MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 27 - Perkelahian


__ADS_3

“Kau bajingan sialan!!, apa kau mau mati ditanganku?!!”


“Alfhonso??!!” pekik Reondess yang tak mengira adiknya akan datang secepat itu.


“Berdiri kau bajingan!” perintah Alfhonso yang masih menodongkan senjatanya ke arah kakak tirinya.


Dengan perlahan Reondess berdiri dan menoleh menghadap Alfhonso.


“Al, dengar dulu-…”


DZIGH!!…


Alfhonso memukul dengan keras wajah Reondess hingga tersungkur ke lantai dan hidungnya mengeluarkan darah.


Tetapi Reondess cepat berdiri dan mulai mendekati Alfhonso.


“Alfhonso, kenapa kau marah seperti ini?, bukankah gadis itu hanya sekretarismu?!”


Alfhonso memukul lagi wajah Reondess dengan ujung pistolnya tanpa menjawab.


“Sial!” pekik Reondess yang merasakan darah keluar dari bibirnya.


Reondess akhirnya terbawa emosi juga dan mulai melangkah membalas dan memukul Alfhonso.


Kemudian kedua pria itu bertarung di dalam apartemen.


Kedua pria itu sangat kuat, dan dengan tangan kosong tanpa senjata mereka saling memukul, saling bergelut, dan berdarah-darah.


Dengan sangat geram Alfhonso memukul dengan keras berkali-kali wajah Reondess, tetapi Reondess tidak tinggal diam, ia membalas pukulan adiknya hingga Alfhonso tersungkur.


Keduanya duduk di lantai dengan keadaan yang kacau dan seolah kehabisan tenaga.


Dengan nafas keduanya yang tersengal, mata mereka melirik kearah senjatanya masing-masing.


Hingga akhirnya seolah adu kecepatan, keduanya mengambil senjatanya masing-masing dan menodongkan pistolnya kearah lawannya.


Reondess menodongkan pistolnya kearah Alfhonso, juga sebaliknya.


Hammer pistol mereka sudah akan ditarik masing-masing.


Melihat kedua pria itu menodongkan pistolnya, Jasmine yang juga telah hampir kehabisan tenaga, turun dengan cepat dari sofa dan sedikit berlari mendekati Alfhonso kemudian memeluk Alfhonso yang berada duduk di lantai.


“Jangan tembak tuan Alfhonso!!” ujar Jasmine agak keras.


“Jasmine..” ucap Alfhonso.


Kini Alfhonso dihalangi tubuh Jasmine yang berada di dada pria itu.


Tangan sebelah Alfhonso memeluk tubuh Jasmine di dadanya, dan tangan sebelah lagi masih menodongkan pistol kearah Reondess.


“Kenapa kau selalu merenggut semua milikku Reondess!” ujar Alfhonso masih menodongkan pistolnya.

__ADS_1


“Bukankah gadis itu bukan siapa-siapamu?, kenapa kau begitu membelanya?,kau sudah memiliki Shelenna bukan?!” ujar Reondess yang juga menodongkan pistolnya kearah Alfhonso dengan nafas tersengal-sengal.


“Shelenna bukan siapa-siapa!!, aku bahkan tidak menyukainya!!, tetapi Jasmine…aku tidak rela siapapun menyentuhnya!!, KAU MENGERTI BAJINGAN!!, Kau bahkan ingin merenggut kesuciannya!! DASAR BAJINGAN!! BANG**T KAU!!”


Dengan sangat marah Alfhonso menekan pelatuk pistolnya dan menembakkan peluru beberapa kali kearah dinding di belakang Reondess.


Reondess menunduk dan tertimpa beberapa serpihan tembok yang jatuh menimpa kepalanya akibat tembakan Alfhonso.


“Andai saja kau bukan kakakku, sudah kulubangi kepalamu!!” hardik Alfhonso geram.


“KELUAR KAU SEKARANG BAJINGAN!!” usir Alfhonso dengan mata tajam menahan amarahnya.


Reondess akhirnya berdiri dan tanpa mengucapkan satu katapun, ia meraih kemejanya di lantai kemudian keluar pintu dan menutupnya dengan keras.


Alfonso memeluk Jasmine dengan erat, dengan pistol masih di genggamannya.


Gadis itu menangis di dada Alfhonso.


“Bajingan itu belum menyentuh milikmu kan?” tanya Alfhonso lembut.


Beberapa saat kemudian, Jasmine bangun dari pelukan Alfhonso dan menatap wajah pria itu.


“Belum…terimakasih tuan…” jawab Jasmine.


Telapak tangan Jasmine mengusap wajah Alfhonso yang sedikit luka dan mengeluarkan darah.


Gadis itu mengusap dan membersihkan darah di wajah Alfhonso dengan usapan jemarinya yang lentik.


Wajah keduanya sangat dekat. Alfhonso menatap dalam-dalam mata indah milik Jasmine. Kemudian Jasmine mendekap lagi di dada pria itu.


Beberapa jam setelah kejadian itu, Alfhonso memanggil beberapa anak buahnya yang menjaga lantai kamar apartemennya.


Di luar kamar apartemen, Alfhonso duduk di sofa berlapis kulit yang berada di tengah lantai 21 yang luas tersebut.


“Dasar bodoh kalian!!. Kenapa kalian tidak bergiliran menjaga lantai ini hah!!!”


Semua anak buah Alfhonso menunduk mendengar kemarahan tuan mereka.


“Aku tidak mau melihat lagi lantai ini kosong tanpa penjagaan!!, kalian bisa bergiliran untuk makan siang!!, kenapa hal kecil seperti ini saja harus diajari!!, dasar kalian tikus-tikus bodoh!!”


Suara bentakkan Alfhonso terdengar hingga ke kamar apartemen dan didengar oleh Jasmine.


Besok paginya,


Ketika para anak buah Alfhonso berjaga di lantai itu, Jasmine keluar kamar apartemen dan memberi beberapa anak buah Alfhonso pizza lengkap dengan colla dingin yang ia pesan.


“Nona, apa tidak apa-apa nona memberi kami makanan?, nanti tuan Alfhonso marah lagi?” ujar salah satu anak buah Alfhonso yang sedang berjaga.


“Tidak apa, makanlah..nanti aku belikan juga untuk yang berjaga sore hari..” ujar Jasmine sambil menyibakan senyumnya yang manis.


Kemudian gadis itu menutup kembali pintu kamarnya.

__ADS_1


Dua pekan berlalu,


Di sore hari, udara terasa sejuk bekas hujan yang tadi mengguyur, tetapi suasana tegang justru menyelimuti beberapa orang di sekitar bawah jembatan.


Alfhonso berdiri di tanah yang becek dengan anak buah di belakangnya.


Tangannya di bentangkan kedepan sedikit kebawah dengan genggaman pistol revolver mengarah pada seseorang di hadapannya yang tengah berlutut.


“Tuan, kumohon jangan tembak!, aku hanya suruhan..aku bisa jelaskan semuanya…” ujar pria yang tengah berlutut yang kakinya tergenang becekan air bercampur tanah.


“Kau tetap harus mati!, siapa atasanmu?!”


“Tolong jangan bunuh aku tuan,..aku hanya disuruh, aku masihn ing-..”


DAR!!!...


Sebuah tembakan melesat di tanah samping pria yang berlutut, hingga pria itu merengut menurunkan punggungnya karena kerasnya suara tembakan.


“Cepat katakan saja siapa yang menyuruhmu!” ujar Alfhonso penuh amarah.


“I-iya tuan aku akan katakan, tapi kumuhon setelah itu biarkan aku perg-..”


DAR!!!...


Lagi-lagi tembakan dari Alfhonso melesatkan pelurunya ke tanah di samping posisi pria di depan Alfhonso.


“Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya!, siapa bajingan yang menyuruhmu?!” mata tajam Alfhonso seolah menyiratkan kemarahan dan ketidaksabaran.


“Shelenna…,nona Shelenna..” ucap pria yang ketakutan tadi.


Ucapan pria itu membuat Alfhonso mengertukan keningnya, ia seolah tak percaya dengan nama yang di ucapkan pria itu.


‘Shelenna…’ gumam Alfhonso dibatinnya sendiri.


“Apa tuan Esobar ikut andil dalam masalah ini?!” tanya Alfhonso.


“Y-yang aku tahu, tidak tuan, tuan Escobar tidak tahu apa-apa mengenai rencana nona Shelenna” jawab pria itu masih dengan tubuh gemetar.


Alfhonso menurunkan senjatanya, membuat si pria yang berlutut menghela nafas lega.


Tetapi ketika tubuh Alfhonso ingin membalik…


DAR!!...


Sebuah tembakan persis di kepala pria berlutut itu membuat si pria seketika itu juga terjerembab ke tanah rubuh kedepan, dengan genangan darah di bawah wajahnya yang berada di tanah becek dan kini bercampur merahnya darah.


“Bawa mayat itu!” perintah Alfhonso pada anak buahnya.


Alfhonso berlalu, diikuti para pria berjas dan berkacamata hitam dengan senapan masing-masing ,yang mengiring di belakangnya.


Pria itu kemudian menaiki mobil hitamnya menuju kediaman Escobar.

__ADS_1


[ Di kediaman Ecsobar ]


“Apa?!!, tunggu dulu Alfhonso, aku bersumpah tidak mengetahui hal ini. Apa benar yang kau katakana itu?!, apa mungkin putriku Shelenna mengkhianatimu?!”


__ADS_2