MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 48 - Peringatan


__ADS_3

Malam dini hari, pukul 02:15,


Di gedung tua tempat perkumpulan Lioz dan anak buahnya. Ketika itu gedung tersebut telah sepi, hanya dua atau tiga orang yang berada disana.


Tiba-tiba di kesunyian malam….


BUUM!!!…


Sebuah ledakan hebat terjadi dari dalam gedung. Mulai dari pinggir kiri gedung terus merambat ke tengah hingga ke sisi ujung kanan gedung, semua meledak bergantian.


Dua orang anak buah Lioz sempat melarikan diri ke luar gedung, dan salah satunya terbakar. Teriakan kesakitan menderu di halaman luar gedung, satu orang temannya mencoba memadamkan api yang melalap tubuh si pria dengan jaket yang dikenakannya, pria yang terbakar tengah berguling-guling di tanah mencoba mematikan api di tubuhnya.


Satu anak buah Lioz yang masih berada di dalam gedung telah tewas seketika dengan ledakan dahsyat yang meledak secara bertubi-tubi.


Seluruh bangunan gedung tua tersebut hancur luluh lantah, hanya meninggalkan asap tebal, sisa api yang masih melahap sebagian bangunan dan puing pembakaran yang berantakan.


Lioz yang mendapat kabar tersebut setelah beberapa saat kemudian langsung menuju lokasi dengan seluruh anak buahnya.


Tubuh Lioz yang berdiri tak berkutik hanya mampu melihat dengan tatapan tak percaya. Matanya membelalak dengan pantulan cahaya kobaran api yang masih sedikit menyala dari ledakan tersebut.


Lioz juga menatap anak buahnya yang sekujur tubuhnya terbakar, tetapi masih bisa di selamatkan.


Seolah muncul sedikit ketakutan dalam dirinya, apakah benar Alfhonso adalah pria berbahaya…


Mobil pemadam kebakaran, polisi dan ambulan mendatangi lokasi tersebut, tempat itu sekejap menjadi ramai dan garis polisi di pasang di sekitar TKP.


Dua anak buah Lioz di bawa ke rumah sakit terdekat, dan beberapa anak buah Lioz di mintai keterangan.


Setelah beberapa jam Lioz berada disana dengan anak buahnya, ia merencanakan mencari keberadaan Alfhonso.


“Kita harus berperang melawan pria ini!, kumpulkan seluruh anggota, besok kita mulai merencanakan pembalasan pada si Alfhonso ini!” ujar Lioz geram kepada anak buahnya.


Akhirnya semua kembali ketempatnya masing-masing.


Masih di malam yang sama, Lioz kembali ke rumahnya. Dengan perasaan gundah yang mulai menggerayanginya, ia merasa sedikit khawatir dengan pria bernama Alfhonso.


Lioz turun dari mobilnya, kemudian memasuki rumahnya. Ia memanggil istrinya, karena memang ia tahu bahwa istrinya belum tidur ketika ia pergi tadi.


“Lea, kemarilah!..Lea!!..hey!, apa kau tidak mendengarku?!” teriakan Lioz semakin lama semakin keras, tetapi ia tak juga mendapat jawaban dari istrinya.

__ADS_1


Ketika Lioz membuka kamarnya, matanya membulat seketika, nafasnya seolah berhenti. Ia melihat tulisan di dinding kamarnya yang ditulis dengan darah…


‘Kau tidak memberikan anak buahmu, maka aku ambil istri dan anakmu sebagai gantinya’


Lioz dengan cepat berlari ke lantai atas dan membuka pintu kamar anaknya, di kamar tersebut juga kosong, putrinya tidak berada disana dan mata Lioz menatap dinding yang juga terdapat tulisan dengan darah…


‘Aku benar-benar mengambil anakmu bukan?’


Lioz berteriak sejadi-jadinya di kamar itu. Lioz lemas berlutut dengan tangan meraup kasar wajahnya lalu terus ke rambutnya, ia menjambak rambutnya sendiri dengan keras.


Sambil berteriak, Lioz tampak tidak berdaya. Dalam satu malam semua di renggut dari dirinya.


Dua hari kemudian, Lioz yang masih terlihat terpukul dengan apa yang menimpa dirinya, ia duduk di sofa di rumahnya.


Anak buah Lioz sebagian besar berada disana berjaga untuk melindungi Bos mereka.


Salah satu anak buahnya dengan buru-buru menghampiri Lioz.


“Bos!!, lihat ini Bos, kemarin Bos menyuruhku mentransfer uang ke rekening nyonya Malida, tetapi pagi ini kenapa saldo di rekening Bos kosong?!, jadi gagal untuk melakukan transfer?!” ucap anak buah Lioz yang tampak kebingungan sambil memperlihatkan layar handphonenya ke arah Lioz.


“Kosong bagaimana?!, kau jangan bercanda!” ucap Lioz.


“Kenapa bisa nol?!”


“Sepertinya ada seseorang yang mensabotase rekening kita Bos” ujar anak buahnya.


“Sabotase rekening?!, apa bisa seperti itu?!” tanya Lioz kembali dengan alis mengerut.


“Biasanya itu dilakukan oleh hacker hebat Bos..”


Tiba-tiba, di luar pagar seorang kurir paket mengantar sebuah paket agak besar di bungkus kado dan diikat dengan pita berwarna merah.


“Ini untuk tuan Lioz” ucap si kurir paket ketika di tanya anak buah Lioz untuk siapa paket tersebut.


“Tapi tuan Lioz tidak memesan paket” ujar anak buah Lioz.


“Aku tak tahu tentang hal itu tuan, aku hanya mengirim ke alamat yang tertera di paket ini” jawab kurir tersebut yang kemudian pergi setelah memberi paket tersebut ke tangan anak buah Lioz.


Anak buah Lioz masuk kedalam rumah, ia membawa paket tersebut ke hadapan Bosnya.

__ADS_1


“Bos, ini ada paket…” ujar anak buah Lioz.


“Dari siapa?” tanya Lioz dengan suara berat sambil menyender di sandaran sofanya yang masih terbingung-bingung dengan masalah rekeningnya yang kosong.


“Disini tertulis…Al..Alfhon..”


Dengan spontan Lioz bangkit dari bersandarnya dan matanya langsung membulat.


“Buka!!” perintahnya.


Anak buah Lioz dengan hati-hati membuka paket atau lebih mirip bungkus kado tersebut yang di letakkan di lantai.


Ketika ia melihat isi kotak di dalam paket tersebut, anak buah Lioz langsung terperanjat berdiri kaget dan menutup hidungnya.


“B-Bos…itu..” dengan wajah yang di palingkan dari melihat isi paket itu, anak buah Lioz menunjuk kerah kotak tadi.


Spontan Lioz langsung bangkit dari duduknya dan melihat apa isi kotak tersebut.


Lioz sama terperanjatnya dengan anak buahnya, tetapi dia lebih terpukul dan seolah dadanya ditusuk puluhan belati, ketika yang dilihatnya adalah potongan kaki anak perempuan dengan sepatu putih milik putrinya, juga potongan lengan wanita dengan cincin di jari manis tangan tersebut, dan cincin tersebut adalah cincin pernikahan yang selalu di pakai istri Lioz.


Di atas tumpukan potongan lengan dan kaki tersebut, terdapat sebuah kartu yang bertuliskan….


‘Santailah sedikit Lioz…barangkali ini hanya sebuah kecelakaan..’


Lioz tidak bisa menahan tangisnya, ia tidak lagi mampu berteriak, pria itu lagi-lagi terkulai di lantai, berlutut dan menangis sambil kemudian telungkup dan meletakkan kepalanya di lantai sambil meremas kartu tersebut di genggamannya.


Anak buahnya mencoba menenangkannya, tetapi Lioz seolah sudah sangat terpukul.


“Bos, bagaimana jika besok kita langsung serang si Alfhonso ini, kita sudah menemukan lokasinya bukan?” ucap salah satu anak buah Lioz.


“Tidak…aku tidak akan sanggup berperang dengan psikopat seperti ini, kalian semua bisa saja mati ditangannya” ujar Lioz yang sudah mengangkat kepalanya.


“Lalu?, apa yang akan kita lakukan Bos?” tanya anak buahnya lagi.


“Aku akan menyerahkan Bill padanya, aku akan meminta maaf karena telah meremehkannya” ucap Lioz.


“Tapi Bos!, bukankah itu berati kau menjatuhkan har-..”


“DIAM!!, apa kau tahu akibat aku menahan Bill, semua menjadi berantakan seperti ini!, harga diriku sudah hancur…aku tidak memiliki apa-apa lagi yang membuatku bisa bertahan!!”

__ADS_1


__ADS_2