MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 51 - Dia Leopard


__ADS_3

Di dalam ruang apartemen,


“Hai nona Jasmine!, apa kau punya kudapan?,…baiklah..aku akan cari sendiri..” Bony bertanya dan menjawab sendiri tanpa menunggu suara dari Jasmine.


Jasmine hanya tersenyum sambil menggeleng.


“Bagaimana ciri-ciri pria itu Jasmine?, lalu kenapa dia menyuruhmu untuk menjauh dariku?” tanya Alfhonso penasaran.


Bony sedari tadi mencari makanan ringan untuk kudapan, dan ia menemukan setoples biskuit rasa vanila di meja makan.


“Dia berbadan agak gempal, berambut klimis dan berwibawa, juga memakai tongkat..” jelas Jasmine.


“Memakai tongkat?” alis Alfhonso mengerut.


“Iya, dan masalah pria itu menyuruhku untuk menjauhi anda, katanya itu adalah sebuah peringatan saja tuan, karena jika aku masih di dekat anda, maka aku akan menjadi penghalang dan bisa-bisa aku tercebur dalam masalah, karena anda selalu dikelilingi oleh bahaya dan kegelapan”


“Hah?, beraninya orang itu mengatakan seperti itu…tapi siapa dia sebenarnya..”


“Ah ya, Bony!, apa kau bisa mengambil gambar kamera CCTV dari toko, aku ingin melihatnya..” Alfhonso menoleh spontan kearah Bony.


“Siap Bos, sebentar aku sambungkan laptopku dulu..” sambil masih mengunyah kudapan biskuit, Bony meletakkan laptopnya di atas meja.


“Sudah tersambung, ini rekamannya Bos…” Bony membiarkan Alfhonso melihat layar laptopnya, sementara pemuda itu beranjak dari sofa dan menuju ke dapur untuk mengambil gelas.


“Hah?!, Orang itu,..dia…” mata Alfhonso yang pekat tiba-tiba membulat, wajahnya sangat menyiratkan keterkejutan, mulutnya sedikit menganga sambil terus memandangi wajah pria yang sempat bertemu Jasmine.


Melihat reaksi Alfhonso yang aneh, Jasmine justru memandang wajah Alfhonso dengan alis menaut.


“Siapa dia tuan?, apa kau mengenalnya?” tanya Jasmine tanpa mendapat jawaban dari pria yang masih terheran dengan penampakan rekaman pria di layar laptop.


Bony menghampiri mereka berdua, dan langsung menatap layar laptop kemudian agak membungkuk melihat dengan teliti wajah pria di layar sambil masih mengambil lagi kudapan lain.


“Siapa om-om gemuk itu Bos?, apa kau mengenalnya?” tanya Bony yang lebih santai dari Jasmine sambil mengunyah makanannya.


“Leo…,dia..,ini tidak mungkin,…” Alfhonso masih terbingung dengan apa yang dilihatnya sendiri.


“Bon, kirim gambarnya ke handphone-ku sekarang!” perintah Alfhonso.


“Aku harus menemui tuan Ramonev. Jasmine sementara kau disini dulu dan jangan keluar, kunci pintu, jangan biarkan siapapun masuk..” Alfhonso buru-buru meraih handphone-nya dan akan menghubungi Ramonev.


“Hey Bos, kau belum menjawab pertanyaan kami, siapa om-om gendut klimis itu?” Bony kembali bertanya.

__ADS_1


Sambil melangkah melewati Bony dan hendak menuju ke pintu, Alfhonso menjawab dengan datar…


“Dia ayahku..”


Bony hampir tersedak mendengar kalimat Alfhonso barusan.


Bony dan Jasmine spontan membulatkan mata mereka dan saling melempar pandang dan sama-sama menganga terkejut.


“Apa kau bilang Bos?”…tapi Alfhonso keburu keluar pintu tanpa berkata apa-apa lagi.


“D-dia ayah tuan Alfhonso?” ucap Jasmine masih menatap Bony dengan keheranan.


“Yah, dunia ini memang penuh dengan kejutan nona…” akhirnya Bony bisa kembali tenang, tetapi tidak dengan Jasmine yang masih tidak percaya.


Di tempat yang berbeda,


Alfhonso menemui Ramonev di sebuah gedung mewah milik Ramonev. Mereka berbicara di balkon lantai 30 gedung tersebut.


Mereka duduk di kursi di balkon teras dengan minuman dingin di depan mereka.


“Ada apa Alfhonso?, sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan?” Ramonev memulai perbincangan.


“Tuan, apa Leo sang mafia legenda yang kau sebut-sebut kemarin adalah orang ini?” Alfhonso menunjukan gambar pria di layar handphonenya kepada Ramonev.


“Dia sudah mendatangi toko roti dan bertemu dengan gadisku, tetapi ia belum bertemu denganku..”


Ramonev mengerutkan alisnya kemudian menatap serius wajah Alfhonso setelah sebelumnya memperhatikan gambar pria di handphone Alfhonso.


“Tuan, apa kau tau siapa nama panjang pria ini?” tanya Alfhonso.


“Tidak, aku hanya tahu julukannya saja..karena memang pria ini sangat misterius, tidak banyak orang yang tau tentang pribadinya” ujar Ramonev.


“Namanya adalah Leopard Garzello..,dan dia, dia adalah ayahku…” ujar Alfhonso sambil menatap Ramonev.


“Ahh!,haa?!…hahahaa…kau tidak sedang bercanda kan Alfhonso?” jawab Ramonev seolah meragukan pengakuan Alfhonso.


“Apa wajahku terlihat sedang bercanda tuan?” wajah Alfhonso memang terlihat sangat serius.


“Ah ya, maaf..tapi apa benar dia adalah ayahmu?, dari mana kau bisa yakin?, sedangkan kau ditinggal ayahmu ketika berumur tujuh tahun, apa kau masih mengingat wajahnya?” ujar Ramonev.


“Apa kau lihat tatoo kecil di lehernya tuan?, ini..tatoo bergambar siluet leopard” Alfhonso lagi-lagi memperlihatkan layar handphonenya kepada Ramonev, dan kali ini Alfhonso men-zoom gambar leher pria di layar handphone.

__ADS_1


Ramonev menelitinya dengan mata agak memincing.


“Aku ingat betul ketika sebelum dia meninggalkanku, aku sering menyalin tatoo di lehernya itu dan kugambar di buku kecilku, tetapi ketika dengan bangga ku perlihatkan padanya, dia tidak pernah perduli, bahkan dia sempat tidak melihat gambarku sama sekali, karenanya aku sangat ingat simbol tatoo itu” ucap Alfhonso berusaha mengingat masa lalunya.


“Jadi, dia benar-benar ayahmu?..” Ramonev menekankan lagi pertanyaannya.


Alfhonso hanya mengangguk dengan mata yang tajam.


Ramonev mengusap wajahnya sampai ke rambutnya. Wajahnya menandakan kebingungan bercampur kebahagiaannya yang besar.


“Aaakh!, aku tidak tahu harus berkata apa Alfhonso,…kau memiliki keberuntungan yang besar nak,…ayahmu adalah seorang legenda mafia…kau sangat beruntung..aku..aku belum bisa mempercayaianya…” ujar Ramonev.


“Tetapi aku tak merasa seberuntung itu tuan, aku tidak rindu sama sekali dengan ayahku..” ucap Alfhonso ketus.


“Simpan dulu sakit hatimu di masa lalu Alfhonso, temuilah dia, perlakukanlah layaknya ia seorang ayah” nasihat Ramonev pada Alfhonso.


“Biarlah dia yang mencariku..” lagi-lagi Alfhonso berucap seolah tidak menyukai kehadiran ayahnya di kota itu.


“Hey, kita disini membutuhkannya, dan dia kesini karena ingin membantu kita..camkan itu Alfhonso..” nasehat Ramonev lagi.


“Yah, baiklah tuan..aku akan kembali ke mansion. Kita akan rapat seluruh anggota dua hari lagi bukan?”


“Yah sampai bertemu lusa nak!…Hey!, sepertinya kau mewarisi sifat ayahmu..” ucap Ramonev yang melihat Alfhonso sudah beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.


“Sifat ayahku yang mana tuan?” Alfhonso menatap Ramonev heran.


“Sifatnya untuk menjadi pemimpin dan penjahat..” Ramonev bersender pada kursinya dan tersenyum.


Alfhonso juga tersenyum dengan sudut bibirnya…ia tidak menjawab, ia membalik tubuhnya membelakangi Ramonev sambil memberi kode dengan tangan kirinya yang terangkat tanda ia akan pamit pergi.


“Aku pergi dulu tuan…mungkin pak tua itu sedang mencariku…” ucap Alfhonso sambil berlalu.


Di mansion Alfhonso,


Sebuah Limousine putih terparkir di halaman depan mansion milik Alfhonso. Alfhonso yang turun perlahan dari Mercedess hitamnya, tanpa henti menatap limousine tersebut, dan melangkah ke dalam.


Diiringi beberapa anak buahnya yang langsung berada di belakangnya, ia mencari keberadaan si pemilik limousine di depan tadi.


“Siapa yang datang?” tanya Alfhonso pada salah satu anak buahnya.


“Dia,…dia mengaku bernama Leo tuan, kami tidak mampu mencegahnya masuk kedalam…” ucap salah satu pria di samping Alfhonso, yang spontan membuat Alfhonso menoleh ke arah anak buahnya tersebut.

__ADS_1


“Leopard..” gumamnya kecil.


__ADS_2