
Pria itu teringat percakapannya dengan Bony tentang Jasmine….
“Tuan,..apa kau menyukai nona Jasmine?, kenapa kau tidak menikahinya saja?” tanya Bony ketika itu.
“Aku belum mau menikah Bon…” ujar Alfhonso sambil menghisap rokoknya dan bersender pada sandaran sofa.
“Hey, kau sudah tua Boss..cepat-cepatlah menikah..” sanggah Bony.
“Sialan kau..”
“Tapi, apa kau sudah pernah tidur dengan nona Jasmine
Boss?” Bony bertanya tanpa basa-basi.
“Pertanyaanmu sangat konyol..” ujar Alfhonso.
“Apa itu berarti sudah?”
“Hey!, sudahlah..” ucap Alfhonso.
“Bagaimana rasanya Boss?, dia masih orisinil bukan?..” pertanyaan jahil Bony membuat Alfhonso sedikit kesal.
“Aku belum pernah tidur dengannya!, PUAS!!, dasar bodoh!” ujar Alfhonso sedikit gemas dengan Bony.
“Hah?, benarkah Boss?, apa ada dalam sejarah tuan Alfhonso tidak meniduri wanita yang sudah dikenalnya?” ucap Bony.
“Ya, aku bahkan belum menyentuh miliknya” jawab Alfhonso jujur.
“Kenapa kau tidak mencoba tidur dengannya Boss?”
“Entahlah,..dia berbeda dari yang lain Bon, aku tidak ingin sembarangan menidurinya, atau mungkin belum saatnya, aku hanya ingin menjaganya..hingga suatu saat nanti aku yang akan memetik melati itu…” pikiran Alfhonso seolah melanglang entah kemana sambil bersender di sofa dengan rokok di tangannya.
“Tuan…tuan..” panggilan Jasmine membuyarkan lamunan Alfhonso tentang percakapannya dengan Bony.
“Ah,…kau sudah selesai?” ujar Alfhonso.
“Yah, ini..silakan di cicipi tuan..” Jasmine menyodorkan sepiring roti isi dan spaghetti Bolognese yang masih mengepul.
Mereka makan berdua dengan lahap.
“Ini enak sekali..,ternyata kau pintar memasak” Alfhonso berbicara sambil mengunyah makanannya, sehingga suaranya tidak terlalu jelas terdengar.
“Ah, tidak juga tuan..” Jasmine memperhatikan wajah Alfhonso.
“Maaf tuan, ada,..ada saus disini...” ucap Jasmine sambil sedikit memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Jasmine kemudian membersihkan sisa saus yang menempel di pinggir bibir Alfhonso dengan jemarinya.
Dengan spontan Alfhonso menggenggam jemari Jasmine, dan pria itu menatap mata indah Jasmine yang juga menatap kearahnya.
Alfhonso mendekatkan wajahnya ke wajah Jasmine, bibirnya siap mendekat kearah bibir Jasmine, tetapi dengan cepat Jasmine memasukan potongan roti ke mulut Alfhonso, dan Jasmine tertawa melihat hal itu.
“Hey,…mulutku sudah penuh dengan roti..” ucap Alfhonso yang juga tertawa.
Alfhonso membalas memberikan roti dengan paksa ke mulut Jasmine, tetapi gadis itu menghindar, dan Alfhonso berhasil memegang pipi gadis itu dengan rapat sehingga bibir Jasmine maju kedepan dan disumbat dengan potongan roti yang penuh dengan saus.
Alfhonso tertawa terpingkal-pingkal melihat penampilan wajah Jasmine ketika pria itu merapatkan pipi gadis itu menjadi membulat kedepan, dan bibirnya yang maju ia sumpal dengan roti.
Jasmine kemudian membalas lagi memaksa memasukan roti ke mulut Alfhonso yang sedang tertawa sampai posisinya telungkup di sofa.
Mereka bercanda dengan roti itu di sofa, hingga tertawa lepas Alfhonso terdengar hingga keluar ruangan.
Alfhonso belum pernah tertawa lepas seperti itu dengan seorang wanita.
Dia belum pernah merasakan kehangatan yang damai seperti ketika ia bersama Jasmine.
Akhirnya setelah mereka lelah tertawa, Alfhonso melihat saus yang menempel di bibir Jasmine, dan pria itu mendekat….
“Hey, ada saus di bibirmu, biar aku bersihkan…” Alfhonso mulai akan menyentuh bibir Jasmine membuat jantung gadis itu berdegup kencang...
Di sebuah loby hotel yang agak sepi,
Alfhonso akan menemui seseorang di loby hotel tersebut, tetapi setelah hampir setengah jam menunggu, tiba-tiba dari arah depannya, seorang pria dengan mantel hitam, kaca mata dan topi hitam melangkah mendekati Alfhonso.
Beberapa anak buah Alfhonso yang mulai curiga dengan pergerakannya, bersiap dan mendekat kearah Alfhonso untuk melindungi.
Dan benar saja, ketika pria tak dikenal itu medekat kearah Alfhonso, ia terlihat akan mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya.
Belum sempat pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya, dengan tiba-tiba seluruh anak buah Alfhonso menghadang pria tersebut dengan menodongkan senjata mereka serempak kearah pria bertopi hitam tersebut.
Si pria asing kini telah terkepung oleh anak buah Alfhonso dengan senjata mereka yang semua mengarah ke pria tersebut.
Pria itu malah nekat mengeluarkan sebuah pistol dari balik mantel, spontan saja beberapa anak buah Alfhonso menembak kaki dan tangan si pria itu, hingga pria tadi tumbang tersungkur ke lantai.
Di lantai pria itu mengerang kesakitan.
Dan Alfhonso yang masih santai duduk di kursi, mulai menyalakan cerutunya dan asap mengepul dari sela bibirnya.
“Bawa kedepanku!” perintahnya pada anak buahnya.
Pria yang masih hidup tersebut digeret kedepan Alfhonso yang tengah duduk dengan kaki menyilang dan cerutu di tangannya.
__ADS_1
“Buka topi dan kacamatanya”
Raizon membuka topi dan kacamata pria tersebut. Seketika itu mata Alfhonso membulat.
“Dia anggota 'BLOOD' tuan” ujar Raizon.
“Kau anggota BLOOD?..kenapa kau mencoba membunuhku?, bukankah itu melanggar peraturan?” tanya Alfhonso ketika melihat wajah pria itu yang sudah kepayahan dengan darah yang terus keluar dari tangan dan kakinya.
“Aku menginginkan posisimu Alfhonso!!, perduli setan dengan peraturan!!” jawab pria itu yang kini duduk setengah berlutut dengan menahan kesakitannya di hadapan Alfhonso.
“Baiklah kalau begitu. Aku sudah merekam suaramu!” Alfhonso mematikan sebuah alat perekam di mejanya yang telah ia persiapkan dari tadi.
Tetapi dengan tiba-tiba, pria itu dengan cepat mengeluarkan lagi pistol kecil cadangannya dari balik mantelnya dan…
‘DZEEP!!..DZEEP!!...
Sebuah lesatan peluru dari tembakan dengan alat peredam di tangan Alfhonso berhasil menewaskan pria di hadapannya dengan seketika.
Sebuah tembakan hampir saja mengenai Alfhonso, tetapi peluru dari pistol si pria tersebut kalah cepat dengan pergerakan Alfhonso yang lebih dulu menembakkan pelurunya ke kepala pria tadi.
“Jangan salahkan aku, kau melawan orang yang salah, dasar bajingan dodoh!!” ucap Alfhonso geram.
Darah mulai melebar di lantai dengan tubuh yang menimpa darahnya sendiri, pria itu terkulai tewas mengenaskan di depan Alfhonso yang masih duduk dengan santai.
Tiba-tiba dari arah pintu Loby, terlihat seorang pria dengan jubah coklat panjang datang dan dengan langkah berat menghampiri Alfhonso.
“Akh! Sial!!..” pekik Alfhonso ketika melihat kehadiran pria itu.
Pria itu tidak berkata apapun di depan Alfhonso, tetapi ia mendekati mayat tersebut dan membalik tubuh yang terkapar tewas tadi kemudian melihat wajahnya yang telah terbalut darah.
“Kau membunuh anggota BLOOD Alfhonso” ujarnya ketika matanya melihat wajah si pria yang tewas.
“Dia yang mencoba membunuhku” jawab Alfhonso.
“Apa ada saksi disini?” tanya pria itu.
“Tidak, hanya kau Carlos,..lalu apa keperluanmu di hotel ini?” tanya Alfhonso pada pria yang berdiri di depan Alfhonso.
“Aku ingin bertemu seorang wanita di lantai atas. Alfhonso, aku bisa saja bungkam dengan masalahmu ini dan tidak membawanya ke dewan BLOOD untuk diproses, tetapi itu berarti kau berhutang padaku. Sebaiknya kau cepat membereskan mayatnya sebelum banyak orang yang melihat” ujar Carlos yang kemudian langsung meninggalkan Alfhonso dan berjalan menuju lift.
“Sial!!” gerutu Alfhonso lagi yang terlihat kesal sambil memukul meja dengan kepalan tangannya.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......
__ADS_1