MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 11- Tangan Kanan


__ADS_3

Siang menebar, panas sedikit terasa di kota itu.


Alfhonso kembali ke apartemennya menjemput Jasmine yang sudah siap dengan pakaian sederhananya, gadis itu memakai rok panjang berwarna cream dengan kemeja baby doll berwarna peach, terlihat sederhana dan cantik.


“Tuan, maaf aku tidak memiliki pakaian yang layak, yang paling bagus yang aku punya hanya ini"


Jasmine menoleh kearah pakaiannya.


“Kau masih terlihat cantik dengan pakaian itu" ujar Alfhonso sedikit tersenyum dengan sudut bibirnya.


Akhirnya mereka menuruni lantai apartemen, sesampainya di bawah seperti biasa para pria berjas hitam lengkap dengan kacamata hitam menunggu untuk memberi hormat pada Alfhonso yang kini berjalan di ikuti Jasmine di belakangnya.


Sebuah mobil Limousine Klassen hitam telah terparkir gagah di depan pintu masuk apartemen.


“Tuan, ini terlalu mewah..aku tak terbiasa mena-..”


“Sudahlah, masuk saja!" Alfhonso agak mendorong tubuh Jasmin untuk masuk ke limousinenya yang panjang.


Di dalam mobil limo, terdapat fasilitas untuk orang papan atas sekelas Alfhonso.


Sofa panjang berwarna coklat tua yang mewah terlalu lebar untuk di duduki dua orang saja.


Rak minuman dengan botol-botol Kristal tersedia lengkap dengan gelas cantiknya.


Lampu gantung yang berkilauan menambah glamor ruang dekorasi mobil mewah tersebut.


Mata Jasmine tidak hentinya mengeliling menyaksikan kemewahan ruang mobil yang ia masuki.


Akhirnya Limo milik Alfhonso berjalan meninggalkan apartemen, dan diikuti beberapa mobil sedan hitam di belakangnya.


“Mau minum?" tanya Alfhonso yang sudah duduk dengan kaki menyilang di samping Jasmine sambil menuang sebuah botol minuman beralkohol ke gelas Kristal.


“Ah, tidak tuan, aku tidak minum yang seperti itu" ucap Jasmine.


“Tapi disini tidak ada air putih, kau harus menunggu sampai kita tiba di mansionku”


“Ya tuan, tidak apa" ujar Jasmine sedikit canggung dengan status mereka yang begitu jauh.


Sesampainya di mansion milik Alfhonso, pintu pagar otomatis terbuka lebar, dan dari dalam Jasmine melihat sebuah istana megah, besar, benar-benar mewah.


Bahkan dalam mimpipun Jasmine tidak mampu membayangkan rumah besar semewah itu.


Mainson milik Alfhonso dua kali lebih besar dari milik Roger yang tewas kemarin.


Di halaman depan yang sangat luas, terdapat kolam air mancur yang indah dengan hiasan ala eropa, dan rumput hijau yang rapih di kanan dan kirinya.


Jasmine tidak dapat berkata-kata lagi, ia semakin ciut dengan posisinya saat itu.


Mobil limousine berhenti di bawah pelataran teras.

__ADS_1


Tiba di depan pintu masuk, sebuah tangga besar menyodorkan kemegahan bangunan milik pria berwibawa tersebut.


Mereka keluar dari mobil, dan Jasmine terus menatap kemegahan bangunan tersebut.


“Ayo masuk" ujar pria berwibawa dengan mantel hitam panjangnya memasuki pintu masuk yang sangat besar.


Lagi-lagi Jasmine di buat ternganga dengan besarnya ruang dalam dan dekorasi yang layaknya istana kerajaan di depan matanya.


“Duduklah" ujar Alfhonso kemudian pria itu membuka mantel dan jas hitamnya.


Jasmine duduk dengan perlahan dan hati-hati di sofa super mewah berwarna abu tua, seolah ia adalah gadis desa lugu yang berada di sebuah istana megah.


Ketika Alfhonso mulai duduk di sofa yang sama, pria itu mendapat sebuah telpon dari seseorang.


“Hey, Rai…bagaimana pekerjaanmu?, dimana kau sekarang?" Alfhonso menjawab telpon sambil bersender pada sandaran sofa.


“Semua beres tuan,..aku sudah di dekat mansionmu, sebentar lagi aku sampai disana" ujar suara dari balik telpon.


“Baiklah, aku tunggu kau disini" Alfhonso menutup telponnya.


Tak lama berselang seorang pelayan dengan seragam pelayannya menyuguhkan segelas air putih dan beberapa sirup dan juga limun di hadapan mereka.


“Minumlah, kau tinggal pilih yang kau suka Jasmine" ucap Alfhonso sambil mulai menyalakan rokoknya.


“Baik tuan..” dengan sedikit masih canggung Jasmine memilih air putih di hadapannya.


“Apa kau mau tinggal disini?" tanya Alfhonso di sela kepulan asap tipis dari sela bibirnya.


“Sewa?" Alfhonso mengerutkan keningnya.


“Ah, maksudku mungkin kamar apartemen yang kau beli..” Jasmine terlihat kikuk dengan kalimatnya.


“Hahaha..Apartemen itu milikku Jasmine, mereka yang tinggal disana yang menyewa dan membayar padaku" pria itu sedikit tertawa kecil menjelaskan.


Jasmine hanya mengangguk menahan malu, dan tak tahu lagi harus mengatakan apa.


“Sepertinya aku tak pantas berada disini tuan" ucap Jasmine tidak percaya diri.


“Kenapa kau berfikir seperti itu?" tanya Alfhonso masih menikmati rokoknya.


“Karena aku terlalu berbeda jauh dari keadaanmu tuan..”


“Hahaaha…, kau pantas berada di sini dan berada di dekatku Jasmine..” ucap Alfhonso.


Tak lama berselang, seorang bawahan Alfhonso datang dan memberitahu tentang kedatangan Raizon yang sudah berada di bibir pintu.


“Hey Rai, selamat datang kembali..” Alfhonso buru-buru berdiri dan menyambut pria tampan yang juga gagah dengan badan tinggi besar, tegap dan kokoh.


“Duduklah,..minumlah dulu, lalu kabarkan padaku bagaimana hasil pekerjaanmu?" ucap Alfhonso sambil mempersilahkan pria bernama Raizon itu duduk.

__ADS_1


“Terimakasih tuan, semua sudah beres" pria berbadan tegap yang baru datang itu duduk dan meminum segelas minuman beralkohol yang dituang Alfhonso.


“Kapan kau sampai?" tanya Alfhonso.


“Tadi pagi tuan, dan aku langsung menuju kesini" ucap Raizon yang sempat melirik kearah gadis yang tengah duduk di dekat Alfhonso.


“Ya, ya..baiklah. Lalu bagaimana dengan hasilnya? Apa bisa kita berbisnis disana?" ucap Alfhonso.


“Ya tuan, semua sudah kuatur, Ini berkas barang yang akan kita jual, dan ini daftar harganya" Raizon menyerahkan sebuah tablet kepada Alfhonso, dan Alfhonso hanya mengangguk seolah menyetujui sesuatu yang diperlihatkan Raizon.


“Baik, kerja bagus Rai..sekarang kau bisa bekerja di sampingku lagi. Ohya kenalkan..ini Jasmine mata-mata kita yang baru" Alfhonso memperkenalkan Jasmine kepada Raizon.


“Mata-mata?" ujar Raizon pelan.


“Jasmine, dia Raizon..tangan kananku" ucap Alfhonso memperkenalkan Raizon.


“Raizon..” pria berperawakan gagah itu memperkenalkan diri dan melihat kearah Jasmine.


“Aku Jasmine" senyuman Jasmine dan wajah cantiknya membuat konsentrasi Raizon agak membuyar.


Pria itu beberapa saat menatap kecantikan sempurna di depannya.


“Ehm!, jadi kalian sudah berkenalan, sekarang saatnya bekerja kembali" deheman Alfhonso membuyarkan tatapan Raizon ke Jasmine.


“Mari Rai kita lanjutkan pekerjaan di ruang kerjaku" Alfhonso bangkit dari duduknya dan merangkul Raizon yang juga telah berdiri.


Kedua pria itu agak berbisik dan menjauh dari Jasmine yang masih duduk manis di sofa.


“Ehm, Rai, aku tahu arti tatapanmu pada Jasmine, kau berani sentuh dia, urusanmu denganku..aku harap kau paham bukan?..” dengan sedikit berbisik, Alfhonso masih merangkul Raizon menuju ruang kerja.


“Hey tuan, apa kau pernah lihat aku mengganggu wanitamu selama ini?" jawab Raizon.


“Dia berbeda dengan wanita lain yang pernah ku kenal" ucap Alfhonso sedikit berbisik kemudian menepuk pundak Raizon.


“Baiklah Rai, kau tunggu dulu di ruanganku" Alfhonso kembali menghampiri Jasmine.


“Jasmine, maaf aku tidak bisa mengantarmu, tapi kau bisa pulang diantar Boren “ ujar Alfhonso.


“Ya tuan, tidak apa..” ucap Jasmine sambil berdiri dari duduknya dan melangkah kearah luar.


“Boren!!" teriak Alfhonso memanggil anak buahnya.


Seorang pria berbadan gempal berjas hitam melangkah agak cepat kearah tuannya.


“Ya tuan..” ucap pria bernama Boren agak menunduk.


“Kau antar nona Jasmine ke apartemenku, pastikan dia baik-baik saja" ujar Alfhonso membuat Jasmine sedikit terkejut dengan kalimat terakhir pria itu.


“Baik tuan, mari nona..” ucap Boren.

__ADS_1


Dan Jasmine termenung di dalam sedan mewah dengan keterkejutan yang semakin hari semakin ia dapatkan.


__ADS_2