MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 68 - Mabuk


__ADS_3

“Al, ada apa denganmu?” tanya bibi Shirley kembali.


“Aku sudah mendengar semua apa yang kalian lakukan pada istriku! Sekarang pergi dari rumahku!” perintah Alfhonso dengan geram.


“Alfhonso, apa kau tahu pengawalmu si Raizon itu sudah menghancurkan handphoneku!” adu Eryta seolah melimpahkan kesalan pada Raizon.


“Aku tahu!, aku tau semua. Bibi!, Eryta! … kenapa kalian tega berbuat kotor seperti itu pada istriku?!, apa salah dia?!”


“Kami tidak melakukan apa-apa, apa yang ka-” bibi Shirley seolah membela diri.


“JANGAN MENGELAK!!” pekik Alfhonso membuat kedua wanita itu spontan diam.


“Alfhonso!, apa kau tahu istrimu telah satu ranjang dengan pengawal pribadimu!” ujar bibi Shirley dengan keras.


“Tidak!, dia tidak melakukan apapun!, kalianlah yang menjebaknya!”


“Kenapa kau tidak percaya pada kami?, kami adalah keluargamu Alfhonso!”


“Sekarang kembalikan handphone istriku!, atau handphone bibi yang akan kuhancurkan berkeping-keping seperti yang dilakukan Raizon kemarin”


“Alfhonso!, kau telah dibutakan oleh wanita miskin itu!. Baiklah aku akan mengadukan hal ini pada ayahmu, ini adalah hal yang memalukan keluarga kita!, seorang istri Alfhonso bermain di ranjang dengan pengawal pribadinya sendiri!” pekik bibi Shirley.


Tiba-tiba suara berat terdengar dari belakang Alfhonso.


“Ya benar, ini adalah hal yang memalukan untuk keluarga kita, kau dan putrimu telah merusak hubungan harmonis anakku. Apa-apaan kelakuanmu!”


“L-Leo?” mata bibi Shirley dan Eryta membulat melihat kehadiran Leopard yang datang entah dari mana.


“Aku juga sudah mengetahui semuanya, apa kau tidak melihat di mansion ini dipasang banyak kamera pengawas?” ucap Leopard.


“Kenapa kalian seolah membela wanita miskin itu?!” bibi Shirley seolah tidak terima dipojokkan.


“Aku hanya ingin putriku yang menjadi istri Alfhonso!, aku hanya ingin kebahagiaan untuk Eryta, tapi kenapa wanita itu yang mendapatkan semuanya, bahkan kalung berlian yang mewah, seharusnya putriku yang memilikinya!, Leo apa kau juga membela wanita miskin itu?!”


“Kenapa kau sangat serakah, bukankah hidupmu sudah berkecukupan Shirley?, apalagi yang kau cari?!” ucap Leopard.


“Paman, aku mencintai Alfhonso!, kenapa harus wanita itu yang mendapatkan segalanya!” kali ini Eryta mengutarakan isi hatinya.


“Kau sepupuku Eryta, carilah pria lain untuk kau cintai!” ucap Alfhonso.


Akhirnya setelah ketegangan tersebut mencair, bibi Shirley dan Eryta diantar pulang oleh Leopard, dan handphone Jasmine dikembalikan kepada Alfhonso.

__ADS_1


Di apartemen,


Alfhonso menemukan istrinya tengah tertidur di sofa. Pria itu mendekatinya kemudian mengelus pipinya.


Mata Jasmine terbuka sedikit, dan spontan membulat sempurna ketika sadar akan kehadiran Alfhonso di hadapannya.


Jasmine langsung bangkit dari tidurnya dan dengan sekejap memeluk erat pria di depannya dengan tangisan kecil.


“Tuan, kau sudah pulang!” masih sambil memeluk erat Alfhonso, Jasmine seolah tidak ingin lepas dari pria itu.


“Ya, aku sudah kembali sayang. Oya ini ponselmu” spontan Jasmine membuka pelukannya dan melihat kearah jemari Alfhonso yang memegang handphone miliknya.


“A-apa ini dari bibi Shirley?” tanya Jasmine keheranan.


“Ya, aku sudah tau semuanya. Raizon menceritakan semuanya padaku, dua anak buahku, juga rekaman kamera pengawas di mansion, semua adalah bukti kuat tentang kelakuan bibi dan sepupuku kepadamu. Tolong maafkan mereka” ucap Alfhonso sambil memegang pipi istrinya.


“Aku tak menyadari ada kamera pengawas tuan, lalu dikamarmu?, apa ada juga?” tanya Jasmine.


“Ya, di semua sudut ruangan terpasang kamera pengawas, dan memang aku menyuruh Bony untuk memasang yang ukuran mikro hingga tidak disadari orang lain”


“Jadi kau sudah tau semua tuan?”


“Ya, bahkan ketika kau seranjang dengan Raizon, aku melihatnya di monitor”


“Ya, aku tahu Jasmine. Kau tak perlu takut seperti itu. Aku percaya padamu juga Raizon”


Jasmine kembali memeluk Alfhonso. Setelah beberapa saat …


“Hey sayang, bagaimana kalau kita merayakan kepulanganku dengan minuman ini. Ini baru di produksi, dan harganya sangat mahal, tapi di negara ini hanya aku yang menjualnya, semua konglomerat dan para elit yang suka minuman ini pasti akan membeli padaku, bagus bukan?” Alfhonso memamerkan sebotol anggur yang mewah yang di ambilnya dari dalam tas bawaanya.


“Aku tidak minum alkohol tuan” ucap Jasmine sambil menghindar dari botol tersebut.


“Cobalah sedikit saja, beritahu aku rasanya, apa ada yang kurang atau sudah pas” ujar Alfhonso sambil membuka tutup botol anggur tersebut dan seketika itu sedikit busa mencuat dari dalam botol.


“Aku belum pernah meminum yang seperti itu, bagaimana aku bisa menilai?” ucap Jasmine.


Alfhonso beranjak berdiri dan mengambil gelas kristal dari meja dapur.


“Setidaknya temani saja aku minum, hanya sekali ini saja, bagaimana?” Alfhonso menuangkan minuman tersebut ke gelas kristal.


“Nah, cobalah” bujuk Alfhonso sambil menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol tersebut pada Jasmine.

__ADS_1


“Tidak tuan, terimakasih, aku minum teh hangat saja” ucap Jasmine sedikit mundur dari gelas yang di pegang Alfhonso.


“Ayolah sayang, sedikit saja …” Alfhonso sudah memegang gelas miliknya, kemudian kembali menyodorkan gelas untuk Jasmine.


Dengan ragu-ragu Jasmine meraih gelas itu dari tangan suaminya.


Wanita itu mencium aroma dari anggur tersebut, dan dengan cepat wajahnya dipalingkan karena aroma yang aneh menurutnya.


“Ini bisa menghangatkan tubuhmu, cobalah sedikit saja” ucap Alfhonso.


“Sedikit saja ya, ini karena anda yang memintanya” ucap Jasmine yang terpaksa meminum minuman beralkohol tersebut.


Seteguk saja sudah membuat Jasmine memuntahkannya.


Alfhonso tertawa dengan kelakuan istrinya, dan masih memaksanya untuk meminum lagi.


“Aku tidak bisa tuan”


Alfhonso memegang gelas kristal itu dan meletakkan pinggiran gelas di bibir Jasmine, seolah memaksa istrinya untuk mencicipi minuman keras tersebut.


“Rasa yang selanjutnya pasti lebih nikmat. Ini adalah minuman para mafia kelas atas sayang”


Akhirnya beberapa teguk telah masuk ke tenggorokan Jasmine, agak panas ia rasakan, tetapi tegukan ketiga dan selanjutnya membuat Jasmine ketagihan dan mulai merasa agak pusing.


“Kepalaku..ah..” Jasmine memegang keningnya.


“Hah, baru beberapa tegukan, sudah menyerah” ledek Alfhonso sambil tertawa ringan.


Tiba-tiba ponsel Alfhonso berdering, ternyata dari ayahnya Leopard. Alfhonso mengangkatnya dan menjawab.


“Sayang, Leo memintaku menemuinya sekarang, dia belum sampai ke bandara. Aku akan pergi sebentar saja, kau tidurlah dulu” Alfhosno mengecup kening istrinya dengan lembut.


“Ah, kepalaku, … baik, hati-hati tuan” dengan suara yang sudah mulai parau dan kepalanya yang sedikit berat, Jasmine merebahkan tubuhnya di sofa.


Di bibir pintu, Alfhonso sedikit kaget dengan kehadiran Raizon.


“Hey Rai, aku akan menemui ayahku sebentar, apa kau ada perlu denganku?” tanya Alfhonso pada Raizon.


“Ya tuan, aku ingin membicarakan tentang penjualan senjata baru kita”


“Hey!, dimana anak-anak? (anak buah)” kepala Alfhonso sedikit miring melihat ruangan yang biasanya di jaga anak buahnya, kali ini kosong.

__ADS_1


“Kata mereka anda menyuruhnya beristirahat sampai satu jam kedepan” ucap Raizon.


“Ah ya, aku lupa. Baiklah kalau begitu, aku minta tolong padamu, sementara kau yang jaga disini saja Rai, tunggu sampai aku pulang ya” Alfhonso menepuk pundak Raizon dan langsung berlalu menuju lift.


__ADS_2