MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 22 - Reondess


__ADS_3

Pria itu memeluk tubuh lembut gadis itu, semakin ia dekap dan ia merasakan gelora yang membuncah.


Semakin lama, pria itu semakin menikmatinya. Tangannya terus menjalar menjelajahi lekuk tubuh Jasmine.


Gadis itupun larut dalam belaian tuannya yang gagah.


Alfhonso sangat menikmati setiap inchi tubuh Jasmine.


Tetapi tiba-tiba…


Tok..tok..tok…


Suara ketuka pintu samar-samar terdengar oleh keduanya.


“Arrggh!!, siapa yang berani mengganggu kesenanganku!, sial!" Alfhonso menghentikan gerakannya sebentar, kemudian tidak memperdulikan ketukan pintu diluar sana.


Pria itu melanjutkan pergerakannya di dekapan Jasmine, ia kembali menikmati bibir merekah gadis itu dan sentuhannya ke tubuh Jasmine.


Tok! Tok! Tok!..


Lagi-lagi ketukan pintu yang kini lebih keras membuyarkan kenikmatan yang sedang merasuki Alfhonso.


“Akh! Sialan!!" seolah Alfhonso sangat terganggu, ia mengeluarkan pistol dari balik mantelnya.


“Tuan!, mau apa kau dengan senjata itu?, sudahlah tuan, barangkali seseorang sedang mencarimu, turunkan senjata itu..” Jasmine menggenggam pistol di jemari Alfhonso dan menurunkannya.


“Aku menginginkan kau seperti ini diranjangku…" Alfhonso mengecup lagi dengan cepat bibir Jasmine dan pria itu keluar dari sana dengan mantel dan celana yang basah.


“Siapa orang bodoh yang mengetuk pintu!!, dasar bodoh!!, bodoh!!"


Dari dalam kamar mandi, terdengar samar-samar suara Alfhonso terus saja mengumpat seseorang yang mengetuk, namun pria itu tetap membukakan pintu untuk tamunya.


Samar-samar pula tersengar suara Raizon yang terdengar cemas bertanya kepada Alfhonso.


Alfhonso justru memarahi Raizon dengan makian, dan terdengar pintu di tutup dengan kasar.


Jasmine menyembulkan sedikit kepalanya dari pintu kamar mandi. kimono mandi dibalutkan ditubuhnya kemudian Jasmine keluar dari kamar mandi dengan rasa yang mulai tumbuh pada pria yang baru saja menghampirinya.


Dua hari berlalu.


Alfhonso belum menemui Jasmine lagi semenjak itu. Alfhonso terlalu sibuk dengan urusannya.


Tetapi pria itu tidak lupa memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di lantai 21 apartemennya.

__ADS_1


Jasmine dilarang keluar oleh Alfhonso untuk sementara waktu.


Jika gadis itu menginginkan sesuatu, ia bisa menelpon anak buah Alfhonso untuk membelikannya atau mengantarnya.


Akhirnya Jasmine di beri tugas oleh Alfhonso di dalam apartemen untuk merapihkan agenda jadwalnya yang selalu padat dan berantakan.


[ Di kediaman Alfhonso, di mansionnya ]


Alfhonso berendam agak lama di bathtub-nya sambil sebelah tangannya memegang minuman beralkohol, dan sebelah tangan yang lain menjuntai keluar dari bathtub sambil jemarinya memegang sebatang rokok.


Kepalanya bersender pada ujung bathtub dan wajahnya menengadah keatas.


Pria itu terus membayangkan saat-saat bersama Jasmine kemarin lusa.


Ia membayangkan tubuh Jasmine yang indah, bibirnya yang lembut dan saat ia berciuman dengan gadis itu, semua terbayang di fikirannya saat ini.


Pria itu tersenyum sendiri, dan sesekali meminum minuman yang ada di tangannya, dan sesekali menghisap rokok.


Kenapa perasaan sedahsyat itu tidak ia jumpai di wanita-wanita lain yang sering ia kencani, entah perasaan apa yang sedang menggelayut di hatinya.


Akhirnya Alfhonso memutuskan untuk berlibur di hari itu. Ia berniat mengajak Jasmine berjalan-jalan.


Pria itu mengambil handphonenya ingin menghubungi Jasmin, tetapi justru ia mendapat pesan dari seseorang dengan nomer yang ia tak ingin membukanya.


Di atas kotak pesan tersebut, terdapat sebuah nama yang ia tidak sukai


- Reondess-


‘Sial!, mau apa lagi kau Reon..’ gerutu Alfhonso di batinnya.


Alfhonso langsung melihat jam di handphonnya, pukul 9 : 15. Pria itu segera bernjak dari kamar mandi dan langsung bersiap-siap menuju gudang selatan.


Sedan Lincoln hitam diikuti beberapa mobil sedan hitam lainnya beriringan menuju ketempat yang diminta oleh Reondess.


Mereka turun dari mobil, dan menuju ke dalam gudang tempat persembunyian Reondess.


Mereka di sambut anak buah Reondess yang berpakaian hitam dan memegang senapan, dan mereka di antar ketempat Reondess berada.


Di dalam gudang yang lumayan besar, agak redup mereka berjalan menyusuri lorong yang di samping kiri kanannya banyak peti kayu berisi senjata dan barang gelap lainnya.


Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang paling terang.


Di sana tengah duduk seorang pria berwajah dingin dengan garis wajah tegas dan rambut berwarna hitam.

__ADS_1


Reondess duduk di belakang meja kayu, dan di depannya ada kursi kosong di dekat Alfhonso.


“Alfhonso adikku…duduklah..” sambut Reondess yang ternyata adalah kakak tiri Alfhonso, yang juga seorang mafia.


Alfhonso kemudian menarik bangku yang berada disana dan duduk dengan perlahan.


Dibelakang Alfhonso anak buahnya termasuk Raizo berdiri dengan senjata yang dipegangnya masing-masing.


“Ada apa memanggilku?” Alfhonso yang duduk dengan kaki menyilang mengeluarkan cerutu dari dalam sakunya dan mulai menyalakannya. Kepulan asap menyembul dari mulutnya.


“Alfhonso…apa kau tidak tahu kesalahanmu? Hah?" tanya Reondess dengan wajah tegas.


“Tidak" jawab Alfhonso santai sambil mengepulkan lagi asap cerutunya.


“Yah, kau memang di ciptakan bodoh. Kenapa kau ingin bekerjasama dengan Gillbert? Apa kau tidak tahu siapa dia?" ujar Reondess.


“Aku tidak pernah berniat bekerjasama dengan orang bodoh seperti dia. Lagipula dia yang mendatangiku, aku belum memutuskan apa-apa, tiba-tiba kau menyuruh wanita ****** itu untuk membunuhnya. Apa kau kecewa si Gillbert bodoh itu tidak terbunuh? Justru suruhanmu yang tewas, hah…” Alfhonso menaikan sudut bibirnya.


“Sialan kau!, aku tahu ada yang membocorkan rencana itu" ujar Reondess.


“Apa hanya untuk masalah si bodoh Gillbert kau memanggilku?" ucap Alfhonso.


“Tentu saja bukan. Alfhonso, apa bisa kita lupakan sementara perselisihan yang terjadi diantara kita. Aku ingin meminta bantuanmu kali ini" ucap Reondess.


“Huuffftt…, apa ini ada kaitannya dengan uang?" ucap Alfhonso sambil menghembuskan asap tebal dari hisapan cerutunya.


“Ternyata kau sudah paham Alf..” ujar Reondess.


“Kau perlu berapa?, lalu apa masalah yang kau hadapi?"


“Tidak terlalu banyak, hanya lima ribu dollar saja…ini masalah hutangku dengan Carlos" Reondess mulai menyalakan rokoknya yang telah ia ambil dari sakunya.


“Carlos?!, apa kau mempunyai hutang dengan bajingan itu Reon?!" Alfhonso terlihat kaget bercampur marah.


“Ya…begitulah"


“Akh! Dasar bodoh!, sudah berapa kali kuperingatkan jangan berurusan dengan bajingan itu!"


Alfhonso agak memukul meja dengan telapak tangannya.


“Hey, aku akan mengurus masalahku secepatnya, jika kau beri aku pinjaman itu aku akan segera membayarnya, maka urusanku selesai" ujar Reondess.


“Tidak semudah itu, Apa kau tahu!, Dia sudah mendatangi apartemenku!" ujar Alfhonso dengan suara sedikit meninggi.

__ADS_1


“Mungkin dia hanya mencarimu untuk menyampaikan bahwa aku memiliki hutang padanya, karena kau adikku" ujar Reondess.


__ADS_2