
Beberapa hari kemudian, Lioz berdua dengan Bill mendatangi mansion milik Alfhonso. Lioz baru kali itu melihat sebuah mansion yang sangat besar, ia baru menyadari siapa sebenarnya Alfhonso.
Di dalam pagar, penjaga menunggu perintah dari tuannya, Alfhonso, kemudian ketika ia menerima pesan di telinganya untuk mengizinkan kedua orang itu masuk, maka pagar otomatis terbuka.
“Kalian hanya diperbolehkan sampai disini!” ujar penjaga yang memegang senapan AK47 di genggamannya.
Lioz dan Bill berhenti di halaman depan mansion Alfhonso. Kemudian Alfhonso keluar dari pintu utama diiringi beberapa anak buahnya.
“Bawa mereka ke garasi!” perintah Alfhonso pada anak buahnya sambil berlalu menuju garasi.
Kemudian di garasi, Alfhonso yang lebih dulu berada disana, duduk di sebuah kursi kayu dengan pistol revolver di tangannya.
Lioz dan Bill di paksa berlutut di hadapan Alfhonso yang tengah duduk dengan kaki menyilang dan cerutu di sela bibirnya.
“Ternyata benar ucapanku, kau akan mendatangiku sendiri Lioz..apa berati kau sudah tau siapa aku hah?” ucap Alfhonso sambil memainkan pistolnya.
“Ya tuan Alfhonso, aku sudah tau siapa anda…dan aku akan menyerahkan anak buahku yang menembak orangmu..” ucap Lioz yang tersirat ketakutan di wajahnya.
Bill, anak buah Lioz tak mampu menatap Alfhonso, dia terus menunduk dengan menahan takut dan tangisnya.
“Orangku?…apa kau tahu siapa yang kau tembak itu? Bill!…Hey!! aku bicara padamu!!” bentak Alfhonso pada Bill.
Spontan Bill menatap Alfhonso dengan mata berkaca-kaca dan tubuh yang sedikit bergetar.
“A-aku tidak tahu tuan,..hari itu aku tidak tahu siapa yang kutembak, aku hanya ingin mengenai sasaran musuh kami…” suara Bill bergetar menahan takut.
“Yang kau tembak…adalah…orang yang sangat penting untukku…KAU PAHAM!!” Alfhonso membungkuk mendekatkan pistolnya kearah kepala Bill, tetapi Alfhonso hanya menggertak.
Bill memejamkan matanya keras. Ia seolah tahu bahwa hari itu adalah hari terakhirnya.
“Dan kau Lioz!!, kenapa anak buahmu mengenalku sementara kau tidak?!, bukankah itu berarti kau yang bodoh! Dan juga kebodohanmu yang lain, kau berperang di medan yang salah, kau menggunakan keramaian sebagai tameng, itu sangat konyol…”
“Sekarang waktunya pembalasan…Hey Kau!, Berdiri!!” Alfhonso memerintah Bill supaya berdiri dengan pistolnya.
Bill Berdiri dengan kepasrahan, ia seolah melihat seorang yang akan mengakhiri hidupnya, pandangannya telah kosong.
“Kau harus membayar perbuatanmu Bill, bersiaplah!” ucap Alfhonso yang sudah meluruskan lengannya dan bersiap dengan pistol di genggamannya.
“M-maafkan aku tuan Alfhonso…aku…” ucap Bill lirih sambil berdiri dan menunduk.
__ADS_1
DAR!!…
Suara tembakan memecah kesunyian di garasi tersebut.
Sebuah peluru terlepas pesat dari selongsonnya, menuju ke dada atas Bill, dekat dengan pundaknya. Pria itu terjungkal ke belakang, dan terjatuh.
Tetapi ia memegang pundaknya yang telah mengeluarkan darah.
Lioz membelalakan matanya melihat Bill yang terjatuh, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak.
“A-aku belum mati…” ucap Bill sambil menahan sakitnya di lantai.
“Kau beruntung Bill, orang yang kau tembak juga masih hidup, dan ia tertembak tepat di tempat kau tertembak barusan” ujar Alfhonso.
Bill meringis kesakitan. Alfhonso memerintahkan anak buahnya untuk membawa Bill ke rumah sakit.
“Tuan Alfhonso, sebaiknya kau juga menembakku, bunuh saja aku!..aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kau telah merenggut semua milikku!, keluargaku, uangku, anak buahku!..” Bill agak terlihat geram sekaligus putus asa.
“Kau cengeng sekali Lioz. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, tetapi aku banyak belajar dari seseorang, bahwa tidak semua harus diselesaikan dengan membunuh. Lagipula siapa bilang aku merenggut keluargamu?!” ucap Alfhonso.
“Tetapi kau telah membunuh anak dan istriku..” ucap Lioz.
“Itulah satu lagi kebodohanmu Lioz, apa kau tidak bisa membedakan mana tangan istrimu mana tangan wanita lain?” ujar Alfhonso.
Alfhonso memberi kode pada anak buahnya untuk membawa seseorang masuk kedalam garasi.
Betapa terkejutnya Lioz yang melihat istri dan putrinya masih hidup dan tidak terdapat luka sedikitpun.
Istri dan anak Lioz langsung berlari menuju Lioz yang masih berlutut, mereka memeluk erat tubuh Lioz dengan iringan tangisan.
Lioz merangkul keduanya dengan erat juga menangis melepas haru, sadar bahwa yang dikirim tempo hari adalah bukan potongan tangan dan kaki istri dan anaknya.
“Tuan…Alfhonso, terimakasih telah membiarkan istri dan putriku hidup..mereka adalah alasan aku untuk tetap hidup..” ucap Lioz sambil masih merangkul istri dan anaknya.
“Ini adalah perkenalanku…sekarang kau sudah mengenalku bukan?” ujar Alfhonso sambil beranjak dari kursinya.
“I-iya, aku sudah mengenal anda, maafkan atas ketidak-tahuanku tuan Alfhonso” ujar Lioz yang kemudian bangkit dari berlututnya.
Akhirnya Alfhonso membebaskan mereka semua, dan mengembalikan rekening Lioz tetapi Alfhonso tetap meminta untuk ganti rugi pembiayaan selama Jasmine di rumah sakit, dan Lioz menyetujuinya.
__ADS_1
Kembali ke rumah sakit,
“Sepertinya tuan Alfhonso sedikit berlebihan…” ucap Jasmine.
“Itu karena mereka meremehkan tuan Alfhonso, itu sekaligus peringatan untuk mereka yang tidak mengenal tuan Alfhonso” ucap Bony.
Jasmine hanya menggeleng dengan kelakuan tuannya. Gadis itu menyadari kini betapa besar rasa sayang Alfhonso kepadanya, sekaligus ia juga menyadari betapa bahayanya berurusan dengan pria itu.
Sepekan berlalu,
Kini kondisi Jasmine jauh lebih membaik. Jasmine kembali beraktifitas di toko rotinya yang kini mulai ramai.
Pagi hari yang sejuk dan damai, para pekerja toko agak santai hari itu, karena toko belum buka, mereka masih mempersiapkan toko dan masih menikmati sarapan.
Dengan Meggy sebagai penjaga toko, keadaaan toko tidak seseram seperti semula.
Jasmine yang tengah berbincang dengan Meggy di depan etalase toko roti, mendadak berhenti dari keseruan mereka. Mereka berdua melihat sebuah limousine putih berhenti di depan toko mereka.
“Nyonya Meggy, apakah tuan Alfhonso beli limousine baru lagi?” tanya Jasmine sambil memandangi limo putih di balik kaca toko.
“Aku rasa itu bukan tuan Alfhonso…” ucap Meggy yang juga sama memandangi mobil mewah tersebut.
“Benarkah?” Jasmine menautkan alisnya.
Tak lama berselang, seorang pria paruh baya berbadan agak gempal, tinggi besar, dengan rambut klimis rapihnya, dan wajah yang masih terlihat tampan meskipun telah berusia, turun dari limousine putih tersebut.
Cerutu di tangannya, juga sebuah tongkat yang di pegang di tangan kanannya, menandakan pria itu bukan orang sembarangan, mantel hitam panjangnya menggerai ketika turun dari mobilnya, ia terlihat sama dengan Alfhonso dalam penampilan, seperti mafia kelas atas.
Di belakangnya beberapa mobil sedan hitam juga berhenti dan beberapa pria berpakaian mantel hitam juga turun dari sana.
Mereka berjalan kearah toko Jasmine.
“Nyonya Meggy, mereka menuju kesini…nyonya tolong sambut mereka, ah ya toko kan belum buka…bagaimana ini..” Jasmine sedikit terlihat panik.
“Tenang Jasmine, aku akan bilang pada mereka kalau toko sebentar lagi buka…kau kebelakang saja..” Meggy menenangkan Jasmine sambil memegang pundak gadis itu.
Kemudian Jasmine buru-buru ke dapur dan menyuruh beberapa anak buah Alfhonso yang sudah berada disana mengawasi si pria paruh baya tadi.
“Tuan, sepertinya perasaanku tidak enak, tolong kalian awasi pria itu ya…” ucap Jasmine di depan anak buah Alfhonso yang masih santai berada di dapur menikmati sarapan mereka.
__ADS_1
“Siapa dia nona?” tanya salah satu anak buah Alfhonso yang masih mengunyah roti.
“Aku juga belum tahu..” ucap Jasmine.