
“Ambilkan saja handphoneku, seharusnya kau tak menyembunyikannya" ucap Alfhonso sedikit ketus.
“Itu kulakukan agar kita tak terganggu dengan suara handphonemu yang selalu berdering setiap saat"
“Aku bilang ambilkan handphoneku.." Alfhonso mengulang kata-katanya.
Akhirnya wanita itu mengambil handphone Alfhonso yang di sembunyikannya dan menyerahkannya pada pria itu.
Ketika Alfhonso melihat panggilan masuk beberapa kali dari Jasmine dan panggilan dari Raizon juga pesan dari Raizon tentang beberapa pria yang memasuki apartemennya, mata hitam pekat Alfhonso membulat, rahangnya mengatup keras.
Kemudian tanpa basa basi, ia bergegas membuka piyamanya dan mengganti dengan pakaian lengkapnya, jas dan mantel hitam.
Alfhonso memberikan wanita itu setumpuk lembaran uang di kasur dan ia pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.
Di dalam mobil Alfhonso buru-buru menelfon Jasmine, tetapi ia sangat lega gadis itu baik-baik saja.
Entah perasaan apa yang menyelimutinya, ketika Alfhonso mendengar suara gadis itu seolah ada tumpukan rindu yang menggebu.
“Aku akan segera ke apartemen" ujar Alfhonso di telfon.
“Tidak perlu tuan, aku ingin menginap dirumah temanku, bolehkan tuan?, aku takut berada disini sendirian malam ini" ucap Jasmine di balik telpon.
“Ha?, kerumah temanmu? Siapa? Dia pria atau wanita?! Kau diantar Boren?!"
Seolah seperti ayahnya, Alfhonso terdengar cemas dan khawatir.
“Temanku wanita tuan, iya aku diantar tuan Boren..hanya semalam saja tuan, bolehkah?"
Dengan berat hati akhirnya Alfhonso mengizinkan.
“Ingat, hanya semalam, setelah itu kau harus kembali ke apartemen!" perintah Alfhonso.
“Baik tuan, terimakasih".
“Oya Jasmine, bagaimana ciri-ciri pria yang mendatangimu di apartemen?” tanya Alfhonso.
“Dia tinggi besar, berambut coklat dan suaranya berat, tampangnya sangat dingin, dia juga memakai jubah coklat panjang" jelas Jasmine mencirikan pria tersebut.
‘Sial!, Carlos, ada apa dia ke apartemenku' gumam Alfhonso di batinnya.
Pagi yang cerah..
Alfhonso yang berada di mansion, ia masih terbaring malas di ranjang besar mewahnya.
Tetapi ia ingat dengan banyak jadwal-jadwal hari itu yang harus ia kerjakan.
Kemudian ia bangkit dan menuju wastafel untuk membersihkan wajah dan mulutnya.
Setelah mengelap dengan handuk kecil, kemudian Pria itu meraih handphone di bawah bantalnya. Ia duduk di tepi ranjang.
Tetapi….
__ADS_1
Sepagi itu ia harus terkejut dengan pesan singkat dari seseorang yang nomernya tidak dikenal…
‘Yo, Alfhonso..selamat pagi. Apa hari ini ‘melatimu‘ sudah mekar?, apa harus aku yang memetiknya?' – Carlos - .
‘Carlos!!…bajingan itu lagi!' Alfhonso terlihat geram.
‘Melati? Hah! ..Jasmine?!' gumam Alfhonso kemudian matanya spontan membulat.
Kemudian pria itu cepat-cepat menelfon Jasmine.
Tetapi beberapa kali ia mencoba menghubungi Jasmine tetap tidak ada jawaban.
Tanpa pikir panjang, Alfhonso bergegas dengan memakai pakaiannya terburu-buru.
Ia langsung keluar kamar dan bergegas menuju garasi mobil.
Alfhonso berteriak memanggil para anak buahnya. Beberapa pria langsung bergegas mengikuti Alfhonso.
Supir di depan Alfhonso memacu Mercedes hitamnya dengan cepat menuju apartemen diiringi beberapa mobil van hitam di belakangnya.
Sesampainya di apatemen, Alfhonso dan anak buahnya langsung menuju lantai 21 ruangannya.
"Kalian tunggu disini!" perintah Alfhonso pada anak buahnya.
Dengan langkah cepat ia menuju pintu kemudian membuka pintu masuk dengan kartu di tangannya.
Ketika pintu terbuka, Alfhonso mendapati ruangan yang kosong. Pria itu memanggil Jasmine, tetapi tidak ada jawaban yang terdengar.
“Jasmine!!, Jasmine!!, dimana kau?!!”
“Jasmine!!!” panggilan Alfhonso tidak juga di respon, membuat pria itu semakin panik.
Ia mencari ke seluruh ruangan, dan terakhir ia membuka dengan kasar pintu kamar mandi yang tak terkunci.
Pria itu mendengar suara shower yang mengucur, dan bayangan tubuh seorang wanita samar-samar di balik pintu kaca yang agak buram.
Alfhonso menghela nafas panjang tanda lega, ternyata gadis yang dari tadi dipanggilnya sedang menikmati mandinya di bawah guyuran shower.
Suara shower air kamar mandi membuat pendengaran Jasmine terhalang.
Gadis itu tengah berdiri mandi di dalam ruang kaca di bawah pancuran shower yang mengucur membasahi seluruh tubuhnya.
Wajahnya menengadah keatas seolah melepas letih.
Tiba-tiba…
SREEKK!!!..
Pintu kaca ruang shower itu di buka mendadak dengan kasar oleh Alfhonso.
“AAA!!..TUAN!!!" jerit Jasmine dan kepalanya yang spontan menoleh kearah pria itu.
__ADS_1
Jasmine yang langsung panik menutupi bagian atas dan bawahnya dengan tangannya.
“Tuan!!, kenapa anda ada disini??!!” teriak gadis itu sangat panik dan kaget sambil mematikan keran shower yang masih tesisa mengucur sedikit saking terburu-burunya.
Jasmine yang tak memakai selembar kainpun bingung dan kikuk berusaha menutupi tubuhnya.
“Tuan!, tolong keluar dulu!!, aku tidak berpakaian!" ujar Jasmine ditengah kepanikannya.
Gadis itu ingin keluar tetapi terhalang Alfhonso yang masih berdiri di pintu kaca.
“Tuaan! Tolong keluar dulu! Agghh!!"…
Akhirnya Jasmine dengan spontan mendorong tubuh Alfhonso keluar dari ruang shower dan gadis itu menutup pintu kaca dengan keras dan cepat.
Tetapi jemari Alfhonso mengganjal di sela pintu, sehingga Jasmine tidak bisa menutupnya lagi.
Pintu itu kembali di buka sedikit oleh Alfhonso dengan paksa, tetapi Jasmine menahannya sekuat tenaga.
“Kenapa kau tak menjawab telfonku?" tanya Alfhonso yang berusaha memasuki ruang shower.
“A-aku tidak mendengar telponmu tuan, tapi tolong anda keluar dulu..” pekik Jasmine sambil menahan pintunya.
Tetapi kekuatan pria sekelas Alfhonso bukan tandingannya, dengan mudah pria itu membuka pertahanan pintu itu.
Dan pintu kaca itu kembali terbuka lebar…
Bukannya malah keluar, Alfhonso justru masuk dan mendekati Jasmine yang tengah panik.
"Tuan, anda mau apa?..” tanya Jasmine setengah ketakutan sambil sedikit mudur menjauhi Alfhonso yang tak banyak bicara.
Tetapi pria itu tidak menjawab dengan suara, melainkan dengan gerakannya.
Alfhonso yang masih memakai pakaian, lengkap dengan mantel panjang hitamnya masuk dan melangkah kearah Jasmine, kemudian ia menutup pintu kaca.
Shower yang masih mengucur sedikit di matikan oleh Alfhonso, kemudian pria itu menyandarkan tubuh lembut polos Jasmine ke dinding.
Ia terus mendekati tubuh Jasmine, mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, tangannya mulai memegang pipi Jasmine, dan tanpa basa basi ia mulai mengulum kembali bibir yang dulu pernah ia rasakan lembutnya.
Awalnya Jasmine mencoba berontak dengan perlakuan tuannya, gadis itu terus mendorong dada Alfhonso, tetapi pria itu seolah tidak perduli dan tetap menikmati bibir gadis itu dengan hasrat yang telah menjalar.
Tetapi kali ini Jasmine seolah menyerah, pasrah menerima perlakuan tuannya.
Jasmine awalnya terpaksa membiarkan Alfhonso menciumnya, tetapi dengan perlahan gadis itu membalas ciuman pria gagah didepannya.
Gadis itu memejamkan matanya, seolah ketakutan tadi telah terkikis sirna. Kini keduanya larut dalam rasa yang sama.
Beberapa saat kenikmatan itu tersudahi sementara.
“Tuan, mantelmu akan basah..” ucap Jasmine yang kini merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Gadis itu kemudian menunduk melihat mantel dan pakaian tuannya yang mulai basah.
__ADS_1
“Biarlah basah..aku tidak perduli..” ucap Alfhonso lembut, kemudian pria itu memegang dagu Jasmine dan mengangkatnya, dan lagi-lagi ia menyatukan bibirnya ke bibir gadis itu.