang masalah Carlos!!, SIAPA, HAH?!!”


Bentak Alfhonso di depan semua anak buahnya, termasuk Bony dan Raizon, ketika menemukan surat di meja beserta handphone Jasmine yang diletakkan secara rapih. Bunyi surat tersebut…


...‘Maafkan aku tuan Alfhonso,...


...aku tidak ingin menjadi beban untukmu,...


...aku ingin membantumu lepas dari ancaman tuan Carlos,...


...agar kau bisa tetap berada di BLOOD....


...Aku menyayangimu…...


...-Jasmine- ‘...


“Maaf Bos, ya…aku yang memberitahunya, dia bertanya padaku tent-..” Bony belum sempat melanjutkan kalimatnya


DZIIG!!...


Sebuah pukulan telak dari Alfhonso mengenai rahang Bony, hingga pemuda itu tersungkur jatuh ke lantai.


“Hey Bos! Untuk apa itu?!” ujar Bony yang masih duduk di lantai memegang rahangnya kesakitan akibat pukulan keras Alfhonso.


“Aku tidak pernah memberitahu masalah Carlos pada Jasmine!. Bony..gajimu dipotong setengah bulan ini!”


Sambil masih memegang rahangnya yang sakit Bony berdiri dan menggerutu.


“Lalu bagaimana selanjutnya tuan?” tanya Raizon pada Alfhonso.


“Aku akan menemui Ramonev, aku akan mengundurkan diri dari BLOOD, lalu aku akan urus Carlos!”


Ucapan Alfhonso spontan membuat semua anak buahnya tegang dan saling melempar pandangan.


“Tapi Bos..kau tidak akan mendapat perlindungan kebal hukum jika keluar dari BLOOD ” ucap Bony.


“Ini semua gara-gara kau Bon! Sial kau!. Aku sudah putuskan, aku akan membuat perhitungan dengan Carlos, jika aku keluar dari BLOOD aku bebas berbuat apapun padanya”


"Maaf Bos, aku tidak tahu akan begini jadinya" Bony menunduk sambil melirik kearah Alfhonso.


"Sudahlah!, sebaiknya kalian siapkan mobil untukku!" ucap Alfhonso sedikit tergesa-gesa.

__ADS_1


Alfhonso kemudian memerintahkan anak buahnya menyiapkan mobil untuk ketempat kediaman Ramonev.


Di kediaman Carlos.


Jasmine diajak makan bersama Carlos di meja makannya. Gadis itu masih canggung dan takut dengan pria besar itu.


“Tuan,…kau tidak akan memberitahu anggota BLOOD tentang pembunuhan yang di lakukan tuan Alfhonso kan?” tanya Jasmine yang belum memakan makanannya yang telah terhidang.


“Ya, aku tidak akan memberitahu mereka, karena kau sudah ditempatku sekarang” ujar Carlos sambil menatap wajah Jasmine.


“Sekarang makanlah makananmu, setelah ini kita akan…” belum sempat Carlos meneruskan kalimatnya, ia melihat seseorang datang menghampirinya.


Tiba-tiba seorang anak buah Carlos datang memberi laporan.


“Boss, nyonya Carlina datang, dia masih diluar pagar...” ucap sang anak buah.


“Akh sialan!, kenapa dia harus datang hari ini!” gerutu Carlos sambil membenturkan garpunya ke meja makan.


“Bilang tunggu sebentar! Kalian buat alasan dulu agar dia tidak langsung masuk!” perintah Carlos agak marah.


“Baik Boss!”


“Jasmine, ayo ikut aku!, bersembunyilah dulu. Kau jangan berisik, kalau kau mengeluarkan suara, maka kedatanganmu kesini menjadi sia-sia!”


Kemudian Carlos membawa Jasmine ke sebuah gudang di ruang bawah tanah, dan mengurungnya disana.


Jasmine hanya pasrah dengan keadaan dirinya, karena ia akan menerima resiko apapun yang akan di hadapi demi untuk menyelamatkan Alfhonso.


“Kanapa kau tidak menelfonku terlebih dahulu!!” ujar Carlos pada Carlina agak ketus.


“Apa harus?, bukankah jika kejutan seperti ini lebih menyenangkan?” ucap Carlina manja, kemudian wanita itu mendekati Carlos.


Tetapi Carlos seolah tidak sedang berselera dengan wanita itu, ia menepis tangan Carlina yang akan menyentuhnya dan meraih mantel coklatnya dengan kasar.


“Sebaiknya kau pulang!, aku ingin menemui seseorang!” ucap Carlos ketus pada Carlina.


“Carlos!, kenapa kau begini?!” pekik Carlina kesal.


Kemudian Carlos berlalu keluar pintu rumahnya dan melajukan mobilnya dari garasi.


“Sialan!, pria itu selalu saja begitu!” Carlina akhirnya duduk di sofa sendirian dengan perasaan kesal.


Di tempat yang berbeda, [di kediaman Ramonev]


Alfhonso memasuki sebuah rumah megah, kemudian ia memasuki sebuah ruangan rahasia dengan pintu besi besar yang terbuka menggunakan kunci kode pengaman.


Di dalamnya terdapat ruangan yang elegan. Sofa coklat terbuat dari kulit berada di tengah ruangan, pemandangan di pojok terlihat bar kecil dengan berbagai macam minuman beralkohol, gelas-gelas Kristal tergantung di atas rak.

__ADS_1


“Duduklah!” perintah Ramonev pada Alfhonso.


Kemudian Alfhonso duduk di sofa belapis kulit coklat di depan Ramonev.


“Aku tak tahu apakah anda sudah mengetahui maksud kedatanganku atau tidak..tetapi saat ini aku sudah terpuruk tuan..” ucap Alfhonso.


“Yah, anggaplah aku belum mengetahuinya Alfhonso. Katakan keluhanmu” ucap Ramonev bijak sambil menuang segelas minuman beralkohol di gelas Kristal yang telah tersedia di depan mereka.


“Aku sudah memutuskan, aku akan keluar dari BLOOD tuan…sebaiknya anda serahkan saja posisi ketua pada yang lain” ujar Alfhonso sedikit pasrah.


“Hmm…apa kau mempunyai persoalan dengan salah satu anggota?” tanya Ramonev.


“Atau…kau berniat memiliki persoalan dengan salah satu anggota?” tanya pria setengah baya itu lagi seolah telah membaca situasi yang Alfhonso hadapi.


“Yah benar, kau bisa mengatahuinya tuan Ramonev. Kedua pertanyaan anda benar” jawab Alfhonso.


“Siapa yang membuat masalah denganmu?” tanya Ramonev kembali sambil memutar-mutar perlahan minuman beralkohol di tangannya.


“Carlos. Dia terus mengancamku, dan dia…mengambil gadisku..” nada suara Alfhonso terlihat geram.


“Hmm, Carlos…” gumam Ramonev.


“Ehm!, Kau tahu kenapa aku mengistimewakanmu dari yang lain Alfhonso?, karena kau tidak pernah berbuat kesalahan, dan kau tidak pernah membuat masalah dengan anggota BLOOD . Aku tahu siapa yang membunuh anggota di Loby hotel itu..” ucapan Ramonev membuat Alfhonso tersentak dan langsung memandang wajah pria paruh baya itu.


“Anda sudah tahu, tuan Ramonev?” tanya Alfhonso.


“Yah, justru ada hal yang bahkan kau tidak tahu Alfhonso, apa kau tahu siapa sebenarnya otak dibalik rencana pembunuhan itu?” tanya Ramonev.


“Tidak..” wajah Alfhonso terlihat serius.


“Escobar adalah otak dari rencana pembunuhan di loby hotel tersebut. Dia menggunakan anggota BLOOD lain untuk membunuhmu, dan Carlos memanfaatkan itu”


“Escobar?!...tapi aku tak pernah punya masalah dengannya” ujar Alfhonso.


“Mungkin kau memiiki masalah dengan putrinya..”


“Shelenna?...akh! sial!…” gerutu Alfhonso dengan nada geram.


“Baiklah, begini saja Alfhonso. Kau tidak perlu keluar dari BLOOD , dan kau tidak perlu berurusan dengan Carlos, aku yang akan mengurus Carlos dengan caraku sendiri” ucap Ramonev.


“Tapi tuan Ramonev, aku telah melanggar peraturan BLOOD , dan aku harus menerima konsekwensinya”


“Aku tahu kau tidak berniat membunuhnya, kau hanya mendahuluinya..” ucap Ramonev.


“Ya, anda memang benar tuan, dan aku memiliki rekaman ketika sebelum dia terbunuh” ujar Alfhonso.


“Aku tak perlu rekaman, aku sudah percaya padamu..”

__ADS_1


“Tapi tuan Ramonev, gadisku ada bersama Carlos saat ini, dan aku tidak bisa tinggal diam, aku juga akan membuat perhitungan dengan Carlos..”


“Tidak!, tidak perlu…jika kau ikut campur, justru reputasimu di BLOOD akan semakin buruk. Biar aku yang menangani Carlos, dan aku juga yang akan mengambil gadismu kembali Alfhonso. Aku minta kau tidak perlu ikut andil dalam masalah Carlos ini, biar aku lakukan dengan caraku sendiri” ucap Ramonev.


__ADS_2