
“Calon suamimu terluka tadi, seharusnya dia yang kau beri pelukan..” sindir Alfhonso di pelukan Jasmine.
“Tuan!!, kau masih saja mengejekku!” dada kekar Alfhonso yang terlindung rompi anti peluru di pukuli gadis itu berkali-kali.
“Aku sudah bicara pada bibi, aku tidak akan menikah dengannya, dan bibi mengerti, dan besok kita akan pulang tuan..” ucap Jasmine setelah melepas pelukannya.
“Kapan kau bicara dengan bibimu?” tanya Alfhonso.
“Tadi ketika dia lihat anda begitu kerennya melawan Zebro, aku bilang pada bibi, kalau anda….anda adalah kekasihku..” Jasmine tersenyum manja dengan bibir bawah yang digigitnya.
Sebenarnya Alfhonso gemas dengan wajah Jasmine yang seperti itu, tetapi ia senang membuat Jasmine kesal.
“Hah?!, kenapa kau terlalu percaya diri mengaku aku kekasihmu?” ujar Alfhonso membuat raut wajah Jasmine langsung berubah.
“Bukankah anda…kita..,maksudku, agar aku tidak jadi dijodohkan dengan Andrew..” Jasmine mulai tertunduk malu, matanya melirik keatas kewajah Alfhonso.
“Iya, tapi sejak kapan kita menjadi kekasih?, seenaknya saja mengaku kekasihku..” Alfhonso melangkah melewati Jasmine yang telah menyiratkan malu sekaligus kesal.
“Tuan!!, sebenarnya kau menyukaiku atau tidak sih?!” pekik Jasmine geram.
“Menurutmu?” jawab Alfhonso sambil meletakkan senapannya di kotak senapan yang ia bawa, dari belakang Alfhonso tersenyum dengan sudut bibirnya.
“Tuan!!” geram Jasmine semakin menjadi.
Sambil berdiri, Jasmine menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan suara isak tangis terdengar dari sela tangannya yang menutup rapat wajahnya.
"Aku kira tuan.." suara Jasmine samar terdengar bercampur tangisan kecilnya.
Tiba-tiba tubuh kekar pria itu telah berada rapat memeluk gadis yang tengah berdiri itu. Alfhonso tertawa ringan.
“Maaf, aku hanya bercanda. Aku mulai mencintaimu…aku cemburu melihatmu dengan Andrew” Alfhonso mengecup lembut rambut Jasmine.
Tangis Jasmine semakin kencang sambil memeluk erat tubuh kekar Alfhonso.
“Aku juga mulai menyayangimu tuan…” ucapnya di sela isak tangisnya.
“Benarkah?, aku tak yakin..” ucap Alfhonso menggoda lagi.
“Tuan, kau jahat..” Jasmine memukul dada pria itu sambil menahan kesal sekaligus lega.
“Bukankah kau sudah tau dari awal kalau aku adalah orang jahat?”
__ADS_1
Alfhonso tertawa ringan.
Esoknya Jasmine dan Alfhonso berpamitan, dan bibi Jade mengerti keputusan keponakannya yang ingin memilih jodohnya sendiri.
Mereka pulang dengan mengendarai Volvo hitam milik Alfhonso. Di dalam mobil Alfhonso mengenang beberapa hari di desa bibi Jade, dari mulai pergi menaiki bus, memerah susu sampai pertarungan melawan Zebro, semua adalah hal baru yang didapat Alfhonso, dan semua ia rasakan menyenangkan.
“Jasmine, kau telah memberiku sesuatu yang baru, cerita baru, pengalaman baru..” ucap Alfhonso pada Jasmine di sampingnya.
“Aku juga sama tuan, aku telah banyak mendapat kesenangan darimu yang belum pernah kurasakan sebelumnya”
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke handphone Alfhonso, dan raut wajah Alfhonso langsung berubah.
‘Alfhonso, apa kau sudah tau, BLOOD sedang mencari saksi atas pembunuhan di loby hotel kemarin. Bagaimana menurutmu jika mereka tahu bahwa kaulah pelakunya, ah ya..aku lupa, aku adalah saksi pembunuhan itu, bagaimana caramu membungkamku Alfhonso?, apakah kau harus membunuhku juga? Atau kau hanya perlu menyerahkan mata-mata ‘melatimu’ untuk bekerja padaku? Dan semua akan baik-baik saja., itu adalah pilihanmu kawan’
“Carlos!!, dasar bajingan!” rahang Alfhonso mengatup keras, mata pria itu memancarkan kebencian yang dalam. Kemudian Alfhonso membalas pesan singkatnya.
‘Kenapa kau menjadi sebodoh itu Carlos. Berjuta wanita bertebaran dimanapun kau berdiri, kenapa harus milikku yang kau inginkan, jangan sepicik itu pandanganmu!. Mungkin aku akan pilih diantara dua pilihanmu, dan sepertinya menyingkirkanmu jauh lebih menyenangkan’
“Tuan?, apa semua baik-baik saja?” tanya Jasmine yang melihat perubahan di wajah Alfhonso.
“Ya, tidak apa” ucap Alfhonso terdengar sangat menutupi sesuatu dari Jasmine.
“Apartemen itu adalah milikmu tuan, kau yang berhak atasnya” ucap Jasmine.
Sesampainya di apartemen, Alfhonso terlihat sangat lelah. Jasmine menyiapkan bantal dan selimut untuk Alfhonso tidur di sofa, karena pria itu yang memintanya untuk tidur di luar kamar.
Malam mulai meninggi,
Alfhonso tertidur sangat pulas di sofa, hingga handphone yang berada di tangannya jatuh ke karpet di bawahnya.
Jasmine yang keluar kamar ingin mengambil air minum melihat handphone Alfhonso yang jatuh tadi. Gadis itu meraihnya untuk di letakkan di meja, tetapi tanpa sengaja ia melihat pesan yang masuk di layar handphone.
Itu adalah pesan dari Carlos yang lagi-lagi di baca berulang oleh Alfhonso.
Jasmine membulatkan matanya, ternyata karena pesan dari Carlos inilah yang menyebabkan Alfhonso berubah menjadi muram.
‘Tuan Alfhonso….’ Gumam Jasmine di batinnya.
Keesokan paginya Alfhonso terburu-buru bangun dari tidurnya, karena hari itu ia akan pergi ke kediaman Ramonev, ketua BLOOD.
“Tuan, kenapa terburu-buru?” tanya Jasmine yang tengah menyiapkan sarapan untuk Alfhonso.
__ADS_1
“Aku akan menemui tuan Ramonev. Ini adalah jadwal yang tertunda dari tiga hari yang lalu, karena kemarin kita masih berada di desa, jadi aku meminta waktu untuk menunda pertemuan ini”
“Aku akan sarapan di mobil, aku pergi Jasmine” dengan menyambar roti isi buatan Jasmine Alfhonso buru-buru keluar kamar apartemen.
Jasmine yang sendiri hanya menghela nafas panjang.
Malam mulai membentang, entah kenapa Jasmine rindu dengan pria mafia itu, tetapi ia tak mendapat telpon ataupun pesan dari Alfhonso sampai malam menjelang.
Jasmine berfikir mungkin Alfhonso sedang sibuk dengan urusannya.
Pagi hari yang dingin. Jasmine tertidur di sofa, jendela masih tertutup gorden, hingga cahaya hanya segelintir yang masuk menembus celah gorden.
Dengan sedikit keras pintu apartemen terbuka oleh seseorang. Jasmine langsung bangun dari tidurnya dengan sedikit terkejut.
“T-tuan?” tanya Jasmine melihat Alfhonso yang langsung duduk di sofa di sampingnya.
Wajah Alfhonso tidak seperti biasanya, tampak kekesalan di wajahnya dan seolah beban berat tengah menggelayut di pikirannya.
“Tumben kau masih tidur?” ucap Alfhonso dengan nada serius sambil duduk sedikit membungkuk, kedua lengannya bertumpu pada lututnya.
“Aku, aku menunggu kabar darimu semalaman tuan..” ucap Jasmine.
“Kenapa kau menunggu kabar dariku?” tanya Alfhonso.
“Ah, tidak apa-apa tuan..”
Jasmine langsung bangkit dari sofa membereskan selimut dan bantalnya. Ia juga buru-buru membuka jendela ruangan dan sinar matahari memancar kedalam.
“Tuan, apa perlu aku ambilkan minum?, atau kubuatkan sarapan?” tanya Jasmine sigap.
“Tolong ambilkan saja minuman kaleng di kulkas” ujar Alfhonso sambil mulai menyalakan rokoknya.
Jasmine dengan segera mengambilkan minuman soda kaleng dari kulkas, dan memberikannya pada Alfhonso yang tengah terlihat kesal.
“Tuan, aku ke wastafel sebentar…” pinta Jasmine, Alfhonso hanya mengangguk.
Jasmine dengan langkah cepat menuju wastafel, membersihkan wajahnya dan bersikat gigi. Jasmine memandang dari pantulan cermin, Alfhonso yang kini bersandar pada senderan sofa dan sebelah tangannya mengusap wajahnya keatas hingga ke rambutnya.
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya... Terimakasih......
__ADS_1