
Pria itu tertawa ringan sambil sesekali menangkis pukulan gadis di depannya.
Alfhonso menangkap kedua lengan Jasmine di depan dadanya, hingga gadis itu tidak dapat berkutik.
“Maukah kau buktikan padaku?” tanya Alfhonso yang masih memegang kedua lengan Jasmine.
“Buktikan apa?” tanya Jasmine terheran.
“Membuktikan kalau kau masih virgin” ucap Alfhonso yang membuat mata Jasmine membulat lagi.
“Hah?!, apa kau bercanda tuan?” pekik Jasmine sedikit takut.
“Bagaimana jika aku serius?” Alfhonso mulai naik ke tengah ranjang dan mendekat kearah Jasmine.
“T-tapi tuan, tapi aku belum si-”
Jasmine yang berusaha menghindar tersentak kaget karena dengan tiba-tiba pinggang mungil gadis itu di dekatkan ke tubuh pria itu, Alfhonso meraih pinggang Jasmine dengan sedikit paksa kemudian ia mencium bibir gadis itu.
Jasmine kemudian menunduk sambil mendorong dada pria yang mendekapnya itu.
“Tuan, tunggu, maksudku … ”
Alfhonso dengan cepat membuka kemejanya dari arah atas, hingga tubuh atletis dan dada bidangnya terlihat.
Pria itu dengan perlahan menyingkap pakaian atas Jasmine tanpa berkata-kata hingga pundak gadis itu terlihat. Kemudian pria itu perlahan merebahkan tubuh gadis itu di atas ranjang miliknya.
“T-tapi aku, aku belum pernah melaku-…”
“Sssshhh…, aku tahu…aku akan menjadi yang pertama bukan?” bisik Alfhonso.
Jari telunjuk pria itu mengisyaratkan Jasmine untuk diam.
“Tua-… ”
Alfhonso menahan tubuh Jasmine yang akan bangkit dan menahannya tetap berbaring.
Ketika Jasmine melihat Alfhonso yang akan membuka resleting celananya, gadis itu sedikit terpekik berteriak sambil menarik tubuhnya kemudian dengan cepat beranjak dan turun dari ranjang.
“Tidak tidak! … tuan! Apa yang kau lakukan?!, aku belum siap!”
Alfhonso tidak sempat menangkap gadis itu.
Jasmine kemudian berlari secepat kilat menuju pintu, membukanya kemudian keluar. Gadis itu terus berlari ketakutan meninggalkan Alfhonso yang posisinya masih duduk di atas ranjang yang hanya tertegun melihat gadisnya lari ketakutan.
“Dasar gadis bodoh” gumamnya menahan hasrtanya yang lagi-lagi tertahan pada gadis itu.
DI luar kamar, Jasmine terus berlari dan menuruni anak tangga, tetapi ketika di tikungan tangga, tiba-tiba …
Dug! …
“Ahh!” pekik Jasmine kaget.
__ADS_1
Jasmine tertabrak dengan Raizon yang tengah berada di tangga dan akan menaiki lantai atas, dengan tanpa sadar Jasmine telah berada di depan dada Raizon.
Dan tanpa sengaja tangan Raizon spontan memegang pinggang Jasmine yang hanya terbalut dress tipis.
Keduanya sangat dekat berada di tengah anak tangga.
“N-nona?” ucap Raizon gugup yang masih menatap wajah Jasmine dengan jarak dekat.
Ketika keduanya sadar, Jasmine menjauh ke anak tangga diatasnya, dan Raizon menuruni satu anak tangga di bawahnya, keduanya terlihat canggung.
“M-maaf tuan Raizon, aku tak melihatmu datang” ucap Jasmine sambil tertunduk.
“Ah, tidak tidak…aku yang minta maaf … “ ucap Raizon masih terdengar gugup.
“Apa kau ingin bertemu tuan Alfhonso?” tanya Jasmine.
“Um ya, aku menelponnya tapi dia tidak menjawab, dan aku panggil sepertinya dia masih berada diatas, jadi aku pikir aku akan ke kamarnya tadi”
“Ah baiklah akan kupanggilkan, sebentar” Jasmine langsung berlari kecil menuju atas kembali ke kamar Alfhonso.
Raizon menengadah menatap punggung gadis itu dari belakang, perasaannya seolah bergejolak, tetapi buru-buru ia tepis, ia hanya tangan kanan kekasih gadis itu.
Di bibir pintu kamar, Jasmine berdiri dan tak berani masuk, ia hanya melihat Alfhonso yang tengah berbaring dengan bertelanjang dada dengan tangan mengangkat dan di selipkan di belakang kepalanya.
Alfhonso spontan menoleh kearah Jasmine.
“Hey, apa kau berubah pikiran?, kemarilah, kenapa masih disitu?” tanya Alfhonso yang masih berharap hasratnya terluapkan.
“Bukan itu, di bawah ada tuan Raizon mencari anda” ucap Jasmine yang membuat wajah Alfhonso berubah menjadi datar dan tak bersemangat.
Alfhonso melangkah menuju pintu sambil menyambar kemejanya. DI bibir pintu ia memencet hidung mancung Jasmine hingga gadis itu terpekik kesakitan.
“Gadis bodoh, awas kau nanti!, lain kali akan kupaksa kau!” ujar Alfhonso sambil melewati Jasmine dan menuju ke lantai bawah.
“Kembalilah tidur!” perintah Alfhonso pada gadis itu sambil melangkah dan merapihkan kemejanya.
Jasmine hanya menunduk sambil melihat tuannya berlalu melewatinya dan menuruni tangga.
Di ruang bawah,
“Kau sudah kembali Rai?” Alfhonso langsung duduk di sofa dan meraih rokoknya yang berada di meja, kemudian menyalakannya.
“Ya tuan, semua sudah kubereskan” ucap Raizon yang juga mulai duduk di sofa.
“Ada kabar apa lagi?” Alfhonso mulai menyalakan rokoknya dengan kepala sedikit miring kemudian mengepulkan asap dari mulutnya sambil bersandar.
“Aku mendapat info bahwa Marino ini adalah dewan tertinggi organisasi gabungan perdagangan dan bisnis antar negara” jelas Raizon.
“Lalu?, apa hebatnya organisasi tersebut?” ujar Alfhonso santai.
“Organisasi itu juga membeli senjata ilegal dari berbagai mafia kelas atas, dan informasi yang kudapat, ternyata dia salah satu pelanggan Carlos”
__ADS_1
“Carlos?, kenapa dia bisa ada hubungannya dengan si brengsek Carlos?” ucap Alfhonso mulai serius.
“Entahlah tuan, tapi yang aku khawatirkan bisa saja dia bekerjasama dengan Carlos untuk menghancurkan kita” ungkap Raizon.
“Jadi kau berfikir jika mereka akan berkoalisi melawan kita?” Alfhonso mulai membungkukkan badannya kedepan dan bertumpu pada lututnya.
“Ya, kemungkinan bisa seperti itu tuan” ucap Raizon.
“Tenanglah Rai, mereka pernah kita kalahkan, apa mereka ingin kekalahan yang kedua kalinya” Alfhonso menghembuskan asap tipis dari sela bibirnya.
“Tuan, bagaimana nona Jasmine?, apa dia masih ketakutan?” tanya Raizon.
“Tidak, dia sudah lumayan membaik”
“Tuan, apa tidak sebaiknya anda mengambil cuti untuk liburan bersama nona Jasmine. Sepertinya anda jarang mengajaknya liburan keluar kota, lagipula anda terlihat lelah dan terlalu banyak persoalan yang telah anda hadapi tuan, anda perlu menyegarkan pikiran” ucap Raizon.
“Liburan?, Hm, boleh juga usulmu. Menurutmu sebaiknya kemana Rai?”
“Yah, ke tempat yang romantis tuan, ke pulau atau ke gunung misalnya”
“Apakah gunung tempat yang romantis, hahaha..ada-ada saja kau” Alfhonso tertawa ringan.
Pagi, pukul 06:05, di meja makan.
Alfhonso memberitahu Jasmine tentang liburan untuk mereka.
“Liburan?, tuan mau mengajakku?” tanya Jasmine terheran.
“Ya, menurutmu lebih baik ke pantai atau ke pegunungan?, aku akan mencari tempat yang paling mahal dan indah” tanya Alfhonso sambil menikmati roti lapis.
“Tuan, um, … kalau boleh aku jujur, sebenarnya aku tidak ingin ke tempat yang mahal dan ramai, aku lebih suka ke tempat yang sejuk, seperti pedesaan”
“Pedesaan?” ulang Alfhonso.
“Ya tuan, aku pernah melihat sebuah pedesaan dengan pemandangan yang sangat sejuk”
“Seperti rumah bibi Jade?”
“Ya, tapi ini lain tempat, aku ingin sekali kes- … “ Jasmine belum menuntaskan kalimatnya.
“Kita kesana besok” ucap Alfhonso mantab.
“Benarkah tuan?”
“Ya, bersiaplah”
Pagi, pukul 06:05, masih di mansion.
Mereka berdua telah siap dengan koper besar dan perlengkapan yang akan di bawa.
Mereka menaiki sedan bertiga, Alfhonso, Jasmine dan Boren menuju ke desa yang dimaksud Jsmine.
__ADS_1
Perjalanan kesana memakan waktu hanya dua jam dari kota. Mereka terus menuju ke kebuah suasana yang berbeda.
Sebuah desa dengan udara yang sangat sejuk dan asri. Masih terlihat dari sana bukit-bukit dari kejauhan.