
Dengan sangat terpaksa Raizon membukakan resleting dress Eryta. Seketika itu resleting terbuka dan tampak punggung Eryta yang putih.
Eryta langsung menghadap kearah Raizon dengan senyuman nakal sambil sedikit menurunkan pakaian di pundaknya.
“Sudah ku buka, cepat kembalikan ponselku!” ucap Raizon tidak sabar.
“Ini, ambillah sendiri!” Eryta menyembunyikan ponsel Raizon di belakang pinggangnya sambil menggenggam ponsel tersebut dengan erat.
“Ayolah nona, aku tidak bercanda,cepat kembalikan!” Raizon mencoba meraih ponselnya di belakang tubuh Eryta, tapi wanita itu terus menghindar seolah mengejek Raizon.
Sampai ketika Eryta berada di samping ranjang, Raizon mencoba meraihnya, tapi wanita itu sengaja merubuhkan dirinya keatas ranjang. Tangan Eryta dengan cepat meraih kerah kemeja Raizon, hingga pria itu juga terjatuh ke ranjang dan berada diatas tubuh Eryta.
Kedua tangan Eryta langsung melingkar di leher Raizon, dan posisi mereka sangat dekat.
Eryta hendak mencium Raizon, tapi pria itu dengan kekuatannya berhasil menghindar dan dengan cepat meraih handphonenya yang berada di bawah tubuh Eryta, kemudian Raizon cepat-cepat berdiri dan beranjak dari ranjang.
“Jadilah wanita terhormat nona!, kelakuanmu sangat tidak bermatabat! ” Raizon dengan ponsel di tangannya keluar kamar dengan geram.
“Hey!, awas kau Rai, kau akan rasakan akibatnya karena menolakku dan menghinaku!” entah apa yang di lempar wanita itu, tetapi sesuatu terdengar seperti dilempar dengan keras di iringi suara kekesalan dari dalam kamar.
Raizon berlalu ke kamar Jasmine, ia mengetuk pintu kamar Jasmine dengan buru-buru.
“Nyonya Jasmine!, ini aku Raizon” panggil Raizon dari luar kamar.
Jasmine membukakan pintunya dan menanyakan ada keperluan apa kepada Raizon.
“Tuan Alfhonso akan menelpon anda, pakailah ponselku nyonya” ucap Raizon.
“Oh baiklah, terimakasih tuan” Jasmine meraih ponsel milik Raizon.
Jasmine menunggu telpon dari Alfhonso, tetapi tidak ada telpon yang masuk sama sekali, kemudian ia meminta Raizon untuk menelpon Alfhonso, tetapi Alfhonso juga sedang tidak aktif.
Sampai waktu makan malam tiba.
Walau suasana di mansion itu sudah sedikit berubah tidak nyaman dan tidak menyenangkan, tetapi mereka tetap makan bersama di ruang makan.
Raizon ikut makan bersama mereka. Suasana kaku menyelimuti atmosfer di ruangan itu. Semua tidak banyak bicara.
“Bibi, apa bibi bisa menghubungi tuan Alfhonso?, Aku menelponnya beberapa kali menggunakan ponsel tuan Raizon, tetapi selalu tidak aktif".
“Ya, sama!, aku juga tidak bisa menghubunginya” ucap bibi Shirley ketus sambil menyuap makanannya.
Jasmine hanya menghela nafas. Ia masih penasaran dengan pencuri ponselnya, tidak mungkin ponsel itu hilang begitu saja tanpa ada yang mengambilnya. Jasmine berniat memeriksa tas bibi Shirley dan Eryta ketika ada kesempatan.
__ADS_1
Makanan Jasmine hampir habis, tetapi sesuatu sepertinya menjadi aneh …
Pandangan Jasmine berubah buram, perutnya mual, dan kini pandangannya semakin samar … redup … dan hilang …
Bibi Shirley menghampiri anak buah Alfhonso yang berada di luar, ia berbisik kepada kedua pria yang tengah berjaga di luar pintu utama.
“Hey, kalian berdua, apa kau mau uang tambahan?, bantu aku!” ajak bibi Shirley kepada kedua anak buah Alfhonso.
“Ada apa nyonya?” ucap salah satunya.
“Ayo masuk kedalam. Ingat!, tentang hal ini tidak perlu kalian beritahu siapapun, termasuk tuan kalian, mengerti!” ucap wanita paruh baya itu.
Dengan keheranan dan saling melempar pandang, kedua anak buah Alfhonso melangkah masuk kedalam mengikuti bibi Shirley.
“Tuan Raizon dan nyonya Jasmine sedang mabuk berat, kalian berdua angkat dan bawa ke kamar” perintah bibi Shirley.
Salah satu anak buah Alfhonso mendekati wajah Raizon, dan ia mengerutkan kening.
“Tapi tuan Raizon tidak bau alkohol nyonya, apa dia benar sedang mabuk?” tanya pria itu.
“Sudah!, kalian kerjakan saja apa yang kuperintahkan. Aku adalah bibi Alfhonso, Bos kalian, berati kalian juga harus menuruti perintahku, cepat lakukan!, bawa mereka ke kamar atas!”
“Ke kamar atas nyonya?, maksud anda ke kamar tuan Alf-”
Dengan terpaksa kedua anak buah Alfhonso membopong Raizon dan Jasmine ke dalam kamar sesuai perintah bibi Shirley.
Malam, pukul 23:49, di kamar Jasmine.
Raizon mulai membuka matanya, kepalanya masih agak berat. Tetapi seketika itu juga ia tersentak kaget, matanya membelalak, karena dia tengah berada di ranjang milik tuannya, dan Jasmine nyonya-nya berada dalam pelukannya, dia dan wanita itu tertutupi satu selimut yang sama, dan hampir tanpa busana.
“Ah!, nyonya Jasmine!, apa yang terjadi?!” pekik Raizon kaget bukan kepalang.
Raizon kini dengan posisi duduk menyadari jika ia hanya menggunakan pakaian dalamnya saja.
Jasmine yang juga perlahan membuka matanya, langsung membulatkan matanya dan terkejut dengan sangat.
“Ahh!!, tuan Raizon!, kenapa kau disini!, apa yang terjadi?!, Hah! Kemana pakaianku?!” Jasmine juga yang masih terkejut menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Aku juga tidak tahu nyonya, ketika aku bangun tiba-tiba sudah berada disini”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kemudian bibi Shirley dan Eryta masuk ke kamar dengan handphone ditangannya, seolah siap merekam kejadian tersebut.
“Hebat sekali istri keponakanku, ketika suaminya tidak ada, dia bermain dengan asisten suaminya di ranjang” tiba-tiba bibi Shirley bertepuk tangan pelan seolah mengejek perbuatan Jasmine dan Raizon.
__ADS_1
“Tunggu nyonya!, ini salah paham!, kami tidak melakukan apa-apa!” Raizon yang bangkit dari ranjang buru-buru meraih celana panjangnya yang sudah tergeletak di lantai.
“Bibi Shirley, kumohon jangan salah sangka!, apa jangan-jangan kalian yang menjebak kami!” ucap Jasmine yang masih berada di ranjang dengan selimut yang masih menutupi tubuhnya.
“Hey nona!, apa-apaan kau merekam kami!, kesinikan ponselmu!” Raizon mencoba mengejar Eryta yang asik merekam mereka.
Tetapi sebelum Raizon mendekat, bibi Shirley menghalangi pengejaran Raizon, dan Eryta berhasil lari turun kebawah dengan membawa rekaman yang membuat Raizon dan Jasmine geram.
“Akh! Sial!. Nyonya, apa maksud semua ini?!, aku akan beritahukan semuanya pada tuan Alfhonso!” ancam Raizon di hadapan bibi Shirley.
“Coba saja kalau berani!, atau kau yang akan di pecat, karena kami akan segera mengirim foto dan rekaman kalian ke keponakanku. Dan kau wanita miskin!, rasakan kepahitanmu setelah ini!”
Bibi Shirley langsung menuju ke bawah dan menutup pintu kamar dengan keras.
Raizon dan Jasmine tidak tahu harus berbuat apa. Jasmine mulai menangis dan memukul-mukul bantal di dekatnya tanda kesal.
Raizon tiba-tiba telah berada di depan wanita itu, ia memberikan pakaian pada Jasmine.
“Tenanglah nyonya, aku akan mengurus semua ini” ucap Raizon yang masih berdiri.
“Tuan, tapi benarkan kita tidak melakukan apa-apa semalam?” ucap Jasmine sambil memandang kearah wajah pria itu.
“Tidak nyonya, kita hanya di jebak oleh dua wanita iblis itu. Mereka tidak akan bisa tertawa lagi setelah ini”
“Ah tidak!, Bagaimana jika sampai tuan Alfhonso mempercayai mereka dan melihat rekaman tadi”
Jasmine menutup wajahnya dan menangis dibalik telapak tangannya.
Raizon duduk di bibir ranjang, dan mengelus rambut Jasmine dengan lembut mencoba menenangkan.
“Nyonya, aku akan pastikan semua baik-baik saja. Aku mengenal tuan Alfhonso, dia tidak mungkin gegabah”
Jasmine yang saat itu butuh sandaran, tanpa disadarinya ia bersandar pada dada Raizon ditengah pikirannya yang kalut dan tangisnya yang masih menyisa.
Raizon mendekap kepala wanita itu agar makin merapat ke tubuhnya, dadanya berdegup tak beraturan.
‘Aku akan melindungimu nyonya’ bisiknya di batin pria itu.
...****...
...Para readers yang baik hati dan bijaksana... Dukungan kalian sangat berarti buat author loh. Jangan lupa Like, komen dan Vote'nya ya......
...Oya kritik dan sarannya juga yah, supaya author terus berkembang dan bisa menghadirkan novel yang semakin baik lagi di mata para reader....
__ADS_1
...Terimakasih....