MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 62 - Pernikahan


__ADS_3

Satu pekan kemudian,


Alfhonso dan Jasmine melangsungkan pernikahan yang hanya berjarak sepekan dari perencanaannya. Sebuah pesta pernikahan di langsungkan di sebuah gedung mewah. Dekorasi gedung yang berwarna serba putih gading dipadu nuansa emas, terkesan mewah walaupun persiapannya begitu mendadak.


Penjagaan super ketat di luar gedung terlihat sedikit menyeramkan. Dengan penjagaan berlapis lengkap dengan senjata di tubuh mereka masing-masing, dengan pakaian serba hitam mereka berjaga di sekitaran gedung.


Jasmine dengan gaun pengantin yang mewah dan indah sangat cantik bak putri dongeng kerajaan, dengan rambut yang disanggul dan sedikit perhiasan di sekitar rambutnya.


Akhirnya pernikahan dilangsungkan. Setelah beberapa jam, akhirnya mereka beristirahat sejenak.


Bibi Jade dan anak-anaknya sangat senang melihat Jasmine akhirnya menikah. Seluruh tamu undangan memenuhi aula ruangan pesta pernikahan.


Karena hadirnya Leopard, para undangan dari kalangan mafia sangat antusias dan berharap bisa bertemu langsung dengan ayah Alfhonso tersebut.


Raizon keluar gedung dan menyendiri di balkon sambil menyalakan rokoknya.


Alfhonso sang pengantin juga keluar dan menyalakan rokoknya, kemudian berdiri disamping Raizon bersandar pada tembok balkon.


“Tuan Alfhonso..” Raizon agak kaget melihat tuannya sudah berada disampingnya.


“Jasmine sudah menjadi milikku Rai, kau carilah wanita yang lain yang sama bagusnya dengan dia. Masih banyak wanita diluar sana yang sangat mengharapkanmu” ucap Alfhonso tanpa menoleh ke Raizon.


“Kau bicara apa tuan, aku tak mengerti maksudmu” sahut Raizon.


“Aku tahu perasaanmu terhadap Jasmine, kau tak bisa menyembunyikan itu dariku. Tapi aku juga memiliki perasaan yang sama, dan takdir sudah ditentukan, akulah yang menjadi suaminya”


“Mana mungkin aku merebutnya dari anda tuan, kalaupun aku menyukainya, aku hanya bisa memendamnya dalam-dalam” ucap Raizon jujur.


“Kau akan temukan wanita yang bisa meluluhkan hatimu, kau hanya perlu menunggu Rai” kali ini Alfhonso memandang wajah Raizon.


Raizon hanya tersenyum sambil menunduk.


“Ya, aku harap juga begitu tuan”


“Kau hanya perlu sedikit terbuka kepada wanita Rai, mungkin sekali-kali kau yang perlu berlibur” Alfhonso menepuk pundak Raizon dan berlalu pergi.


Setelah seharian dilangsungkannya pesta tersebut, mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Leopard menginap di hotel dan bukan di mansion Alfhonso.


Alfhonso dan Jasmine kembali ke mansion, setelah berpamitan pada bibi Jade dan yang lainnya.


Di mansion, malam pukul 11:45,


Di kamar Alfhonso, Jasmine tengah membuka satu-persatu lapisan pakaiannya. Sedangkan Alfhonso baru membuka mantelnya, pria itu beranjak mendekati Jasmine.


Pria itu memeluknya dari belakang.


“Akhirnya aku memilikimu … “ bisik Alfhonso di telingan gadis itu.

__ADS_1


Jasmine berbalik badan dan menghadap kearah Alfhonso, Telapak tangannya di letakkan di dada pria itu.


“Akhirnya aku juga bisa melayanimu dengan maksimal tuan” ucap Jasmine.


“Hey, sekarang kau tidak bisa membuat alasan lagi untuk menolakku, kemarilah! ” ucap Alfhonso yang tiba-tiba menggendong dan membopong tubuh Jasmine ke atas ranjang.


“Tuan!, kau mengagetkanku… “ pekik Jasmine di dalam gendongan Alfhonso.


Jasmine sudah berada di atas ranjang dan Alfhonso mulai menyentuhnya perlahan. Pria itu menatap wajah Jasmine dalam-dalam. Ia menyelipkan rambut Jasmine ke sela kuping gadis itu.


"Kau, sangat cantik... " pandangan mata Alfhonso lekat memandang wajah istrinya kini.


“Sekarang kau milikku…” ucap Alfhonso perlahan.


“Ya tuan, aku akan serahkan semuanya padamu…” dengan senyuman Jasmine menunduk.


Alfhonso memegang dagu gadis itu kemudian mengecup bibirnya dengan hangat.


Akhirnya tautan bibir mereka terhenti.


Jasmine memandang mata tegas pria di depannya yang telah penuh dengan hasrat yang menggebu.


Pria itu melepaskan kemejanya dari arah atas, tak butuh waktu lama, dada bidang pria itu terlihat, kemudian ia beralih menyentuh kedua lengan Jasmine dan mereka merebah di hangatnya suasana tersebut.


Keduanya menikmati hasrat yang menggelora. Tak terasa pakaian Jasmine terlepas, dan tersibak tubuh indah yang pernah Alfhonso lihat untuk yang kesekian.


Tanpa sadar, pakaian mereka telah tersingkap semua, kini tinggal pergumulan antara sepasang kekasih.


Alfhonso larut dalam hasratnya, ia terus menikmati setiap bagian tubuh Jasmine, hingga akhirnya….


Jasmine menggigit bibir bawahnya, ia memejamkan matanya dan rahangnya mengangkat keatas…


“Tuaann..” pekiknya perlahan seolah menahan sesuatu.


Jemarinya tak sadar mencrengkram keras punggung atas Alfhonso. Pria itu dengan sifat laki-lakinya membara berpacu dengan nafasnya dan melepas hasrat yang selama ini tertahan diatas tubuh seorang gadis yang kini miliknya.


Hampir satu jam kurang, Alfhonso merasakan puncak kenikmatan yang begitu luar biasa. Belum pernah ia rasakan hasrat yang begitu membuncah seperti malam itu, bersama wanita manapun.


Jasmine telah menyerahkan segalanya untuk pria itu, bahkan miliknya yang paling berharga akhirnya telah ia serahkan pada suaminya.


Kini dua insan itu telah melewati kenikmatan hasrat yang begitu sempurna. Mereka berpelukan dalam balutan selimut.


Alfhonso mengecup kening Jasmine yang tengah memejamkan matanya.


‘Aku takkan melepaskanmu, sayang..’ gumam pria itu di batinnya.


Hingga hari itu berlalu dengan sendirinya…

__ADS_1


Pagi hari yang begitu indah untuk Alfhonso dan Jasmine. Di ranjang mewah milik Alfhonso, Jasmine sudah bengun dari terlelapnya beberpa menit yang lalu.


Alfhonso masih terlelap dalam tidurnya yang pulas layaknya bayi.


Jasmine tertelungkup sambil menatap wajah pria di hadapannya. Tangan kekar Alfhonso terangkat keatas, seningga bagian ketiak pria itu terlihat jelas.


Jasmine dengan usilnya menggelitik ketiak pria itu dengan jarinya juga menarik bulu halus yang berada di ketiak Alfhonso.


Dengan spontan Alfhonso bangun karena kaget bercampur geli, dan pria itu memandang wajah Jasmine yang tengah tertawa kecil melihat Alfhonso yang terasa geli karena ketiak yang di gelitik.


“Hey!, apa-apaan kau..itu geli!” ujar Alfhonso sambil mengusap-ngusap ketiaknya.


“Hahhaa, maaf tuan…” tawa renyah Jasmine masih tersisa, tetapi hilang dengan sendirinya ketika ia melihat wajah serius Alfhonso.


Jasmine mengira bahwa pria itu marah, karena keusilannya.


“Maaf tuan, aku hanya bercanda, ma-maaf karena mengganggu tidurmu…” ucap Jasmine yang merasa bersalah dan menundukkan wajahnya.


Jasmine akan bangkit dari telungkupnya dengan wajah menyesal, tetapi belum sempat wanita itu bangkit, Alfhonso dengan cepat menangkap tubuhnya dan mendekapnya.


“Kau harus membayar kejahilanmu!..” ucap Alfhonso sambil memeluk Jasmine dan tertawa ringan.


Dan lagi-lagi mereka melakukannya di pagi itu…


Hampir dua hari dua malam, Alfhonso dan Jasmine tidak keluar dari kamarnya. Mereka makan dengan menyuruh anak buahnya membawakan makanan ke kamar.


“Jasmine, kita akan memiliki rumah di desa kemarin, aku sudah memikirkannya” ucap Alfhonso.


“Benarkah tuan?” ucap Jasmine.


“Ya, kita akan tinggal disana”


“Lalu bagaimana dengan mansion ini?”


“Biarkan saja, aku akan datang kesini lagi setiap saat, tapi untuk tempat tinggalmu, dan … anak-anak kita kelak, aku lebih memilih tinggal ditempat yang lebih tenang”


Jasmine memandang wajah pria di dekatnya itu.


“Apa kau ingin memiliki anak banyak tuan?” tanya Jasmine dengan senyuman.


“Ya, aku ingin memiliki keturunan dan pewaris, itu dari dirimu"


Jasmine tak henti-hentinya merebakan senyum sambil bersender di dada pria yang kini resmi menjadi suaminya.


“Andai saja aku tidak memiliki urusan lain, maka aku ingin berada disini terus bersamamu” ucap Alfhonso sambil menyentuh pipi Jasmine.


Jasmine hanya tersipu dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


__ADS_2