
“Baiklah kami akan segera kedepan” dengan sigap beberapa anak buah Alfhonso ke ruang depan dan berpura-pura merapihkan bangku dan kursi yang sedikit berantakan.
KLINING….
Suara bel kecil di atas pintu masuk toko berkeling menandakan seseorang memasuki pintu.
“Selamat pagi tuan, maaf tapi toko kami belum buka, mungkin sekitar sepuluh menit lagi kami akan buka..” Meggy sedikit menunduk dengan kedua tangannya menyatu di depan.
“Ya nyonya, kami tau..di pintu, papan tandanya masih terbaca ‘Tutup’..tapi apa boleh kami menunggu di dalam hingga toko ini buka?” suara berat pria paruh baya tersebut menandakan kewibawaan yang tinggi.
“Ah,..ya..tentu saja tuan. Silahkan duduk di kursi sebelah sana tuan jika anda mau menunggu” ucap Meggy sopan sambil menunjukan kursi di dekat jendela toko.
“Hmm, terimakasih nyonya” ujar pria itu.
Kemudian pria berambut klimis tadi duduk dengan wibawa di kursi dengan beberapa anak buahnya yang berdiri di dekatnya.
“Mungkin anda mau minum tuan?” tanya Meggy.
“Ah, tidak perlu merepotkan, aku hanya ingin bertemu dengan pemilik toko ini, apa bisa?” ujar pria tadi membuat Meggy merasa ragu dan canggung.
“Um, anda ingin bertemu dengan pemilik-..tapi…,maaf tuan apa bisa anda menunggu sebentar” ucap Meggy yang kemudian beranjak ke dapur.
Di dapur Meggy cepat-cepat menutup pintu, kemudian seolah di kejar hantu, wanita itu tersengal menghela nafas.
“Ada apa nyonya Meggy?” tanya Jasmine serius sambil memegang pundak Meggy.
“Pria tadi ingin bertemu denganmu Jasmine..bagaimana ini?, apa kau harus keluar atau bagaimana?, atau coba kau hubungi tuan Alfhonso dulu..” ucap Meggy panik.
“Baiklah, coba aku temui dulu dan bertanya apa maksud kedatangannya” ucap Jasmine yang sudah agak tenang dari Meggy.
“Apa kau yakin akan menemuinya Jasmine?” tanya Meggy.
Jasmine mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi sepertinya dia bukan pria sembarangan..” ucap Meggy.
“Tenanglah nyonya, semua akan baik-baik saja..” ucap Jasmine yang kemudian beranjak keluar dari dapur.
Di ruang tempat pria tadi duduk, Jasmine tersenyum dan menyapa pria itu dengan sopan.
__ADS_1
“Selamat pagi tuan, maaf tuan toko kami masih tutup dan memang buka pukul 9:00” ucap Jasmine.
“Ah, anda pemilik toko ini nona?” pria itu berdiri dari duduknya kemudian menundukkan wajahnya sedikit.
“Boleh aku bicara sebentar dengan anda nona..” ujar pria tadi.
“Ya, baiklah tuan, apa ada yang bisa ku bantu?” Jasmine duduk di depan pria tadi dan mereka di halangi meja kecil.
Di tempat yang berbeda,
Alfhonso menemui Ramonev di kediamannya. Mereka berdiskusi di ruangan yang agak tertutup.
“Alfhonso, kau harus lebih hati-hati karena akhir-akhir ini ada berita tentang kelompok mafia dari luar negeri yang sudah mengambil alih sebagian wilayah mafia di berbagai negara, termasuk di negara kita. Beberapa wilayah yang mereka incar adalah wilayah perdagangan obat-obatan, wilayah perjudian, dan wilayah persenjataan. Dan wilayah kita ini adalah subur dengan perdagangan senjatanya, maka mereka sangat menginginkannya” jelas Ramonev serius.
“Siapa kelompok mafia ini tuan?” tanya Alfhonso.
“Mereka adalah kelompok mafia sekaligus Yakuza dari wilayah Kanzo. Pemimpin mereka sangat berbahaya, dia bernama Kazito Osamu. Ia ditakuti dan disegani oleh para lawannya”
“Ah ya, aku pernah mendengarnya…” ucap Alfhonso.
“Apa kau tahu Alfhonso, mengapa para Yakuza melilit perut mereka dengan kain putih?” tanya Ramonev.
“Ya, kira-kira seperti itulah, dan Kazito pernah tertembus katana miliknya sendiri ketika bertarung dengan seorang mafia besar, mafia itu tidak menggunakan pistolnya, tetapi ia menggunakan senjata lawannya untuk menyerang, dan luka di perut Kazito yang dibelakang lilitan kain putihnya, kabarnya membuat ia dendam dengan si mafia lawannya ini, dan mafia ini adalah satu-satunya orang yang mampu melukai Kazito. Kau tau siapa mafia yang berhasil menusukkan katana ke perut Kazito?” tanya Ramonev kembali.
Alfhonso hanya menggeleng..
“Dia adalah Leo, Leo si Iblis bertongkat,..karena dia tidak pernah lepas dari tongkatnya”
“Leo Iblis bertongkat? Bukankah itu hanya legenda tuan?, apa dia benar-benar ada?” tanya Alfhonso sambil menautkan alisnya.
“Dia nyata Alfhonso, dia adalah mafia besar yang sangat di hormati di seluruh negara. Kiprahnya dan pengalamannya sudah tidak diragukan lagi, termasuk kekejamannya…”
“Apa dia seangkatan denganmu tuan Ramonev?”
“Tidak, bahkan dia lebih muda dariku, tetapi karena dia telah melanglang buana ke seluruh negara, dan pengalamannya yang sangat hebat maka dia jauh diatasku dari segi apapun. Seluruh mafia besar mengenalnya dan menghormatinya, kecuali Kazito, Kazito merasa dia yang berkuasa atas seluruh wilayah, maka Kazito menyatakan perang dengannya, dan hasilnya Kazito kalah telak. Kini ketika nama Leo tidak terdengar lagi, Kazito mulai berulah dan kembali membuat masalah dengan mengambil wilayah para mafia di berbagai negara” jelas Ramonev yang membuat Alfhonso terdiam mendengar penjelasan pria di depannya.
“Lalu, dimana Leo sekarang tuan Ramonev?”
“Aku mendapat kabar dari anak buahnya yang juga sahabatku, katanya dia akan menuju ke negara ini secepatnya, karena wilayah kita yang belum dan akan di rebut oleh Kazito, maka Leo akan datang untuk membantu kita”
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu, kita bisa bergabung dengan legenda mafia yang tersohor itu, bukankah itu suatu keberuntungan tuan Ramonev?” Alfhonso menyibakkan senyumnya seolah senang dengan kabar tentang Leo, sang mafia legenda.
“Hmm, yah, kau betul…persiapkanlah dirimu, karena bulan-bulan ini mungkin kita akan sibuk Alfhonso..”
Akhirnya mereka berbincang hingga hari akan petang.
Di mobil Mercedess hitamnya, Alfhonso mendapat telpon dari Jasmine, pria itu langsung mengangkatnya.
“Hai, ada apa?, rindu padaku?” ucap Alfhonso diselingin tawa kecilnya.
“Tuan, seriuslah sedikit,..aku ingin menyampaikan, tadi ada seorang pria yang ke toko, sepertinya seorang mafia besar seperti anda, dia menyampaikan padaku…kalau,..kalau aku…” suara Jasmine tak dilanjutkan.
“Kenapa Jasmine? Katakan padaku ada apa?, siapa yang mendatangimu?” spontan suara Alfhonso berubah serius.
“Kalau aku, harus menjauh darimu tuan…” ucap Jasmine membuat Alfhonso sedikit panik.
“Jasmine, tunggu aku di apartemen, aku akan segera kesana” ucap Alfhonso setengah cemas dan panik.
Di lantai bawah apartemen, Alfhonso cepat-cepat menuju lift untuk naik ke lantai 21, tetapi tiba-tiba Bony berlari dari kejauhan dan langsung ikut masuk kedalam lift.
“Hey! Bos…ajak aku!!, sendirian saja kau..” teriak Bony yang langsung masuk kedalam lift bersama Alfhonso.
“Hah, anak bodoh ini lagi..dari mana kau?” ucap Alfhonso ketika melihat kehadiran Bony.
“Dari luar lift Bos, dan sekarang sudah di dalam lift…” canda Bony yang menyeringai dan menghindar ketika Alfhonso mencoba memukul kepalanya.
“Bon, sepertinya kita akan sibuk kedepannya…akan ada musuh yang mungkin menyerang kita..” ujar Alfhonso.
“Wah, bukankah itu akan seru Bos…” lagi-lagi Bony menanggapi Alfhonso dengan candaan.
“Kenapa kau tidak pernah bisa serius!! dasar bocah!” kali ini pukulan Alfhonso berhasil mengenai belakang kepala Bony.
“Kenapa kau selalu mengincar kepalaku sih Bos!” protes Bony.
“Apa kau ingin aku mengincar ini?!” Alfhonso menendang menggunakan lututnya tepat di tengah antara paha Bony.
“Ugh!!…B-bos..kau..”
Bony menunduk menahan sedikit sakit dan meringis, kedua lengannya memegang ‘sesuatu miliknya’ yang terasa nyeri diantara pahanya.
__ADS_1
Akhirnya Lift terbuka, dan mereka keluar. Alfhonso cepat-cepat menemui Jasmine.