
Spontan mata Meggy membulat, seolah kaget degan penjelasan Alfhonso.
“Ada apa Meggy?” tanya pria itu.
“Ahh, tidak, tidak apa tuan..” ucap Meggy seperti menyembunyikan sesuatu.
Dua pekan setelah liburan Alfhonso di bungalau. Pria itu kembali ke aktifitasnya. Kini ia lebih sibuk dari biasanya, karena sekarang ia adalah ketua BLOOD.
Di apartemen Alfhonso,
Alfhonso, Jasmine dan Bony sedang berdiskusi ringan, tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar membuat mereka menghentikan obrolannya.
Jasmine berdiri dari duduknya dan melihat dari celah lubang mata.
“Anak buah anda tuan” ujar Jasmine seraya menoleh pada Alfhonso.
“Apa ada seseorang yang bersamanya?” tanya Alfhonso.
“Ya ada, seorang wanita” ucap Jasmine
“Biar aku lihat” Alfhonso juga bangkit dari duduknya, dan melangkah ke arah pintu.
“Meggy?” ucapnya perlahan ketika melihat seorang wanita di depan pintu apartemennya.
Kemudia Alfhonso membuka pintu tersebut.
“Tuan, ada yang mencari anda” ujar anak buah Alfhonso.
“Hmm, kau boleh kembali” ujar Alfhonso pada anak buahnya.
“Halo Meggy, apa kabarmu?” sapa Alfhonso pada Meggy yang masih di depan pintu.
“Baik tuan Alfhonso, apa aku boleh mampir?” tanya wanita itu dengan dress ungu tua yang anggun.
“Silahkan masuk” ajak Alfhonso.
Meggy melangkah perlahan kedalam ruang apartemen, matanya berkeliling melihat sisi ruangan yang luas.
Kemudian pandangannya terpaku pada Jasmine dan Bony, tetapi tiba-tiba…
“M-ma..mama?!”…mata Bony membulat, dan tersirat kemarahan di binar matanya.
Alfhonso dan Jasmine saling melempar pandang.
“Mama?” gumam mereka bersamaan.
Meggy seolah memfokuskan pandangannya pada raut Bony, dan terlihat wajahnya yang mulai tegang.
“Bony?, apa kau Bony anakku?” tanya Meggy seraya menghampiri Bony yang berdiri kaku tak bergeming.
__ADS_1
Tetapi Bony spontan menghindari wanita itu ketika ingin memeluknya.
“Bony, apakah Meggy adalah mamamu?” tanya Alfhonso melihat kearah pemuda yang tengah kebingungan itu.
“Ya Bos, aku tidak akan pernah lupa dengan wajah wanita ini, yang telah meninggalkanku sendirian di panti asuhan!” tukas Bony seolah menyimpan dendam.
“Bony,…apakah itu benar kau nak?, ternyata bear dugaanku, anak angkat tuan Alfhonso adalah Bony anakku. Bony..maafkan mama, mama tidak bermaksud meninggalkanmu” wanita itu maju ingin memeluk anaknya yang sudah puluhan tahun tidak ditemuinya.
Tapi Bony lagi-lagi menghindar.
“Tidak!, aku tidak ingin memiliki mama sepertimu!” hardik Bony kemudian membuka pintu dan berdiri di bibir pintu.
“Sebaiknya kau keluar sekarang Meggy!!, aku tidak sudi memiliki ibu sepertimu!”
“Bony!!” bentak Jasmine pada pemuda itu.
“Biar bagaimanapun dia adalah mamamu..” ucap Jasmine kesal dengan kelakuan Bony terhadap ibunya.
“Kau tidak pernah tahu betapa menyakitkan memiliki ibu seperti dia!, sebaiknya kau pergi sekarang!” bentak Bony lagi pada Meggy.
“Hey, sopanlah sedikit pada ibumu!, dasar bodoh!” Alfhonso memukul kepala Bony dari belakang.
“Tuan, sebaiknya aku pergi saja,…entah aku harus bahagia atau sedih, tapi selama ini aku memang mencari anakku Bony, tetapi ternyata dia tak menginginkan ibunya sendiri..” dengan isak tangis Meggy keluar pintu dan berlalu pergi.
Jasmine buru-buru mengejar Meggy, kemudian Jasmine berbicara agak lama dengan wanita itu di luar ruangan.
Beberapa saat kemudian, Jasmine kembali kedalam, dan pintu ditutup, sementara Meggy masih duduk di sofa luar dan masih di lantai yang sama.
“Hmm, Bony apa kau tidak bisa memaafkan mamamu?” tanya Alfhonso pada Bony.
“Tidak!” jawab Bony tegas.
“Baiklah, kalau begitu mari kita bunuh saja dia, dengan cara apa kira-kira kita menyingkirkannya?” ucap Alfhonso yang membuat mata Jasmine mendadak membulat.
“Tuan!!” pekik Jasmine mendengar kalimat Alfhonso.
“Apa kau serius Bos?, bagaimana kalau kita tembak kepalanya dengan pistol peredam? Itu tidak akan terlalu mencolok” ucap Bony seolah bukan perkara berat.
“Jangan, itu terlalu sadis, biar bagaimanapun dia ibumu, bagaimana jika kita racuni dengan racun mematikan?” Alfhonso menyarankan ide gilanya.
“Tapi itu perlu waktu lama Bos, kalau kita cekik saja bagaimana?” ucap Bony semakin gila.
Jasmine yang mendengar keduanya berbicara, langsung menepuk keningnya dan menggeleng.
“Kenapa kalian menjadi seperti psikopat begini…?!” ucap Jasmine yang langsung membuka pintu dan keluar.
“Hey!, Jasmine..kenapa kau keluar?!” pekik Alfhonso yang tidak dapat mencegahnya.
“Bos, apa kau serius mau membunuh mamaku?” ucap Bony.
__ADS_1
“Ya, sepertinya itu memang ide yang gila. Seharusnya kau cegah aku tadi ketika merencanakan ide gila itu! Dasar anak tidak berguna!, kenapa kau justru menyetujui ide gila untuk membunuh ibumu sendiri!” Alfhonso lagi-lagi memukul kepala Bony, hingga Bony merunduk.
“Hey!, aku hanya bercanda tadi Bos..” sangkal Bony.
Tak lama berselang, Jasmine membawa Meggy masuk.
“A-..kenapa kau membawa dia masuk lagi..” ujar Bony melihat kedua wanita itu di bibir pintu.
“Bony, tolonglah beri kesempatan nyonya Meggy berbicara padamu, jika dia telah selesai, dia berjanji akan pergi, tapi tolong dengarkan dulu penjelasannya..kumohon Bony..” ucap Jasmine yang kemudian menggandeng Alfhonso keluar ruangan dan menutup pintunya.
Bony dan Meggy akhirnya berbicara berdua di dalam ruangan, mereka saling berdebat, saling menjelaskan, saling menangis, saling memahami dan akhirnya berpelukan, melepas rindu antara ibu dan anak yang telah puluhan tahun tak bertemu.
Sementara Alfhonso dan Jasmine yang berada di luar ruangan, saling diam dan sesekali menatap.
Jasmine beranjak menghampiri jendela besar yang ada di sisi dinding. Wanita itu berdiri melihat pemandangan di luar sana.
Alfhonso menatapnya dari sofa, ia menatap sosok indah yang sangat damai, di terpa kilauan cahaya dari luar jendela.
Ketika Bony dan Meggy keluar ruangan, Alfhonso dan Jasmine menghampiri keduanya.
Meggy mendekati Jasmine dan kedua wanita itu saling berbicara.
“Jadi bagaimana?, cekik atau peredam?” bisik Alfhonso pada Bony.
“Hah, kau memang psikopat Bos..aku sudah memaafkannya” ujar Bony.
“Bukankah tadi kau berpikiran sama denganku..” ucap Alfhonso sambil merangkul leher Bony.
Akhirnya mereka berempat berbincang di ruang apartemen. Jasmine menawarkan pekerjaan kepada Meggy sebagai penjaga toko roti miliknya, Alfhonso dan Bony menyetujuinya.
Beberapa hari berlalu, kini Jasmine lebih tenang karena toko roti miliknya lebih cocok di jaga oleh Meggy ketimbang anak buah Alfhonso.
Toko roti Jasmine mulai berkembang dan ramai pembeli. Jasmine telah merekrut beberapa karyawan wanita untuk bekerja disana.
Anak buah Alfhonso kini hanya sebagai security penjaga di luar toko.
Sesekali Alfhonso mengunjungi toko roti Jasmine di sela-sela kesibukannya sebagai pemegang beberapa perusahaan sekaligus posisinya sebagai ketua BLOOD.
Di toko roti Jamine, di sela kegiatannya membuat adonan roti, Alfhonso menelpon Jasmine yang tengah bergelut dengan tepung.
“Ya tuan, ada apa?” tanya Jasmine di load speaker, sambil menganduk adonan.
“Apa kau ada waktu sabtu besok?. Di alun-alun akan ada perayaan, katamu hari sabtu ini Chiko libur, bagaimana kalau kita ajak dia berjalan-jalan?”
...*****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... support author yah, gampang kok...dengan memberi Like, komen dan Vote'nya ya......
...Dukungan kalian ...
__ADS_1
...sangat berarti buat Author...
...Terimakasih......