
Akhirnya mereka sampai di pedesaan yang asri. Mereka turun dari mobil dan menghirup udara yang segar.
“Boren, kau cari penginapan, tiga kamar” perintah Alfhonso.
“Baik tuan” ucap Boren
“Tuan, kita bisa melihat pemandangan yang indah dari atas sana tuan. Apa kau masih sanggup berlari tuan?, ayo kita balapan” ajak Jasmine semangat.
“Kau yang akan kalah” ujar Alfhonso yang sudah memasang ancang-ancang untuk berlari.
“Siap, satu … dua … tiga …!”
Mereka berdua berlomba lari menuju bukit yang sangat asri.
Sampai akhirnya mereka tiba di atas bukit.
Alfhonso dengan nafas tersengal ternyata tidak bisa mengalahkan Jasmine. Pria itu membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di lututnya.
“Aah, … kau curang, hitungan ketiga kau sudah lari terlebih dahulu” ucap Alfhonso tidak mau merasa kalah.
“Hahahah … curang apanya tuan, kau yang sudah mulai gendut, coba lihat badanmu” Jasmine yang juga terlihat lelah langsung duduk di rerumputan hijau yang bersih.
“Gendut?, perutku atletis begini” Alhfonso akhirnya juga duduk di rerumputan dengan nafas masih tersengal-sengal.
Mereka akhirnya duduk di atas rerumputan pendek dan bersih yang masih segar. Mereka bisa melihat area pedesaan dari atas sana.
Suasana yang sangat damai, sejuk dan sangat berbeda dari hiruk pikuk kota.
“Aku selalu memimpikan memiliki rumah di daerah seperti ini, memliki keluarga dan hidup damai. Tidak perlu banyak harta, tetapi hidup dalam ketenangan” ucap Jasmine yang membuat Alfhonso spontan menoleh kearah gadis itu.
“Kau ingin hidup disini?” tanya pria yang tengah berkeringat itu.
“Ya”
“Hmm, sepertinya bagus juga, Ah!, aku tahu!… aku akan membeli tanah disini, ya sepertinya disini adalah lahan yang pas!” Alfhonso menjentikkan jarinya seolah menerima ide di kepalanya.
“Ada apa tuan?, apa anda mau membangun rumah disini?” tanya Jasmine penuh harap.
“Tidak, aku akan membangun sebuah gudang senjata di area sana, kau lihat … disana luas dan sepi, yah! Pas sekali. Jauh dari keramaian dan tidak akan tercium oleh musuh-musuh busukku” Alfhonso menunjuk sebuah area yang cukup luas dan agak sepi.
“Tuan! Kenapa anda berfikir yang tidak-tidak sih!” Jasmine mendorong pundak pria itu hingga doyong dan hampir oleng.
“Hey, itu adalah ide yang brilian” sanggah Alfhonso.
Tak terasa sore menjelang, dan mereka harus mencari tempat penginapan.
“Andai saja liburan kita ke tempat yang biasa aku kunjungi, mungkin kita tak perlu sulit untuk mencari penginapan” gerutu Alfhonso.
“Bukankah kemarin anda yang mengizinkan untuk berlibur kesini?”
“Hmm, yah..” Alfhonso melihat Boren yang sedari tadi duduk di mobil.
__ADS_1
“Boren, bagaimana penginapannya? Sudah dapat?” tanya Alfhonso.
“Itu tuan, aku sudah berkeliling mencari penginapan, tapi sepertinya kita harus ke kota” ucap supir pribadi Alfhonso.
“Ke kota?, kenapa?”
“Karena, itu … disini kita tidak bisa menginap, maksudku-” Boren belum sempat menuntaskan kalimatnya.
“Akh!, kau ini disuruh mencari penginapan saja tidak beres. Cari penginapan sekarang!” Alfhonso dengan buru-buru masuk ke mobil diiringi Jasmine dan Boren.
Mereka tiba di sebuah penginapan mewah yang ada di desa tersebut.
Alfhonso memasuki ruang loby penginapan tersebut.
“Selamat sore tuan, ada yang bisa kubantu?” seorang resepsionis menyapa ramah Alfhonso.
“Aku ingin bermalam disini, aku pesan tiga kamar paling besar” ucap Alfhonso.
“Maaf tuan, apa anda adalah pasangan suami istri?” tanya si resepsionis yang membuat alis tebal Alfhonso menaut.
“Suami istri? Um, bukan, maksudku … belum “ Alfhonso sempat menoleh kearah Jasmine.
“Kami mohon maaf tuan, tapi di sekitar desa ini penginapan hanya diperbolehkan untuk yang berstatus keluarga atau suami istri tuan. Jika tuan ingin mencari penginapan yang biasa dan bisa menerima pasangan yang belum berstatus suami istri, anda bisa pergi ke kota, tidak terlalu jauh dari sini tuan” jelas pria di depan Alfhonso.
“Apa-apaan peraturan seperti itu” geram Alfhonso.
“Maaf tuan, tetapi peraturan itu memang sudah ada sejak lama, dan diberlakukan oleh pemerintah setempat. Jika anda memang suami istri maka kami akan mencarikan kamar untuk anda”
“Jadi, apa kita akan ke kota tuan?” tanya Jasmine.
Tetapi Alfhonso hanya diam, seolah ada sesuatu yang dipikirkannya.
“Tuan?, bagaimana?” ulang Jasmine memastikan.
“Ayo!” Alfhonso menarik tangan Jasmine keluar pintu loby penginapan tersebut.
“Kita akan ke kota tuan?” Jasmine ingin jawaban yang pasti.
Alfhonso memandang Jasmine dengan raut wajah aneh.
“Tidak!, kita pulang” Alfhonso langsung melangkah ke mobilnya, membuat Jasmine dan Boren saling melempar pandang.
“Pulang?” ulang Jasmine penuh keheranan.
Jasmine mengejar Alfhonso hingga ke mobil.
“Tuan?, kenapa kita pulang?” tanya Jasmine dengan perasaan sedikit kecewa.
Lagi-lagi Alfhonso tidak langsung menjawab gadis itu, tetapi Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Leo, bisakah kau pulang lusa nanti?” ucap Alfhonso sambil menelpon.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya ayahnya di sebrang telpon.
“Aku akan menikah”
Seolah tersambar petir, ucapan Alfhonso, membuat jantung Jasmine seolah berhenti.
Mata gadis itu membulat dan mulut mungilnya menganga mendengar kalimat pria di sebelahnya.
Boren juga sempat menoleh kearah tuannya di belakang, mendengar kalimat yang mencengangkan tersebut.
Alfhonso mengakhiri telponnya setelah penerima telpon di sebrang sana juga terkejut dengan berita dadakan tersebut.
“T-tuan, anda mau menikah?, dengan siapa?!” tanya Jasmine dengan wajah masih menyiratkan kebingungan yang sangat.
Alfhonso menatap wajah Jasmine dengan intens.
“Kau pikir siapa lagi wanita yang akan kunikahi?, ya denganmu” ucap Alfhonso ringan.
“Tapi, kau belum mendiskusikannya denganku, maksudku, kau tidak mengatakan apapun sebelumnya tuan” Jasmine seolah tidak mengerti jalan pikiran Alfhonso.
“Boren!, hentikan mobilnya” perintah Alfhonso pada Boren, yang membuat supir tersebut mendadak menginjak rem.
“Ini baru akan ku katakan padamu. Baiklah, ehm!. Jasmine …, maukah kau menikah denganku dan menjadi istriku?” ucap Alfhosno sambil menghadap ke gadis yang tengah dalam kebingungan.
Jasmine belum menjawab, tapi dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan terdengar suara isak tangis dari sela jemarinya.
“Jasmine, kau tidak apa-apa?” tanya Alfhonso.
Jasmine membuka wajahnya, ia mengusap air bening yang terus mengalir dari matanya.
“Tuan!, kau sangat tidak bisa ditebak. Apa-apaan kau melamarku di dalam mobil dan mendadak seperti ini” Jasmine memukul Alfhonso tidak beraturan.
Alfhonso pasrah, diam dan membiarkan gadis itu memukulinya.
Beberapa saat kemudian, Jasmine berhenti memukul, ia terlihat lebih siap, dan menghadap mantab kearah pria di depannya, kemudian ia mengusap air matanya.
“Apa kau sudah puas mengeluarkan emosimu?” tanya Alfhonso sambil menahan sedikit nyeri akibat pukulan Jasmine.
“Maafkan aku tuan” ucap gadis itu.
“Jadi bagaimana jawabanmu?” kepala Alfhonso sedikit merunduk menatap wajah Jasmine dengan dalam.
Jasmine menghirup nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan.
“Iya tuan, aku bersedia menikah denganmu” dengan diiringi senyuman, gadis itu menerima lamaran Alfhonso.
Senyuman Alfhonso menyiratkan kepuasan. Pria itu mengecup kening Jasmine.
Tanpa sadar Boren yang diam-diam tersenyum sendiri dan menyaksikan hal tersebut dari kaca spion depan mobil, di tegur oleh tuannya.
“Ehm!, kau akan punya nyonya Boren” ucap Alfhonso.
__ADS_1
“Selamat tuan” sahut Boren dengan senyuman dan langsung melajukan mobilnya kembali.