MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 65 - Ada pencuri?


__ADS_3

‘Tadi kuletakkan disini, tidak mungkin hilang dari kamar ini’ gumam Jasmine yang masih mencari keberadaan handphonenya.


‘Bibi Shirley … ‘ tiba-tiba batinnya mengarah ke wanita itu, bisa saja wanita itu yang mengambil ponselnya tadi.


Tanpa pikir panjang, Jasmine berlalu mencari keberadaan bibi Shirley, dan ia mendapatinya tengah berada di bawah bersama putrinya.


Jasmine melangkah menuju lantai bawah dengan agak buru-buru.


“Bibi, apa kau melihat ponselku?, tadi aku ingat meletakkannya di kamar, tapi sekarang ponselku tidak ada, barangkali bibi melihatnya ketika di kamarku tadi?” tanya Jasmine masih sopan kepada bibi Shirley yang tengah santai si sofa.


“Hey!, kau menuduh mamaku yang mengambil ponselmu?!” tanpa basa-basi Eryta langsung duduk tegak dan menyalak pada Jasmine yang masih berdiri.


“Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya!” kali ini Jasmine juga terlihat geram.


“Aku juga punya ponsel yang mahal, untuk apa aku mencuri barangmu, itupun kau pasti diberi oleh keponakanku, kau tidak akan sanggup untuk membelinya bukan?” ucap bibi Shirley ketus.


“Ya, kau kan hanya gadis miskin yang beruntung menikah dengan sepupuku, hanya untuk memanfaatkan kekayaan dan ketampanannya!” Eryta melanjutkan ucapan mamanya dengan penuh kebencian.


“Jaga mulutmu!, aku tidak pernah memanfaatkan kekayaan tuan Alfhonso!, tuan Alfhonso yang menginginkan aku untuk menjadi istrinya!” balas Jasmine sedikit emosi.


“Sudahlah!, wanita miskin memang suka mengelak. Hey, kau baru kan merasakan kekayaan seperti ini?, hah, baru menikmati fasilitas milik Alfhonso saja sudah sombong seperti ini” sindir bibi Shirley sambil berdiri dan mendorong pundak Jasmine dengan jarinya, sehingga tubuh Jasmine sedikit terdorong.


“Minggir!, aku tak sudi berbicara pada wanita miskin!, ayo sayang kita pergi belanja”


“Apa salahku?!, kenapa kalian seolah membenciku seperti ini?!” tanya Jasmine dengan heran dirinya diperlakukan seperti itu.


“Karena seharusnya aku yang menjadi nyonya dirumah ini! Bukan kau!” tegas Eryta yang juga sudah berdiri di hadapan Jasmine dan ikut mendorong tubuh Jasmine agar menjauh darinya.


Jasmine hanya memandang mereka yang sudah berlalu ke arah tangga dengan tatapan tajam dan geram.


Dari luar suara Raizon memanggil namanya, kemudian Jasmine menuju luar.


“Nona Jasmine, maaf aku agak terlambat, tad- … “ Raizon belum menyelesaikan kalimatnya, tapi ia menatap wajah Jasmine yang berbeda.


“Ada apa nona?” tanya Raizon sedikit memiringkan kepalanya memperhatikan wajah Jasmine.


“Tidak apa tuan Rai, masuklah” ucap Jasmine kemudian berlalu ke dalam.


Bersamaan dengan itu kedua wanita angkuh mendekati Jasmine, mereka sudah berpakaian rapih dan akan berangkat ke pusat perbelanjaan.


“Ah, ini pasti Raizon, pelayannya Alfhonso. Aku Shirley, bibinya Alfhonso. Oya, aku akan belanja dengan putriku, tolong kau siapkan supir untuk kami” dengan wajah agak mendongak, bibi Shirley memberi perintah dan menatap Raizon dengan kesombongan.

__ADS_1


“Maaf nyonya, aku bukan pelayan tapi aku tangan kanan tuan Alfhonso, supir sudah menunggu di pos depan jika anda memerlukannya” ucap Raizon tegas.


“Apa bedanya pelayan dengan tangan kanan” ketus wanita paruh baya tersebut.


Bibi Shirley dan Eryta melewati Raizon dan Jasmine, tetapi Eryta sempat memegang dada bidang Raizon dengan nakal.


“Hey, kau cukup tampan” bisiknya menggoda Raizon kemudian berlalu pergi.


“Eh!” Raizon tersentak agak kaget dengan sentuhan wanita itu.


Raizon dan Jasmine hanya saling melempar pandangan melihat kelakuan kedua wanita tersebut.


“Nona, em maksudku nyonya, apa mereka memperlakukanmu dengan buruk?, jika aku bisa menilai seperti itu” ucap Raizon yang sudah berada di ruang tamu.


“Ya, tuan Raizon, kau benar. Awalnya mereka baik apalagi ketika tuan Alfhonso belum berangkat, tetapi ketika tuan Alfhonso pergi mereka seolah membenciku, aku juga tidak tahu kenapa. Oya tuan Rai, handphoneku hilang, dan tadi bibi Shirley ada dikamarku, aku curiga jika dia yang mengambilnya, tapi ketika aku tanya padanya dia malah marah padaku”


“Benarkah?!, jika tuan Alfhonso tahu hal ini, pasti dia akan marah besar pada bibinya. Baiklah nyonya, mari kita periksa kamarnya” ucap Raizon.


“Terimaksih tuan Rai”


“Itu sudah tugasku nyonya”


Akhirnya mereka memeriksa kamar tamu, tempat bibi Shirley dan Eryta bermalam. Tapi mereka tidak menemukan apapun disana.


“Tapi pastinya mereka sudah mematikannya, tapi cobalah saja tuan”


Dan benar saja, sambungan telpon Raizon ke nomer Jasmine tidak aktif.


“Sial!, beraninya mereka mencuri, aku akan menghubungi tuan Alfhonso!” ucap Raizon.


“Tunggu tuan!, jangan terburu-buru, bagaimana jika memang bukan mereka yang mencuri?” ucap Jasmine.


“Tapi seperti yang nyonya katakan tadi, dia berada di kamarmu, sudah pasti dia pelakunya, siapa lagi?!” tegas Raizon.


“Tapi kita belum memiliki bukti” ucap Jasmine.


“Hmm, iya memang, lalu apa yang harus kita lakukan nyonya?”


“Kita akan mencarinya lagi tuan Rai” ucap Jasmine.


Hampir satu jam lebih mereka mencari ponsel Jasmine, tapi mereka tetap tidak menemukannya, sampai bibi Shirley dan Eryta pulang kembali ke mansion.

__ADS_1


Akhirnya Raizon dan Jasmine turun ke lantai bawah.


Kedua wanita itu membawa belanjaan yang banyak, dan mereka memamerkannya di hadapan Jasmine.


Hal itu tak terpengaruh pada Jasmine, ia telah memiliki perlengkapan yang lebih mewah dari yang mereka beli.


“Bibi Shirley, apa bibi yakin tidak melihat ponselku?” tanya Jasmine lagi pada wanita paruh baya di depannya.


“Harus kukatakan berapa kali, aku tidak tahu!” ucap bibi Shirley ketus.


“Baiklah. Tuan Rai, aku akan keatas dulu, kau boleh beristirahat” Jasmine sedikit kecewa dengan jawaban bibi Shirley.


“Baik nyonya” ucap Raizon.


Sore menjelang, Jasmine berada di kamarnya sedari tadi. Eryta di kamar tamu, sedangkan bibi Shirley tengah menikmati teh hangat di gazebo taman belakang.


Raizon dari arah halaman luar agak berlari menuju ke lantai atas. Tetapi saat di lantai atas tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka, kepala Eryta menyembul dari balik pintu.


“Raizon, kenapa terburu-buru?, oya apa kau bisa menolongku sebentar?” ucap Eryta memandang kearah Raizon.


“Maaf aku harus cepat. Aku ingin menemui nyonya Jasmine, tuan Alfhonso akan menelpon nyonya Jasmine melalui handphoneku, karena ponsel nyonya Jasmine hilang, jadi … “


Eryta dengan tiba-tiba menarik tangan Raizon dan membawanya kedalam kamar.


“Rai, apa kau bisa tolong aku membukakan resleting belakang pakaianku” Eryta menyibak rambut panjangnya ke depan, dan menunjukan punggungnya pada Raizon.


“Maaf nona, tapi aku sedang buru-buru, sebentar lagi tuan Alfhonso akan menelpon”


Dengan tiba-tiba Eryta meraih ponsel di tangan Raizon.


“Sini, biar aku yang menjawab jika sepupuku menelpon” ucap Eryta sambil menyembunyikan ponsel Raizon.


“Nona!, kau tidak bisa berbuat seperti itu! Kembalikan ponselku!” ujar Raizon sedikit gemas dengan kelakuan wanita di depannya.


“Bukakan dulu resleting belakang dress-ku, baru aku akan kembalikan ponselmu” ucap Eryta sambil mendekatkan punggungnya kearah Raizon.


...****...


...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......


...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader....

__ADS_1


...Terimakasih....


__ADS_2