MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 32 - Rumah Bibi Jade


__ADS_3

“Aku…hanya penjaga nona Jasmine nyonya, namaku Alf”


Ucapan Alfhonso spontan membuat Jasmine melotot kearah pria itu dan mengangkat alisnya.


Alfhonso hanya tersenyum dengan sudut bibirnya yang terangkat.


‘Apa-apaan tuan Alfhonso, mengaku sebagai penjagaku..’ gumam Jasmine di batinnya.


“Penjaga?, apa pekerjaanmu sangat penting Jasmine, hingga kau perlu penjaga?..Ah ya, baiklah..mari masuk…sampai kapan kita akan dipintu..” ujar bibi Jade sambil tertawa ringan.


Sore menjelang, mereka makan bersama di meja makan sederhana.


Bibi Jade menyiapkan banyak masakan yang sederhana ala desa. Tetapi Alfhonso justru sangat menikmatinya.


Guldy dan Arthur sedikit tertawa melihat Alfhonso yang agak kaku di meja makan kecil.


Bibi Jade menjelaskan bahwa saat ini mereka hanya tinggal bertiga, karena dua anak angkatnya sudah bekerja di kota.


“Alf, ayo dimakan makanannya sebelum dingin..” bibi Jade menyodorkan beberapa pasta dan daging iris ke hadapan Alfhonso.


Tanpa disadari Alfhonso menyukai masakan bibi Jade, dan pria itu tanpa sadar sudah menghabiskan dua piring pasta dan beberapa sendok daging iris.


“Tua-.., maksudku Alf, kau sudah nambah dua kali, apa perutmu tidak masalah?” tanya Jasmine pada Alfhonso yang seolah kelaparan dan memakan pasta hingga dua piring.


“Emm?, ini enak sekali..” ujar Alfhonso dengan makanan yang penuh di mulutnya, membuat Guldy terkekeh melihatnya.


“Biarkan saja Jasmine, kalian sudah melakukan perjalanan panjang, biarkan dia makan sepuasnya, aku senang melihatnya makan..” ujar bibi Jade ramah.


“Ssshh!, Guldy hentikan tawamu!” ujar bibi Jade melihat kearah anak gadisnya.


Alfhonso seolah menikmati kehangatan sebuah keluarga yang belum pernah ia rasakan.


Setelah makan, mereka beristirahat di tempatnya masing-masing. Alfhonso tidur di kamar Arthur, dan Jasmine akan tidur bersama bibi Jade.


Di kamar Arthur, Alfhonso yang masih memainkan handphonenya, tiba-tiba menoleh kearah Arthur yang sedari tadi mengintip keluar jendela.


Ketika ditanya, Arthur kemudian menceritakan tentang bandit yang sering mendatangi rumah penduduk, bahkan beberapa kali mendatangi rumah mereka dan meminta hasil panen atau meminta ternak-ternak para penduduk dengan paksa, bahkan dengan ancaman senjata.


Mereka adalah para bandit desa pimpinan Zebro yang di takuti karena mereka menggunakan senjata dalam aksinya.


Bahkan sherif di desa setempat belum mampu menangani bandit-bandit tersebut.


Di tempat yang berbeda, di kamar bibi Jade,


“Bi, sebenarnya ada apa bibi memintaku datang kesini?, apa ada keperluan penting?” tanya Jasmine di ranjang sederhana sambil memeluk guling.


“Ahh, ya…begini Jasmine, sebenarnya ibumu telah meminta pada bibi jauh hari sebelum dia meninggal, karena ibumu sakit agak lama dan takut tidak ada umur, jadi ibumu berpesan pada bibi agar mencarikan calon suami untukmu”

__ADS_1


Wajah Jasmine langsung berubah.


“Benarkah bi?, aku tidak pernah tahu soal itu…lalu apa bibi sudah menemukan calon untukku?” tanya Jasmine serius.


“Ya, aku sudah memilihkan yang terbaik untukmu sayang, dari beberapa pria, aku pilih yang paling cocok untukmu, dia adalah seorang kepala Sherif (polisi) di desa ini, dia akan datang lusa malam”


“Hah?!, kenapa bibi tidak bilang padaku dari awal?!” Jasmine seolah tidak siap menerima berita dari bibinya.


“Aku khawatir kalau bibi bilang dari awal kau tidak akan mau datang..”


“Bibi Jade,…aku harus melihat dulu pria itu, dan aku tidak bisa memutuskan dengan secepat ini!” ucap Jasmine sedikit emosi pada bibinya.


“Memang kau tidak harus memutuskannya langsung sayang, aku hanya memperkenalkanmu dengan dia”


Jasmine mengusap wajahnya.


“Ahhh bibi Jade, kenapa kau harus menjodohkan aku…”


“Ini demi untuk kebaikanmu Jasmine, dan juga untuk melaksanakan wasiat dari ibumu” ujar bibi Jade.


“Baiklah nak, besok lusa kau lihat saja dulu calonmu Andrew, barangkali ia cocok denganmu”


Jasmine menghela nafas panjang, kemudian ia berbaring dan menutup wajahnya dengan guling.


“Terserah kau saja bi!” gumamnya sedikit kesal.


Alfhonso sudah keluar dari kamarnya dan keluar menuju kebun.


Di sana sudah berdiri bibi Jade yang sedang menyemai bebijian di lahan yang kosong.


“Pagi nyonya Jade” sapa Alfhonso ramah.


“Hey, pagi Alf…kau sudah sarapan?, ada daging dan telur mata sapi di meja..” ucap bibi Jade yang memakai sarung tangan tebal untuk berkebun.


“Terimakasih nyonya, aku belum lapar. Apa kau melihat nona Jasmine nyonya Jade?” tanya Alfhonso.


“Ah, dia pergi ke pasar bersama Guldy, aku menyuruhnya membeli roti untuk makan malam” ucap bibi Jade.


“Kepasar?” ucap Alfhonso sedikit khawatir.


“Oya Alf, apa kau bisa membantuku memerah susu?, Arthur sudah pergi ke alun-alun kota sejak pagi, biasanya dia yang memerah susu..”


“Memerah susu?,..ahh ya tentu saja nyonya” ucap Alfhonso agak ragu.


“Embernya bisa kau ambil di samping sana, dua ember saja cukup..” ucap wanita paruh baya tersebut.


Akhirnya Alfhonso memasuki kandang sapi yang belum pernah ia masuki sama sekali, dan ia tak tahu cara memerah susu.

__ADS_1


Celana panjang Alfhonso di gulung setengah betis, ia sudah bersiap duduk di depan sapi yang siap di perah susunya.


‘Apa yang harus kulakukan?, apa ini yang harus kupencet?’ gumamnya melihat gumpalan kenyal di bawah perut sapi.


Tetapi ketika ia pegang bagian itu, sapi di depannya menghindar dan kaki sebelahnya menendang Alfhonso hingga terjungkal kebelakang.


“Hey! Sapi sialan!, kesini kau..” Alfhonso menarik badan sapi itu kedekatnya.


Kemudian ia mulai duduk lagi di kursi kecil dan memegang dengan cepat tempat susu keluar di bawah perut sapi..


“Akh!, dapat! Aku hanya harus memencet seperti ini!..”


dan tiba-tiba…


Cruuutt!!!...


Air susu yang telah di pencet Alfhonso menyemprot kearah wajah pria itu dan bukan ke ember di bawahnya.


Spontan Alfhonso memuntahkan susu yang sedikit masuk kedalam kemulutnya, dan mengusap wajahnya berkali-kali yang di penuhi oleh susu sapi salah arah tersebut.


“Akh! Sial!!” pekiknya kesal.


Sebuah suara tertawa terdengar dari arah depan kandang. Seorang gadis cantik berdiri dengan senyum lebar melihat kearah Alfhonso yang tengah kesulitan dengan pekerjaannya.


Alfhonso yang spontan menoleh, memasang wajah kesal.


“Hey!, kenapa kau malah tertawa?!” Alfhonso yang masih duduk terlihat rengut di wajahnya.


“Apa kau sedang mandi susu tuan? ..hahahaa..” Jasmine tidak kuat menahan tawanya.


“Tertawa saja semaumu!” wajah Alfhonso justru masih terlihat merajuk.


“Tuan, kalau kau tidak bisa melakukannya lebih baik kau bilang tidak bisa..” ujar Jasmine yang ternyata dari tadi berada disana melihat kelakuan Alfhonso.


Jasmine mendekati Alfhonso yang kepala dan wajahnya masih basah dengan air susu.


Jasmine langsung berjongkok di samping Alfhonso dan gadis itu mengelap perlahan wajah Alfhonso dengan sapu tangan yang diambil dari sakunya.


Kemudian gadis itu memegang ****** sapi yang ada didepannya.


“Kau harus memegangnya perlahan seperti ini tuan, kemudian secara bergantian kau arahkan ke bawah ember, seperti ini…” Jasmine dengan lancar mengajari cara memerah susu yang benar kepada Alfhonso.


Setelah ember agak penuh dengan susu sapi, Jasmine menyodorkannya pada Alfhonso.


“Nah, ini pekerjaanmu tuan..” ucap Jasmine.


...*****...

__ADS_1


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......


__ADS_2