
“Shell!, tunggu,..aku-“ belum sempat Alfhonso berucap lagi, wanita itu menyumbat mulut pria itu dengan ciuman.
Shelenna menaiki paha Alfhonso dan terus membuka lembaran kain yang menutupi tubuhnya.
Ia juga membuka kemeja Alfhonso hingga dada bidang pria itu terlihat.
Tangan Shelenna melingkar di leher pria itu, dan bibinya yang merah masih saja bermain di mulut Alfhonso.
Dengan posisi seperti itu, Alfhonso seolah tak dapat berkutik.
Jasmine yang tidak tahan melihat adegan itu, kemudian menjauh dari kamar dan melangkah ke dapur.
Gadis itu hanya mendengar suara Shelenna dari kamar. Suara yang menurut Jasmine menjijikan, suara *******, dan rayuan agar Alfhonso ‘bermain’ dengannya di ranjang.
Tetapi Alfhonso menolak wanita di pangkuannya itu.
Alfhonso menghindar dan menggeser tubuh Shelenna ke sampingnya, bukan lagi di pangkuan pria itu.
“Shelenna, aku sedang tidak ingin melakukannya sekarang..” ucap Alfhonso yang kemudian akan beranjak dari ranjangnya.
“Tunggu Alfhonso!, ada apa denganmu?..” tangan Shelenna langsung menggenggam lengan Alfhonso.
Tetapi mereka berdua di kagetkan oleh suara Jasmine dari depan pintu kamar.
Gadis itu berpura-pura pamit dengan tidak menatap kearah dalam kamar, tapi gadis itu hanya berkata sedikit kencang agar terdengar Alfhonso.
“Maaf tuan, aku pamit ingin keluar sebentar!” ujar Jasmine.
Spontan Alfhonso bangkit dan sedikit loncat turun dari ranjang mendengar ucapan Jasmine.
“Tunggu!!, Jasmine!, jangan pergi dulu!” Ketika Alfhonso ingin beranjak dari ranjang, Shelenna menghalanginya.
“Alfhonso!, biarkan dia keluar, untuk apa mencegahnya” ucap Shelenna.
Tetapi Alfhonso tidak menggubris perkataan Shelenna, ia meloncat turun dari ranjang hanya dengan memakai celana panjang yang sudah berantakan.
Alfhonso kemudian menggenggam lengan Jasmine dan membawanya agak paksa menjauh dari kamar.
“Jasmine, jangan keluar!, ini perintahku!, kau tetap disini sampai wanita itu pergi, mengerti!” ucap Alfhonso sedikit mengancam dan suara agak berbisik.
Jasmine dengan mata membulat yang berkilauan, menatap wajah tegas Alfhonso yang agak marah dan serius, membuat gadis itu langsung mengiyakan perintah Alfhonso.
Akhirnya setelah beberapa lama berbincang dan bercengkrama, Shelanna pulang.
Jasmine yang sedari tadi berada di meja dapur, tengah mengaduk teh hangat yang dibuatnya.
Tiba-tiba pelukan Alfhonso dari belakang membuat Jasmine menghentikan pergerakannya.
Pria itu melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Jasmine, mendekap gadis itu dengan sangat erat dan dekat dari belakang.
__ADS_1
Tubuh Alfhonso yang gagah, kokoh dan atletis yang saat itu bertelanjang dada, menempel sangat erat di punggung Jasmine yang terbalut dress tipis.
“Jasmine, maaf atas kejadian tadi. Maaf kau harus melihatku bersamanya…” suara Alfhonso yang sangat dekat membuat Jasmine sedikit merinding dan mengerinyit mengangkat sebelah bahunya.
“Ya, tidak apa tuan. Bukankah itu hal biasa untuk anda” kali ini Jasmine menunduk.
“Sebenarnya aku tidak menyukai wanita itu, aku hanya terpaksa berkencan dengannya karena ayahnya, Escobar adalah orang yang sering membantuku, dia juga orang yang sangat berpengaruh di kalangan mafia”
“Sampai kapan tuan akan berpura-pura seperti ini dengannya?” ucap gadis yang masih di dekap Alfhonso.
“Entahlah, sampai aku menemukan jalan untuk melepaskannya”
“Jasmine, maukah kau berjanji padaku?” kali ini Alfhonso membalik tubuh gadis itu agar berhadapan dengan wajahnya.
“Ah..hah?..Berjanji apa tuan?” tanya Jasmine yang kini memandang dengan mata membulat kearah mata hitam tegas milik Alfhonso.
“Berjanjilah, kau tidak akan menyerahkan kesucianmu untuk orang lain” pinta Alfhonso dengan menggenggam kedua lengan Jasmine.
“Tuan bicara apa?, aku memang tidak akan menyerahkan kesucianku selain pada suamiku” ucap gadis cantik itu.
“Tidak, tidak…bukan suamimu, tapi padaku..” ujar pria tampan di hadapan Jasmine.
“Ha?, maksud tuan?” Jasmine mengerutkan keningnya.
“Aku ingin, akulah yang memetik kesucianmu Jasmine…jangan sampai ada orang lain yang menyentuhnya selain aku”
“Kalau masalah itu, aku belum tahu…,aku tidak ingin seseorang yang kucintai berada dalam bahaya, tetapi aku juga menginginkan kau jadi milikku”
“Bagaimana jika anda berhenti manjadi mafia tuan, bekerjalah dengan pekerjaan yang tidak berbahaya, maka anda bisa lebih aman memiliki istri”
Alfhonso terdiam sejenak mendengar masukan dari Jasmine. Tetapi ia masih akan memikirnya lagi.
“Oya tuan, aku juga ingin mengatakan sesuatu pada anda, bolehkah aku membuka toko roti tuan, dan aku akan menyewa toko dan membeli bahan-bahan dari hasil kerjaku selama ini”
“Kau ingin membuka toko roti?” ulang Alfhonso.
“Iya tuan, aku tidak enak berada lama-lama disini, menumpang di apartemen anda, mendapatkan uang tetapi pekerjaanku yang sekarang sangat ringan, jadi aku memutuskan untuk bekerja sendiri saja”
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaan yang kuberikan? Kau mau melepaskannya?” tanya pria itu.
“Pekerjaan itu sangat ringan tuan, aku bisa mengerjakannya di malam hari, dan aku berjualan roti di siang harinya”
“Apa kau tidak kerasan tinggal di sini Jasmine?”
“Bukan begitu tuan, aku sudah katakan tadi, aku tidak enak berlama-lama disini..”
“Ruang apartemen ini kuberikan untukmu Jasmine, ini adalah milikmu sekarang, jadi kau tidak perlu tidak enak berada disini..” ucap Alfhonso.
“Ha? Tidak tuan, ini sangat berlebihan, bukan ini yang kuminta, aku tidak bisa menerimanya, biar aku ting-..”
__ADS_1
“Terima! atau saat ini juga aku renggut kehormatanmu dengan paksa!” ancam Alfhonso.
“Hah?!,..hmm, Baik tuan, aku terima” Jasmine menghela nafas terpaksa.
“Untuk sementara kau tidak kuizinkan berjualan apapun dulu, karena aku tidak ingin identitasmu diketahui banyak orang. Tinggalah disini dulu, dan kerjakan pekerjaan yang kuberikan, kau mengerti?!” tegas Alfhonso.
Jasmine hanya terdiam, memendam keinginannya.
“Dan satu lagi, kau belum berjanji padaku yang tadi kukatakan, hmm?” ucap pria itu sambil menatap wajah gadis itu, seolah menunggu jawaban.
“Ya, aku,.. aku berjanji tuan” Jasmine dengan sedikit menunduk terpaksa berjanji karena perasaan takut yang masih menyelimutinya ketika berhadapan dengan pria itu.
Pria itu tersenyum dengan sudut bibir yang mengangkat.
“Bagus!...” ujarnya sambil mengelus rambut indah jasmine dan berlalu dari hadapan gadis itu.
Tiga hari berlalu.
Di apartemen Alfhonso.
Pria itu sengaja menemui Jasmine, ia berpura-pura akan mengambil berkas yang Jasmine kerjakan untuknya. Tetapi ternyata gadis itu sedang keluar membeli perlengkapan mandi, ia pergi ke minimarket diantar oleh supir.
Alfhonso yang menunggu kedatangan Jasmine merebahkan tubuhnya berbaring di sofa sambil menatap handphonenya. Tak lama berselang..
Tok..tok..tok…
Alfhonso langsung melangkah ke pintu.
‘Kenapa gadis mengetuk pintu, apa dia tidak membawa kartu akses’ gumam Alfhonso dibatinnya.
Ketika Alfhonso melihat ke celah lubang, ternyata di depan pintu adalah Reondess, kakak tirinya.
“Sial!, ada apa bajingan itu kesini” ujarnya pelan sambil membuka pintu.
“Ada apa kau kesini?!” tanya Alfhonso ketus pada kakak tirinya.
“Hey, apa seperti itu menyambut saudaramu?” ujar Reondess.
“Saudara?, dasar bodoh!” Alfhonso langsung melangkah ke dalam membelakangi Reondess yang memakai jubah hitam panjang.
Reondess ikut masuk ke apartemen Alfhonso dan langsung duduk di sofa tanpa di persilahkan.
“Hey, kenapa ada tas wanita disini, jangan bilang kau habis bercinta” ucap Reondess memegang tas milik Jasmine yang berada di bawah sofa.
“Bukan urusanmu!. Cepat katakan keperluanmu, dan setelah selesai, cepat keluar dari sini!” ujar Alfhonso ketus sambil mengambil cepat tas milik Jasmine.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen... makasih ya... ...
__ADS_1