MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 53 - Penat


__ADS_3

“Itu prinsipmu, tapi prinsipku berbeda…aku mencintainya, dan kau yang tiba-tiba baru datang di kehidupanku, lalu mengatur apa yang baik untukku. Dia lebih berharga dari apapun, jangan pernah mengusiknya..” Alfhonso kemudian akan beranjak berdiri dari sofanya.


“Terserah kau saja anak keras kepala, jika kau memang mencintainya, sebaiknya kau jauhkan dia dari kota ini, sebelum musuhmu mengetahui keberadaannya dan menggunakannya sebagai senjata untuk membuatmu lemah”


Ucapan Leopard, ayah Alfhonso sepertinya mengenai sasaran, Alfhonso langsung tertegun dan berfikir jika ucapan ayahnya ada benarnya.


“Lalu, harus ku bawa kemana Jasmine?” tanya Alfhonso yang sudah berdiri.


“Bawalah ia jauh ketempat yang tak terjangkau, di luar kota atau daerah yang jauh dari keramaian” ucap Leopard.


“Baiklah, kau boleh istirahat di kamar atas..aku akan beristirahat dulu di kamarku..” Alfhonso meninggalkan Leopard sendiri di ruang tengah yang mewah dan luas.


Di Apartemen,


“Jasmine, kumohon untuk sementara waktu, menjauhlah dari sini..apa kau punya ide tempat yang bagus untuk kau tinggal sementara?” ucap Alfhonso serius di sofa apartemen.


“Apa kondisinya akan sangat berbahaya tuan?, lalu bagaimana dengan tuan?” ucap gadis itu yang justru mengkhawatirkan Alfhonso.


“Jangan pikirkan aku, ayahku ada disini untuk membantuku..”


“Bagaimana jika aku kerumah bibi Jade?”


“Jangan!, jangan kesana, aku khawatir jika sebagian mafia kesana, maka bibimu akan terkena imbasnya..” ujar Alfhonso.


“Ayahku kemarin menyarankan agar kau sementara tinggal di rumah sepupuku, aku juga tidak tahu kalau aku masih memiliki sepupu di desa, tetapi ia adalah orang yang sangat kaya, dia memiliki peternakan yang luas, mungkin lingkungannya seperti rumah bibi jade, apa kau mau tinggal sementara disana Jasmine?” ucap Alfhonso.


“Tapi aku tidak enak tuan, sementara kau tidak terlalu mengenalnya..” Jasmine menyiratkan keraguannya.


“Mungkin tidak apa untuk sementara Jasmine, nanti ayahku juga yang akan mengantar kita kesana, dan jika kondisi disini sudah membaik, aku akan menjemputmu..” ucap Alfhonso.


“Apa benar tidak apa-apa aku tinggal disana tuan?, nanti apa kata mereka tentangku?…” keluh Jasmine.


“Ayahku yang akan menjelaskan pada sepupuku..hanya sementara..ya?” Alfhonso memandang serius wajah Jasmine.


“Sebaiknya aku tidak tinggal disana tuan..”


“Jadi kau tidak mau disana untuk sementara?!” tanya Alfhonso dengan alis menaut.


“Tidak tuan, aku tidak mau..” tegas Jasmine.


“Kenapa kau keras kepala seperti ini Jasmine!” Alfhonso terdengar agak geram.


“Aku tidak ingin merepotkan siapapun tuan…biar aku mencari rumah sewa sendiri…” ucap Jasmine seolah pasrah.

__ADS_1


“Jangan, itu juga berbahaya untukmu..Akh! Kenapa semua menjadi sulit seperti ini..” Alfhonso meraup kasar wajahnya sampai keatas rambutnya.


“Tuan…”


“Aku tidak tau lagi harus bagaimana,…atau aku memiliki pilihan lain....”


Alfhonso menunduk, tetapi justru membuat gadis itu menoleh kearah wajah pria dihadapannya.


“Pilihan lain?…pilihan apa tuan?” tanya Jasmine berusaha memandang mata Alfhonso.


“Atau kau mencari pria lain yang mencintaimu dan kau aman bersamanya…kau tidak akan pernah tenang jika bersamaku Jasmine!..” kini Alfhonso menatap mata berbinar Jasmine.


“Tidak!!, aku tidak akan mencari pria lain tuan!, apa yang kau bicarakan..” seru Jasmine yang menolak kalimat Alfhonso tadi.


“Tapi jika kau terus bersamaku kau akan selalu berada dalam bahaya!” kali ini Alfhonso juga meninggikan intonasi suaranya.


“Aku sudah terlanjur masuk kedunia-mu tuan, kau yang memasukan aku kedalam kehidupanmu, dan ketika aku sudah terlanjur menyayangimu, kau ingin aku bersama pria lain…” Jasmine terdengar geram.


“Tetapi aku tidak bisa membawamu selalu kedalam bahaya, dan terus menerus melindungimu!, aku tidak bisa membawa seorang wanita kedalam kehidupanku!, karenanya semua wanita di sekitarku hanya sebagai pemuas dan teman untuk sesaat bukan untuk menjadi pendampingku!…”


“Apa aku menjadi beban untukmu tuan?” tanya Jasmine.


“Entahlah Jasmine, aku sudah penat dengan urusanku..” Alfhonso menundukkan wajahnya.


“AKU TIDAK TAHU!!!..di kepalaku penuh dengan pikiran! Jangan kau terus bertanya!!” Alfhonso tanpa sadar membentak gadis yang saat itu tengah menahan air matanya agar tidak tumpah.


Pria itu meraup rambutnya dengan keras, kepalanya tertunduk kebawah, kedua lengannya bertumpu pada kedua lututnya.


“Akh!, sial!..aku benar-benar pusing!!”


“Baiklah tuan, aku akan membantumu melepaskan bebanmu…semoga kau menemukan apa yang kau inginkan tuan…aku akan pergi jika itu memang yang kau inginkan..”


Jasmine dengan buru-buru berdiri kemudian keluar ruangan, ia meninggalkan kartu akses masuk di atas meja.


“Jasmine!..hey!, mau kemana kau!” pekik Alfhonso, tetapi panggilan Alfhonso tidak di gubris sama sekali oleh Jasmine.


Ketika Alfhonso beranjak dari sofa dan akan mengejarnya, gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Pria itu menoleh ke arah lift.


“Sial!”


Alfhonso menelpon Boren di lantai bawah.


“Boren, jika kau bertemu Jasmine tahan dia, suruh dia menungguku..” perintah Alfhonso pada supirnya.

__ADS_1


“Baik tuan..” ucap Boren di sebrang telpon.


Alfhonso terlihat sangat kesal juga menyesal dengan perkataannya pada Jasmine, tetapi ia juga sangat terlihat kacau dengan kondisinya saat itu dengan banyaknya masalah dan beban. Pria itu akan melangkah kembali ke kamarnya, tetapi langkahnya terhenti ketika handphone di sakunya bergetar tanda panggilan masuk.


Ia melihatnya dan ternyata panggilan itu dari Leopard, ayahnya.


“Ya, ada apa?..” ucap Alfhonso di telpon.


“Alfhonso, Kumpulkan anggota BLOOD sekarang, kita akan ke markas BLOOD, aku akan membicarakan tentang EMO dan kau yang akan menjadi calon ketuanya” ujar Leopard di sebrang telpon.


“Hey tunggu!, kenapa kau tidak berdiskusi dulu padaku tentang ini, kenapa langsung di bicarakan ke dewan BLOOD?!” cetus Alfhonso suaranya agak meninggi.


“Kita harus cepat, laksanakan saja perintahku, aku tunggu di markas BLOOD!,…tuuuut..”


Leopard memutus telponnya sepihak. Alfhonso hanya memandang handphone di genggamannya dengan wajah kesal.


“Apa-apaan si tua bangka itu, seenaknya saja main perintah…Brengsek!” gerutunya sambil kemudian memukul pintu kamar apartemen.


Alfhonso dengan langkah cepat menuju ke lantai bawah. Ia menemui Boren dan Raizon di depan pintu masuk apartemen.


“Tuan, aku baru akan menemuimu..” ucap Raizon di depan pintu masuk apartemen.


“Kita ke markas BLOOD sekarang Rai..” ujar Alfhonso.


“Boren, bagaimana, apa kau bertemu Jasmine?, kemana dia sekarang?” tanya Alfhonso pada Boren yang tengah mengelap sedan hitam milik tuannya.


“Ah, maaf tuan, aku tidak menemukan nona Jasmine, dari tadi anda telpon nona Jasmine tidak ada di sekitar sini..” ucap Boren agak menunduk sedikit.


“Hah?, lalu kemana dia pergi?” Alfhonso kemudian cepat-cepat mengambil handphonenya, ia berusaha menghubungi Jasmine, tetapi telpon gadis itu sepertinya sedang tidak diaktifkan.


“Akh!, Jasmine, dimana dia..” terlihat kekhawatiran di wajah Alfhonso.


“Ada apa tuan?, apa nona Jasmine diculik?” tanya Raizon dengan wajah khawatir.


“Tidak, tapi dia menghilang entah kemana setelah berbicara padaku tadi, baiklah nanti kita akan cari dia, kita urus dulu urusan ini satu persatu…” ujar Alfhonso.


Alfhonso menelpon supirnya yang lain dan memerintahkan untuk membawa limousine-nya.


“Boren, kau tetap disini, ingat! jika kau bertemu Jasmine suruh dia menelponku atau kau yang menghubungiku”


“Baik tuan” ucap Boren sigap.


Akhirnya Alfhonso dan Raizon dengan limousine menuju ke markas BLOOD, tetapi pikiran Alfhonso terus menuju Jasmine, perasaan seolah tidak karuan, ia ingin mencari keberadaan Jasmine, tetapi urusannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2