MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 33 - Pengalaman Baru


__ADS_3

“Yah, sepertinya aku tidak cocok dengan pekerjaan ini..” Alfhonso tersenyum melihat Jasmine.


Hari itu Alfhonso seolah menikmati tantangan baru kehidupan di desa.


Pria itu berkuda dengan gagahnya, tetapi kemudian hampir jatuh, lalu ia mengumpulkan telur dari kandang ayam, yang kemudian tangannya di patok induk ayam karena salah waktu mengambil.


Juga ketika pria itu dengan gagahnya membuka baju dan memperlihatkan ototnya di depan Jasmine dan memulai memotong kayu, dengan percaya diri yang tinggi pria itu mulai mengayunkan kampaknya…


Tetapi kemudian kampak yang ia hantamkan menancap di potongan batang pohon besar untuk alas potong, dan bukan membelah kayu yang harusnya ia belah, dan Alfhonso kesulitan menarik kembali kampak yang menancap itu, sehingga lagi-lagi Jasmine tertawa dengan ulahnya, dan Alfhonsopun tertawa dengan kebodohannya sendiri.


Pengalaman Alfhonso juga bertambah ketika pria itu dan Jasmine pergi memancing di sungai.


Beberapa kali Alfhonso menombak ikan dengan tombak panjang, ia terus saja gagal, akhirnya dengan kesabaran yang mulai menipis pria itu mengambil pistol dari balik pinggangnya kemudian ia menembaki ikan yang berada di bawah air.


Spontan burung-burung dan binatang yang ada di sekitar sungai berhamburan mendengar dentuman pistol Alfhonso.


“Hey!, aku dapat!!” dengan gembiranya Alfhonso mengambil ikan yang telah mati terkena peluru akibat tembakannya.


Jasmine menunduk sambil menggeleng seraya memijit keningnya.


“Bukan seperti itu cara memancing tuan..” ujar Jasmine.


Malam menjelang, Jasmine dan Alfhonso berada di atap rumah yang sering menjadi tempat favorit Jasmine dan Guldy ketika masa kecil dulu.


Pemandangan langit di malam hari begitu indah, dan udara sejuk di desa sangat berbeda dengan di kota yang sangat padat dengan polusi.


Jasmine menjelaskan pada Alfhonso maksud bibi Jade memintanya datang kesana, dan wajah Alfhonso seketika itu juga berubah.


“Kau ingin dijodohkan?!, apa-apaan itu?” ujar Alfhonso memandang Jasmine dengan alis mengerut.


“Aku juga tidak tahu tuan, tetapi aku punya rencana, mungkin kita temui saja dulu calon yang dipilihkan bibi, kemudian dengan halus aku akan menolaknya, dengan begitu bibi tidak akan terlalu kecewa, daripada belum bertemu tetapi aku sudah tidak setuju. Menurutmu bagaimana tuan?” tanya Jasmine.


“Bagaimana jika kau ternyata menyukainya?” ucap Alfhonso sedikit merengut.


“haahaa, kau terdengar cemburu tuan..” ejek Jasmine.


“Bagaimana jika aku memang cemburu! Dasar gadis bodoh!” Alfhonso memencet hidung Jasmine dengan gemas.


“Aaaww!, maaf aku hanya bercanda,…Tidak tuan, aku tidak akan menyukai pria lain, aku hanya menyukai….”


Alfhonso memandang serius wajah Jasmine dan menunggu jawaban gadis itu.


“Menyukai?siapa?..” tanya Alfhonso penasaran.


“Menyukai..pria yang pernah menodongkan pistolnya padaku..” Jasmine senyum kearah Alfhonso.

__ADS_1


“Maafkan aku Jasmine, aku pernah berlaku kasar padamu, aku ti-…”


“Aku tidak pernah menyesal dengan semua yang terjadi tuan..”


Tiba-tiba Jasmine berada di dada pria itu dan memeluknya dengan manja.


Alfhonso kemudian dengan senyumnya yang merasuk ke batinnya, ia mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


Kedamaian merebak di relung hati pria dingin dan sedikit bengis itu.


Entah apa yang bergejolak kini di batinnya, ia semakin merasakan kehangatan cinta.


Akhirnya pertemuan dengan Andrew telah tiba.


Bibi Jade memasak masakan yang istimewa. Arthur dan Guldy telah siap dengan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki.


Tok..tok..tok…


Bibi Jade dengan segera membukakan pintu, dan terdengar dari arah pintu sambutan hangat bibi Jade yang mempersilahkan Andrew untuk masuk.


Semua telah berkumpul di ruang keluarga menyambut kedatangan calon suami untuk Jasmine.


Hanya wajah Alfhonso yang sangat serius dan dingin.


Tingginya beberapa centi diatas Alfhonso. Matanya yang biru dan rambutnya yang pirang agak kecoklatan membuat penampilannya sempurna di mata para wanita.


Andrew sedikit terkejut melihat kecantikan Jasmine, dengan penampilan sederhana namun tetap cantik dan menawan, hingga pandangannya terus menatap gadis itu.


Alfhonso yang melihat penampilan Andrew yang tampan dan tubuhnya yang lebih gagah dari dirinya, membuat suasana hatinya yang sudah tidak menentu dari tadi menjadi semakin panas.


Alfhonso memandang wajah Jasmine, penasaran dengan pandangannya terhadap Andrew.


Akhirnya setelah beberapa saat mereka berbincang di ruang tengah, mereka menuju ruang makan untuk menikmati hidangan makan malam.


Mereka mengelilingi meja yang terhidang berbagai makanan buatan bibi Jade dan Jasmine.


Alfhonso pamit keluar sebentar karena ingin menelfon, sedangkan Jasmine sedang di dapur mengambil beberapa makanan lagi.


“Nyonya Jade, aku belum pernah melihat pria ini” Andrew menunjuk kearah Alfhonso dengan wajahnya.


“Ah, dia Alf, dia adalah penjaga Jasmine” jawab bibi Jade.


“Penjaga?, apa maksudnya penjaga? Apa Jasmine adalah artis atau apa?” tanya Andrew dengan alis mengerut.


“Yah, kata mereka Jasmine bekerja sebagai seorang yang penting di kota, sehingga perlu penjagaan yang agak ketat” jelas bibi Jade.

__ADS_1


“Kenapa harus ada penjaga?” ujar Andrew.


“Yah, sudahlah, jika kalian menikah nanti, kau yang akan menjaganya bukan?” ucap bibi Jade membuat Andrew tersenyum.


Ketika semua kembali berkumpul,


“Andrew, apa kau pernah melawan bandit Zebro yang meresahkan itu. Beberapa pekan yang lalu mereka mendatangi peternakan kami dan memaksa kami menyerahkan beberapa sapi” ucap Arthur sambil menikmati makanannya.


“Bandit-bandit itu memang licin, mereka sangat sulit ditangkap, aku pernah hampir menangkapnya tapi mereka berhasil lolos lagi” ujar Andrew.


“Apa pengaruh mereka besar di desa ini? Sehingga sulit ditangkap?” kali ini Alfhonso ikut berbicara.


“Ya, lumayan..mereka cukup disegani, karena ayah salah satu dari mereka adalah pejabat di desa ini”


Andrew terus menatap Alfhonso.


“Alf, apa kau semacam security atau pengawal untuk Jasmine?” tanya Andrew membuat Jasmine dan Alfhonso saling memandang.


“Umm, yah..semacam itulah..” jawab Alfhonso seadanya.


“Hahahaa, pantas saja wajahmu bengis begitu, seperti penjahat saja..” guyonan Andrew justru membuat Jasmine menjadi tegang dan khawatir.


Wajah Alfhonso menyiratkan kekesalan yang di tutupi oleh senyuman paksaan, dan itulah yang membuat Jasmine khawatir.


Setelah makan malam usai, bibi Jade memberi kesempatan kepada Jasmine dan Andrew untuk berbicara agar saling mengenal satu sama lain.


“Bibi, aku tidak perlu berbicara berdua seperti itu, sudahlah bi…” tolak Jasmine ketika bibi Jade menyuruh Jasmine menemani Andrew di kursi teras.


“Kau ini bagaimana Jasmine, bagaimana kau bisa mengenalnya kalau tidak saling berbicara” ujar bibi Jade sambil mendorong tubuh gadis itu keluar teras.


Di ruangan yang lain, Alfhonso sibuk menelfon Raizon dan Bony untuk terus memantau keadaan sekitar rumah bibi Jade.


“Bony, apa kau sudah tau siapa bandit-bandit kecil ini?” tanya Alfhonso yang sebelumnya memerintahkan Bony untuk mencari tahu siapa kompoltan bandit Zebro ini.


“Ya Boss, aku sudah melacaknya. Mereka adalah bandit bersenjata, senjata yang mereka pakai sebagiannya senjata laras panjang, seperti jenis AK atau Shot Gun. Mereka biasa beroprasi malam hari”


“Bagus Bon. Bagaimana denganmu Rai?, apa sudah kau siapkan mobil?” tanya Alfhonso di handphonenya.


“Sudah tuan, semua yang kau minta sudah disiapkan semua” jawab Raizon.


“Oke, kalian tinggal tunggu aba-abaku”


...*****...


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......

__ADS_1


__ADS_2