MELATI UNTUK TUAN MAFIA

MELATI UNTUK TUAN MAFIA
BAB 63 - Bibi dan sepupu


__ADS_3

“Aku rasa sudah cukup kita didalam kamar tuan, aku akan kebawah dan buatkan sarapan” ucap wanita cantik yang meraih pakaiannya kemudan beranjak keluar kamar.


Tak berselang lama, Alfhonso mengiring Jasmine turun ke lantai bawah da meuju kemeja makan.


Seorang pria masuk ke ruang makan dan dengan sedikit menunduk seolah ingin memberi sebuah informasi.


Alfhonso yang melihat kehadiran pria itu langsung menatapnya dengan santai.


“Ada apa?” tanya Alfhonso sambil meletakkan gelas kosong yang baru saja isinya ia minum.


“Maaf tuan, diluar ada tamu, sebenarnya dari kemarin beliau sudah kesini, tapi karena tuan pesan kepada kami agar tidak mengganggu istirahat tuan dan nyonya, maka tamu itu kemarin pulang lagi, dan tadi pagi kembali lagi” jelas anak buah Alfhonso.


“Siapa dia?, baik suruh masuk” perintah Alfhonso.


“Baik tuan”


Alfhonso masih duduk di kursi meja makan. Jasmine datang dengan membawa sepiring penuh spagheti daging asap dan roti lapis mozarella.


“Silahkan tuan, ini masih panas” ucap Jasmine sambil duduk di samping Alfhonso dan mengatur sarapan mereka.


“Hmm, harumnya, aku harus makan yang mana dulu … “ ucap Alfhonso memperhatikan hidangan didepannya.


“Tuan, ini tamunya” anak buah Alfhonso tadi berdiri di iringi seorang pria berbadan tinggi besar, kekar dan berambut agak kuning kecoklatan dengan kacamata tanpa frame.


Alfhonso dan Jasmine spontan menoleh kearah tamunya yang tengah berdiri.


“Amando?!” ujar Alfhonso sambil menegakkan punggungnya.


Pria yang dipanggil Amando beranjak melangkah mendekati Alfhonso.


“Apa kabarmu Al, maaf aku tidak bisa hadir di pernikahanmu” ucap pria gagah itu.


Alfhonso langsung berdiri dari duduknya dan mendekati pria itu kemudian memeluknya dengan hangat.


“Apa kabarmu juga kawan, sudah berapa lama kita berpisah” ucap Alfhonso dalam pelukan persahabatannya.


“Hey, ayo makanlah bersamaku!. Oya, ini Jasmine, nyonya dirumah ini” Alfhonso memperkenalkan Jasmine kepada temannya.


“Selamat pagi nyonya” sapa Amando sopan dan sedikit menunduk.


“Pagi tuan, silahkan ikut makan bersama tuan Alfhonso, aku akan keatas sebentar” ucap Jasmine sopan sambil beranjak dari meja makan setelah melepaskan senyum.


Jasmine hilang dari pandangan mereka karena telah beranjak melewati anak tangga.

__ADS_1


“Hey Al, hebat juga kau memilih istri” canda teman Alfhonso sedikit berbisik.


“Hahaa, sudah kebiasaanmu iri seperti itu Amando” ucap Alfhonso.


Akhirnya mereka menikmati hidangan di meja makan dan berbincang hangat.


Malam, pukul 10:20


Di kamar Alfhonso, kedua pengantin baru itu menikmati suasana malam di balkon luar kamar. Mereka duduk di kursi dan menikmati kopi latte dan coklat panas.


“Sayang, maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menemanimu sepekan ini” ucap Alfhonso seraya menoleh kearah Jasmine.


“Memang tuan mau kemana?” ucap wanita itu dengan alis mulai menaut.


“Tadi pagi itu, teman lamaku Amando, dia mengajakku ke luar negeri. Ada bisnis besar yang akan kami jalani. Ini kesempatan besar, dan pendapatannya tidak main-main, tiga kali jumlah yang biasa aku dapat. Setelah sepekan aku akan kembali”


“Ya, aku tidak bisa melarangmu tuan, walaupun sebenarnya aku masih ingin bersamamu” ucap Jasmine sambil menunduk.


“Maafkan aku sayang, ini hanya sepekan. Ohya!, sebentar” Alfhonso beranjak dari kursinya kemudian beranjak kedalam kamar dan mengambil sesuatu di lemari kecil di sudut ruang kamar.


Setelah beberapa saat dia kembali ke istrinya di teras balkon.


“Ini, aku lupa memberikannya padamu, bukalah“ Alfhonso menyerahkan sebuah kotak dilapis bludru berwarna ungu.


Tanpa menunggu jawaban dari Alfhonso wanita itu membuka kotak tersebut, dan ternyata isinya sangatlah mencengangkan.


Sebuah liontin bermata batu safir yang sangat mewah dan cantik, batu yang berasal dari Khasmir dengan warna Royal Blue yang menawan. Harga liontin berframe berlian itu tidak main-main, sekitaran 7,5 juta Dollar.


Jasmine tidak bisa berkata apa-apa, bibir mungilnya menganga menahan terkejut. Matanya berbinar melihat keindahan liontin tersebut.


“Ini-ini, bukankah ini liontin yang di pameran tempo hari tuan?, ini terlalu mewah untukku tuan, aku tidak pantas menerimanya” Jasmine menatap wajah Alfhonso.


“Lalu siapa lagi yang pantas menerimanya?” pria itu meraih liontin mewah tersebut dan memakaikannya di leher Jasmine.


“Liontin ini tidak ada nilainya dibanding keindahanmu Jasmine” Alfhonso mengecup hangat kening istrinya.


“Aku tak bisa berkata-kata lagi tuan, terimakasih banyak” ucap Jasmine terharu dan sangat bahagia dengan kebaikan pria yang terkesan bengis itu, tetapi di sisi lain hatinya sangat penyayang.


Dreet … Dreet …


Tak berselang lama, ponsel Alfhonso bergetar, pria itu meraihnya dari dalam saku.


Alfhonso melihat layar handphonenya, ternyata nomer tanpa nama, kemudian ia menjawabnya.

__ADS_1


“Ya, Alfhonso disini” ucapnya.


Jasmine tidak bisa mendengar jawaban dari si penelpon.


“Ah!, ternyata kau bibi Shirley, dimana kau sekarang bi?” Alfhonso berdiri dan agak menjauh dari Jasmine.


“Oh ya ya, apa?!, kalian mau kerumahku? Kapan?, tapi aku baru akan ke bandara besok sore, aku akan keluar negri untuk sepekan”


Setelah berbincang beberapa saat dengan seseorang di sebrang telpon tadi, Alfhonso kembali duduk di kursi di samping Jasmine.


“Itu bibiku Shirley, dia adik Leopard, aku jarang bertemu dengannya. Apa kau lihat kemarin di pesta, wanita bergaun hitam yang berada di sebelahku dan gadis bergaun merah marun yang terus mendekati aku?, itu dia. Dia dan anaknya, sepupuku Eryta akan menginap disini untuk beberapa hari, kemarin dia sempat tinggal di hotel, tetapi sepupuku tidak suka pelayanan di hotel itu, jadi mereka memutuskan menginap disini untuk sementara waktu, sampai ayahku mengantarkannya ke bandara”


“Memang dimana mereka tinggal?” tanya Jasmine.


“Mereka tinggal di luar negri, di selatan Worlen”


“Tapi kau akan pergi besok sore, lalu apa tidak masalah mereka disini denganku tuan?” ucap Jasmine.


“Ya, aku meminta tolong padamu, temani mereka untuk beberapa hari ya” Alfhonso menggenggam jemari Jasmine.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum.


“Aku akan meminta Raizon dan beberapa anak buahku untuk menjagamu disini”


“Tidak perlu tuan, sepertinya aku aman disini”


“Tidak, aku akan tetap menyuruh Rai untuk menjagamu”


Pagi hari, pukul 07:15


Sebuah mobil sedan merah berhenti di depan pagar mansion Alfhonso. Gerbang mansion terbuka atas perintah Alfhonso.


Tak lama berselang dua orang wanita memasuki pintu masuk mansion, dan mereka mencari keberadaan Alfhonso.


“Bibi Shirley!, kau sudah datang … “ sapa Alfhonso dari arah tangga saat ia menuruni tangga dan menuju ke bawah.


“Hey sayang!, kau sudah bangun” balas sapaan bibi Shirley yang spontan menoleh kearah Alfhonso.


Ketika mereka mendekat, wanita yang dipanggil bibi Shirley memeluk hangat keponakannya, kemudian dari belakang bibi seorang wanita muda tersenyum melihat Alfhonso.


“Hey, kau tidak berubah Al, kau tetap saja tampan walau sudah menikah” ucap wanita itu yang ternyata sepupu Alfhonso, Eryta.


Eryta maju dan memeluk Alfhonso. Wanita itu sangat erat memeluk pria itu, hingga Alfhonso agak paksa melepaksan pelukan sepupunya itu.

__ADS_1


“Ah, ya aku memang selalu terlihat tampan bukan?” canda Alfhonso.


__ADS_2