MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 30 - BLACK LORD BROTHERHOOD (BLOOD)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, [ Di sebuah gedung rahasia ].


Alfhonso tengah duduk di kursi bersandaran tinggi melebihi kepalanya, berada di tengah para elit ‘BLACK LORD BROTHERHOOD’ (BLOOD), mereka adalah kumpulan para dewan elit atau dewan tertinggi para Mafia kelas atas yang berada di Negara tersebut.


Dengan adanya BLOOD, maka mereka yang termasuk anggotanya akan kebal hukum dan saling melindungi.


Dan salah satu peraturan yang paling menonjol di BLOOD adalah dilarang saling membunuh antara anggota BLOOD.


Para anggota elit BLOOD duduk melingkari sebuah meja panjang oval yang berada di tengah ruangan.


Alfhonso adalah wakil ketua BLOOD, dia adalah salah satu anggota yang sangat berpengaruh, karena kiprahnya di dalam dunia bisnis perdagangan gelap yang maju pesat, juga karena kedekatannya dengan sang ketua, Ramonev.


Anggota lain yang termasuk BLOOD adalah Carlos dan Escobar.


Desas desusnya Alfhonso akan di calonkan menjadi pemimpin selanjutnya.


Ramonev yang sudah agak tua dan sebentar lagi akan pensiun dari posisinya sebagai ketua tertinggi.


Maka Ramonev mencalonkan Alfhonso untuk menjadi penggantinya menjadi ketua tertinggi dewan elit BLOOD.


Ramonev telah mengabarkan pada seluruh anggota tentang pencalonan Alfhonso sebagai ketua selanjutnya, tetapi Alfhonso meminta waktu untuk memikirkannya, dan seolah menolak tawaran tersebut Alfhonso memberi masukan kepada Ramonev agar anggota yang lain bisa diberi kesempatan juga untuk mendapatkan peluang untuk menjadi ketua.


Akhirnya rapat ditunda sementara.


Beberapa dari anggota BLOOD banyak yang menginginkan posisi ketua, tetapi mereka sulit untuk mengajukan diri, karena pencalonan ketua itu tidaklah berdasarkan voting tapi dipilih langsung oleh ketua yang masih aktif.


Di rapat tersebut juga di bahas tentang telah tewasnya salah satu anggota BLOOD , yang kasusnya belum terselesaikan, dan pembunuhnya belum di ketemukan.


Alfhonso sedikit tegang dengan kabar tersebut, karena dialah yang telah membunuh pria tersebut dan mayatnya telah di buang.


Ketika rapat telah selesai. Mereka keluar ruangan untuk beristirahat.


Di balkon teras gedung tersebut, Alfhonso menyalakan rokoknya dan disampingnya Raizon yang lengannya bersender pada tiang balkon.


“Kenapa tuan seolah menolak jika di calonkan menjadi ketua BLOOD?, apa karena pembunuhan yang kemarin?” tanya Raizon pada tuannya yang juga bertumpu pada tiang balkon menatap pemandangan kota dari atas gedung.


“Bukan karena pembunuhan itu Rai. Aku ada keinginan berhenti menjadi mafia, aku ingin hidup normal seperti kebanyakan orang..yang bisa mencintai dan memiliki keluarga” kalimat Alfhonso diiringi hempasan asap tipis yang keluar dari bibirnya.


“Bukankah sekarangpun tuan bisa mencintai seseorang dan juga berkeluarga tanpa harus berhenti menjadi mafia?” tanya Raizon.


“Tidak, aku tidak ingin memiliki keluarga yang selalu kubawa dalam bahaya”


“Lalu, apa yang akan tuan lakukan? Apa tuan akan hidup dengan berdagang atau apa?” tanya Raizon kembali.


“Yah, mungkin saja..mungkin aku membuka toko roti” ujar Alfhonso.


“Membuka toko roti?” Raizon mengerutkan kening sambil menahan senyumnya.


“Hey, apa salahnya membuka toko roti” ucap Alfhonso yang melihat wajah Raizon yang kebingungan setengah ingin tertawa.

__ADS_1


Ditengah perbincangan mereka…


“Alfhonso…kenapa kau berpura-pura tidak menerima tawaran tuan Ramonev..” tiba-tiba suara dari arah belakang mereka membuat kedua menoleh kearah suara.


‘Carlos..’ gumam Alfhonso dengan perasaan yang panas di batinnya.


“Berpura-pura apa maksudmu?” ucap Alfhonso kemudian mengalihkan pandangannya kearah pemandangan bawah gedung sambil menghisap rokoknya.


“Semua menginginkan jabatan itu Alfhonso, tapi tiba-tiba kau dengan rendah hati menolaknya..” jawab Carlos yang kemudian berdiri di samping Alfhonso bertumpu pada tiang balkon.


Carlos kemudian menyalakan rokoknya, dan tak lama kemudian menghembuskan asap tipis dari sela bibirnya.


“Jika kau mau jabatan itu, ambillah olehmu, aku tak rakus menginginkannya..” ujar Alfhonso ketus.


Alfhonso memberi isyarat kepada Raizon agar Raizon pergi dan ia berbicara empat mata dengan Carlos.


Akhirnya Raizon berlalu pergi dari mereka.


“Akupun tak menginginkan jabatan itu..” ujar Carlos.


“Apa maumu Carlos. Kenapa kau selalu ikut campur urusanku?. Aku tidak pernah menginginkan posisi apapun di BLOOD” ucap Alfhonso.


“Aku tidak mencampuri urusanmu Alfhonso, aku hanya…yaahh..mungkin sedikit menagih hutangku padamu..” ucap Carlos masih dengan kepulan asap rokoknya.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Alfhonso.


“Hmm,…Aku ingin kau memberiku,..seorang mata-mata yang kau punya” ucapan Carlos spontan membuat Alfhonso menoleh cepat.


“Mata-mata milikku tak sehebat punyamu..” jawab Carlos santai.


“Baiklah…, kau boleh pilih antara Rayo dan Bron, mereka adalah mata-mata terbaikku” ucap Alfhonso.


“Sepertinya kau memiliki mata-mata lain yang lebih hebat, em.., kalau aku tidak salah..namanya Jasmine, yah..Jasmine..aku pilih yang satu itu saja, bagaimana?”


Alfhonso spontan meraup kerah atas kemeja Carlos, dengan mata yang tajam dan tatapan membunuh yang kuat…


“Kau sentuh dia, kau mati ditanganku!" ancam Alfhonso.


“Hey…hey, tenang kawan, kenapa kau harus marah seperti ini?, bukankah dia hanya pekerjamu?, dia juga mata-matamu bukan?, lalu apa bedanya dengan yang lain?” ucap Carlos sambil merentangkan tangannya.


“Kau jangan mempermainkanku Carlos..” Alfhonso melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Carlos dengan kasar.


“Ada apa dengan gadis itu?, apa dia kekasihmu?, kenapa kau sangat perduli dengannya?” tanya Carlos sambil merapihkan kerah kemejanya.


“Itu bukan urusanmu!” jawab Alfhonso ketus sambil bertumpu lagi pada tiang balkon dan menghisap rokoknya.


Kini wajah Alfhonso terlihat sangat kesal.


“Jadi?...kau belum membayar hutangmu?” ucap Carlos.

__ADS_1


“Brengsek kau Carlos!, lupakanlah tentang mata-mata, aku akan membayar hutangku dengan cara lain!”


Alfhonso berbalik badan dan membuang sisa rokoknya kelantai dan menginjaknya, kemudian berlalu pergi dari hadapan Carlos.


Dua hari kemudian, [ Di apartemen Alhoso ].


Jasmine menelfon Alfhonso, ia meminta izin untuk menemui bibinya di pedesaan di luar kota.


Sudah beberapa hari ini bibinya terus menelfon Jasmine untuk datang menemuinya.


“Dimana desa bibimu?” tanya Alfhonso di balik telpon.


“Di desa Harlev, di sebelah selatan kota Lizberg” jawab Jasmine.


“Apa adikmu ikut?”


“Tidak tuan, adikku belum ada waktu libur”


“Berapa lama kau akan kesana?”


“Aku belum tahu, bahkan aku belum tahu kenapa bibi menyuruhku kesana”


“Baiklah, kapan kita akan kesana?” ucap Alfhonso.


“Kita?” tanya Jasmine.


“Ya, kita, kau dan aku…”


“Tapi tuan, bukankah anda memiliki pekerjaan yang banyak?, aku tidak apa pergi sendiri kesana tuan, aku tidak mau mengganggu peker-..”


“Kau pergi bersamaku! Atau kau tidak pergi sama sekali!” ucap Alfhonso penuh ancaman.


Jasmine terdiam sejenak…


“Jasmine!, haloo!!..” ucap Alfhonso agak keras.


“Ya,..ya tuan..baiklah, kita kesana berdua..” jawab gadis itu sedikit terpaksa.


“Kapan kita berangkat?”


“Besok tuan..pagi-pagi pukul tujuh aku sudah siap”


“Oke besok aku jemput!..tuuuuuuutt…”


Alfhonso menutup telfon dengan sepihak. Jasmine masih memandangi handphone di tangannya.


‘Tuan Alfhonso akan ikut?’..gumamnya dalam batin Jasmine.


Kemudian Alfhonso menghubungi Raizon untuk menyiapkan mobil.

__ADS_1


Pria itu juga menelfon Ramonev untuk meminta izin cuti selama beberapa hari.


__ADS_2