MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 64 - Mereka tidak sopan


__ADS_3

Jasmine yang sedari tadi berada di dapur akhirnya bergabung dengan mereka.


“Nah, ini dia nyonya Alfhonso, kalian sudah melihatnya bukan kemarin di pesta” Alfhonso meraih pinggang ramping Jasmine dan memperkenalkan lagi pada bibi dan sepupunya.


Jasmine tersenyum ramah sambil berslaman dengan kedua wanita di hadapannya.


“Salam bibi, dan Eryta” sapa Jasmine.


Mereka berdua menyapa Jasmine dengan hangat.


“Ayo kita sarapan dulu, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian” ajak Jasmine dan mendahului mereka ke ruang makan.


“Al, istrimu pandai memasak?” tanya bibi Shirley.


“Dia adalah koki terbaikku bi” ucap Alfhonso diiringi tawa ringan renyahnya.


“Oya bi, kalian boleh tidur di kamar tamu, dan Jasmine akan menemani kalian untuk beberapa hari” ucap Alfhonso.


“Ya, terimakasih, kami tidak kerasan tinggal di hotel kemarin” ucap bibi Shirley.


“Sebenarnya bukankah pelayanan hotel itu pastinya bagus?” ucap Alfhonso.


“Ah, itu … tidak juga, tidak semua pelayanan hotel itu bagus Al” ucap bibi Shirley terlihat canggung menjawab.


Akhirnya mereka menikmati sarapan buatan Jasmine, dan setelah beberapa saat mereka beristirahat di gazebo taman belakang.


Alfhonso menemani mereka berdua, sedangkan Jasmine tengah berada di kamarnya sibuk menyiapkan keperluan Alfhonso untuk sore nanti.


“Al, aku ingin mandi dulu” ucap bibi Shirley.


“Ah ya bi, kau bisa langsung ke kamar atas atau mandi di bawah, terserah padamu bi” ujar Alfhonso.


“Baiklah, aku akan keatas” Bibi Shirley menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Eryta dan Alfhonso masih berada di gazebo belakang. Erita mendekati Alfhonso yang duduk di sofa kecil yang berada di sana.


Wanita itu duduk persis disebelah Alfhonso dan posisi mereka agak dekat.


“Al, ada yang ingin kusampaikan padamu” ucap Eryta serius.


“Hey, kenapa wajahmu jadi serius begitu?” canda Alfhonso.

__ADS_1


“Al, aku memang sedang serius!” tukas Eryta.


“Hm, ya ya, ada apa?” kali ini wajah Alfhonso sedikit serius.


“Al, apa kau tidak merasa bahwa selama ini aku memendam rasa padamu, dan itu aku rasakan semenjak kita kecil, tapi kau selalu acuh padaku dan kau seolah tidak sadar hal itu” ucap Eryta membuat alis Alfhonso menaut.


“Aku tau Er, tapi kau adalah sepupuku, tidak mungkin aku balas menyukaimu” ujar Alfhonso.


“Kenapa tidak?!, bukankah kakek kita juga pernah menikahi sepupunya?” balas Eryta.


“Sudahlah, aku sudah memiliki istri, dan kau, menikahlah segera. Apa kau mau kujodohkan dengan Raizon?, hey, dia cukup tampan dan gagah” Alfhonso sedikit berbisik kepada Eryta, dan wajah pria itu agak mendekat kearah wajah wanita di sebelahnya.


Tetapi kedekatan Alfhonso justru membuat Eryta menggunakan kesempatan itu. Wanita itu dengan segera meraih kepala Alfhonso dengan kedua tangannya yang melingkar di leher pria itu, kemudian bibir Alfhonso di bungkam dengan ciuman yang dalam dari sepupunya tersebut.


Alfhonso tidak menikmati ciuman itu sama sekali, dia segera melepaskannya dengan paksa.


“Hey!, apa-apaan kau ini Er!, kenapa kau lakukan itu?!” tegur Alfhonso.


“Aku menyukaimu Al, aku mencintaimu!. Kenapa kau tidak pernah sadar hal itu!” ucap Eryta agak menekan.


“Ssstt!, diamlah!, bibi Shirley dan Jasmine bisa tau tentang hal ini. Sudahlah Er, kau harus mendinginkan otakmu, mandi sana!, sepertinya kau terlalu banyak menonton televisi” ujar Alfhonso yang langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke dalam.


Tak terasa, sore menjelang dan keberangkatan Alfhonso sebentar lagi akan membuat Jasmine merasa kesepian.


“Terus hubungi aku, aku hanya sepekan. Aku akan merindukanmu sayang” Alfhonso meraih kepala Jasmine dengan lembut dan mengecup keningnya dengan hangat.


“Raizon sedang di jalan, dia akan berjaga disini selama aku pergi”


“Ya tuan, hati-hatilah disana” ucap Jasmine yang seolah tidak rela ditinggal pergi suaminya yang baru saja menikahinya.


“Hey, jangan bersedih begitu, wajahmu jadi jelek nanti!” canda Alfhonso sambil memencet hidung Jasmine dengan lembut.


“Bibi Shirley, Eryta, aku pamit dulu, kau akan ditemani Jasmine disini, maaf aku tidak bisa menemani kalian” ucap Alfhonso sambil memeluk bibib Shirley.


“Ya Al, kau hati-hatilah, terimakasih sudah mengizinkan kami menginap di mansionmu” ucap bibi Shirley.


Dan ketika ia melihat Eryta, Alfhonso hanya mengelus rambut wanita itu dengan agak kasar.


“Hey, nanti Raizon akan datang, kau dekatilah dia … “ canda Alfhonso pada sepupunya.


“Sialan kau Al!” pekik Eryta menanggapi candaan Alfhonso.

__ADS_1


Akhirnya Alfhonso pergi, dan Jasmine merasa sedikit hampa tanpa kehadiran suaminya itu.


“Ah, bi apa kau ingin kubuatkan teh dan roti isi?” ucap Jasmine sambil menutup pintu.


“Tidak perlu!, aku bisa menyuruh pelayan untuk melayaniku” ucap bibi Shirley agak ketus kepada Jasmine, membuat Jasmine mengerutkan alisnya.


“Baiklah bi, Eryta, jika ada apa-apa aku ada diatas” Jasmine yang akan beranjak dari hadapan mereka kemudian dengan spontan menoleh kearah Eryta yang tiba-tiba memegang keras lengannya.


“Hey! Tunggu!, siapa bilang kau boleh keatas. Kalau ibuku tidak ingin dilayani olehmu, maka layani aku!, buatkan aku spageti sana! Dan jus jeruk” ucap Eryta yang seolah berubah dari sikapnya yang tadi ketika ada Alfhonso.


Jasmine memandang wajah Eryta dengan tatapan heran dan seolah ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.


“Baiklah, tapi aku minta kau agak sopan menyuruhku, aku bukan pelayan dirumah ini, dan aku akan memberikan permintaanmu karena kau saudara suamiku disini!” tukas Jasmine yang langsung berlalu menuju ke dapur.


Eryta langsung merebahkan pinggangnya di sofa, dengan kaki mengangkat di sofa dan punggung bersandar pada tangan sofa.


Wanita itu menyalakan televisi dan menontonnya, kelakuannya seeolah tidak sopan dihadapan Jasmine.


Tak berselang lama, Jasmine datang dari arah dapur dan langsung meletakkan sepiring spageti dan jus jeruk permintaannya dengan agak kasar, kemudian ia memandang Eryta dengan sinis.


“Hey!, sopan sedikit meletakkan piringnya! Itu milik sepupuku Alfhonso!, kau bisa memecahkannya” ujar Eryta saat melihat Jasmine agak kasar meletakkan hidangannya.


“Kepunyaan tuan Alfhonso berarti juga kepunyaanku” ucap Jasmine sedikit geram dengan kelakuan Eryta.


Kemudian Jasmine dengan kesal langsung menuju ke kamarnya di lantai atas.


Di lantai atas, tepat di kamarnya, Jasmine lagi-lagi dibuat kaget oleh kelakuan tamunya. Jasmine menemukan bibi Shirley tengah berada di kamarnya, wanita paruh baya itu duduk di bibir ranjang sambil memegang kotak liontin yang tergeletak di atas nakas.


Jasmine lupa untuk menyimpan liontin mewah itu, karena ia berfikir akan aman barang mahal tersebut berada di kamarnya, ternyata pemikirannya tidak sepenuhnya benar.


“Bibi?, sedang apa di kamarku?, bukankah kamar bibi di kamar tamu?” tanya Jasmine dengan pandangan curiga.


“Aku hanya melihat kamar keponakanku. Hey, apakah Alfhonso memberimu liontin mewah ini?” tanya bibi Shirley tanpa merasa bersalah.


“Iya, suamiku memberinya padaku. Maaf bi, tapi aku ingin beristirahat sebentar, apa bibi bisa keluar?” ucap Jasmine sambil mengambil kotak liontin dari tangan bibi Shirley.


“Hmm, baiklah” ucap wanita paruh baya tersebut agak malas mengangkat tubuhnya dari ranjang.


Kemudian ia berlalu dari kamar Jasmine.


‘Ck! mereka sangat tidak sopan’ decak Jasmine di batinnya.

__ADS_1


Jasmine ingin menghubungi Alfhonso, akan menanyakan sampai dimana suaminya sekarang.


Tapi seolah ada sesuatu yang hilang, Jasmine mencari ponselnya kesana kesini.


__ADS_2