
“Hey, tapi kau memang tidak pantas menjadi seorang kurir pizza, kau lebih pantas menjadi istri seorang mafia” Alfhonso mengelus rambut Jasmine.
Tersibak senyuman di bibir Jasmine.
Beberapa saat kemudian, Raizon dan Bony mengetuk pintu, ketika Alfhonso mengizinkannya mereka memasuki ruangan.
“Apa kami mengganggu?” tanya Raizon yang sudah berada di bibir pintu.
Alfhonso bangkit dari duduknya.
“Masuklah..” ucap Alfhonso.
Raizon dan Alfhonso menjauh dari Jasmine, mereka berdiri di dekat jendela kamar dan berbisik seperti membicarakan sesuatu.
Walaupun mereka sedikit berbisik, tetapi Jasmine masih bisa samar-samar mendengarnya.
“Jasmine, aku tinggal sebentar, ada yang harus kuurus dengan Raizon. Aku akan kembali secepatnya. Hey Bon, jaga Jasmine baik-baik” ucap Alfhonso kemudian berlalu keluar ruangan bersama Raizon.
Ketika Alfhonso dan Raizon telah keluar ruangan, Jasmine menarik sedikit ujung sweeter Bony.
“Bony, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jasmine pada Bony yang tengah merapihkan meja.
“Tidak ada apa-apa nona..” ucap Bony.
“Bony,..ayolah..tolong katakan ada apa? apa ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin?” tanya Jasmine lagi.
“Nona, terakhir kuberitahu sesuatu kepadamu, gajiku dipotong..” ucap Bony dengan wajah sedikit merengut.
“Maaf tentang hal itu Bony..tapi kali ini aku janji tidak akan macam-macam dan tidak memberitahu tuan Alfhonso lagi..tolong beritahu aku apa yang terjadi,..kumohon…” ucap Jasmine memelas.
“Ck,..nona tolong jangan kau memasang wajah melas seperti itu, aku jadi tak tega melihatnya…” ucap Bony.
“Maka dari itu, kumohon beritahu aku yang sedang terjadi Bony,..”
Bony menghela nafas panjang, seolah kalah dengan gadis itu.
“ya..ya, baiklah..tapi ingat ja-..”
“Jangan beritahu tuan Alfhonso,.ya aku tau Bon..” ucap Jasmine.
“Ya, ini memang ada kaitannya dengan penembakanmu tempo hari nona…
Dua hari setelah penembakanmu, tuan Alfhonso mengadakan sebuah rapat, kami mencari keberadaan gengster yang menembakmu, akhirnya kami menemukannya….
__ADS_1
Beberapa pekan yang lalu,…
Alfhonso di iringi beberapa anak buahnya, termasuk Raizon dan Bony mendatangi markas gengster yang di pimpin oleh Lioz.
Disebuah gedung tua, Alfhonso melangkah mendekati sebuah ruangan dipandu anak buah Lioz.
“Bos, ini tuan Alfhonso yang ingin bertemu denganmu” ujar anak buah Lioz ketika memasuki ruangan.
Lioz duduk di sebuah sofa kulit yang sudah agak usang, di depannya beberapa botol minuman keras tampak berdiri di atas meja kaca, dan beberapa lagi tergeletak kosong di lantai.
Di sisi kanan dan kiri Lioz, para anak buahnya berdiri dengan senjata yang berada di pinggang mereka.
“Hm, duduklah tuan Alfhonso..” ucap Lioz sembari mempersilahkan Alfhonso duduk di sofa sisi kiri Lioz.
Beberapa anak buah Alfhonso berdiri gagah di belakang Alfhonso yang sudah duduk.
“Ada perlu apa tuan Alfhonso? Apa anda ingin berbisnis dengan kami?” ucap Lioz membuka percakapan.
“Tidak, aku hanya ingin meminta anak buahmu yang kemarin telah menembak salah satu orangku di perayaan alun-alun kota” ujar Alfhonso tanpa senyum sedikitpun.
“Anak buahku?, apa kau yakin yang menembak orangmu adalah anak buahku tuan Alfhonso?” ujar Lioz.
“Ya, kami sudah menyelidikinya, dan dia memang berada di gedung ini” ucap Alfhonso.
“Aku tidak perlu minum…”ucap Alfhonso ketus.
“Tidak..tidak..biar aku melayani tamu dengan baik…”
Kemudian Lioz memanggil beberapa anak buahnya untuk membawakan minuman ke ruangan tersebut.
Beberapa anak buah Lioz memasuki ruangan dan memberi mereka minuman, dan salah satunya melihat kepada Alfhonso.
“Silahkan tuan Alfhonso..” ujar Lioz sambil menuang segelas minuman di depan Alfhonso.
“Aku tidak perlu basa-basi, waktuku tidak banyak, aku hanya menginginkan kau menyerahkan anak buahmu yang menembak kemarin” sorot mata tajam Alfhonso menyiratkan niat membunuh yang kuat.
“Santailah sedikit tuan…barangkali itu hanya sebuah kecelakaan..” ujar Lioz agak santai.
Alfhonso mulai terlihat geram, tetapi ia tidak ingin membuat masalah disana.
“Hanya sebuah kecelakaan katamu?,..hah..” Alfhonso menggeleng sambil mengangkat sudut bibirnya.
Tak berselang lama, anak buah Lioz yang sedari tadi memandang Alfhonso berbisik pada Lioz.
__ADS_1
“Bos, sebaiknya kita tidak berurusan dengan tuan Alfhonso, aku tahu kabar tentang siapa dia, dia adalah ketua mafia Bos..” bisik anak buah Lioz.
“Tau apa kau!, kenapa kau menjadi begitu pengecut!” ucap Lioz.
“Bos, tolonglah dengarkan aku, orang ini berbahaya Bos..” anak buah Lioz lagi-lagi memperingatkan.
Alfhonso memandang mereka dengan sorot mata tajam.
“Mengapa nyalimu jadi menciut begini! Sudah sana!..” dengan suara agak berbisik Lioz mendorong anak buahnya tadi supaya agak menjauh darinya.
“Bagaimana jika aku tidak menyerahkan anak buahku padamu tuan?” ucap Lioz pada Alfhonso.
“Bos!!, aku pergi saja, aku tidak ingin terlibat masalah dengan tuan Alfhonso” seolah melihat kengerian yang akan mendatangi mereka, anak buah Lioz tadi akan beranjak keluar ruangan tersebut.
“Tuan Alfhonso, maaf aku permisi, aku tidak terlibat masalah ini..” pria anak buah Lioz sedikit menunduk di hadapan Alfhonso, kemudian dengan langkah ketakutan buru-buru menuju ke pintu.
Tetapi tangan Alfhonso memberi kode kepada anak buahnya untuk mencegah pria tersebut keluar.
“T-tuan Alfonso,…aku tidak terlibat masalah apapun..aku hanya tidak ingin berurusan dengan anda, aku tau siapa anda tuan, tolong jangan libatkan aku, biarkan aku pergi..” pria tadi sangat ketakutan ketika anak buah Alfhonso menangkapnya dan menyeretnya kembali kedalam ruangan.
“Apa ini anak buahmu yang menembak orangku?!” tanya Alfhonso pada Lioz.
“Bukan, bukan dia..dia adalah pengecut tak tau diri..” ucap Lioz menatap tajam anak buahnya.
“Dia bukan pengecut, tapi justru dia adalah orang yang cerdas dan beruntung. Lepaskan dia!” perintah Alfhonso memandang kearah anak buah Lioz yang di tangkap tadi.
“Terimakasih tuan Alfhonso” ucap anak buah Lioz tadi sembari berlari kearah pintu.
Akhirnya satu anak buah Lioz berhasil melarikan diri dari ruangan itu.
“Apa maksudmu dia cerdas?, dia hanya tikus kecil yang ketakutan berlebihan, aku bahkan tidak mengenalmu tuan Alfhonso. Jika kau adalah orang terkenal yang menakutkan pastinya aku sudah mengetahuinya sejak awal” ujar Lioz sedikit meremehkan Alfhonso.
“Kurang ajar kau!..” ucap Raizon yang berada di samping Alfhonso.
Raizon beranjak bergerak ingin maju, tetapi Alfhonso dengan sigap menahannya Alfhonso memberi kode pada Raizon untuk tetap di tempatnya.
“Yah, mungkin aku memang tidak terkenal, tapi setidaknya kau hargai kedatanganku, aku menyempatkan waktuku kesini hanya untuk meminta anak buahmu, tolong berikan pada kami sekarang juga!”
“Ternyata kau pemaksa juga tuan Alfhonso. Mungkin aku akan berikan dengan bayaran yang mahal, bagaimana?” ucap Lioz terlihat santai.
“Ini bukan soal bisnis Lioz!, Kau benar-benar tidak ingin menyerahkan penembak itu padaku sekarang?, baiklah, akan kupastikan kau akan berubah pikiran dan mendatangiku. Selamat siang!” ucap Alfhonso kemudian dia bangkit dari duduknya dan keluar meninggalkan gedung tua tersebut diiringi anak buahnya.
Lioz memandangi kepergian Alfhonso kemudian meminum sebotol minuman beralkohol.
__ADS_1
“Apanya yang menakutkan…” ucap Lioz meremehkan Alfhonso kembali.