
Sesampainya mereka pulang. Di depan apartemen, Alfhonso dan Jasmine masih di dalam mobil.
“Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai keatas” ucap Alfhonso.
“Tidak apa tuan, terimakasih sudah mengajakku makan malam”
Jasmine akan keluar dari mobil, tetapi tangan Alfhonso dengan cepat menggapai dan menarik lengan Jasmine.
Pria itu dengan tiba-tiba mencium pipi Jasmine, dengan posisi Jasmine duduk kembali di kursi mobil.
“Tuan, sudahlah, anda sudah terlihat lelah..aku masuk kedalam dulu..” ucap Jasmine sambil keluar kembali dari mobil.
Alfhonso masih memandangi punggung gadis itu hingga ia masuk ke dalam apartemen.
Beberapa hari kemudian.
Alfhonso menelpon Jasmine, wanita itu diminta untuk ikut ke suatu tempat dengannya, Alfhonso akan menjemputnya hari itu.
Alfhonso menjemput Jasmine, dan mereka pergi ke suatu tempat yang agak ramai dengan pusat pertokoan dan perdagangan.
“Kita akan kemana tuan?” tanya Jasmine.
“Sudah, kau akan lihat nanti” ucap Alfhonso di dalam mobil.
Mereka tiba di sebuah bangunan cantik, seperti toko dengan dekorasi dominasi warna merah muda.
Di plang atasnya tertutup sebuah kain besar yang menghalangi tulisan nama toko tersebut.
Mereka turun dari mobil. Jasmine masih memandangi bangunan tersebut.
“Tempat apa ini tuan? warnanya cantik sekali, apa kita akan berbelanja?” tanya Jasmine.
Alfhosno masih diam.
"Apa bangunan ini milikmu tuan?" tanya Jasmine penasaran.
“Ini adalah keinginanmu Jasmine, sebuah toko roti” ucap Alfhonso.
Jasmine menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, seolah tak percaya yang ia lihat.
“I-ini toko roti? untukku?” ujar Jasmine dengan perasaan bercampur aduk, terharu, kaget, gembira dan tak percaya.
“Ya, aku sudah membeli bangunan ini, dan ini adalah milikmu sekarang. Kau kuizinkan membuka toko roti disini, tapi dengan syarat kau hanya membuat dan memilikinya tapi kau tidak kuizinkan melayani pembeli” ujar Alfhonso.
__ADS_1
“Kenapa begitu tuan?, aku tidak boleh melayani pembeli?” ulang Jasmine.
“Turuti saja syarat dariku” ucap Alfhonso.
“Yah, baiklah..Berarti aku harus mencari pelayan toko, baiklah tuan..besok coba kucari temanku yan-..”
“Tidak..tidak, aku sudah menyiapkan pelayan untukmu, para anak buahku..” ucap Alfhonso yang membuat Jasmine melongo kaget.
“Hah?, anak buah anda?, tapi tuan…”
“Baiklah, kalau kau sudah setuju besok aku akan kirim enam anak buahku untuk membantumu. Sekarang saatnya peresmian toko roti barumu…”
Jasmine yang sama sekali belum menyatakan setuju terdiam heran.
“HEY BODOH!!, AYO BUKA KAIN DIATAS SANA!!, DASAR LAMBAT!!” teriak Alfhonso pada anak buahnya yang berdiri di dekat toko sambil menunjuk ke arah atas papan nama.
“Baik tuan!”
Anak buah Alfhonso menarik kain yang menutupi plang papan nama toko di atas. Ketika kain penutup papan nama itu tersingkap, Jasmine membelalakan matanya, membaca tulisan besar di papan nama depan tokonya.
‘JASMINE BAKERY’
“I-ini…” Jasmine seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sebuah toko roti idamannya, yang kini miliknya dengan papan bertuliskan namanya.
“Sekarang mari kita lihat di dalamnya” ucap Alfhonso yang melangkah masuk ke dalam toko yang berdekorasi manis dan feminim.
Mereka memasuki ke dalam toko, didalamnya sudah tersedia etalase untuk macam-macam roti, meja kasir, dan alat kebutuhan untuk keperluan membuat roti di dapur belakang.
Semua sudah dipersiapkan lengkap hingga dekorasi yang sesuai dengan toko roti.
“Ini sangat mengagumkan tuan..”
“Apa kau suka Jasmine?” tanya Alfhonso memandang wanita di sampingnya yang masih menjelajahkan matanya menyusuri seluruh sisi ruangan.
“Tentu saja tuan, ini sangat indah dan sesuai dengan keinginanku..” ucap Jasmine tak hentinya terkagum.
“Baiklah, sisanya kuserahkan padamu, kapan kau akan mulai berjualan?” tanya Alfhonso.
“Aku harus mempersiapkannya dulu tuan, mungkin sekitar lima sampai enam hari aku baru siap”
“Baik, kau atur saja. Oya, untuk pengamanan, ada kamera pengawas di pojok sana, di sana, di dapur dan juga di luar. Semua yang masuk toko ini juga harus melalui pemeriksaan alat detektor, dan untuk berjaga-jaga aku telah siapkan pistol di bawah meja kasir, di bawah meja dapur dan di laci meja sebelah sana, jika kurang ada senapan laras panjang di lemari dapur”
Mendengar penjelasan Alfhonso, Jasmine setengah terkejut sampai membuka mulutnya dan menatap wajah Alfhonso dengan alis terangkat.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Alfhonso melihat reaksi Jasmine.
“Apa itu tidak terlalu berlebihan tuan?, aku hanya akan menjual roti, kenapa pengamanannya ketat sekali?”
“Jasmine, sekarang ini kau berada di dekatku, siapapun yang ada didekatku akan beresiko menghadapi bahaya, karenanya pencegahan itu lebih baik” jelas Alfhonso.
Jasmine hanya menghela nafas.
Akhirnya mereka selesai melihat-lihat toko baru milik Jasmine, dan mereka kembali pulang.
Di apartemen, Jasmine tidak bisa memejamkan matanya, ia memikirkan toko yang baru di berikan oleh pria yang belum lama di kenalnya.
Sepekan berlalu,
Jasmine sudah mulai berjualan roti, ia menata roti-rotinya dengan rapih dan menggugah selera.
Beberapa jenis roti yang masih hangat tersedia di dalam etalase kaca. Roti yang Jasmine buat dengan resepnya sendiri adalah sebuah hidangan yang dapat membuat seseorang yang melihat tampilannya akan tergiur untuk membelinya.
Banyak toping yang diberikan Jasmine di atas roti yang gempal dan lembut tersebut. Harum aroma roti bisa tercium hingga dari luar toko.
Semua anak buah Alfhonso yang berjaga di tokonya di beri roti satu persatu oleh Jasmine sebelum toko resmi di buka.
Tetapi ada satu hal yang mengganjal untuk Jasmine…
Pelayan atau penjaga di toko itu semua mengenakan jas hitam dan kaca mata hitam. Tampang mereka sangar dan tidak ada senyum sama sekali, badan merekapun kekar dan gagah.
Jasmine ragu jika ada pelanggan yang membeli maka mereka sudah pasti akan ketakutan melihat penampilan para anak buah Alfhonso yang menjadi penjaga toko rotinya.
Jasmine yang melihat pemandangan itu berdecak pinggang dengan sebelah tangan, dan tangan yang lain memijit keningnya.
Jasmine menghampiri anak buah Alfhonso yang tengah berdiri di depan etalase kaca.
“Um, tuan, maaf..apa bisa jika ada pelanggan, anda memberikan senyuman sedikit dan agak ramah pada mereka..” ucap Jasmine yang melihat penampilan kaku para anak buah Alfhonso.
“Ya nona, kami akan usahakan” jawab salah satu anak buah Alfhonso yang tetap dengan sikap dingin dan penuh intimidasi.
Akhirnya setelah beberapa saat, satu persatu pelanggan baru yang merasa tertarik dengan toko roti Jasmine mulai berdatangan.
Tetapi tepat seperti yang Jasmine pikirkan, mereka para pelanggan sedikit takut dan merasa aneh dengan penampilan para penjaga dan pelayan toko yang sangar, berjas hitam seolah tidak sinkron dengan toko roti yang di dominasi warna pink.
Ada dari pelanggan yang menjaga jarak karena takut. Ada pula yang justru mengambil momen aneh itu sebagai suatu yang menarik hingga mengambil gambar dengan handphone mereka.
Jasmine dari arah dapur mengisyaratkan agar mereka tersenyum dan ramah. Tetapi senyuman mereka seolah dipaksakan dan justru menambah takut orang yang melihatnya.
__ADS_1
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......