
Escobar sedikit panik ketika mengetahui bahwa Shelenna putrinya yang ternyata berkhianat ingin membeberkan gudang penyimpanan senjata milik Alfhonso kepada pihak kepolisian, Shelenna juga telah mengetahui tentang rahasia perdagangan pasar gelap yang dikelola oleh Alfhonso.
“Tuan Escobar, aku percaya bahwa kau tidak terlibat dalam pengkhinatan ini, tapi aku sudah tidak percaya dengan putrimu!, jangan paksa aku untuk menyukainya lagi. Dan aku peringatkan kau, kalau masalah ini sampai berlanjut dan tidak kau selesaikan, aku khawatir akan terjadi perang diantara kita” Jelas Alshonso yang tengah memegang senjatanya.
“Baik,..baik Alfhonso, aku akan bicara pada putriku, aku masih ingin menjalin kerjasama denganmu..” Escobar sudah mulai terlihat ciut di hadapan Alfhonso.
“Aku masih menghargaimu tuan Escobar. Tapi aku minta..bungkam putrimu!, jangan sampai dia menyebarkan apa yang bukan menjadi urusannya kepada pihak yang tidak seharusnya tahu!!, atau jika kau tidak sanggup melakukannya, aku yang akan melakukannya sendiri! “ ancam Alfhonso lagi.
“Ya, kau tidak perlu cemas Alfhonso, putriku biar aku yang mengurusnya..” ujar pria setengah baya itu terdengar ketakutan.
“Baik, urusanku telah selesai disini tuan Escobar, aku permisi!” Alfhonso bangkit dari duduknya di sofa mewah milik Escobar, dan hendak menuju pintu keluar.
Tetapi matanya membulat dan darahnya seolah mendidih ketika dari arah teras luar Shelenna tengah melangkah menuju ke pintu.
“Alfhonso?, ada apa ini?..apa ini? Kenapa ada mayat disini?!” pertanyaan Shelenna tidak mendapat jawaban, tetapi justru mendapat tamparan dari sang ayah setelah Escobar mendekatinya dengan cepat .
“Papa?!, kenapa menamparku?!!” ujar Shelenna sambil memegang pipinya yang perih.
Escobar menarik lengan putrinya dengan kasar dan hendak membawanya keruangan lain.
“Alfhonso, kumohon tunggulah sebentar disini” ujar Escobar yang masih menarik tangan Shelenna dengan geram.
Alfhonso akhirnya kembali duduk di sofa bersebelahan dengan Raizon.
Pria itu menyalakan rokoknya dan menghisapnya sambil menunggu tuan rumah.
Dari ruang sebelah teriakan Shelenna tersengar sampai ke telinga Alfhonso.
Alfhonso hanya menikmati rokok di jemarinya sambil mendengar percakapan Escobar dan Shelenna yang diselingi dengan suara pukulan dan teriakkan.
“Aku mencintai Alfhonso papa!!, tetapi Carlos memaksaku mengkhianatinya!”
“Dasar bodoh!!, kenapa kau malah mengkhianati orang yang kau cintai?!” bentak Escobar pada putrinya.
“Papa..,Alfhonso begitu dingin padaku, dia seperti tidak tertarik padaku, maka Carlos memberikan solusinya padaku, Carlos berkata akan membantuku dan membuat Alfhonso mencintaiku, tetapi aku harus melakukan sesuatu dulu untuknya” penjelasan Shelenna diiringi tangisnya yang semakin keras.
Di ruang utama,
“Carlos?!, bajingan itu lagi ternyata ada hubungannya dengan masalah ini!” ujar Alfhonso pada Raizon yang berada di sampingnya.
__ADS_1
“Sepertinya otak dari semua ini memang Carlos tuan, nona Shelenna hanya di manfaatkan” ucap Raizon sedikit berbisik pada tuannya.
Beberapa saat kemudian, Esobar dan Shelenna keluar dari ruangan sebelahnya.
Pipi Shelenna telah merah dan sedikit bengkak, matanya sembab karena tangisan yang tak henti-hentinya.
“Alfhonso…Aku minta maaf atas kelakuan putriku, dan kumohon maafkan putriku. Dia pasti akan ku hukum dengan hukuman yang lebih berat lagi setelah ini. Tapi biarkan dia menjalani hidupnya, tolong jangan kau buat perhitungan dengannya” ucap Esobar sedikit memelas pada Alfhonso.
“Baiklah tuan Escobar, akan kupertimbangkan untuk membiarkannya hidup, tetapi aku tidak mau masalah ini melebar. Tadi kudengar kalian menyebut nama Carlos, biar aku yang mengurusnya”
“Apa perlu aku tambah orangku untuk membantumu Alfhonso?” tanya Escobar.
“Tidak perlu, orangku sudah cukup untuk membereskan bajingan itu” ucap Alfhonso, kemudian pria itu melirik kearah Shelenna yang tertunduk.
“Aku memafkanmu karena aku masih menghargai ayahmu Shelenna!, tetapi aku ingin kau menutup mulutmu tentang semua yang telah kau dapati tentang urusanku!, apa kau mengerti!!” tanya Alfhonso dengan nada ancaman.
“Dan jangan pernah lagi temui aku!!” ujar Alfhonso yang kemudian mengisyaratkan anak buahnya untuk segera pergi dari tempat itu.
Shelenna hanya mengangguk sambil terus menunduk dan menangis di hadapan Alfhonso.
Kemudian Alfhonso pergi dari kediaman Escobar, dengan dua perasaan yang berbeda, perasaan kecewa karena pengkhianatan, dan perasaan lega karena ia bisa melepaskan Shelenna dari hidupnya tanpa mengecewakan Escobar.
Alfhonso juga tidak mengerti kenapa ia ingin ke apartemennya terus, entah mungkin karena perasaan rindu yang semakin hari semakin membuncah kepada Jasmine.
Di lantai 21, Alfhonso melihat beberapa anak buahnya yang tengah menikmati roti isi ukuran besar dengan minuman kaleng yang berada di samping mereka.
“Hey!, dari mana makanan itu?!” tanya Alfhonso membuat anak buahnya yang tengah mengunyah berdiri dan menghentikan gerakan mereka, sehingga terlihat pipi mereka yang menggembung.
“Ini,..ini dari nona Jasmine tuan” jawab salah satu anak buah Alfhonso.
“Jasmine? memberikan makanan?” Alfhonso langsung melangkah menuju pintu ruang kamarnya, dan membuka pintu dengan kartu aksesnya.
“Jasmine!..” panggil Alfhonso sambil meletakkan mantelnya di gantungan.
Ternyata Jasmine tengah tertidur di sofa dengan mengenakan terusan over all pendek bergambar kelinci yang terlihat menggemaskan dan sedikit menggoda.
Alfhonso mendekati gadis itu.
“Jasmine..” ucapnya perlahan.
__ADS_1
Sontak Jasmine terbangun dan langsung terkejut, gadis itu cepat-cepat bangkit dari berbaringnya.
“Ah,..tuan,..maaf aku ketiduran..” gadis itu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
Alfhonso langsung duduk di samping gadis itu dan memandang kearah pakaiannya dengan sedikit tersenyum.
“Pakaianmu lucu..” ujar Alfhonso.
“Ah,..maaf tuan, apa pakaianku terlalu pendek..aku akan menggantinya..” ujar Jasmine menarik bawah pakaiannya.
“Tidak!, tidak perlu…kau cantik dengan pakaian manapun..” tangan Alfhonso spontan memegang tangan Jasmine yang akan berdiri dari sofa.
“Duduklah dulu Jasmine” ucap pria itu.
“Ada apa tuan?” tanya Jasmine serius.
“Tidak ada apa-apa,..aku hanya lega sekarang, Shelenna tidak akan menggangguku lagi..”
Alfhonso kemudian menjelaskan kepada Jasmine tentang yang terjadi pada Shelenna.
“Apa anda tidak menyukai nona Shelenna tuan?” tanya Jasmine.
“Tidak sama sekali…”
“Tetapi bukankah tuan sudah melakukan…, maksudku waktu yang di kamar itu dengan nona Shelenna..”
“Hahaha, aku tidak melakukan apapun dengannya. Lagi pula sudah beberapa wanita aku tiduri, tetapi tidak satupun dari mereka yang aku cintai…mereka hanya pemuas sementara..”
Jasmine mengerutkan kening mendengar penjelasan Alfhonso.
“Tetapi justru ada satu wanita yang belum aku tiduri, bahkan aku belum menyentuh miliknya, tetapi sepertinya…aku jatuh cinta padanya..” pria itu menatap dalam-dalam mata Jasmine.
Jasmine langsung tersadar siapa wanita yang dimaksud Alfhonso dan gadis itu sempat terperanjat kaget.
Jasmine semakin kikuk dan akhirnya berdiri dari duduknya.
“Aaahh, emm..,tuan bagaimana kalau aku buatkan anda roti isi dan spaghetti Bolognese” Jasmine yang canggung buru-buru beranjak dari sofa.
“Hey, tunggu-..” panggilan Alfhonso tidak dihiraukan gadis itu, Jasmine langsung melangkah agak cepat kearah dapur.
__ADS_1
Alfhonso hanya memandang punggung indah Jasmine dari belakang yang tengah menyiapkan roti isi yang akan dibuatnya.