MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 7 - Persiapan


__ADS_3

“Hey!, aku nitip dua kaleng soda ya..” Alfhonso mengisyaratkan dua jarinya kepada Chiko. Chiko memberi isyarat ibu jarinya sambil telihat gigi kecilnya yang rapih.


Adik kecil Jasminepun pergi dengan pengawal, dan pintu ruangan di tutup.


“Urusan adikmu sudah beres bukan?..apa ada hal lain yang mengganggu? Berarti kau siap bekerja untukku kan?" ujar Alfhonso pada Jasmine yang masih berdiri.


“Baiklah tuan, lalu bagaimana aku harus bekerja sebagai mata-mata?" tanya Jasmine masih sedikit terasa ketakutan di wajahnya.


“Aku akan memberitahumu nanti, sekarang istirahatlah di kamarku, aku akan kembali ke mansion" Alfhonso mengambil mantel hitamnya dan berlalu ke pintu.


“Ohya, ini kartu akses untuk pintu ruangan ini, aku akan meminta Bony untuk membuatkan satu lagi untukku" Alfhonso memberikan sebuah kartu untuk akses masuk kedalam ruangan


Yang memiliki lebih dari satu kartu akses hanya ruangan milik Alfhonso, selain itu penghuni lain hanya memiliki satu kartu akses ke ruangannya masing-masing.


Bony yang seorang hacker telah berhasil menduplikat kartu akses tersebut, jadi nantinya yang memiliki kartu masuk itu adalah Alfhonso, Jasmine dan Bony.


Jasmine yang tinggal sendiri, masih terpaku dengan apa yang terjadi padanya hari itu.


Matanya yang indah mengeliling melihat sekeliling ruangan.


Ketika malam mulai pekat, Jasmine dan Chiko tidur di kasur mewah milik tuan mafia.


Akhirnya ia bermalam di apartement itu bersama adiknya, dan ia melarang adiknya untuk menyentuh apapun yang ada disana.


Berbeda jauh dengan keadaan Jasmine, Chiko terlihat sangat bahagia dengan apa yang ia alami di hari itu.


Ia bercerita dengan kakaknya di kasur empuk milik Alfhonso, ketika Ia jalan-jalan dengan menggunakan mobil mewah sehingga orang-orang di sekitarnya melihat kagum, dan hal tersebut membuat Chiko merasa berbeda dari sebelumnya.


Juga beberapa mainan yang dari dulu ia idam-idamkan baru hari itu Chiko kecil memilikinya, layaknya sebuah mimpi.


Tetapi Jasmine sempat terkejut dengan pertanyaan polos Chiko sebelum tidurnya.


“Kakak, apakah kakak akan menikahi om keren itu kak? dia baik kak, aku suka, dan aku akan senang kalau kakak menikah dengannya…"


“Huss!, bicara apa kau ini..sudah tidurlah..” ucap Jasmine menutupi keterkejutannya.


Jasmine mengecup kening Chiko dengan lembut dan menyelimutinya.


Jasmine mendekap erat adiknya yang mulai memejamkan matanya, tetapi ia sama sekali tidak dapat merapatkan matanya, pikirannya melayang membayangkan pekerjaan berbahaya yang akan ia hadapi esok.

__ADS_1


Di sisi lain ia bahagia melihat adik satu-satunya gembira pada hari itu, dan ia masih bisa bersama adiknya sampai saat itu, tetapi di sisi lain ia baru akan memulai sesuatu yang lebih menakutkan dari apapun di dalam hidupnya.


Pagi hari yang sejuk namun menyilaukan. Cahaya berhamburan dari sela jendela yang belum terbuka sempurna.


Jasmine membuka matanya, ia bangun dari ranjang besar itu kemudian berlalu ke wastafel untuk mencuci wajahnya dan menyikat gigi.


Sesaat kemudian ia pergi ke dapur menyiapkan sarapan.


Kulkas dua pintu yang ada di sudut ruangan di buka perlahan, ada apa kiranya disana yang bisa di jadikan sarapan. Ia sedikit membungkuk sambil mengamati isi kulkas tersebut.


‘Hmm, telur, pasta, sosis,..mustard, daging sapi, pasta tomat, kaju….’ Jasmine mulai mendaftar bahan yang di lihatnya dan memutar otaknya untuk memanfaatkan bahan yang ada di lemari es.


Ia mangambil beberapa bahan untuk di jadikan menu spaghetti Bolognese. Gadis itu mulai mengolah masakannya di dapur.


Harum spaghetti tercium ke seluruh ruangan, dan membangunkan Chiko dari tidur lelapnya.


“Kak, harum sekali ini?,..kakak masak apa?" tanya laki-laki kecil yang berangsur mendekati Jasmin.


“Spaghetti,..sarapanlah dulu..” Jasmine menyodorkan sepiring spaghetti kearah adiknya.


“Waw, kakak jarang masak ini dirumah…” ujarnya. Jasmine hanya tersenyum.


“Kak, apa kita akan tinggal disini?" tanya Chiko sambil mulai mengunyah spaghetti buatan kakaknya.


"Disini enak sekali ya kak, kasurnya empuk, makanannya enak, ruangan luas dan om yang keren kemarin-..." Chiko belum sempat meneruskan kalimatnya.


Pintu apartement di ketuk oleh seseorang.


“Nona Jasmine, aku Edward..aku di perintahkan tuan Alfhonso untuk menjemput Chiko" suara dari balik pintu membuat keduanya menoleh.


Akhirnya setelah bersiap, Chiko di bawa oleh pria berbadan besar itu, sepertinya akan mengurus sekolah Chiko yang baru.


Jasmine membereskan bekas makan adiknya. Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan seseorang memasuki ruang apartemen.


“Hey Bos, masak apa kau pagi-pagi begini? Harumnya sampai menggangu liurku..”


Bony dengan style anak mudanya, terkejut melihat sesosok gadis cantik dengan kaos putih panjang dan celana pendek sebatas paha.


Mata Bony hampir tidak berkedip, entah terkejut karena ada gadis di apartemen Bosnya atau terkejut dengan kecantikan Jasmine.

__ADS_1


“H-hai…” sapa Bony setengah gugup.


“Ah, ya..selamat pagi..” Jasmine juga terlihat bingung dengan kehadiran pemuda itu.


“Aku Bony, anak buah tuan Alfhonso,..apa kau?..emm, kekasihnya tuan Alfhonso?" tanya Bony tanpa basa basi.


“Ah, bukan..bukan..aku bukan kekasih tuan Alfhonso, aku.., bagaimana aku mulai menjelaskannya..” ucap Jasmine.


Akhirnya Bony berbincang dengan Jasmine sambil menikmati spaghetti Bolognese buatan gadis cantik itu di ruang tengah, mereka berbicara dengan akrab.


Jasmine tidak takut sama sekali dengan Bony, walaupun penampilannya agak mirip anak nakal. Bony yang memakai kacamata berframe hitam, dengan serius mendengarkan Jasmine menjelaskan yang terjadi dengannya kemarin.


“Apa?!. kau disuruh menjadi mata-mata oleh Bos?, pria itu memang tidak memiliki hati nona Jasmine, pantas saja dia tidak pernah memiliki kekasih..”


“Tidak pernah memiliki kekasih?, bukankah pria seperti dia mudah untuk mendapatkan wanita?" tanya Jasmine.


“Ya, sebenarnya memang mudah, tetapi dia tidak mau…dia tidak menginginkan hal yang buruk terjadi pada kekasihnya nanti karena posisinya yang selalu dalam bahaya, karenanya ia memilih untuk tidak memiliki kekasih"


Jasmin hanya diam mendengar penjelasan Bony, dan ketika ia melihat kearah Bony, pemuda itu melihat Jasmine dengan serius.


“Ada apa tuan Bony?" tanya Jasmine.


“Ah,..tidak..hey, jangan panggil aku tuan, panggil saja Bony" Bony seolah kikuk.


“Baiklah" ucap Jasmine sambil beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur.


Tak lama berselang, Alfhonso dan seorang wanita datang ke apartemen, pria itu sedikit kaget dengan kehadiran Bony di sana.


“Hey bodoh!, ada apa denga handphonemu?, liat berapa banyak panggilanku yang tidak di jawab!" geram Alfhonso pada Bony.


“Hey, maaf Bos…aku cuma tidak ingin di ganggu di waktu liburku" ujar Bony.


“Lalu kenapa kau kesini?!" Alfhonso mulai duduk di sofanya diikuti Lyra yang duduk dengan kaki menyilang dan mengambil sebatang rokok.


“Entahlah..” jawab Bony santai.


“Dasar bodoh!" ujar Alfhonso.


Kemudian Alfhonso melirik kearah Jasmine yang berada di dapur.

__ADS_1


“Jasmine, kemarilah..ini Lyra yang akan mengajarimu"


“Halo sayang,..kau cantik sekali..” Lyra berdiri dan bersalaman dengan Jasmine.


__ADS_2