
“Lalu, apa kau berubah sikap ketika aku lahir?” tanya Alfhonso penasaran.
“Tidak sama sekali, justru aku merasa di abaikan karena ibumu terus sibuk mengurusmu, sampai aku pernah memukulnya beberapa kali, hingga air matanya mungkin sudah kering karena seringnya ia menangis”
“Kau memang tidak punya hati…pria macam apa kau ini” geram Alfhonso.
“Aku tau Alfhonso, tapi itu aku yang dulu, sekarang aku sangat menyesalinya..jika saja aku bertemu dan bisa bersama ibumu lagi, aku akan menjaganya dan akan mencintainya sampai akhir hayatku”
“Lalu apa kau tidak pernah bertemu dengan ibu lagi?” tanya Alfhonso.
“Tidak, dia sudah memilih jalannya sendiri, setelah beberapa kali aku mengkhianatinya dan juga pernah memukulnya, dia sudah tidak kuat lagi denganku, akhirnya dia pergi entah kemana. Sampai hari ini aku belum pernah lagi bertemu dengannya, setelah dia pergi dari kehidupanku, aku sangat menyesalinya, dan semenjak aku berpisah dengan ibumu, aku tidak bisa menikah lagi dengan wanita lain, aku tidak pernah bisa melupakannya, hingga detik ini”
“Tapi kakek pernah bilang padaku bahwa ibu adalah wanita yang selalu berganti pasangan, dia sering membawa pria..apa itu hanya kebohongan?”
“Ya, itu adalah kebohongan, aku yang meminta kakekmu untuk berkata seperti itu jika kau bertanya tentang ibumu, agar kau tidak merindukan ibumu, dan kau tidak mencarinya, sebenarnya ibumu adalah wanita yang baik…” jelas Leopard.
“Sialan kau!, ternyata memang kau penyebab semua masalahnya” Alfhonso terdengar geram.
“Maafkan aku Alfhonso,, aku memang bajingan. Mungkin orang mengenalku sebagai mafia besar, legenda para mafia..atau apalah itu, tetapi sebenarnya aku tak lebih dari pria yang gagal, aku selalu gagal dalam pernikahanku, dan aku gagal menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku” Leopard kini menundukkan wajahnya, benar-benar menunduk dan meraup rambutnya kasar.
“Sudahlah, tapi setidaknya kau adalah orang yang hebat di mata orang lain, walaupun kau bejat dimata keluargamu” Alfhonso berusaha menenangkannya.
“Alfhonso, sebenarnya aku malu untuk mengakui ini, tetapi aku sangat ingin membayar semua kesalahanku pada ibumu dan padamu…”
“Bagaimana kau membayarnya?” tanya Alfhonso.
“Entahlah, yang bisa kulakukan untukmu saat ini adalah mungkin dengan membantumu, atau melindungimu, sebenarnya aku memikirkan rencana kemarin karena aku ingin menjadikanmu seorang yang hebat, tetapi ternyata setelah aku sadari, itu hanyalah keegoisanku”
“Ya, aku mengerti” ucap Alhfonso pelan.
“Hey, tetapi bagaimana dengan Kazito?, bagaimana kita melawannya?” ucap Alfhonso.
“Biarlah aku yang yang mengurusnya. Dia hanya memiliki dendam pribadi terhadapku. Aku sudah mengerahkan seluruh anggota EMO untuk mengatasinya, dia tidak akan sampai kesini, kami sudah mengantisipasinya”
“Tapi katamu dia akan mengambil wilayah kita?”
“Ya memang, tetapi Kazito tidak ada apa-apanya di mata EMO, dia dengan mudah bisa kami atasi..kau tenang saja”
“Alfhonso, katakanlah apa yang kau inginkan, aku pasti akan mewujudkannya, aku ingin membayar dosaku di masa lalu”
“Aku tidak memiliki keinginan yang berlebihan, sebenarnya aku hanya ingin hidup damai, aku ingin hidup bersama dengan gadis pilihanku, aku mencintainya”
__ADS_1
“Baiklah, sayangilah gadismu sepenuh hati, jaga dia dan jangan sampai kau seperti aku..temuilah dia dan ungkapkan rasa sayangmu padanya”
“Bagaimana aku bisa menemuinya?!, dia sudah pergi!. Ini semua gara-gara kau yang mengajakku bergabung dengan EMO, sehingga aku menjadi pusing dan membentaknya lalu dia pergi”
“Dasar anak bodoh!” tukas Leopard.
“Benar yang dikatakan tuan Ramonev, mungkin kau adalah orang hebat, tapi kau tidak bisa memaksaku untuk menjadi dirimu, aku memiliki jalanku sendiri” ucap Alfhonso.
“Ya, benar yang dikatakan Ramonev, kau mendapat didikan yang baik darinya” Leopard beranjak dari duduknya dan berdiri sambil mengusap kasar rambut putranya.
“Aku akan membantu kau mencari gadismu” ucap Leopard lagi.
“Terimakasih” ujar Alfhosno yang mulai beranjak berdiri dari duduknya.
“Ayo kita kembali ke rapat, kita sudah terlambat, yang lain pasti sudah menunggu kita” ujar Alfhonso.
“Kita adalah ketua Alf, biarkan saja mereka menungu” ucap Leopard.
“Justru kita sebagai pemimpin harus memberi contoh disiplin yang baik pada bawahan, pemikiranmu masih saja licik dan egois” ujar Alfhonso.
“Justru pemikiranmu yang terlalu lembek, mana wibawamu sebagai ketua” ucap Leopard.
Di depan pintu aula ruang rapat,
“Hey!, ngomong-ngomong pintar juga kau memilih gadis, dia lumayan cantik”
Bisik Leopard sambil mengepalkan jemarinya dan memukul pelan dada putranya, tersirat senyuman di bibir Leopard.
Alfhonso hanya tersenyum dengan sudut bibirnya yang menjadi teringat dengan gadis yang disayanginya itu.
Akhirnya Leopard menjelaskan tentang batalnya rencana Alfhonso untuk menjadi ketua EMO, dan Leopard juga menjelaskan jika putranya akan terus menjadi ketua BLOOD dan tetap berada disana.
Seluruh anggota BLOOD merasa senang, karena kepemimpinan Alfhonso sangat berpengaruh pada perkembangan BLOOD.
Setelah rapat selesai, para anggota bubar, ada sebagian yang ingin melihat lebih dekat sosok Leopard sang legenda mafia.
Leopard sempat berbincang dengan Ramonev, dan Leo mengucapkan terimakasih karena selama ini telah mendidik putranya dengan baik.
Akhirnya mereka sampai di luar gedung.
“Leo, bagaimana rencanamu untuk mencari Jasmine?, apa kau punya ide?” tanya Alfhonso.
__ADS_1
“Aku bisa kerahkan anak buahku untuk mencarinya di penjuru kota ini” ucap Leopard.
“Ya, akupun memiliki pemikiran yang sama” ucap Alfhonso kemudian menaiki limouseinenya.
Beberapa hari berlalu, mereka belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Jasmine, bahkan anak buah Alfhonso yang ditugaskan mencari ke desa di kediaman bibi Jade juga tidak mendapat hasil.
Alfhonso, Raizon dan Bony berkumpul untuk merencanakan cara lain untuk mencari Jasmine.
“Bony, apa kau tidak bisa melacak handphone milik Jasmine?” tanya Alfhonso.
“Aku sudah katakan berapa kali Bos, kemungkinan besar dia tidak menggunakan handphonenya, kalau dia menggunakannya saat ini pastinya sudah bisa terlacak” ucap Bony.
Tak berselang lama Alfhonso mendapat telpon dari Leopard.
“Ya, ada apa?” tanya Alfhonso setelah mengangkat telponnya.
“Aku punya informasi, anak buahku melihat seorang wanita yang berwajah mirip dengan gadismu, dia bekerja di sebuah restauran seafood besar di selatan kota Harginz” ucap Leopard di sebrang telpon.
“Baik, aku akan segera kesana” ucap Alfhonso seolah mendapat sebuah harapan.
Alfhonso sudah akan menutup telponnya, tetapi ia letakkan kembali handphone di telinganya ketika mendengar suara Leopard masih berbicara.
“Hey, mana terimakasihmu, dasar anak tidak tahu terimakasih” ucap Leopard masih di sebrang telpon.
“Ya, terimakasih pak tua!” ucap Alfhfonso kemudian menutup telponnya sambil menyeringai dengan sudut bibirnya.
“Bagaimana tuan?!” tanya Raizon.
“Kita lihat dulu ke tempat yang di katakan ayahku, Rai kau ikut denganku. Hey!, bawa dua mobil dan ikut denganku semua sekarang!!” perintah Alfhonso pada bawahannya.
Alhfonso dan seluruh anak buahnya mendatangi tempat yang dikatakan Leopard.
Sesampainya di tempat tersebut, Alfhonso dan anak buahnya memasuki restauran tersebut. Seluruh pelanggan yang tengah menikmati hidangan disana tersentak kaget, spontan menoleh kearah Alfhonso dan anak buahnya, beberapa orang merasa ketakutan.
...******...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......
...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader. ...
...Terimakasih. ...
__ADS_1