
“Anda mau mengajak kami jalan-jalan di perayaan tuan?” tanya Jasmine agak kaget.
“Ya, kenapa memang?”
“Apa anda tidak sibuk tuan?”
“Jika aku tidak paksakan meluangkan waktu, aku tidak akan ada waktu…” jawab Alfhonso.
“Ya, baiklah tuan..sabtu ini aku tunggu di apartemen” ucap Jasmine.
Alfhonso yang berada di depan meja kantor, menutup handphonenya. Pria itu tersenyum sendiri membayangkan Jasmine yang kini sangat dicintainya.
Ia memutar kursinya kearah jendela, pandangannya menerawang ke langit biru di luar sana. Matanya jauh menjelajah ke awan yang putih bersih, seolah ia ingin terlepas dari semua kepenatannya dan ingin cepat-cepat bersama Jasmine.
Andai saja pekerjaannya tidak sebanyak saat ini, mungkin saat ini ia sudah menuju tempat Jasmine berada.
Sebagai ketua, dewan BLOOD memberikan satu lagi perusahaan untuk Alfhonso sebagai hadiah atas jabatannya sebagai ketua. Maka kesibukan Alfhonso kini bertambah.
Hari sabtu di bulan November,
Sore itu Alfhonso, Jasmine dan Chiko benar-benar datang ke alun-alun kota. Disana tengah ada perayaan musiman.
Alfhonso tidak berpakaian sebagaimana biasanya, ia memakai pakaian yang lebih santai, dengan jaket hitam dan kemeja di dalamnya, sehingga penampilannya tidak mencolok.
Para pedagang ramai menjajakan dagangannya. Berbagai wahana permainan dadakan tersebar untuk menghibur para pengunjung.
Puncak acara perayaan adalah malam hari dimana banyak kembang api yang dinyalakan. Tetapi sore itu pengunjung sudah ramai berdatangan dan menikmati keceriaan bersama keluarga mereka.
Alfhonso mengajak Chiko bermain lempar cincin ke botol, tetapi berapapun Alfhonso mencoba melempar cincin ke botol ia selalu meleset.
Jasmine yang melihat dari belakang hanya tertawa kecil dengan kegagalan pria itu.
Akhirnya Alfhonso mengajak anak kecil itu bermain tembak sasaran, kali ini dengan percaya diri Alfhonso berhasil menembak beberapa kali ke arah sasaran, dengan kepiawaiannya sebagai seorang mafia yang sering menembak tepat sasaran, dengan mudah ia mendapatkan keberuntungan.
Ciko memeluk sebuah boneka beruang agak besar, hadiah yang didapat dari keberhasilan Alfhonso memainkan permainan tadi.
Anak kecil itu terlihat sangat bahagia. Ia terus tertawa ceria dan terpancar kebahagiaan yang seolah belum pernah di dapatkan selama ini.
Kemanapun Chiko mengajak Jasmine dan Alfhonso, Chiko selalu di izinkan untuk kesana.
“Kakak, itu mainan pesawat remote seperti punya temanku kak!..” ujar Chiko setengah teriak pada kakaknya.
“Ya..ya..tapi bukankah mainanmu sudah banyak Chiko..” ucap Jasmine.
“Biarkan saja, ayo jagoan kecil, kau mau yang mana..” Alfhonso justru menggandeng Chiko ke arah penjual mainan pesawat remote.
Jasmine hanya menghela nafas pendek. Berbeda dengan Chiko yang sangat semangat dengan tawaran Alfhonso.
Akhirnya anak kecil itu lagi-lagi mendapatkan apa yang ia inginkan. Keceriaan anak itu membuat Jasmine dan Alfhonso tersenyum.
“Ayo tuan dan nyonya, ayo dik..mari foto untuk kenang-kenangan keluarga. Pasti ini akan sangat indah untuk keluarga bahagia seperti kalian, ayo..mari ku foto..”
Seorang tukang foto dengan antusias memasang kameranya di depan Alfhonso, Jasmine dan Chiko.
Chiko kecil dengan semagatnya memeluk kaki Alfhonso, ia menyeringai menampakkan gigi kecil putihnya.
Alfhonso dan Jasmine saling melempar pandang, tetapi tukang foto itu terlanjur memfoto mereka, dan hasilnya telah keluar.
“Nah, apa kubilang..ini adalah foto keluarga bahagia yang indah…” pria tukang foto itu menyerahkan hasil jepretannya kepada Alfhonso setelah beberapa saat lalu mengibas-ngibas selembar foto di tangannya itu.
__ADS_1
Alfhonso melihat foto tersebut, kemudian menoleh kearah Jasmine.
“Berapa?” tanya Alfhonso.
“Hanya lima dollar saja tuan..” ucap pria tukang foto.
Akhirnya Alfhonso membayar foto tersebut dan terus memandanginya.
“Apa kita terlihat seperti sebuah keluarga?” tanya Alfhonso pada Jasmine yang tanpa sadar memang mereka terlihat seperti sebuah keluarga.
“Iya ya…haaa, aku jadi malu sendiri tuan..” ucap Jasmine di sela tawa kecilnya yang manis.
Mereka terus menyusuri jalan yang ramai dengan para pedagang di sisi kanan dan kirinya.
Mereka juga menaiki beberapa wahana, Chiko menaiki mobil-mobilan (Bom-bom car), Jasmine dan Alfhonso menaiki perahu di danau.
Alfhonso ingin mencoba menaiki boneka banteng rodeo. Walaupun bukan sungguhan, tetapi banteng dan pergerakannya hampir mirip dengan rodeo yang asli.
Jasmine sempat khawatir dengan Alfhonso, tetapi Alfhonso tetap bersikeras ingin menaikinya.
Baru Alfhonso menaiki punggung boneka banteng tersebut, dan ketika mesin rodeo menyala, pria itu langsung terpental karena belum terlalu siap.
Bukannya menyerah, justru ia ingin mencobanya lagi. Apalagi teriakan semangat dari Chiko membuat pria itu semakin penasaran. Tetapi wajah Jasmine justru menyiratkan ketakutan.
“Banteng imitasi sialan!, lihatlah kali ini aku akan menaklukan waktunya” ucapnya.
Akhirnya di percobaan yang kedua Alfhonso berhasil bertahan dengan waktu yang di tentukan.
Tanpa sadar Alfhonso berteriak dan tertawa kegirangan sambil menepuk bagian belakang boneka banteng tersebut.
“Apa kubilang!! Woohoo!!” pekik Alfhonso diselingi tawa puas.
“Kau memang hebat tuan..” ujar Chiko yang mendongak melihat wajah Alfhonso.
“Tuan, itu tadi membuatku takut…kau bisa patah tulang jika terpental lagi..” ucap Jasmine agak khawatir.
“Itu tidak berbahaya sama sekali..” ujar Alfhonso sambil menggendong Chiko keatas pundaknya.
“Ayo naik..”
Chiko bisa melihat pemandangan di sekitarnya dengan jelas, karena kini dia duduk di gendong oleh Alfhonso di pundaknya.
“Waw,..ini ramai sekali tuan…Hey! Itu ada penjual gula-gula tuan!” Chiko menunjuk kerah penjuan gula-gula di depannya.
Akhirnya mereka menuju kesana.
Chiko membeli gula-gula tersebut, sedangkan Jasmine dan Alfhonso berada di belakangnya.
Tiba-tiba…
DAR!..DAR!..DAR!..
Alfhonso spontan menunduk dan melindungi Jasmine juga Chiko.
Entah dari mana asalanya, beberapa kali letusan tembakan dan bukan petasan terdengar dari kejauhan.
Seluruh yang ada disana panik dan berlarian, sebagian lagi menunduk melindungi diri.
Teriakan dan jeritan tak ayal lagi terdengar nyaring di mana-mana.
__ADS_1
Alfhonso menarik Jasmine dan Chiko bersembunyi dan berjongkok di belakang meja booth penjual gula-gula. Penjual gula-gulapun ikut merunduk dan bersembunyi.
Beberapa kali terdengar lagi suara tembakan yang seolah saling menyerang.
Alfhonso dengan cepat meraih handphonenya dan menelpon Raizon.
“Rai!, siapa yang menembak?!, apa ini ada kaitannya dengan kita?!” tanya Alfhonso di tengah kepanikan.
“Entahlah tuan, tapi sepertinya mereka adalah para gengster, seperti dua kelompok gengster yang saling berseteru..” jawab Raizon dari sebrang telpon.
“Baiklah, kalian tetap berjaga-jaga” ucap Alfhonso kemudian menutup telponnya.
Jasmine ternyata melihat kearah wajah Alfhonso.
“Apa tuan Raizon dan anak buah anda ada disini juga tuan?” tanya Jasmine.
“Um, ya..mereka hanya berjaga-jaga” jawab Alfhonso sambil mengintip kearah jalan di depan arah suara tembakan tadi.
Banyak orang-orang yang berlarian di depan Alfhonso dan Jasmine ketika mereka bersembunyi. Mereka berlari menjauhi arah suara tembakan tadi.
Beberapa saat kemudian, keadaan mulai sunyi.
“Suara tembakannya sudah berhenti. Kalian tunggu disini” ujar Alfhonso yang bangkit berdiri dan mengambil pistolnya dari balik jaket.
Pria itu keluar dari persembunyiannya, dan perlahan melangkah memastikan keadaan.
“Tuan, hati-hati..” ucap Jasmine.
“Sepertinya sudah aman..” ucap Alfhonso yang tengah berdiri dengan memegang pistol.
Alfhonso menoleh kearah Jasmine. Wanita itu mengintip dari balik meja booth, memang keadaan sudah sepi dan sepertinya sudah terkendali.
Alfhonso memandang ke ujung di depannya dan di belakangnya, semua terlihat sepi.
“Apa yang terjadi sebenarnya tuan?” tanya Jasmine yang mulai berdiri.
“Aku juga belum tahu, coba kuhubungi Raizon lagi”
Alfhonso mengambil hanphonenya kembali. Ketika ia menunduk melihat layar handphonenya…
“TUAN!!.. AWAS!!”…
DAR!!….
Jasmine dengan tiba-tiba mendorong tubuh Alfhonso hingga pria itu jatuh kebawah. Jasmine juga ikut jatuh dan menimpa tubuh Alfhonso.
Sebuah suara tembakan terdengar lagi, tetapi kali ini sepertinya….
“Jasmine!, Jasmine, ayo bangun..” Alfhonso yang tubuhnya tertimpa Jasmine mendorong perlahan tubuh wanita itu untuk bangun. Tetapi Jasmine justru tidak berkutik.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya......
...Dukungan kalian ...
...sangat berarti buat Author...
...Terimakasih......
__ADS_1