
Raizon yang belum sempat mengatakan apa-apa, hanya melihat tuannya hilang di balik pintu lift yang sudah tertutup.
Raizon melihat celah pintu apartemen yang tidak tertutup rapat, ia beranjak akan menutupnya, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Jasmine yang seperti mengerang kesakitan.
Dengan tanpa pikir panjang Raizon yang tadinya akan menunggu diluar dan menutup pintu ruangan, justru masuk kedalam karena suara Jasmine yang seolah membutuhkan bantuan.
“Nyonya?, ada apa?!, apa anda baik-baik saja?” tanya Raizon mulai masuk kedalam ruangan.
Raizon melihat Jasmine yang tengah terbaring di sofa dengan alis wanita itu yang mengerut keras menandakan ia sedang menahan sakit.
Raizon mendekati Jasmine dan membangunkannya.
“Nyonya?, apa kau sakit?” tanya Raizon yang sudah berlutut di depan wanita itu.
“Akh, kepalaku … “ Jasmine menatap Raizon.
“Tuan, kau sudah kembali lagi?, hey, jangan paksa aku untuk meminumnya lagi, tapi itu lumayan enak…” ucap Jasmine seolah aneh terlihat Raizon.
Jasmine dengan kelakuannya yang sedikit berbeda dari biasanya meraih kerah kemeja Raizon.
“Tuan, mendekatlah … apa kau tidak rindu istrimu?” ucap Jasmine mengacau.
“Nyonya, kau bau alkohol!” spontan Raizon menoleh kearah meja, benar dugaannya, wanita itu tengah mabuk karena meminum anggur dari tuannya.
Tiba-tiba saja kemeja Raizon ditarik paksa oleh Jasmine dan mendekat kearahnya. Raizon serba salah dan jantungnya bergedup kencang.
Tenggorokan pria itu bergerak seolah ada sesuatu yang tertelan.
“N-nyonya, anda sedang mabuk …” ucap Raizon sambil memperhatikan wajah cantik Jasmine.
“Aku tidak mabuk tuan Alfhonso, aku hanya sakit kepala” dengan tawa kecil Jasmine terus mendekat kearah Raizon.
Raizon melihat pakaian bagian bawah istri tuannya yang tersibak, terlihat paha Jasmine yang putih mulus. Raizon tidak sanggup lagi menahan hasratnya.
Pria itu bukan menghindar, tetapi justru mendekati Jasmine. Ia tak perduli dengan aroma alkohol dari sela bibir Jasmine.
Raizon seolah telah kehilangan akal sehatnya. Ia mendekati wajah Jasmine, dan karena di bawah pengaruh alkohol, Jasmine-pun menyambut Raizon dengan sedikit liar.
Pria itu memegang pipi Jasmine, ia berhasil menyentuhnya dan dengan perasaan yang selama ini tertahan, matanya memandang mata Jasmine dengan intens.
Wajah mereka semakin mendekat. Bibir Raizon akhirnya bertemu dengan bibir Jasmine. Hasrat Raizon semakin meninggi. Pria itu terus menikmati kesempatan tersebut.
Keduanya terpaut dalam pelukan yang tak semestinya. Raizon menuangkan rasa cintanya pada wanita itu. Hingga akhirnya pria itu tersadar ketika tangannya tak sengaja menjelajah terlalu jauh.
Raizon menarik bibirnya dari bibir Jasmine, dan menarik tangannya yang tanpa sadar sudah berada di paha Jasmine. Pria itu menunduk, dan menjauh.
“Ada apa tuan Alfhonso?, tidak biasanya kau menghindar?” ucap Jasmine yang masih terpengaruh alkohol.
“Maaf nyonya” Raizon langsung berdiri dan beranjak dari sofa.
“Tuan Alfhonso!, mau kemana?!” teriakan Jasmine tak di gubris oleh Raizon.
__ADS_1
Pria itu buru-buru keluar ruangan dan menelpon bawahannya agar berjaga di depan ruangan.
Di bawah apartemen, Raizon menyadari sesuatu dan ia langsung menghubungi Bony.
“Bon, apa di apartemen tuan Alfhons dipasang kamera pengawas?” tanya Raizon sedikit khawatir.
“Di apartemen? Ya disana dipasang kamera pengawas, memangnya ada apa tuan Rai?” tanya Bony di sebrang telpon.
“Dimana kau sekarang Bon?” Raizon belum menjawab pertanyaan Bony.
“Di rumah”
“Baik, tunggu aku disana!”
Di kediaman Bony,
“Apa kau gila tuan Rai?!, ini bunuh diri namanya jika tuan Alfhonso tahu” ujar Bony ketika melihat rekaman kamera pengawas di ruang apartemen Afhonso dari layar laptopnya.
“Maka dari itu, kau tidak akan membuat tuan kita tahu kan?!, tolong aku kali ini Bon, apa kau bisa menghapus riwayat rekaman itu?” tanya Raizon yang juga tengah menatap layar laptop milik Bony.
“Itu bisa diatur tuan Rai, tapi itu juga tidak gratis” ucap Bony sambil menatap wajah Raizon penuh misteri.
“Maksudmu?, kau meminta imbalan? Berapa?”
“Bukan uang tuan asisten, tapi aku hanya minta tolong padamu, untuk membantuku medekati seorang wanita”
Raizon spontan terbahak dengan menutup mulutnya dengan lengan.
“Baiklah, rekaman ini sangat mudah aku kirim ke nomer ponsel tuan Alfhonso” geram Bony.
“Hei, hei, … baiklah maaf, apakau sedang jatuh cinta bocah?” tanya Raizon.
“Ya, sama sepertimu tuan ‘sabotase!’ ” ucap Bony geram.
“Hey, jangan sembarangan ngomong kau!” Raizon dengan tawa yang masih menyisa memukul pelan kepala Bony dari belakang.
“Baik, akan kubantu kau, walaupun aku juga belum pernah mendekati seorang wanitapun” ucap Raizon.
“Baik, nanti aku beritahu gadis itu” ucap Bony.
Di apartemen Alfonso.
“Rai!, dimana kau?, kenapa tidak menjaga lantaiku?” ucap Alfhonso di telpon ketika tidak melihat Raizon disana.
“Maaf tuan, ada yang harus kuurus sebentar, tapi aku menyuruh bawahanku untuk berjaga disana” ucap Raizon.
“Hm, yasudahlah!”
Alfhonso measuki ruang apartemen.
Afhonso masih mendapati Jasmine yang tengah tidur di sofa. Pria itu menyentuh pipinya, kemudian Jasmine bangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Ah tuan, kau sudah kembali … “ ucap Jasmine pelan yang memegang kepalanya dan bangkit dari berbaringnya.
“Apa kepalamu masih berat?, maaf aku memaksamu untuk minum” Alfhonso duduk di sofa bersebelahan dengan istrinya.
“Ah ya tuan sudah lumayan membaik. Tuan, tadi aku bermimpi, kau datang dan menciumku, menyetuh pahaku, tapi setelah itu kau pergi begitu saja” bibir Jasmine mencibik menandakan sedikit kesal.
“Hahaa, benarkah?, baiklah, mari kita realisasikan kelanjutan mimpimu” ujar Alfhonso kemudian mendekati istrinya.
Satu tahun kemudian,
Alfhonso dan Jasmine telah memiliki rumah di pedesaan, mereka juga memiliki pabrik roti dan beberapa perkebunan juga ladang.
Masyarakat di desa sangat senang dengan kehadiran mereka, karena Jasmine dan Alfhonso yang ramah dan sering berbagi dengan penduduk desa, hingga mereka disukai dan sangat diterima disana.
Jasmine dan Alfhonso telah memiliki seorang putra yang tampan, bayi itu baru berusia tiga bulan.
Alfhonso baru merasakan kehidupan yang sempurna, damai dan ternyata inilah kehidupan yang ia cari selama ini.
“Sayang, sepertinya kau kerepotan mengurus semua sendiri, bagaimana jika kita cari seorang pelayan atau pengasuh?” ucap Alfhonso yang melihat Jasmine sambil menimang si kecil.
“Tidak apa tuan, aku baik-baik saja” ujar Jasmine.
“Tapi di bawah matamu hitam, berarti kau kelelahan. Baik, aku akan hubungi Megy untuk mengurusnya”
“Bukankah kita sudah memiliki pelayan tuan?”
“Tapi pelayan hanya menangani masalah rumah, aku tidak ingin kau lelah mengurusi Ryon kecil” ucap Alfhonso sambil mencium buah hatinya.
“Tapi tuan aku ra- …”
“Kau tidak usah menolak, aku akan hubungi Megy sekarang”
Dua hari kemudian, Bel dirumah mereka berbunyi.
Jasmine membuka pintu, pria penjaga atau anak buah Alfhono memberitahu kedatangan seorang wanita di depan rumahnya, dan ia mengaku pengasuh yang diminta Megy untuk datang kesana.
“Baiklah, persilahkan dia masuk” ucap Jasmine kepada penjaga.
Dari arah halaman melangkah seorang wanita yang mendekat kearah Jasmine. Akhirnya di depan pintu masuk utama, berdiri seorang wanita cantik berpakaian sederhana. Ia tersenyum ramah dan sedikit menundukan kepalanya melihat kearah Jasmine.
“Selamat pagi nyonya, apa ini rumah tuan Alfhonso?, aku Ruby, pengasuh yang diminta nyonya Megy”
...*******...
...*Untuk para riders yang baik hati. Maaf atas keterlambatan up nya. ...
...Selamat menjalankan ibadah puasa yah bagi yg menjalankannya*... ...
...Oiya, untuk bulan ini author akan up episode tanpa adegan "ehem-ehem", karena akan memasuki bulan suci Ramadhan. ...
...Jangan lupa like, komen, n vote'nya ya kk. terimakasih. ...
__ADS_1